
Suasana di sekitarnya hening....
Udara di pulau terasa segar. Deburan ombak terdengar sahut menyahut. Mereka semua berdiri bergandengan tangan.
Lalu Yeye maju dan berkata.
"Kepada teman seperjuanganku. Teman yang selalu ada dan dapat kuandalkan. Yang dalam diamnya tak berhenti untuk selalu melindungiku dan keluargaku. Betapa beruntung dan bangganya diriku, dipertemukan dan dapat menjadi temanmu. Sampai bertemu lagi kawan. Tenanglah di sisi Bapa."
Setelah itu Yeye meletakkan setangkai bunga mawar di atas makam Mr.Minus. Mata Yeye berkaca-kaca.
"Dan juga pada pahlawan kecilku, yang telah dengan gagah berani menyelamatkan istriku. Kau adalah kebahagiaan tersendiri yang Tuhan sediakan untuk cucu-cucuku. Dan malam kemarin sudah membuktikan kesetiaanmu. Selamat beristirahat kawan kecilku. Good girl..."
Lalu Yeye juga meletakkan setangkai bunga mawar di atas gundukan tanah yang lebih kecil.
Batrix....
Rara menyapu air matanya dengan tangannya. Lalu mereka masing-masing berdoa menurut keyakinan mereka masing-masing.
Hari masih pagi. Bersama -sama mereka berjalan kembali menuju rumah Aunt Yesha. Rara melihat R3. Pemuda itu seperti anak kecil yang sedang berada di toko mainan. Memandang semuanya dengan antusias. Sepanjang perjalanan, ia terus menanyakan nama-nama benda yang dilewati. Seperti pohon kelapa, bunga mawar, juga mengenai apa yang mereka lakukan tadi. Dan Rara dengan sabar menjawabnya.
"Oh...jadi itu namanya pemakaman. Jadi teman kita yang sudah mati kita masukkan ke tanah. Lalu kenapa tadi dikatakan tenanglah di sisi Bapa?"
"Itu adalah kepercayaan kami. Kami percaya semua yang sudah meninggal akan kembali ke rumah Bapa."
"Siapa Bapa?"
"Yang menciptakan kami."
"Termasuk aku?"
"Termasuk kamu."
"Tidak semua yang meninggal ke surga. Ada yang ke neraka." Sela Wulan
"Apa itu surga? Apa itu neraka?"
"Tidak ada yang tahu karena mereka yang sudah meninggal belum pernah kembali untuk memberi tahu." Kata Wulan
"Wulan...."Mami tampak tak suka dengan jawaban Wulan.
Cepat-cepat Wulan melengos dan mempercepat langkah kakinya. Rara tersenyum. Wulan mempunyai pandangan yang berbeda mengenai apa yang mereka percayai.
Mungkin karena ia sangat pintar, jadi segala sesuatunya ia pikir berdasarkan logika. Sedangkan Rara, ia percaya ada kekuatan yang lebih besar yang selalu menjaga mereka. Tempat ia bisa mencurahkan segala isi hatinya.
"Mungkin kita harus memberimu nama yang lain." kata Mami pada R3.
"Eh kenapa?"
"Karena R3 kedengaran seperti kode. Nanti coba kau cari sendiri kau mau dipanggil apa."
"Ehm...permisi....Bagaimana jika aku juga mencari nama untuk diriku. Daripada Wulan....."
"Hormati orang yang sudah memberikan nama yang indah buatmu. Lagipula nama kita bagus, ya ngga? Dasar kamunya aja yang bawel ga tau berterima kasih, ngga bisa bersyukur."
"Apaan sih....dasar caper! Penjilat!"
Mereka sampai di rumah Aunt Yesha dengan Wulan dan Suryo masih berdebat. Rara mengangkat kedua tangannya dan menghirup napas dalam-dalam. Ia tertawa ketika didapatinya R3 mengikutinya melakukan hal yang sama.
Hari masih pagi. Matahari baru saja muncul, sinarnya menyemburat jingga di langit. Indah sekali.
Dilihatnya R3 melongo memandang langit. Sebuah ide muncul di kepalanya.
"Sini ikuti aku." katanya pada R3.
Dan bersama dengan Wulan dan Suryo yang tidak berhenti berdebat. Mereka berjalan terus menuju pantai. Apa yang dilihat mereka di pantai menghentikan perdebatan Wulan dan Suryo.
