
Dia berlari sekuat tenaga.....
Huft....huft.....huft....
Napasnya terengah-engah, tenaganya sudah
habis, ia tak bisa terbang lagi.
Dasar....daemon-daemon sialan.....
Mereka mengejarnya begitu tahu ia tadi
terluka, daemon-daemon kelas rendahan.....
Cih......
Tapi kenapa mereka mengejarnya? Apa yang
sebenarnya terjadi?
Daemon idak akan
mengejar daemon lainnya hanya untuk bersenang-senang, biasanya mereka saling
membunuh untuk memperebutkan kekuasaan.
Sedangkan Derrick tidak mempunyai daerah kekuasaan di manapun. Compoundnya
sudah dimusnahkan, lagipula jika hanya untuk memperebutkan sebuah compound
kecil rasanya tidak layak. Kecuali......
Kecuali mereka
tahu.....
Tapi tidak mungkin,
hanya Dia Yang Agung yang tahu. Harvey rasanya juga tidak tahu karena dengan
tingkat kebodohannya itu, Derrick ragu ia bisa menebak. DYA tidak pernah
memberitahukan kebenaran tentang dirinya kepada yang lain. Itu yang
dikatakannya.
Mungkinkah DYA
berbohong?
Tidak mungkin, jika
ingin membinasakannya Derrick yakin DYA sendiri yang akan melakukannya, tidak
mungkin menyuruh daemon-daemon rendahan seperti ini untuk mengejarnya. Alkomnya
berbunyi, Derrick meliriknya.
Dari Harvey, pesan
yang sama....
DYA memanggilnya untuk
memberikan laporan.
Hmm......
Jadi jelas bukan DYA
yang mengejarnya, Harvey bilang akan menjemputnya atas perintah DYA langsung. Semua
tahu Harvey adalah manusia milik DYA jadi tidak ada yang berani menyentuhnya
ataupun menghalanginya.
Jadi siapa yang
berani-beraninya mengejarnya?
Ia , Derrick,
mata-mata langsung di bawah DYA.
Selama ini kata DYA,
ia diberikan jabatan rendah supaya ia tidak menarik perhatian. Jadi tidak ada
yang memperhitungkan pergerakannya. Dengan bebas ia bisa memata-matai
daemon-daemon mulai dari ketua ranting pertama seperti Redroth hingga
bawahannya seperti Rakhta. Sudah tak terhitung berapa daemon yang berhasil ia
patahkan pemberontakannya.
Ya.....
Derrick sangat teliti, ia bisa membaca rencana daemon-daemon itu. Dari
laporannyalah DYA bisa menumpas gerakan pemberontakan-pemberontakan yang ada.
__ADS_1
Belum skala besar sih, dan itu semua berkat Derrick. Prestasi terbesarnya
adalah ketika ia berhasil mengungkap gerakan pemberontakan yang diam- diam
direncanakan ketua ranting kesatu benua afrika. Dan itu dilakukannya dengan
cermat sehingga tidak ada yang tahu tentang keberadaanya sebagai mata-mata.
Waktu itu ia hanya memegang jabatan daemon rendahan, hanya sebagai penjaga
sebuah compound besar di Afrika selatan.Tapi daemon-daemon itu tak ada yang
tahu.
Ia ,Derrick satu-satunya daemon yang bisa bertahan di bawah sinar matahari.Kecuali
DYA, tidak ada lahu. Menurut DYA, Derrick ada satu-satunya daemon yang bisa
begitu. DYA sendiri tidak bisa bertahan lebih dari dua jam di bawwah sinar
matahari. Karena itu ia selalu dalam
perlindungan DYA, karena ia spesial.
DYA sendiri yang membesarkannya meskipun sebenarnya, ia banyak dititipkan ke
pengasuh sih. Harvey adalah pengasuh yang paling diingatnya karena ia
satu-satunya manusia yang masih mengabdi pada DYA setelah sekian lama. Biasanya
manusia-manusia yang mangabdi itu sudah dijadikan daemon atau mati sebagai
zombie. Usianya delapan tahun ketika Harvey mulai menjadi pengasuhnya.
Meskipun bodohnya setengah mati, tapi Harvey pengasuh yang sabar. Sebenarnya jika
dipikir-pikir, mungkin Derrick paling banyak melewatkan waktu kanak-kanak sampai remaja bersama Harvey. Begitu dewasa, DYA langsung mengambil alih, menurut DYA Harvey menjadikannya lemah,
dengan memberinya makanan manusia, membawanya ke aktivitas manusia. Rupanya
Harvey mengincar kekuatannya. Padahal kekuatan daemon tidak bisa diserap
siapapun. Baik oleh manusia maupun oleh daemon lain.
