Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Dia yang tak terlihat


__ADS_3

          Ruangan itu masih sama kusam dan


membosankan seperti yang Derrick ingat. Jika ingin membuat orang depresi


tinggal bawa  saja itu orang kemari


dijamin dalam satu jam orang itu akan membutuhkan psikolog.


          Yaaah...mungkin Derrick terlalu


membesar-besarkannya. Tapi coba lihat, hanya ada satu tempat duduk, sebuah sofa


tiga dudukan di ruangan itu. Sofa itu sudah sangat tua, busanya melesak masuk,


kain pembungkusnya ada beberapa bagian yang robek, warna aslinya pun sudah


tidak kelihatan entah dulunya putih atau krem. Jika diduduki akan berbunyi


kriyat kriyut seolah olah akan rubuh sewaktu-waktu. Dinding ruangan itupun


sudah kusam, catnya mengelupas di sana sini. Tidak ada foto ataupun lukisan


yang digantung. Sebuah meja dengan sebuah laci ada di sudut ruangan.


          Sebenarnya jika tidak karena terpaksa


sekali, Derrick malas kembali ke rumah itu. Membutuhkan penerbangan semalam


selama sepuluh jam penuh untuk mencapai tempat ini. Padahal Derrick sudah


termasuk yang tercepat di antara para daemon. Kadang jika sedang ingin iseng ia


sengaja naik penerbangan komersial manusia, dimana ia bisa merasakan pelayanan


kelas satu. Namun perintah kali ini jelas ia harus secepatnya memberikan


laporan penyelidikannya malam ini juga. Dan sebentar lagi matahari akan terbit,


Derrick harus beristirahat sebelum terbang kembali pulang ke compound. Dan


celakanya, ternyata DIA yang agung sedang ada urusan di lain jadi ia harus


memberikan laporannya lewat si tua tambun ini.


          Harvey....


          Pria yang dulu merawatnya. Derrick


merasa heran sekaligus ada rasa kagum meskipun hanya sedikit.....


sedikiiiiiiiit sekali.....terhadap kegigihan Harvey. Eh  mungkin lebih tepatnya pada kebodohannya.


Bagaimana mungkin ada manusia ssebodoh ini, yang mau saja diperbudak sedemikian


lama hanya dengan imbalan janji bahwa suatu saat akan dijadikan daemon juga.


Padahal menurut Derrick, tidak ada daemon yang masih waras manapun yang akan


bersedia mengeluarkan kekuatannya untuk menjadikan Harvey daemon, apalagi DIA


yang agung. Harvey hanyalah seorang manusia biasa tanpa kekuatan apapun.


Seorang manusia biasa yang rela dijadikan daemon belum tentu bisa menjadi


daemon. Jadi zombie pasti. Hanya mereka dengan kekuatan atau yang mereka sebut


talenta yang jika rela menjadi daemon yang pasti akan berubah menjadi daemon.


Karena daemon bukanlah makhluk yang bodoh, manusia biasa yang super kaya atau


berkedudukan tinggi saja yang akan mereka pertimbangkan untuk dijadikan daemon.


Sedangkan Harvey, miskin, harta tak ada, kedudukan....budak, jelek tua pula.Jadi


mana mungkin impiannya menjadi daemon akan menjadi kenyataan. Tapi, lihatlah


sampai sekarang ia masih saja setia menunggu direalisasikannya janji itu.


           Diarahkannya pandanganya menelusuri setiap


bagian rumah itu. Segalanya masih sama, sama kusam dan kumuhnya, Derrick menggelengkan


kepalanya. Rumah itu sangat sederhana, kalau tidak bisa dibilang minim, hanya


ada satu kamar, disebelah kamar ada kamar mandi. Di bagian belakang ada dapur


kecil dengan sebuah meja lipat yang digunakan untuk makan. Jelas bukan imbalan


materi yang selama ini Harvey terima untuk menjadi budak DIA yang agung. Jika


disuruh menyebutkan apa yang dia suka dari rumah ini mungkin hanya satu, yaitu


tirai jendelanya yang seratus persen mampu menahan sinar matahari agar tidak


menerobos masuk. Dan Derrick benci sinar matahari.


          “Hallo.... masih lama?”


          “ Eh...eh tidak.... ini sudah selesai.”


          Dari arah dapur , Harvey terlihat


tergooh-gopoh keluar membawa toples berisi kue nastar nanas dan boba milk tea


masih dalam kemasan gelas plastiknya yang tersegel rapat.