Matahari muncul tepat di atas cakrawala. Warnanya jingga kemerahan. Cahayanya menyemburat dibiaskan oleh awan-awan hingga awan awan itu juga berbiaskan warna jingga.
Sheba dan milly mengikuti mereka, untuk kemudian berlari-lari sepanjang pantai dengan gembira. R3 ikut berlari dan mengejar mereka. Bermain-main dengan mereka , tertawa dan berteriak-teriak dengan riang.
"Bahagia itu sederhana ya....."
Rara berbalik dan melihat Nainai ternyata menyusul mereka. Suryo cepat-cepat menghampiri Nainainya dan menggandeng Nainai turun menyusuri tangga kayu.
"Ada yang Nainai ingin katakan kepada kalian."
Lalu Nainai menghela napas. Diciumnya Suryo, Wulan dan kemudian Rara.
Rara bingung.
"Nainai mau kemana?"
Naina tersenyum, ditepuknya pipi Rara dengan lembut.
"Bukan Nainai yang mau kemana. Tapi kalian yang akan pergi ke tempat yang baru. Sampai semua beres, sementara kalian akan tinggal disini. Dua atau tiga hari lagi kalian bisa berangkat ke sekolah kalian yang baru."
"Eh.....sekolah yang baru?"
"Ya sekolah yang baru, sekolah khusus untuk anak-anak bertalenta."
"Tapi Nai..."
Nainai mengangkat tangannya menghentikan protes Suryo.
__ADS_1
"Kalian akan belajar disana cara menggunakan dan mengembangkan talenta kalian. Dan kalian harus giat karena ada lima tahun ketinggalan yang harus kalian kejar. Anak-anak yang lain sudah mulai belajar di akademi sejak mereka berusia sebelas tahun atau saat akan masuk SMP."
"Untuk sekolah lama kalian, Papi dan Mamimu yang akan mengurus, dan akan mengatakan bahwa kalian pindah untuk belajar di luar negeri. Papi, Mami, Nainai dan Yeye juga akan pindah ke rumah baru. TLC akan mengirimkan orang yang baru pengganti Parmin untuk membantu menjaga kami."
"Lah perusahaan Papi? Sabunnya?"
"Tetap akan berjalan. Papi dan Mami mu akan bisa menjalankannya. Alasan kami pindah, karena rumah kita kebakaran. Perlindungan yang lebih kuat akan diberikan. Papi dan Mamimu juga sudah diberikan comunicator baru yang terhubung langsung dengan markas besar kalau-kalau sampai mereka dalam bahaya. Kami juga." Kata Nainai sambil memamerkan alat baru di tangannya yang menyerupai jam tangan.
"Uhhh...itu gadget terbaru." kata Suryo kagum, ia sudah lama menginginkannya.
"TLC itu apa?" tanya Wulan.
"The Light Children. Anak-anak terang."
"Cahaya melukai daemon. Cahaya matahari bahkan bisa membunuh daemon. Setinggi apapun, level daemon mereka hanya bisa bertahan paling lama setengah jam di bawah sinar matahari."
"Oleh karena itu kami menamakan diri kami anak-anak terang atau anak-anak cahaya."
"Segala keperluan kalian akan kami kirim nanti. Sementara dua hari ini kalian coba pelajari mengenai TLC. Kalian tinggal di rumah pejuang TLC yang legendaris. Manfaatkan itu. Pelajari sebanyak mungkin."
"Nainai....."
"Maafkan kami yang selama ini mengira kami telah mengambil keputusan yang terbaik untuk kalian. Jika saja, kami tidak melakukan itu, kalian pasti sudah belajar bagaimana cara menyalurkan talenta kalian."
"Nainai melakukan itu untuk melindungi kami."Suryo memeluk Nainai dengan sayang.
"Ma, kita harus segera kembali. Banyak yang harus kita selesaikan." Papi menyusul lalu menggandeng Nainai.
Rara mengikuti mereka dengan diam. Suryo juga perlahan mengikutinya. Wulan menunggu R3 menyusul mereka bersama sheba dan milly.
Bersama-sama mereka kembali ke rumah Aunt Yesha dalam diam.
****
Dua hari berlalu dengan cepat. Rara, Wulan, Suryo dan R3 menghabiskan waktu di rumah Aunt Yesha dengan menggali info sebanyak mungkin mengenai TLC, mengenai daemon, dan mengenai sekolah mereka.