Pertikaian antar daemon hanya terjadi jika terjadi perebutan kekuasaan. Sedangkan ia,
Derrick, tidak memiliki daerah kekuasaan apapun. Karena itu aneh sekali
daemon-daemon rendahan ini mengejarnya.
Ia mengirimkan lokasinya pada Harvey, tapi rasanya akan terlambat bantuan dari
karena Derrick malah haruss melindunginya.
Eh...eh...eh
Tunggu dulu, ngapain juga ia mengkhawatirkan Harvey. Toh....ia ga ada gunanya juga.
DYA sendiri masih mempertahankan Harvey karena ia paling menurut sebagai
manusia, tidak pernah membantah, itu kata DYA saat Derrick menanyakan kenapa
Harvey masih dipakai.
“Derrick......”
Eh....suara siapa itu? Mungkin ia kelelahan setelah terbang begitu jauh melewati
lautan. Ia tak tahu dimana ia sekarang. Yang jelas ia sudah tidak di pulau Jawa
lagi.
“Derrick...”
Ih....suara siapa sih, koq mengerikan suaranya, seperti suara nenek-nenek tua. Mana ini di
tengah hutan pulak. Bukannya ia takut setan, daemon tidak takut setan karena mereka tidak saling mengganggu.
“Derrick....kau budeg?”
Derrick menghentikan larinya, ia ngos-ngosan. Di depannya berdiri wanita tua berambut
perak wajahnya rusak separo dengan luka bakar. Tubuhnya juga terbakar di beberapa bagian.
“Kau......”
“Kau tidak mengenaliku? KAU YANG MEMBUATKU BEGINI!” wanita tua itu meraung, menyadarkan
Derrick siapa yang di depannya.
“Rakhta.....?”
“Gara-gara rencanamu sekarang lihat aku! LIHAT!”
‘Tapi...Ta, kau kan tinggal berubah lagi?”
Nenek tua itu meringis, lalu ia berputar dan dalam sekejap sosoknya berubah menjadi
Rakhta yang biasa jadi teman kencan Derrick, tapi......
Ketika Rakhta berbalik, Derrick terkesiap. Separuh wajah dan tubuh yang dulunya cantik
__ADS_1
jelita dan mulus itu tetap dalam kondisi terbakar. Separuh Wajah dan tubuh Rakhta hangus, berkeriput tidak mulus lagi, sebagian bahkan seperti bernanah dan mengeluarkan bau busuk.
"PUAS KAU?" jeritnya dengan suara parau,"PUAAAAS? Wajahku yang cantik tak bisa kembali lagi...."
"Tapi, bukan aku yang membuatmu begini. Kau lihat keadaanku sendiri gimana?"
Rakhta menyeringai,"Ya...justru itu, Derrick. Aku tahu kau terluka juga setelah berduel di udara, kan? Tapi, kau tak terluka oleh sinar itu. Aneh bukan? Disaat daemon sekuat Redroth pun dibinasakan, kau bisa tak terluka oleh sinar itu."
"Kau sendiri?"tanya Derrick penasaran messkipun ia merasakan ada yang aneh dengan Rakhta tapi ia lebih penasaran dengan bagaimana Rakhta bisa selamat, "Kau sendiri bagaimana bisa selamat?"
"PHUIH!" Rakhta meludah,"Bukan karenamu kan? Semua karena otakku, kepintaranku, HUFT!"
Derrick merasakan langkah-langkah daemon yang semakin mendekat.
"Ta, ceritanya besok aja, sekarang kita harus lari dulu..."
"Masalahnya Derrick..."bisik Rakhta," Kau meninggalkanku, untung aku cepat tanggap, begitu kulihat anak-anak itu berhasil menerobos api Redroth, aku langsung lari...."
Derrick menjadi tidak sabar.
"Ya...ya...ya.... Kau memang pintar, tapi aku harus pergi dulu yah..."
"Masalahnya Derrick....."bisik Rakhta lagi," Aku tidak cukup cepat larinya, cahaya laknat itu entah bagaimana masih mengenai separuh diriku. membakar diriku dan tidak bisa aku sembuhkan meskipun dengan kemampuanku berubah......... "
"Rakhta! Aku tidak ada waktu mendengarkan ceritamu, bisa kau ceritakan saat kita bertemu lagi." Kata Derrick sambil bersiap lari karena ia sudah tidak kuat untuk terbang lagi.
