
“Ra...”
“Bangun Ra.”
Suryo mencoba membangunkan Rara, gadis
itu tertidur dalam posisi duduk. Wulan yang ada di sampingnya tidur di sofa
yang sudah dijadikan tempat tidur yang terbangun. Ia berusaha bangkit untuk
duduk namun tampaknya bahunya masih terasa sakit karena Suryo dapat melihat
adik kembarnya itu meringis kesakitan. Cepat-cepat dibantunya Wulan untuk
duduk.
Kemarin Nainai sudah berusaha
menyembuhkan Wulan sepenuhnya, namun karena Nainai juga belum pulih sepenuhnya
dari pertempuran melawan daemeon beberapa hari yang lalu, ia tak bisa maksimal
menyembuhkan Wulan. Jika dipaksakan akan berbahaya bagi Nainai sendiri. Menurut
Nainai, ini karena faktor usia. Bagaiamanapun ia sudah tua, kemampuannya untuk pulih
kembali menurun jauh dibandingkan waktu masih muda. Ditambah Nainai sudah lama
tidak menggunakan talentanya, karena itu kemampuannya jadi jauh menurun kalau
dibandingkan Yeye yang terus menerus menggunakannya untuk meredam talenta Suryo
dan Wulan. Seperti hal yang lain, talenta ternyata juga harus dilatih terus
menerus supaya tidak berkarat seperti Nainai, kata Nainai kemarin sambil
bercanda.
Maih pukul tiga pagi, keadaan di luar masih gelap. Hanya lampu kecil-kecil temaram yang menerangi teras. Wulan tersenyum padanya, mencoba mengucapkan terima kasih, tapi Suryo menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa
aneh, tidak biasanya mereka akur begini. Tiba-tiba Wulan memekik kaget, dan ini efektif membangunkan Rara.
Dari arah kamar mandi, tampak Arthur
membuka pintu kamar mandi dan dengan telanjang bulat berjalan keluar untuk mengambil
baju baru yang sudah dibelikan oleh mami. Alhasil, Rara yang baru bangun sampai
langsung melotot dan terbangun sepenuhnya untuk kemudian berbalik dan menutupi
matanya.
“Brooo.... yang bener bro! Ada anak
gadis disini....”
“Eh...kenapa?”tanya Arthur dengan
lugunya, “Aku lupa bawa baju tadi, jadi kupikir bisa kuambil dulu.”
Duuuh... padahal sudah dari
kemarin-kemarin , Suryo ajarin banyak hal, tapi memang tentang ini, mereka
belum pernah menyinggung. Suryo jadi ingat bagaimana Arthur menceritakan bahwa
di compound mereka mandi bersama-sama. Tapi yang perempuan memang di tempat
terpisah mandinya. Cuma ia tidak tahu sebabnya kenapa dipisahkan.
“Eh gini ya Arthur. Tidak sopan kalau
kita telanjang di depan orang lain.”
“Haaaa? Kenapa tidak sopan? Apakah
__ADS_1
mengganggu ya? Kalian kan teman-temanku, tidak perlu ada yang kusembunyikan
dari kalian.”
Sebelum Arthur nyerocos lebih lanjut,
Suryo mendorongnya masuk kembali ke kamar mandi diiringi protes Arthur tentang
bajunya yang belum dia ambil. Suryo mengambil baju Arthur dan melemparkannya
kepada Arthur di dalam kamar mandi. Lalu pandangannya beralih ke adik kembarnya
dan Rara.
Tatapan mereka bertemu, dan mereka pun
tertawa terbahak-bahak bersama. Wulan yang masih merasakan sakit di bahunya tertawa
sambil meringis sambil sesekali memegangi bahunya.
Ada sedikit perasaan bersalah yang
membersit di hati Suryo, bagaimanapun Wulan lepas kendali karena dirinya. Dan entah
bagaimana, walaupun Suryo selalu cengengesan tapi Suryo merasa selama mereka tidak
bersama orang tua mereka, ia merasa ialah yang harus menjaga Wulan dan Rara. Ia
merasa kecewa pada dirinya sendiri karena ia gagal melaksanakannya malah Wulan
justru terluka.