Aunt Yesha dan Uncle Hugh tidak selalu berada di rumah. Mereka sering pergi tiba-tiba. Secara mengejutkan, HAIFU lah yang banyak memberi info kepada mereka.
Dari HAIFU mereka belajar, bahwa ada talenta dasar dan talenta bawaan masing-masing orang. Talenta dasar adalah talenta yang pada dasarnya dapat dikuasai semua orang yang bertalenta seperti menggerakkan benda dengan pikiran mereka atau telekinesis, bergerak dengan cepat dan kemampuan bela diri.
Sedangkan talenta bawaan ada banyak macamnya. Seperti Nainai yang bisa menyembuhkan, Aunt Yesha yang bisa mendeteksi talenta orang, Uncle Hugh yang bisa menghasilkan petir. Masih ada banyak lagi berbagai macam talenta yang HAIFU jelaskan. Mereka kesulitan untuk mengingat semuanya.
Rara merasa khawatir, ia merasa dirinya tidak memiliki talenta apapun. Mungkin Aunt Yesha salah. Kalau Suryo jelas mereka sudah melihat ia memiliki kecepatan seperti yang mereka lihat saat ia menyelamatkan Nainai, Wulan pintar sekali, sejak kecil ia suka mengutak-atik barang elektronik, tampaknya Wulan mewarisi talenta papi. R3 jelas ia bisa bertransformasi. Sedangkan Rara....Apa coba yang bisa Rara lakukan. Ia takut bagaimana jika nanti ternyata dirinya adalah suatu kesalahan?
Ngomong-ngomong tentang R3, pada akhirnya ia memilih nama Arthur. Setelah berjam-jam menelusuri berbagai kisah, tampaknya R3...eh Arthur jatuh cinta pada kisah Raja Arthur dan ksatria meja bundarnya. Awalnya dia bingung antara nama Arthur dan Tristan yang adalah salah satu dari ksatria meja bundar. Namun atas saran Wulan yang menunjukkan bagaimana kisah Tristan yang berakhir tragis, pada akhirnya ia memilih nama Arthur.
Wulan tak henti-hentinya mengungkapkan rasa irinya dan keinginannya untuk mengganti namanya, sementara Suryo tak henti-hentinya membantah semua argumen Wulan membuat Rara hanya bisa pasrah.
Masalahnya mereka berempat tinggal di satu rumah super mungil, ditambah dengan adu argumentasi tiada henti antara Wulan dan Suryo membuat segalanya jadi bertambah intens. Jika dulu di rumah, jika keadaan mulai panas, salah satu dari Wulan dan Suryo bisa Rara ajak untuk ke kamar atau kemana saja dimana keduanya tidak saling bertemu untuk sementara. Sedangkan sekarang ini, di rumah yang mungil ini, mereka selalu bertemu satu sama lain disengaja atau tidak. Untuk keluar rumah dan berjalan-jalan menelusuri pulau pun tidak akan berlangsung lama, paling cuma sejam atau dua jam.
Entah kenapa Wulan bisa sabar menghadapi Arthur. Waktu Rara tanya, kata Wulan ia merasa kasihan pada Arthur. Hmmm ...... menarik......
Tapi memang, Rara sendiri juga kasihan pada Arthur. Walaupun Rara juga yatim piatu, ia punya Mami dan Papi dari keluarga Wijaya yang menyayanginya masih ditambah Yeye dan Nainai juga Suryo dan Wulan. Ia mendapatkan keluarga yang menyayanginya.
Sedangkan Arthur, ia tak pernah tahu apa itu kasih sayang dari sesamanya. Disini Rara merasa bersyukur.
Kekhawatiran Rara paling besar adalah ia tak akan bisa mengejar ketertinggalannya. Seperti yang Nainai katakan, mereka tertinggal lima tahun dari anak-anak lain. Wulan dan Suryo anak-anak yang cerdas, Rara yakin mereka tidak akan kesulitan, apalagi Suryo sudah jelas kelihatan bagaimana talentanya.