"Masalahnya Derrick....." Derrick memutar bola matanya saat Rakhta dengan tangannya menahan tubuhnya supaya tidak pergi." Daemon-daemon itu....."
"Ya?"
"Daemon-daemon itu adalah suruhanku untuk menangkapmu......"bisiknya dengan senyum menyeringai yang mengerikan.
“Apa maksudmu? Untuk apa kau ingin menangkapku? Kau tahu kan aku tak punya kekuasaan apapun, lagian jika kau berani melukaiku DYA sendiri yang akan kau hadapi.”
“Masalahnya Derrick.......”
“Sekali lagi kau katakan masalah maka aku akan memberikan masalah beneran buatmu!” desis Derrick jengkel.
“Awkakakakka.....kikikikiiiiikikiiik......”bukannya takut Rakhta malah terkikik geil, suara tawanya benar-benar mengerikan, jika ada manusia yang lewat dan mendengarnya pasti akan langsung ngibrit apalagi di
tengah hutan begini.
“Derrick......Derrick.....Derrick....”kata Rakhta sambil menarik napas panjang,” Redroth bilang ia tak pernah melihat
dirimu di dekat DYA. Memang Harvey yang dulu membawamu padaku sebagai perkenalan ketua compound baru di wilayahku, TAAAPIIIII........Harvey juga tak pernah bilang bahwa DYA langsung yang mengutusmu.”
“Harvey adalah manusia milik DYA, semua tahu itu!” balas Derrick sengit.
“Ya....ya....tapi bukan berarti kau dalam perlindungan DYA juga kan? Buktinya selama ini, mana? Mana DYA? Dia tak pernah membantumu, saat kau mengejar R3 juga, droneku melihat kau kewalahan sendirian tak ada bantuan sama sekali. Jika kau anak kesayangannya seperti yang kau gembar-gemborkan selama ini padaku, pasti ia akan membantumu dengan segera, tapi mana? MANA WOI?”
Derrick terdiam, ia merasakan ada banyak pergerakan di sekitarnya. Menghadapi Rakhta seorang diri, ia yakin meskipun ia terluka ia masih mampu mengalahkan Rakhta. Tapi dari suara yang dihasilkan tampaknya banyak juga daemon-daemon bawahan Rakhta. Ini akan membuatnya kesulitan.
“Kau ingin membuktikan sendiri? Ayo sini maju, kita lihat jika kau bisa mengalahkanku, kita lihat nanti bagaimana DYA akan menghukummu.”
Rakhta tampak ragu sejenak, tapi kemudian ia tersenyum.
“Masalahnya Derrick....”Rakhta mengangkat tangannya sebelum Derrick sempat membuka mulut
dan melanjutkan, “Sebagai jaminan bagiku, semua pembicaraanmu denganku sudah aku rekam, bagaimana kau menginginkan anak-anak itu untuk dirimu sendiri......O...HOHOHOHO.....”
Rakhta tampak puas ketika dilihatnya Derrick tampak kaget,” Aku bukan daemon yang bodoh Derrick, selama ini aku bisa bertahan karena aku tahu bagaimana memegang kelemahan daemon-daemon lain di atasku. Seperti Redroth, aku bisa menyembunyikan banyak info darimya karena ia gampang dialihkan perhatiannya, kau tahu ia menyukai anak laki-laki di bawah umur untuk menjadi teman tidurnya. Jadi aku tinggal berubah dia sudah hilang akal, nafsunya mengalahkan akalnya......”
Rakhta mendongakkan kepalanya sambil merentangkan tangannya, “ Dipikir-pikir lagi, kejadian hari ini memberiku keuntungan juga, sekarang aku menjadi daemon yang bebas. Penciptaku sudah tidak ada, Redroth tua bangka itu sudah musnah.......HAH. . ......HA... ...HAHAHAHA.....”
Derrick memandang Rakhta lekat-lekat, daemon itu masih memandang ke atas sambil mengatupkan matanya dan tertawa terbahak-bahak seolah-olah ia baru sadar akan kebebasannya.
“Jadi kau sekarang sudah bebas, bagaimana kalau kita menjadi partner. Kau bisa mengandalkanku untuk memperluas wilayahmu, dan aku akan merekomendasikan engkau pada DYA.”