Suryo tersenyum kecut.
“OPO YO?!” kata Wulan dengan tajam, “
Jo ngeroso gede ndas yo, iso nggawe aku ngene.” (Jangan merasa besar kepala ya
bisa membuatku seperti ini.)
satu ini memang ga bisa dikasihani. Dikei ati ngerogoh rempelo. (Diberi hati
meminta ampela yang artinya dikasi sedikit tetapi meminta banyak.)
“Ra cocok blas modelanmu, dadi uaaalim ngono.” (Tidak cocok sama
sekali gayamu, jadi alim begitu)
“Eit....dudu levelku ngelawan wong
loro.” (Eit...bukan levelku melawan orang sakit.) Suryo membalasnya. Namun
dalam hati ia tersenyum, beginilah mereka, boleh jadi mereka bertengkar setiap
hari tapi setiap hari pula ia dan adiknya akan saling memaafkan lagi meskipun
pertengkaran berikutnya sudah menanti lagi hahaha......
Buuk.....
Sebuah bantal mendarat tepat di wajah Suryo. Membuat Suryo kaget dan jatuh terjengkang. Wulan dan Rara tertawa terbahak-bahak. Suryo terlalu fokus pada Wulan sehingga tidak menyangka Rara akan melancarkan serangan.
"OOOO..... Ngajak perang yo! Ilermu kui hapusen sik!" Rara buru-buru mengelap pipinya dengan punggung tangannya. namun tentu saja itu hanya karangan Suryo. Sebelum Rara siap, Suryo sudah melemparkan bantal tadi ke arah Rara dan bantal itu tepat mengenai keseluruhan wajah Rara.
"Yessss!!!.... Ben tambah pesek!"
Wulan tak mau kalah dengan tangan kanannya yang sehat, Ia melemparkan bantal lainnya ke Suryo. Namun kali ini Suryo sudah siaga. Sebelum bantal itu memgenainya, ia menahannya dengan talentanya, diarahkannya tangannya ke arah bantal tersebut kemudian diarahkannya bantal itu kembali ke Wulan.
Bantal itu melesat cepat, namun sebelum mengenai Wulan bantal itu berhenti di tengah-tengah, untuk kemudian jatuh di pangkuan Wulan. Dari pintu Suryo melihat Maminya masuk diikuti Yeyeyang rupanya menahan bantal itu supaya tidak mengenai Wulan.
Melihat wajah Maminya yang sperti harimau betina habis melahirkan, Suryo langsung kabur menaiki dua anak tangga sekaligus menuju loteng. Sesampai diatas ia baru ingat, bajunya ada di bawah semua.
"DARI TADI BUKANNYA SIAP-SIAP! MALAH MAIN-MAIN TERUS!"
Rara dan Wulan tampak bingung.
__ADS_1
"Eh memangnya mau kemana?'
"LOH!! SURYOOOOO!!!"
"Eh Mami, pagi-pagi jangan marah-marah nanti cantiknya hilang."
"JANGAN CENGENGESAN! Kan kemarin Mami sudah titip pesen sama kamu, bilang sama adik-adikmu dan Arthur kalau hari ini semua ikut Yeye."
"Yaa kemaren kan cape banget, Mi. Lagian Wulan dan Rara sudah tidur, Suryo juga ngantuk jadi langsung tidur."
"Loh, kemaren kan kita sempet maen game, Suryo. Bermain game yang Suryo ajarkan, kita main bareng dengan temanmu, siapa namanya oh iya Aldi.Gamennya asyik sekali, Arthur menyukainya." Dari arah kamar mandi Arthur melangkah keluar, kali ini sudah rapi dan berpakaian.
Suryo melirik Arthur dengan jengkel, sementara Wulan dan Rara tertawa terbahak-bahak. Sebelum Maminya mengomel lebih lanjut, buru-buru diraihnya bajunya, dan berlari menuju kamar mandi. Disenggolnya Rara yang juga sedang menuju kamar mandi dengan sengaja sampai gadis itu sempoyongan habis jatuh. Sebelum menutup pintu kamar mandi ia memandang Rara dan dengan tengil dijulurkannya lidahnya. Sebelum Rara sempat berkata-kata ditutupnya pintu kamar mandi sambil tertawa, untuk kemudian menuju shower dan mulai mandi sambil bernyanyi dengan lantangnya.
