
Wulan menjerit histeris saat dilihatnya Rakhta dalam wujud kelelawar raksasanya mencabik pundak Mami. Secara bersamaan, ia, Suryo dan Rara mengarahkan tangan mereka ke Rakhta dan mengerahkan energi telekinesis mereka untuk melemparkan Rakhta.
Gabungan tenaga mereka bertiga lumayan kuat dan berhasil melontarkan Rakhta. Sayangnya cengkeraman Rakhta begitu kuat ke pundak Mami. Sebelum terpental ke belakang daemon itu tidak kehabisan akal, ia balik mencengkeram kursi pengemudi dan saat terpental, ia tidak melepaskan kursi itu, membawa kursi beserta Mami bersamanya.
"MAMIIIIIIII!" jerit mereka bersamaan dengan panik.
Rakhta mengeluarkan suara tawa terbahak-bahak yang mengerikan. Ia berputar-putar di atas mereka dengan satu kaki mencengkeram kursi sementara kaki satunya menendangi Mami.
Secara otomatis, Mobil yang dinaikinya bergerak sendiri mengikuti kemana Mami dibawa oleh Rakhta. Derrick juga mencoba menyerang tapi Rara sudah siap, ia menembaki Derrick dengan dua senapan dari samping kanan dan kiri mobil. Beberapa kali tembakannya mengenai Derrick memberikan luka bakar yang dengan cepat dipulihkan oleh Derrick, namun tak ayal tembakan-tembakan Rara membuatnya tidak bisa mendekat.
Wulan tidak bisa melepaskan pandangannya dari Mami. Dilihatnya Suryo mencoba melontarkan Rakhta lagi.
"Jangaaaan!" cegahnya, "Nanti kena Mami atau malah dia ngelepas Mami."
Suryo menatapnya, mata Suryo berkaca-kaca, Wulan dapat melihat kepanikan di mata kembarannya itu, Ia pun tak kuasa menahan air matanya.
"MAMIIIIII!" Rara menjerit histeris.
Wulan melihat Maminya mengambil sebuah senjata yang menyerupai sebuah pistol tapi ukurannya kecil lebih kecil dari telapak tangan Wulan. Diantara tendangan Rakhta yang bertubi-tubi ke arahnya, tanpa ragu Mami menembakkan senjatanya. Wulan tidak menyangka dari sebuah pistol yang mungil itu keluar tembakan cahaya yang begitu besar dan menyilaukan.
Tembakan pertama dapat dihindari oleh Rakhta namun membuat cengkeraman kakinya lepas. Dengan cepat Mami beserta kursi yang didudukinya meluncur jatuh. Rakhta dan Derrick melesat cepat ke arah Mami. Rara yang melihatnya, menembakkan senapannya, tembakannnya kali ini mengenai Derrick dengan cukup telak di kepala dan sayapnya, membuat sayapnya terbakar dan bolong. Derrick pun oleng dan terbang menjauh untuk memulihkan dirinya dulu.
Dalam keadaan yang jatuh dengan cepat meluncur ke bawah, Mami tidak panik, dengan gerakan cepat ia berbalik dan menembaki Rakhta dengan pistolnya. Kali ini tembakannya telak mengenai Rakhta. Membakar perut Rakhta. Daemon itu meraung-raung kesakitan, lalu berbalik dan terbang pergi.
Eleanor melesat menyusul Mami. Dari kejauhan Wulan melihat dengan ngeri bagaimana cepatnya kursi yang diduduki Mami meluncur ke bawah.
Tiba-tiba kursi itu melambat luncurannya. Wulan melihat Mami menggerakkan sebuah tuas di samping kursi yang di mobil-mobil biasasnya untuk memaju dan mundurkan sandaran kursi. Kursi itu berhenti di tengah-tengah udara.
Dari arah kanan, Wulan melihat secara tiba-tiba Derrick melesat mencoba untuk menubruk Mami. Tapi dengan cekatan Maminya menghindar. Rupanya tuas di samping kursi itu sebuah kemudi.
"Eleanor bawa mereka ke Candi Cetho!" teriak Mami.
"Nggih."
Jika keadaan tidak sedang gawat, Wulan mungkin akan protes pada Maminya, bagaimana mungkin sebuah mobil diberi nama Eleanor tapi berbicara dengan bahasa Jawa.
Eleanor melesat dengan cepat. Mami mengikuti di belakang. Wulan melihat, Derrick masih mengejar mereka.
Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah sampai di Candi Cetho.
Eleanor mendarat perlahan secara vertikal di pelataran batu di teras pertama Candi Cetho. Mami juga mendarat di samping mereka. Begitu mendarat, sabuk pengaman yang sedari tadi mengunci mereka di tempat duduk secara otomatis terbuka. Mereka berhamburan keluar mobil, begitu juga sheba dan milly.
Mereka menghambur ke arah Mami yang langsung memeluk mereka.
"Mi....maaf...."kata Suryo dengan suara yang serak.