Tiba-tiba Rakhta berhenti tertawa dan menatap Derrick dengan bengis dan kebencian yang sangat dalam,” KAU SUDAH MERUSAK WAJAHKU! TUBUHKU! KAU KIRA AKU BODOH? Begitu kau lolos dari sini, kau akan membuat laporan palsu tentang aku, aku tak tahu bagaimana caramu mengelabui DYA, tapi cukup sampai disini. AKU, RAKHTA, yang akan menghabisimu dan membawa bukti pengkhianatanmu pada DYA. Kita lihat nanti bagaimana aku akan meraih kekuasaan lebih......AHHAHAHAHA....eh...eh...mungkin bahkan DYA akan menganugerahkanku karunia baru dan kedudukan Redroth untuk.....ku...”
Derrick tak membuang waktu lagi, dilihatnya Rakhta sudah tak bisa dibujuknya lagi, ia melompat menyerang Rakhta membuat Rakhta kaget dan terlambat menghindari, tangan Derrick yang sudah bertransformasi dengan kuku yang panjang dan tajam menyobek perutnya.
Rakhta melompat mundur ke belakang dan memandang Derrick dengan murka, lalu ia juga berubah menjadi daemon, tapi sekarang ekornya sudah tidak ada, membutuhkan waktu yang lama untuk menumbuhkan ekornya lagi. Ia mengaum dan berteriak memberikan perintah serangan.
Seketika dari sekitar Derrick puluhan daemon bergerak serentak menyerangnya. Serangan itu bertubi-tubi datang dari segala arah. Awalnya Derrick masih bisa mengatasi serangan-serangan itu, ia berhasil melumpuhkan dua daemon sebelum sebuah cakaran yang tajam merobek punggungnya. Ia meringis kesakitan, luka bakar dari
tembakan mobil terbang yang dikemudikan pejuang terang tadi masih belum pulih, luka itu terbuka lagi.
Sebuah tendangan menghunjam ke perutnya, Derrick sangat kewalahan, ia menengadah ke atas, tapi hari masih gelap, pagi hari masih lama, baru kali ini Derrick berharap dengan sangat untuk datangnya matahari biasanya ia benci sinar matahari.
“Selesaikan dengan cepat!”teriak Rakhta,” Jangan sampai subuh.”
Saat dilihatnya Derrick menatapnya dengan bingung Rakhta tertawa,” Oh....Ya Derrick, aku tahu kau bisa bertahan di bawah sinar matahari sejak sinar uv yang kuarahkan padamu dulu tidak melukaimu sama sekali. Aku tahu kau bukan daemon....”
Sambil melompat mundur ke belakang Derrick mengangkat tangannya menunjukkan ia menyerah.”Apa maksudmu aku bukan daemon? Aku daemon tier empat, jika bukankarena aku sudah terluka sebelumnya kau dan cecungukmu tak akan bisa mengalahkanku.”
Rakhta tertawa mengejek,”Kapan terakhir kali kau mengubah manusia menjadi daemon
bagianmu? Tak pernah kan? Karena KAU.... DERRICK .....BUKAN ..... DAEMON!!!”
Kata-kata Rakhta yang penuh penekanan membuat Derrick marah bukan main, tapi semua kata itu benar adanya. Selama ini sebagaimanapun Derrick mencoba ia selalu gagal untuk menjadikan manusia yang rela menjadi daemon, menjadi daemon bagiannya. Ia sudah menanyakan itu pada DYA, tapi menurut DYA itu wajar karena ia daemon yang muda, banyak yang gagal memang atau mungkin manusia yang dipilihnya memang
tidak layak untuk menjadi daemon. Tapi manusia-manusia itu juga tidak berubah jadi zombie setelah ia memberikan mereka darahnya. Mereka hanya mati....dead.....tidak bisa apa-apa lagi.
“JANGAN MELAMUN! Terimalah Derrickku sayang....ini adalah waktu kematianmu!”
Cengkeraman tangan Rakhta terasa dingin di lehernya, sementara daemon-daemon yang lain memegangi kedua kaki dan kedua tanganya, bahkan ada yang menggigit pahanya, ada lagi yang menggigit pinggangnya, sakitnya luar biasa. Derrick merasakan darahnya menyembur, rasanya hangat.
Pandangannya makin lama makin kabur, sebelum kesadarannya hilang, ia melihat sesuatu yang menyilaukan dan daemon-daemon yang mengerubutinya termasuk Rakhta terpental.
Kemudian semuanya gelap.
__ADS_1