Rupanya Arthur pun memiliki kekhawatiran yang sama. Hal ini ia ungkapkan pada Rara. Ditambah lagi selain harus mengejar ketinggalan soal talenta, Arthur juga harus belajar banyak mengenai sejarah manusia. Ia seperti bayi yang tak tahu apa-apa mengenai itu. Konsep kenegaraan pun harus dijelaskan terlebih dahulu. Ini cukup membuat mereka bingung karena mereka pun tak tahu Arthur termasuk orang mana dan ras apa. Wajahnya dibilang asia bukan tapi kaukasia juga bukan. Kulitnya gelap, tapi matanya oriental. Rambutnya ikal.
Jadi jika ditanya termasuk orang mana Arthur ini mereka juga bingung. Beruntung Arthur tidak peduli dengan itu. Ia lebih tertarik mempelajari mengenai sejarah manusia, dari sejarah dunia sampai sejarah tanah jawa. Ia bisa bertahan berjam-jam lamanya mempelajari itu semua. Sampai semua legenda dari legenda Yunani sampai Tiongkok ia baca semua. Arthur tidak tahu bagaimana ia bisa membaca. Hanya saja ia langsung bisa mengenali segala tulisan namun terbatas hanya dalam bahasa Indonesia.
Dan untungnya Arthur ternyata cerdas juga. Jadi mudah baginya untuk mengingat semua yang telah ia baca. Tidak seperti Rara.......hiks....
Disini Rara merasa sedih.
Ia merasa sangat bodoh. Dibandingkan Wulan, Suryo dan Arthur. Entah ia punya bakat dimana. Perasaan segala kemampuannya di batas pas-pasan saja. Di batas pas-pasan itu kalau lagi merasa sombong. Aslinya sih di bawah pas-pasan.
Duuuh.....sedihnya....
Entah kenapa selama di rumah Aunt Yesha hari-harinya tak pernah sepi. Hampir tiap jam, Papi, Mami, Yeye dan Naina bergantian menghubungi mereka. Lewat video call juga kadang telpon biasa. Pesan teks jangan ditanya.......Wulan dan Suryo paling malas menjawab menurut mereka pertanyaannya itu-itu saja.
"Sudah sampai mana belajar sejarah TLC?"
"Apakah sudah mulai belajar talenta basic?"
"Sudah makan belum?"
"Sudah mandi belum?"
"Jangan lupa salam dan bilang terima kasih pada Aunt Yesha dan Uncle Huge"
Ituuuuuuu......itu aja. Rara juga bosen sih sebenarnya. Apalagi ia merasa ia yang paling tidak ada kemajuan. Tapi ia selalu membalas pesan teks mereka meskipun tidak langsung mungkin sekitar tiga puluh sampai empat puluh menit kemudian. Tidak seperti Wulan dan Suryo yang sama sekali tidak menjawab pesan teks. Ketika ditelpon dan ditanya mereka akan manjawab bahwa toh akhirnya juga ditelpon.
Aunt Yesha sudah memberikan mereka masing-masing alat komunikasi terbaru. Suryo sangat senang pas mendapatkannya. Aunt Yesha bilang itu adalah alat terbaru yang hanya dimiliki oleh mereka yang tergabung di TLC. Menggunakan jaringan khusus milik TLC sendiri. Berbentuk menyerupai jam tangan. Namun lebih tebal dari jam tangan biasa. Karena di dalamnya juga tersimpan headset yang bisa diambil sewaktu-waktu. Dilengkapi dengan chakra sehingga dapat memperoleh energi dari apapun seperti energi matahari, gerak dan panas tubuh manusia.
Yang terbaru dan tidak dimiliki oleh gadget lama mereka. Alat ini mampu memproyeksikan layarnya dimanapun. Tampilan layarnya maksimal sebesar televisi 72 inchi. Untuk main game, alat ini akan memproyeksikan tombol virtual di udara tapi Rara kurang suka dengan tombol virtualnya, Suryo dan Wulan juga. Mereka terbiasa dengan sesuatu yang bisa mereka sentuh. Ada tambahan alat lagi untuk itu tapi Aunt Yesha tidak memberikannya buat mereka.
Beda dengan Arthur. Arthur sangat antusias untuk apapun. Ia senang sekali mendapat pesan. Bahkan jika dalam satu jam tidak ada pesan untuknya, ia yang akan mengirim pesan ke Yeye, Nainai, Papi atau Mami. Terutama ke Nainai.