****
Pada akhirnya walau dengan segala kekacauan dan keributan, mereka semua siap satu setengah jam kemudian. Wulan yang masih belum pulih benar juga ikut. Ini membuatnya senang karena ia akan bingung jika ditinggal sendirian saja. Bisa-bisa ia mati bosan sendirian. HAIFU aja masih belum bisa dipulihkan kembali.
"Ayo, ayo cepat. Kita tidak mau terlambat, jangan sampai memberikan kesan buruk." kata Mami.
"Lah, Mi, memang kita mau kemana? Naik apa?"
"Mami ndak ikut, hanya Yeye dan Nainai yang akan mengantar kalian. Mami cuma kesini memastikan kalian tepat waktu. Hazel yang akan mengantar kalian ke portal pertemuan. Nanti Aunt Yesha akan langsung menemui kalian disana"
"Portal pertemuan?"
"Nanti kalian akan lihat sendiri." Kata Yeye sambil tersenyum. " Kalian akan sangat menikmatinya."
"Mau kemana sih?" Kata Suryo penasaran.
"Kalian akan melihat sekolah kalian. Untuk pertama kalinya.Dan kalian akan sangat menyukainya." Kata Mami dengan lembut.
"Eh Mami koq tau?"
"Ya, Mami pernah diajak kesana. Tidak banyak manusia biasa yang bisa kesana. Mami beruntung, oleh karena Papimulah Mami bisa melihat sekolah TLC."
"Ayo! Rara rapikan bajumu. Itu roti buruan dihabiskan. Suryo! Nyari apa lagi?"
Suryo berlari ke atas loteng, alkomnya ketinggalan. Ia mendengar Maminya ribut di bawah menyuruhnya untuk lebih cepat. Dengan secepat kilat, diambilnya alkomnya yang tergeletak di meja samping ranjang. Lalu, ia melompati dua anak tangga sekaligus.
Yang lain sudah menunggu di luar. Dilihatnya Arthur tampak rapi memakai kemeja baru yang kali ini pas di tubuhnya tidak kegedean lagi. Mengenakan kemeja putih yang dimasukkan dengan rapi ke dalam celana jeans biru dan sepatu sneakers yang juga berwarna putih, Arthur tampak sangat berbeda. Wajahnya tidak bisa dikatakan tampan tapi unik dan menyenangkan membuat orang yang melihat Arthur akan selalu kembali untuk memandang lagi. Ditambah kulitnya yang gelap, dan matanya yang bewarna biru cerah tampak sangat kontras dengan baju yang dipakainya.
Dilihatnya adiknya tampak cantik, juga dalam baju terusan warna putih sebuah sabuk kulit warna coklat yang lebar melilit pinggangnya semakin mengaksentuasi kerampingan pinggangnya. Tas rajutan cross body warna biru dan sepatu sneakers warna putih melengkapi penampilannya. Entah kenapa melihat mereka berdua, Suryo seperti melihat lembaran majalah fashion.
Lalu dilihatnya Rara.......
Ehm..... berdiri di samping Wulan, Rara tampak seperti bola. Hari ini, Rara memakai baju biru muda dan rok warna biru tua. Rambutnya yang keriting diikat satu, membuat wajahnya yang bulat makin tampak bulat. Rara juga mengenakan sepatu sneaker putih. Rara sih ngga jelek kalau menurut Suryo, wajahnya sebenarnya menggemaskan dan lucu seperti boneka beruang dengan pipinya yang tembam. Tapi yaaaa kalau dia audisi jadi idola pasti tidak akan diterima dan mungkin akan dicoret pertama kali jika penilaian didasarkan pada penampilannya saja padahal Rara punya suara yang sangat bagus.
