
Ruangan itu masih sama kusam dan
membosankan seperti yang Derrick ingat. Jika ingin membuat orang depresi
tinggal bawa saja itu orang kemari
dijamin dalam satu jam orang itu akan membutuhkan psikolog.
Yaaah...mungkin Derrick terlalu
membesar-besarkannya. Tapi coba lihat, hanya ada satu tempat duduk, sebuah sofa
tiga dudukan di ruangan itu. Sofa itu sudah sangat tua, busanya melesak masuk,
kain pembungkusnya ada beberapa bagian yang robek, warna aslinya pun sudah
tidak kelihatan entah dulunya putih atau krem. Jika diduduki akan berbunyi
kriyat kriyut seolah olah akan rubuh sewaktu-waktu. Dinding ruangan itupun
sudah kusam, catnya mengelupas di sana sini. Tidak ada foto ataupun lukisan
yang digantung. Sebuah meja dengan sebuah laci ada di sudut ruangan.
Sebenarnya jika tidak karena terpaksa
sekali, Derrick malas kembali ke rumah itu. Membutuhkan penerbangan semalam
selama sepuluh jam penuh untuk mencapai tempat ini. Padahal Derrick sudah
termasuk yang tercepat di antara para daemon. Kadang jika sedang ingin iseng ia
sengaja naik penerbangan komersial manusia, dimana ia bisa merasakan pelayanan
kelas satu. Namun perintah kali ini jelas ia harus secepatnya memberikan
laporan penyelidikannya malam ini juga. Dan sebentar lagi matahari akan terbit,
Derrick harus beristirahat sebelum terbang kembali pulang ke compound. Dan
celakanya, ternyata DIA yang agung sedang ada urusan di lain jadi ia harus
memberikan laporannya lewat si tua tambun ini.
Harvey....
Pria yang dulu merawatnya. Derrick
merasa heran sekaligus ada rasa kagum meskipun hanya sedikit.....
sedikiiiiiiiit sekali.....terhadap kegigihan Harvey. Eh mungkin lebih tepatnya pada kebodohannya.
Bagaimana mungkin ada manusia ssebodoh ini, yang mau saja diperbudak sedemikian
lama hanya dengan imbalan janji bahwa suatu saat akan dijadikan daemon juga.
Padahal menurut Derrick, tidak ada daemon yang masih waras manapun yang akan
bersedia mengeluarkan kekuatannya untuk menjadikan Harvey daemon, apalagi DIA
yang agung. Harvey hanyalah seorang manusia biasa tanpa kekuatan apapun.
Seorang manusia biasa yang rela dijadikan daemon belum tentu bisa menjadi
daemon. Jadi zombie pasti. Hanya mereka dengan kekuatan atau yang mereka sebut
talenta yang jika rela menjadi daemon yang pasti akan berubah menjadi daemon.
Karena daemon bukanlah makhluk yang bodoh, manusia biasa yang super kaya atau
berkedudukan tinggi saja yang akan mereka pertimbangkan untuk dijadikan daemon.
Sedangkan Harvey, miskin, harta tak ada, kedudukan....budak, jelek tua pula.Jadi
mana mungkin impiannya menjadi daemon akan menjadi kenyataan. Tapi, lihatlah
sampai sekarang ia masih saja setia menunggu direalisasikannya janji itu.
Diarahkannya pandanganya menelusuri setiap
bagian rumah itu. Segalanya masih sama, sama kusam dan kumuhnya, Derrick menggelengkan
kepalanya. Rumah itu sangat sederhana, kalau tidak bisa dibilang minim, hanya
ada satu kamar, disebelah kamar ada kamar mandi. Di bagian belakang ada dapur
kecil dengan sebuah meja lipat yang digunakan untuk makan. Jelas bukan imbalan
materi yang selama ini Harvey terima untuk menjadi budak DIA yang agung. Jika
disuruh menyebutkan apa yang dia suka dari rumah ini mungkin hanya satu, yaitu
tirai jendelanya yang seratus persen mampu menahan sinar matahari agar tidak
menerobos masuk. Dan Derrick benci sinar matahari.
“Hallo.... masih lama?”
“ Eh...eh tidak.... ini sudah selesai.”
Dari arah dapur , Harvey terlihat
tergooh-gopoh keluar membawa toples berisi kue nastar nanas dan boba milk tea
masih dalam kemasan gelas plastiknya yang tersegel rapat.