Dari sekedar selamat pagi, selamat siang, sudah makan belum, sudah mandi belum dan segala kegiatan yang ia lakukan. Dan yang membuat Suryo jengkel, Arthur juga melaporkan segala pertengkarannya dengan Wulan. Dimana dari sudut pandang Arthur, Suryo yang cari gara-gara karena selalu membantah Wulan.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir sih benar juga. Kenapa Suryo selalu tidak setuju dengan apa yang Wulan katakan. Memang tidak semua perkataan Wulan Rara juga setuju. Tapi karena Rara mengenal Wulan, ia tahu membantah akan percuma. Ia berharap mbok ya si Suryo ini ngalah aja daripada pada bertengkar terus tiada henti.
Tapi ooooooh tidak bisa! Menurut Suryo, harus ada yang memberi pengertian pada Wulan bahwa ia tidak selalu benar. Yo wes lah.....
__ADS_1
Lha wong sama ngeyelnya.
Dua hari berlalu tidak ada kabar soal sekolah mereka. Papi mengabari mereka bahwa jadwal masuk sekolah mereka diundur. Ada masalah administrasi katanya.
Untuk makanan mereka tidak pernah khawatir. Setiap jam makan selalu ada orang suruhan Aunt Yesha yang mengantarkan makanan untuk mereka. Saat hari menjelang malam, Papi, Mami, Yeye dan Nainai datang dengan diantar wanita berpedang yang dulu juga membantu menyelamatkan mereka. Tampaknya wanita itu mempunyai talenta teleportasi. Mereka membawa masakan Nainai yang menurut mereka the best...yang terbaik.
Dan itu adalah saat yang paling Rara takuti. Ia memang senang melihat keluarganya. Tapi kemudian mereka akan mulai membombardirnya dengan latihan-latihan untuk mengejar ketertinggalan mereka. Dari latihan konsentrasi untuk memindahkan benda dengan pikiran mereka. Latihan beladiri dengan wanita berpedang itu, latihan kecepatan dan banyak lagi.
Dari mereka berempat, Suryo lah yang paling cepat menunjukkan kemajuan. Di akhir hari kedua ia berhasil memindahkan pulpen sejauh lima puluh centimeter. Ini membuat Papi Mami dan Yeye Nainai bangga bukan main.
Daaaannnn ...... membuat yang lain pusing dan jengkel. Bagaimana tidak ketika para orang tua sudah pulang, tidak henti-hentinya si Suryo menyombongkan diri.
Wulan yang tidak sabaran dengan sengitnya mengatakan pada Suryo bahwa apa yang dilakukannya adalah talenta dasar yang pada akhirnya akan dikuasai mereka semua. Tapi Suryo juga tidak mau kalah.
"Ya biar, mau talenta dasar mau talenta lanjutan mau talenta SUPWWWWEEEER...... yang penting aku iso duluan daripada adikku...BWEEE!!!" Katanya sambil tertawa terkekeh membuat Wulan makin jengkel. Untungnya malam itu, Uncle Hugh dan Auntie Yesha ada urusan sehingga tidak bisa pulang. Jadi Suryo dan Wulan bebas adu bacot tiada henti yang membuat Rara pusing dan Arthur terheran-heran.
Kata Arthur " Kalian ini bersaudara tapi tidak seperti yang Arthur baca-baca. Saudara harus saling menyayangi tidak bertengkar setiap jam seperti kalian."
"DIAMMM!" jawab Wulan dan Suryo bersamaan membuat Arthur langsung ngacir keluar menyiapkan hammock tempat ia akan tidur.
HAIFU tak mau kalah setiap kali Wulan dan Suryo mulai berargumen, ia akan menyetel lagu-lagu yang bertemakan perang. Dari lagu perjuangan Maju Tak Gentar sampai lagu march tentara.
Membuat Wulan semakin sengit, sementara Suryo tambah senang dan ikut bernyanyi sambil tertawa terkekeh-kekeh melihat adiknya marah.
Keesokan harinya, keadaan tidak bertambah baik Suryo tambah menjadi-jadi. Ia menggunakan talentanya untuk mengganggu yang lain secara non stop. Jika Rara dan Arthur mengalah saja saat seperti saat hendak mandi handuk yang dibawa Rara tiba-tiba melayang sendiri. Rara dengan sabar diam dan menunggu sampai Suryo bosan sendiri bermain-main dengan handuk itu. Dan mengembalikannya kepada Rara dengan tersenyum jahil.