Diliriknya kaca jendela yang sudah diganti kemarin. Samar-samar pantulannya membuatnya puas. Suryo sadar, ia tampan dan ia memastikan penampilannya tidak akan mengurangi ketampanannya hehehe........ Kali ini ia memakai kaos polo warna hitam yang ngepas di tubuhnya dipadukan dengan celana jeans dan sepatu sneaker hitam dengan garis warna emas.
"Hmm.... selalu paling terakhir! Padahal laki-laki, mandi duluan juga tapi selalu siap paling terakhir." kata Wulan tajam.
"Woiiii..... Laki-laki juga butuh penampilan, dan penampilan ala Suryo, butuh persiapan lebih." katanya sambil merentangkan kedua tangannya dan berputar di depan Wulan.
"Sudah jangan bertengkar lagi. Bahu aja masih belum sembuh benar." kata Arthur menghentikan Wulan yang akan menjawab Suryo lagi.
Hazel yang sedari tadi diam, tersenyum. Ia meraih tangan Rara dan menepuk-nepuk punggung tangan Rara dengan lembut. Rara membalas senyumannya. Hazel adalah wanita berpedang yang dulu ikut menyelamatkan mereka. Ia tak bisa bicara karena lidahnya dipotong oleh daemon waktu ia masih remaja. Waktu itu ia menolak untuk bergabung dengan daemon, karena bujukan secara halus tidak berhasil, daemon yang mencoba merekrutnya menyiksanya dengan kejam. Beruntung Aunt Yesha dan Uncle Huge bisa menyelamatkannya.
Tampaknya Hazel sangat menyukai Rara. Padahal Rara yang paling susah mengikuti ajarannya. Tapi Hazel dengan sabar selalu mengulang-ulang gerakan beladirinya sampai Rara bisa menirukan dengan benar. Setiap habis selesai mengajari mereka, ia selalu meminta Rara untuk menyanyikan lagu untuknya. Pendengarannya masih sangat baik. Bahkan menurut Hazel, pendengarannya meningkat jauh setelah lidahnya dipotong. Itu juga merupakan talentanya.Jika mau ia bisa mendengarkan suara-suara bisikan sampai radius satu kilometer. Karena itu ia selalu menghibur Rara dan mengatakan jangan kuatir, karena Aunt Yesha tak pernah salah, suatu saat talenta Rara pasti dapat keluar.
Suryo merasa berterima kasih dengan keramahan Hazel. Setidaknya, Hazel sedikit berhasil membantu menghilangkan kekhawatiran Rara. Suryo hanya berharap, supaya ke depannya Rara bisa lebih percaya diri. Meskipun tidak cantik, ataupun pintar dalam hal akademis, tapi Rara juga mempunyai banyak kelebihan lainnya. Suryo sangat berharap Rara dapat menyadari hal itu. Karena menurut Suryo rasa percaya diri mempermudah segala sesuatu untuk dipelajari.
"Sudah siap? Ayo Hazel, tolong ya antar aku terlebih dahulu." Mami menggandeng tangan Hazel.
Hazel mengangguk dan tersenyum, sedetik kemudian keduanya menghilang.
Tidak sampai sepuluh menit, Hazel sudah kembali muncul di hadapan mereka, kali ini ia membawa Nainai.
Lalu tanpa membuang waktu lagi ia mengulurkan tangannya dan memberi isyarat pada mereka semua supaya menyentuh tangan yang diulurkannya itu. Mereka semua berdiri melingkar, semua tangan mereka dijulurkan dan saling menumpukkan telapak tangan mereka di atas tangan Hazel, seperti orang yang akan melakukan sorakan sebelum bertanding. Sheba dan milly sudah siap menempel di samping kiri dan kanan Rara.
Lalu semuanya berputar dengan cepat lagi. Tapi kali ini mereka sudah terbiasa karena di tiga hari ini mereka sudah berlatih teleportasi dengan Hazel. Hanya saja kali ini rasanya lebih lama sedikit. Dan secara tiba-tiba mereka berhenti di tanah yang lapang.
Suryo memandang ke depan dan melongo.
Candi Borobudur tampak megah menjulang....
__ADS_1