          “APA APAAN INI? APA MAKSUDMU?”


          Derrick marah sekali, jika tidak


menahan diri sudah dilemparnya si tua bangka ini keluar.


          “Eh inii....kkuu ...kue dan


mi...miinum ...an kesukaanmu du..duudu..lu..”


          Dengan tidak sabar, Derrick berdiri

__ADS_1


dan disentakannya toples dan minuman itu dari tangan Harvey. Toples itu jatuh


ke lantai, kue nastar berbentuk buah nanas itu berserakan di lantai, sementara


boba tea nya muncrat kemana mana ketika gelasnya terlempar menghantam dinding.


Sayang juga sih.....eh... tidak tidak....biarin aja.


          “KAU TAHU AKU TIDAK BUTUH MAKAN!


SAMPAI KAPAN OTAK BEBALMU TIDAK BISA MEMAHAMI INI?!?!” teriak Derrick kesal


sambil berdiri menjulang tinggi di hadapan Harvey.


          “Ttta.... taaa... pi... ka..ka... kau,


hhh...aab...haab...bis teerb... terrbbb.. terbang lll....llla ....laamaa...”


Nah kan


gagapnya keluar menjijikkan sekali. Dipandanginya Harvey. Pria tua berdiri


tertunduk dan gemetaran di sekujur tubuhnya. Mau tak mau ada rasa kasihan yang


timbul dalam diri Derrick.... eh... eh tunggu dulu..


           Kasihan.........?


          No...no....no..


          Seorang daemon tidak akan pernah


merasa kasihan....


          “Aku bukan orang bodoh sepertimu. Aku


ada makan di sela-sela perjalanan kemari. Masih banyak manusia bodoh yang bisa


kumangsa.” Sekilas Derrick seperti melihat pandangan mata Harvey yang tampak


sedih ke arahnya, namun dengan cepat Harvey kembali tertunduk.


          “Tenang saja sudah kupastikan mereka


tidak akan berubah menjadi zombie.” Satu hal yang Derrick bangga sekali


terhadap dirinya adalah ia seorang yang rapi. Mangsanya tidak akan pernah


ditemukan menjadi zombie, ia selalu membuat mereka seolah-olah mati karena


overdosis obat. Hanya daemon ceroboh yang meninggalkan mangsanya begitu saja,


tanpa menyerap kembali zat dari air liur mereka yang bisa menjadikan manusia


itu menjadi zombie.


           Dilihatnya Harvey masih gemetaran....


          “Catat semua yang akan kukatakan


padamu, dan sampaikan pada DIA yang agung. Meskipun sebenarnya aku bisa saja


sih? Bikin repot saja...” Derrick sudah melunak, bagaimanapun Harvey sangat


baik kepadanya.


          “Kata tuanku, jaringan komunikasi kita


tidak aman. Banyak kebocoran yang terjadi akhir-akhir ini. Para pejuang terang


beberapa kali berhasil menggagalkan rencana kita. Maka dari itu, tuanku merasa


lebih aman seperti ini. Apakah itu yang kau selidiki? Mencari mata-mata?”


          “Harvey..... Harvey...” Derrick


menghela napas panjang. “ Mana mungkin ada daemon yang sanggup menjadi


mata-mata. Hanya dengan mengerahkan sedikit kekuatannya, DIA yang agung tinggal


membaca pikiran daemon di bawahnya. Dan semua rahasiamu akan segera ketahuan


olehnya. Jadi mana mungkin ada yang berani menjadi mata-mata. Lagipula tempat


aku ditugaskan, kepala bagian negara Indonesia ini menerima anugerah langsung


dari DIA yang agung, jadi dia tidak akan berani macam-macam karena anugerahnya


bisa diambil sewaktu-waktu.”


          “Lalu apa yang kau selidiki?”


          “Kau sudah siap untuk mencatat?”


           Buru-buru Harvey melangkah menuju meja kecil


di sudut ruangan dan mengambil pulpen dan buku tulis yang sudah kucel.


          “Eh tapi Derrick.... jika tidak ada


mata-mata bagaimana pejuang-pejuang terang itu bisa menggagalkan rencana kita?”


          “Itu juga masih dalam penyelidikanku.


Ini hasil penyelidikanku.... jadi kepala daemon di Indonesia ini banyak


merekrut dan membuat daemon-daemon baru, selain itu tampaknya ia juga


mengumpulkan pasukan zombie. Aku tak tahu kenapa. Mungkin ia mau melakukan


kudeta....”