Arthur juga sabar saja menghadapi Suryo, saat sendok dan garpu yang akan dipakainya makan melayang, ia ikut tersenyum dan tertawa.
"Ngga asik ah kalian!" kata Suryo
Dengan kejadian-kejadian itu, Rara berpikir bahwa Wulan akan mencontoh mereka, membiarkan Suryo biar bosan sendiri.
Tapi.....oh tidaaaaak.....
Wulan tidak akan pernah mau mengalah. Ia akan mengejar Suryo, dan memaki-maki Suryo. Rara hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana Wulan yang begitu pintar tidak bisa melihat bahwa sebenarnya hal ini yang membuat Suryo senang. Dan jika dilanjutkan terus-menerus, lama-lama mereka berantem beneran dan tidak mau berbicara satu sama lain. Membuat suasana jadi tidak enak dan kaku.
Dan itulah yang terjadi di hari ketiga mereka bersama di rumah mungil itu. Rasanya Rara sudah kangen banget sama rumah. Ia tidak habis pikir kenapa mereka harus ditinggal di pulau terpencil itu. Apa mereka tidak bisa menunggu di rumah bersama-sama dengan keluarga mereka.
HAIFU lah yang memberikan penjelasan kepadanya. Bagaimana tempat mereka berada sekarang adalah tempat yang paling aman bagi mereka dari kejaran daemon. Karena pada dasarnya pulau itu tak terpetakan, hanya beberapa orang saja yang tahu bagaimana cara menuju kesana. Jika ada orang asing yang mendekati pulau dengan radius 20 kilometer HAIFU akan dapat mendeteksinya.
Rupanya, para daemon paling senang memangsa remaja-remaja bertalenta yang belum memahami talenta mereka. Dengan demikian akan lebih mudah untuk membujuk remaja-remaja itu untuk bergabung dengan mereka. Apalagi dengan iming-iming ketenaran yang akan mereka dapatkan. Seperti yang Allen akan lakukan pada Suryo.
Lalu selain membunuh mereka yang bertalenta, jika mereka mau menjadi daemon juga, daemon yang bertanggung jawab mengubah mereka akan mendapat tambahan kekuatan yang didapat dengan menyerap intisari jiwa orang yang bertalenta. Maka dari itu, dibandingkan bertempur dengan mereka yang sudah terlatih, daemon lebih suka mengejar mereka mereka yang bertalenta tapi belum menyadarinya. Jika bujukan tidak berhasil, daemon tinggal membunuh saja untuk menyerap kekuatan.
Penjelasan dari HAIFU cukup memuaskan mereka. Suryo dan Wulan tidak henti-hentinya mengeluh bagaimana mereka bosan. Di hari kedua kemarin mereka sudah selesai menjelajahi pulau itu. Seperti rumahnya, pulau itu juga termasuk mungil untuk ukuran pulau. Di siang hari, yang mereka lakukan hanya bermalas-malasan sambil mendengarkan HAIFU dan menonton video sejarah dari TLC.
Rara menghabiskan waktunya dengan menelusuri internet mencari-cari segala informasi mengenai talenta. Jika bosan ia akan mengganti topik dan mencari info tentang tata cara memelihara hewan, segala tips dan trick nya. Seperti siang ini, Ia dan Wulan sudah bosan berlatih konsentrasi mencoba memindahkan benda, sementara Suryo dengan santainya pamer di depan mereka semua sambil memutar" pulpen persis di depan mereka berpindah-pindah dari depan Rara kemudian entah sengaja atau tidak persis di depan hidung Wulan.
Arthur yang melihat dari kejauhan tertawa-tawa membuat Suryo makin semangat. Cepat-cepat Rara menarik Wulan menjauh dan masuk ke dalam rumah ketika dilihatnya wajah Wulan sudah mulai memerah karena marah.
"Ehm, udah dulu yuk latihannya, bosen. Bikin kue aja yuk buat sheba sama milly. Tadi kulihat ada labu tinggal campur aja dengan telur, kulihat tadi resepnya di internet. Katanya sehat dan baik buat mereka."
Wulan masih memandang keluar dengan sengit. Namun diikutinya Rara ke dapur. Lalu dengan cepat diambilnya pisau dari tangan Rara. Dengan hentakan sekuat tenaga dipotong-potongnya labu itu menjadi kubus kecil-kecil.