“APA APAAN INI? APA MAKSUDMU?”
Derrick marah sekali, jika tidak
menahan diri sudah dilemparnya si tua bangka ini keluar.
“Eh inii....kkuu ...kue dan
mi...miinum ...an kesukaanmu du..duudu..lu..”
Dengan tidak sabar, Derrick berdiri
__ADS_1
dan disentakannya toples dan minuman itu dari tangan Harvey. Toples itu jatuh
ke lantai, kue nastar berbentuk buah nanas itu berserakan di lantai, sementara
boba tea nya muncrat kemana mana ketika gelasnya terlempar menghantam dinding.
Sayang juga sih.....eh... tidak tidak....biarin aja.
“KAU TAHU AKU TIDAK BUTUH MAKAN!
SAMPAI KAPAN OTAK BEBALMU TIDAK BISA MEMAHAMI INI?!?!” teriak Derrick kesal
sambil berdiri menjulang tinggi di hadapan Harvey.
“Ttta.... taaa... pi... ka..ka... kau,
hhh...aab...haab...bis teerb... terrbbb.. terbang lll....llla ....laamaa...”
Nah kan
gagapnya keluar menjijikkan sekali. Dipandanginya Harvey. Pria tua berdiri
tertunduk dan gemetaran di sekujur tubuhnya. Mau tak mau ada rasa kasihan yang
timbul dalam diri Derrick.... eh... eh tunggu dulu..
Kasihan.........?
No...no....no..
Seorang daemon tidak akan pernah
merasa kasihan....
“Aku bukan orang bodoh sepertimu. Aku
ada makan di sela-sela perjalanan kemari. Masih banyak manusia bodoh yang bisa
kumangsa.” Sekilas Derrick seperti melihat pandangan mata Harvey yang tampak
sedih ke arahnya, namun dengan cepat Harvey kembali tertunduk.
“Tenang saja sudah kupastikan mereka
tidak akan berubah menjadi zombie.” Satu hal yang Derrick bangga sekali
terhadap dirinya adalah ia seorang yang rapi. Mangsanya tidak akan pernah
ditemukan menjadi zombie, ia selalu membuat mereka seolah-olah mati karena
overdosis obat. Hanya daemon ceroboh yang meninggalkan mangsanya begitu saja,
tanpa menyerap kembali zat dari air liur mereka yang bisa menjadikan manusia
itu menjadi zombie.
Dilihatnya Harvey masih gemetaran....
“Catat semua yang akan kukatakan
padamu, dan sampaikan pada DIA yang agung. Meskipun sebenarnya aku bisa saja
sih? Bikin repot saja...” Derrick sudah melunak, bagaimanapun Harvey sangat
baik kepadanya.
“Kata tuanku, jaringan komunikasi kita
tidak aman. Banyak kebocoran yang terjadi akhir-akhir ini. Para pejuang terang
beberapa kali berhasil menggagalkan rencana kita. Maka dari itu, tuanku merasa
lebih aman seperti ini. Apakah itu yang kau selidiki? Mencari mata-mata?”
“Harvey..... Harvey...” Derrick
menghela napas panjang. “ Mana mungkin ada daemon yang sanggup menjadi
mata-mata. Hanya dengan mengerahkan sedikit kekuatannya, DIA yang agung tinggal
membaca pikiran daemon di bawahnya. Dan semua rahasiamu akan segera ketahuan
olehnya. Jadi mana mungkin ada yang berani menjadi mata-mata. Lagipula tempat
aku ditugaskan, kepala bagian negara Indonesia ini menerima anugerah langsung
dari DIA yang agung, jadi dia tidak akan berani macam-macam karena anugerahnya
bisa diambil sewaktu-waktu.”
“Lalu apa yang kau selidiki?”
“Kau sudah siap untuk mencatat?”
Buru-buru Harvey melangkah menuju meja kecil
di sudut ruangan dan mengambil pulpen dan buku tulis yang sudah kucel.
“Eh tapi Derrick.... jika tidak ada
mata-mata bagaimana pejuang-pejuang terang itu bisa menggagalkan rencana kita?”
“Itu juga masih dalam penyelidikanku.
Ini hasil penyelidikanku.... jadi kepala daemon di Indonesia ini banyak
merekrut dan membuat daemon-daemon baru, selain itu tampaknya ia juga
mengumpulkan pasukan zombie. Aku tak tahu kenapa. Mungkin ia mau melakukan
kudeta....”