Mami hanya tersenyum.
"Eleanor, lindungi kami! Satus persen otomatis! Password kasih!"
"Nggih."
Eleanor langsung mengambang lagi, mengambil posisi diatas mereka, memayungi mereka.
Dug.....
__ADS_1
Derrick juga mendarat. Lalu dengan cepat bertransformasi kembali dalam wujud manusianya.
Ia tertawa....
"Kau pikir dengan berhenti di sini, kalian akan selamat?"
Wulan menyipitkan matanya, dipandangnya Derrick yang diterangi oleh cahay lampu depan eleanor. Wulan merasa mereka berempat mungkin masih memiliki kesempatan untuk melawan Derrick seorang diri.
"Tahu ngga? Sudah tidak ada orang yang memakai tempat ini untuk beribadah. Sekarang tempat ini hanyalah prasasti tempat turis yang sudah tidak memiliki kekuatan apapun. Jangankan aku, daemon rendahan pun bisa santai mau jalan-jalan disini tanpa terluka sedikitpun."
Mami menarik Wulan supaya mundur,dan Mami maju kedepan. Matanya menatap tajam ke arah Derrick. Baru kali ini Wulan melihat Maminya seperti ini. Meskipun Mami tukang ngomel, tapi belum pernah Wulan melihat Maminya segarang ini. Dan dimatanya Mami terlihat keren sekali.
Dari sakunya, Mami mengeluarkan sebuah senapan lagi, sama persis dengan senapannya yang pertama. Ia mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya ke Derrick.
Sambil matanya tetap terpaku pada Derrcik pelan-pelan Mami berjalan mundur, di atasnya eleanor juga mengikuti mereka mundur ke arah undak-undakan.
"Mundur..." bisik Mami.
"Mi, rasanya kita mampu untuk melawan dia sendirian..." bisik Suryo.
Mami tampak ragu, tapi Wulan tidak, tanpa menunggu aba-aba, dilemparkannya reruntuhan batu-batu candi dengan kekuatan penuh ke arah Derrick.
Derrick menghindarinya dengan mudah. Ia mengedipkan satu matanya dengan nakal.
"Mundur..."kata Mami lagi.
Tiba-tiba dari arah timur dan barat, ada dua sosok yang melesat dan turun mendarat di samping kiri dan kanan Derrick.
Rakhta dan seorang lagi yang Wulan kenali sebagai orang yang tadi menggodanya di warung wedangan.
"Wah...Derrick, jangan serakah dong...Masa mau pesta sendiri?"
"HEH! Itu perut masih bolong! Menjijikkan tau!"
Rakhta hanya tertawa terkikik, suaranya sangat menyeramkan, mengingatkan Wulan pada film horror tentang kuntilanak.
"Kau pikir, kau akan bisa menyerap kekuatan mereka Derrick? Katakan padaku, kapan terakhir kali kau menyerap kekuatan seseorang?"
Derrick mengernyitka dahinya. Wulan melihat, Derrick seperti bingung dengan perkataan Rakhta. Orang yang td menggodanya hanya tersenyum memandang ke arah Wulan dengan penuh nafsu sambil menjilat-jilat bibirnya membuat Wulan jijik sekali.
Mereka berjalan mundur pelan-pelan.
"Mundur....mundur sampai ke gapura itu." perintah Mami dengan nada tegas. Anak-anak bergegas menaiki undak-undakan sampai ke gapura yang pertama. Eleanor terbang mengambang di atas mereka.
Tanpa peringatan, Derrick, Rakhta dan daemon yang terakhir datang tiba-tiba beubah ke wujud daemon mereka dan langsung menyerang mereka.
Mami tidak tinggal diam, ia langsung menembakkan senapannya, sementara eleanor juga mengeluarkan tembakan-tembakan beruntun. Wulan dan Suryo tidak tinggal diam, mereka juga melemparkan batu-batu reruntuhan candi yang ada banyak di sekitar mereka.
"Rara...tahan anjing-anjingmu!" teriak Mami ketika dilihatnya sheba dan milly maju kedepan. Rara menurut dan memberikan perintah kepada sheba dan milly untuk mundur. Rara terlihat bingung, ia kelihatan ingin membantu tapi tidak tahu apa yang bisa diperbuatnya.
Rakhta dan Derrick menghindari semua tembakan dari Mami dan eleanor dengan mudah, tapi tidak dengan daemon yang ketiga, tembakan Mami telak mengenainya di kepalanya. Membuatnya terpental dan berteriak kesakitan, kepalanya terbakar.
"Cih....dasar goblok, bawa anak buah koq bego gitu sih!" ejek Derrick.
"DIAM!"balas Rakhta dengan sengit.
__ADS_1
Sementara Derrick dan Rakhta sibuk menghindari tembakan-tembakan dari Mami dan eleanor masih sambil berdebat, Wulan mengajak Maminya untuk kabur saja menggunakan eleanor.