Baru saja Rara merasa lega, eeeeehhhh...... Arthur masuk diikuti oleh Suryo. Suryo yang melihat adiknya mencincang labu tertawa jahil. Ia menjawil Arthur sambil menunjuk ke arah mangkuk berisi hasil cincangan labu Wulan. Arthur tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya, maksudnya jangan lakukan.
Tapi yang namanya Suryo, mana mau menurut. Ditambah lagi, ia sebenarnya juga bosan. Jadi mengganggu adiknya adalah hiburan terbaik baginya.
Diarahkannya tangannya ke arah mangkuk berisi labu itu, dan ketika Wulan akan memasukan hasil potongan labunya, digesernya mangkuk itu membuat potongan labu itu berserakan di atas meja dan ada yang jatuh di lantai.
Rara memandang itu semua dengan horor apalagi saat dilihatnya wajah Wulan. Wulan mengatupkan bibirnya, alisnya berkedut, dan entah kenapa Rara merasa takut. Tiba-tiba....
"Oh...tidak...ada apa ini....HAIFU merasa...oh...blipp
....zxkdmaua ..mmmraRrarama....."
Setelah itu semua jadi kacau, rumah itu meraung-raung dengan suara sirine. Suara HAIFU sendiri kacau, seperti mengucapkan berbagai macam kode kode. Lampu rumah itu berkedip-kedip. Dan di luar, Rara bisa melihat ada yang bermunculan dari tanah, Rara tidak tahu apa nama persisnya tapi ia tahu itu adalah senjata-senjata yang biasa hanya ia lihat di film film.
Dengan takut dilihatnya Wulan, tapi Wulan tak bergeming, ia hanya berdiri kaku di samping meja dapur. Tangan kanannya masih erat memegang pisau. Ketika Rara mencoba menarik Wulan. Ia terkejut karena tubuh Wulan benar-benar keras dan kaku. Dan apapun yang dilakukannya tidak dapat menggoyangkan Wulan.
Dengan panik ia berteriak "Yo...Suryoooo, kenapa ini, Wulan Yoo.."
Dor...dooorr...dor...duaaar....
Secara reflek Rara menjatuhkan diri ke lantai, sheba dan milly langsung berlari ke sampingnya. Dilihatnya Arthur dan Suryo melakukan hal yang sama. Tapi Wulan....
Wulan tetap berdiri kaku, seolah tak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Kaca-kaca di jendela rumah itu pecah, tembakan peluru bertubi-tubi memecahkannya.
Dengan panik, Rara mencoba menarik Wulan sekali lagi. Saat ia menarik tangan Wulan, ada yang hangat mengenai tangannya....
Darah.....
Rara terkejut, ia mendongak dan dilihatnya, dari lengan atas Wulan, darah itu mengalir. Rara menangis, dengan segala rasa paniknya, ditariknya lagi Wulan. Suryo yang melihat itu, mendekati mereka dengan merayap di lantai, dibantunya Rara mencoba menarik Wulan. Tidak berhasil.
Entah kenapa, Wulan seperti kaku. Sebuah peluru mendesing lagi, dan menembus bahu kiri Wulan. Rara di tengah kebingungannya mencoba menguhubungi keluarganya. Namun, alat komunikasinya tidak berfungsi. Alih-alih menunjukkan nomor yang dituju, layarnya justru mengeluarkan berbagai macam kode dengan cepat dan mengeluarkan suara nada dering di volume maksimal.
Milly mendengus di sampingnya. Dan tanpa berpikir panjang Rara berdiri dan memeluk Wulan. Suryo berteriak kaget.
Dengan lembut, Rara berbisik di telinga Wulan sebuah doa yang selalu diingatnya, bahwa semuanya baik-baik saja. Dan tiba-tiba tubuh Wulan lemas, dan terkulai. Beruntung Rara memeluknya. Jadi Rara bisa menahannya agar tidak sampai terjatuh.
Dan saat itu juga semua terhenti. Segala tembakan, suara ceracauan HAIFU, sirine, dan suara nada dering dari alkom mereka terhenti. Semua jadi hening.
Rara menangis...
Wulan terkulai di lantai, darah mengucur deras dari bahu kirinya dan lengan kanannya.....
__ADS_1
Matanya tertutup rapat dan tak ada reaksi sama sekali...