“Kudeta?” Harvey melongo, “ Bagaimana
mungkin melakukan kudeta jika menjadi mata-mata saja mustahil......”
“ Hmmm.... kau tahu kan yang bisa
__ADS_1
mengendalikan daemon yang lain hanyalah daemon yang memberinya anugerah. Jadi
seperti DIA yang agung tidak akan dapat mengendalikan daemon-daemon baru yang
dibuatnya. Apalagi jika daemon-daemon baru itu juga membuat daemon lagi.
Hubungan yang semakin jauh membuat semakin sulit untuk mengendalikan dan
membaca pikiran mereka. Meskipun kita tahu jika berhadapan langsung tidak perlu
dibantah DIA yang agung akan sanggup mengendalikan mereka dengan kekuatannya
yang menakjubkan.”
“Maka dari itu, tampaknya ia berusaha
membuat banyak daemon-daemon baru dengan merekrut remaja-remaja yang masih
labil dan mudah tergoda dengan iming-iming ketenaran tanpa melaporkannya pada
DIA yang agung. Selain itu, compound-compund yang ada di Indonesia memiliki
satu kesamaan. Dimana, banyak anak-anak yang bisa terbangun sendiri, tanpa kita
yang membuat mereka bangun. Ada satu yang paling aneh, dari compoundku bahkan ada
yang bangun dan memiliki talenta. Di depan mataku, bocah itu bertransformasi
menjadi kucing.”
“HAH? Anak bertalenta dari compound?”
“Menakjubkan bukan? Aku juga sangat
terkejut, tapi dari penyelidikanku hanya R3 ini satu-satunya hasil compound yang
memiliki talenta. Di compound lain manapun baik di Indonesia maupun di negara
lain aku tidak menemukan adanya laporan kejadian serupa.”
Harvey melongo, mulutnya ternganga
lebar mengingatkan Derrick akan kuda nil.
“Sayang bocah itu berhasil kabur, hal
ini tidak ada satu daemon pun yang tahu. Entah apakah ada kejadian serupa namun
dirahasiakan tapi aku yakin hanya dia satu-satunya. Karena informan-informanku
yang sudah kusebar tidak ada yang menemukan kejadian yang sama.”
Ngomong-ngomong soal informan Derrick
teringat Rakhta. Ia tersenyum sendiri, daemon satu itu benar-benar tahu cara
memuaskannya. Derrick heran pada manusia- manusia yang menolak ketika direkrut
menjadi daemon. Mereka belum merasakan sih bagaimana enaknya menjadi daemon.
Selain usia kekal, kedudukan, dan kekuasaan akan diberikan pada mereka. Seks,
harta, wajah rupawan, ketenaran, nafsu apapun itu yang kau inginkan bisa
terpuaskan.
Uhh...ia jadi tidak sabar ingin
bersenang-senang dengan Rakhta lagi.
Saat itu Derrick sadar....
“KENAPA KAU TIDAK MENCATAT APA YANG AKU KATAKAN?!?!”
“Eh... eh... aku lu.. luu.. lu
..pp..pa...”
“CATET APA YANG AKU KATAKAN! KATA DEMI
KATA!” Teriak Derrick dengan super jengkel.
Dengan buru-buru Harvey menunduk mencoba
menuliskan apa yang Derrick katakan namun tak satupun kata yang ditulisnya.
“Dasar otak bebal. Aku tidak habis
pikir bagaimana DIA yang agung bisa sabar menghadapimu selama ini, kau ini
super duper gob...YA INI TIDAK PERLU DITULIS KALIIIIIIII..........WAT DE PAK
HARVEY!!!!!!”
“Ta...taa.. tadi... ka... ka...
katanya kat...kat...kata demi... ka...kata...”
Derrick tak kuasa lagi menahan
amarahnya. Dengan cepat direbutnya buku tulis kucel itu dan pulpennya dari
tangan Harvey. Dirobeknya halaman yang ada tulisan cakar ayam Harvey. Dengan
penuh emosi ditulisnya sendiri laporannya, akan lebih cepat begini.
Ia tak sabar untuk kembali ke
compound.
Rakhta sudah menunggunya.
Entah hari ini dia akan menjadi siapa,
yang jelas dia tahu bagaimana selera Derrick.
Sementara Harvey berdiri di pojokan
__ADS_1
dengan gemetaran dan kepala tertunduk, mengkerut berusaha menjadi sekecil
mungkin.....