"Ngga bisa, kalo bisa sudah dari tadi Mami pilih lanjutkan sampai Solo. Tapi ini eleanor sebener e belum siap, dayanya baru kecharge dua puluh lima persen, baru tadi ia diselesaikan Papi. Rencananya buat kejutan ulang tahun kalian. Sebentar lagi, pasti sudah abis dayanya."
Wulan bertatapan dengan Suryo. Ia merasa sangat bersalah dan malu sekali, dari pandangan Suryo, Wulan juga tahu bahwa kembarannya itu juga merasa bersalah, kalau malu entah ya karena Suryo kan biasa malu-maluin karena tidak punya malu tuh anak.
Tidak lama kemudian cahaya dan tembakan dari eleanor mulai meredup. Kemudian eleanor pun turun perlahan- lahan dan mendarat di pelataran batu di tempat mereka mendarat pertama tadi.
Ini menghentikan perdebatan antara Derrick dan Rakhta. Mereka berpandang-pandangan dan menyeringai puas. Lalu bersama-sama mereka menerjang Mami. Wulan dan Suryo tidak tinggal diam, mereka melontarkan batu-batuan lagi. Tapi Derrick sangat cepat, dalam hitungan detik tiba-tiba ia sudah berdiri di samping Mami, mencengkeram Mami, mengangkatnya dan melemparkan Mami begitu saja sejauh lima meter.
Tubuh Mami terlontar dan menghantam gapura batu.
Wulan dan Rara menjerit, bersama Suryo mereka berlari menuju Mami.
Mami diam tak bergerak.
"Wah...wah sayang sekali....hihihihihi......, siapa suruh manusia biasa ikut campur! GA BERGUNA!"sembur Rakhta sambil terkikik mengerikan.
Wulan berdiri mengambil kuda-kuda di depan tubuh Maminya. Suryo juga melakukan hal yang sama. Tapi Rara hanya diam berlutut di samping Mami.
"Tututututuuuuut.....duh gadis kecil jangan sedih, manusia ga berguna ga punya kekuatan gitu ngapain ditangisi?" kata Rakhta lagi.
"DIAAAAAM!!"
Wulan dan Suryo terlonjak kaget. Rara berteriak keras sekali. Gadis itu sudah berdiri di tengah-tengah antara Wulan dan Suryo, dadanya naik turun dengan cepat, wajahnya merah sekali. Sheba dan milly berdiri di depan Rara.
"Gadis kecil sok-sok an!" Rakhta pun melompat ke arah mereka.
Wulan bersiap-siap.....
Dilihatnya Rara, gadis itu tampak sudah tidak peduli dengan sekelilingnya, ia mengangkat kedua tangannya sampai terentang lebar membuat Wulan dan Suryo mundur.
"Ra....!"disentuhnya Rara, Wulan mencoba menarik Rara menghindari serangan Rakhta, tapi betapa kagetnya Wulan karena Rara begitu kaku dan seperti tidak merasakan sentuhan tangannya.
Tangan Rakhta dengan kukunya jang lancip dan tajam meraih ke wajah Rara, Sebelum kuku itu menggores wajah Rara, hanya dengan hitungan jarak sekitar satu centimeter, tiba-tiba Rakhta terpental. Derrick tampak terkejut. Ia mengurungkan niatnya untuk menyerang juga.
Wulan menarik Suryo, "Rara kenapa ini?"
"Itu kaya kowe dulu!' balas Suryo cepat," Kowe yo kaku ngono pas kui."
Wulan terdiam, dulu waktu kejadian ia mnegacaukan system elektronik di rumah Uncle Hugh dan Aunt Yesha, ia hanya bisa ingat bahwa saat itu ia marah banget pada Suryo. Dan sekarang apakah Rara juga seperti dirinya waktu itu, tidak menyadari apa yang sudah dilakukannya?
Rakhta mendekati Derrcik dan membisikkan sesuatu padanya, Derrick mengangguk, lalu bersama-sama mereka melompat tapi bukan ke Rara melainkan ke arah Wulan dan Suryo dan hal yang sama terjadi, mereka berdua terpental lagi sebelum mereka mampu menyentuh Wulan ataupun Suryo.
"Daammmnn....." bukannya mundur atau takut tapi Derrick dan Rakhta justru semakin menunjukkan ketertarikan." Wow, kekuatan langka nih! A shield!"
Rakhta dan Derrick kelihatan sangat bersemangat.
"Tunggu saja, gadis itu baru kali ini mengeluarkan kekuatannya itu."kata Derrick yakin,"Shieldnya tidak akan bertahan lama, energinya akan cepat abis."
Benar saja seperti kata Derrick.
Tidak berapa lama, milly mulai sempoyongan, lalu ambruk, diikuti sheba dan kemudian Rara pun sempoyongan, terkulai lemas, untungnya dengan sigap Suryo menangkapnya agar jangan sampai terantuk.
Rakhta dan Derrick menyeringai lebar.
__ADS_1
Kini tinggal Wulan dan Suryo saja.