          “Kudeta?” Harvey melongo, “ Bagaimana


mungkin melakukan kudeta jika menjadi mata-mata saja mustahil......”


          “ Hmmm.... kau tahu kan yang bisa

__ADS_1


mengendalikan daemon yang lain hanyalah daemon yang memberinya anugerah. Jadi


seperti DIA yang agung tidak akan dapat mengendalikan daemon-daemon baru yang


dibuatnya. Apalagi jika daemon-daemon baru itu juga membuat daemon lagi.


Hubungan yang semakin jauh membuat semakin sulit untuk mengendalikan dan


membaca pikiran mereka. Meskipun kita tahu jika berhadapan langsung tidak perlu


dibantah DIA yang agung akan sanggup mengendalikan mereka dengan kekuatannya


yang menakjubkan.”


          “Maka dari itu, tampaknya ia berusaha


membuat banyak daemon-daemon baru dengan merekrut remaja-remaja yang masih


labil dan mudah tergoda dengan iming-iming ketenaran tanpa melaporkannya pada


DIA yang agung. Selain itu, compound-compund yang ada di Indonesia memiliki


satu kesamaan. Dimana, banyak anak-anak yang bisa terbangun sendiri, tanpa kita


yang membuat mereka bangun. Ada satu yang paling aneh, dari compoundku bahkan ada


yang bangun dan memiliki talenta. Di depan mataku, bocah itu bertransformasi


menjadi kucing.”


          “HAH? Anak bertalenta dari compound?”


          “Menakjubkan bukan? Aku juga sangat


terkejut, tapi dari penyelidikanku hanya R3 ini satu-satunya hasil compound yang


memiliki talenta. Di compound lain manapun baik di Indonesia maupun di negara


lain aku tidak menemukan adanya laporan kejadian serupa.”


          Harvey melongo, mulutnya ternganga


lebar mengingatkan Derrick akan kuda nil.


          “Sayang bocah itu berhasil kabur, hal


ini tidak ada satu daemon pun yang tahu. Entah apakah ada kejadian serupa namun


dirahasiakan tapi aku yakin hanya dia satu-satunya. Karena informan-informanku


yang sudah kusebar tidak ada yang menemukan kejadian yang sama.”


          Ngomong-ngomong soal informan Derrick


teringat Rakhta. Ia tersenyum sendiri, daemon satu itu benar-benar tahu cara


memuaskannya. Derrick heran pada manusia- manusia yang menolak ketika direkrut


menjadi daemon. Mereka belum merasakan sih bagaimana enaknya menjadi daemon.


Selain usia kekal, kedudukan, dan kekuasaan akan diberikan pada mereka. Seks,


harta, wajah rupawan, ketenaran, nafsu apapun itu yang kau inginkan bisa


terpuaskan.


          Uhh...ia jadi tidak sabar ingin


bersenang-senang dengan Rakhta lagi.


Saat itu Derrick sadar....


“KENAPA KAU TIDAK MENCATAT APA YANG AKU KATAKAN?!?!”


          “Eh... eh... aku lu.. luu.. lu


..pp..pa...”


          “CATET APA YANG AKU KATAKAN! KATA DEMI


KATA!” Teriak Derrick dengan super jengkel.


          Dengan buru-buru Harvey menunduk mencoba


menuliskan apa yang Derrick katakan namun tak satupun kata yang ditulisnya.


          “Dasar otak bebal. Aku tidak habis


pikir bagaimana DIA yang agung bisa sabar menghadapimu selama ini, kau ini


super duper gob...YA INI TIDAK PERLU DITULIS KALIIIIIIII..........WAT DE PAK


HARVEY!!!!!!”


          “Ta...taa.. tadi... ka... ka...


katanya kat...kat...kata demi... ka...kata...”


          Derrick tak kuasa lagi menahan


amarahnya. Dengan cepat direbutnya buku tulis kucel itu dan pulpennya dari


tangan Harvey. Dirobeknya halaman yang ada tulisan cakar ayam Harvey. Dengan


penuh emosi ditulisnya sendiri laporannya, akan lebih cepat begini.


          Ia tak sabar untuk kembali ke


compound.


          Rakhta sudah menunggunya.


          Entah hari ini dia akan menjadi siapa,


yang jelas dia tahu bagaimana selera Derrick.


          Sementara Harvey berdiri di pojokan

__ADS_1


dengan gemetaran dan kepala tertunduk, mengkerut berusaha menjadi sekecil


mungkin.....


__ADS_2