Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Dia yang terbangun


__ADS_3

Dia berlari sekuat tenaga.


Paru-parunya seperti hampir meledak. Seluruh tubuhnya terasa panas. Suara-suara yang mengejar di belakangnya makin jelas terdengar. Dia tak kuat berlari lagi...


“R3! Yuhuuu!!”


“R3!”


Tidak


Dikuatkannya kakinya dan ia pun berlari lagi


***


20 hari yang lalu.....


Ia terbangun tiba-tiba. Ruangan di sekitarnya gelap gulita. Ia tak tahu dirinya ada dimana. Kepalanya terasa pening seolah-olah ia sudah tidur sangat lama, namun samar-samar ia ingat ia baru tidur belum lama..


Pening di kepalanya berangsur-angsur hilang. Pelan Pelan ia bangkit dari tempat tidurnya yang sempit. Matanya mulai dapat melihat dalam gelap. Tak ada sumber cahaya apapun. Dia mencoba berdiri dan


melangkah tapi tulang kering kakinya terantuk sebuah benda yang keras. Dan ia pun terjatuh, ia merasakan terjatuh ke atas benda yang empuk. Dan benda itu bernapas. Cepat-cepat ia berusaha berdiri. Ternyata ia terjatuh menimpa orang tapi untungnya orang di sampingnya itu tak terbangun.  Napasnya masih teratur. Dengan terheran-heran  dirabanya dan dilihatnya kembali orang itu. Tetap saja tidak ada reaksi. Napasnya masi teratur, dadanya naik dan turun seperti tidak ada apapun yang baru saja menimpanya.


“Pssst...pssst!”


Eh...


“Sini....ikuti suaraku!”


Suara bisikan itu datang dari arah kirinya.


“Hati-hati pelan pelan jangan nabrak lagi.Ikuti suaraku.”


“Ssssst......jangan bersuara. Mereka bisa mendengarmu. Duduk sini pelan-pelan.”


“Kau baru sadar ya? Maksudku sadar atau bangun, bener bener sadar?”


“ Eh....?”


“Hmm.... aku juga sepertimu sebulan yang lalu. Terbangun sendiri dalam gelap. Bedanya aku sendirian di ruangan ini. Kamu masi beruntung ada aku. Dan jika kau mau selamat ikuti semua kata-kataku.”


“Pertama-tama siapa namamu?”


Namanya.....siapa namanya?


“Ah... iya, namamu itu yang biasa mereka pakai untuk memanggilmu. Harusnya ingat kan soal itu? Mereka memanggilku R1. Sekarang ini kita ada di ruangan R dan aku di ranjang nomor satu. Kukira seperti itulah bagaimana mereka menentukan bagaimana memanggil kita.”


Ingatannya mulai berangsur-angsur membaik.


“R3....mereka memanggilku R3” Suaranya terasa aneh seperti baru pertama ia dengar.


“Ah sudah mulai ingat ya? Jadi kau ingat kan bagaimana dalam sehari hari kita harus melakukan apa? Nanti pada saat sirene mulai berbunyi lakukan seperti biasa, ingat jangan ada yang berubah. Atau mereka akan tahu bahwa kau sudah terbangun.”


“Mereka siapa?”


“Penjaga.”


“Penjaga?”


“ Yep. Mereka berganti-ganti. Yang pagi sampai malam berbeda dengan yang malam sampai pagi. Kabarnya yang malam sampai pagi lah yang lebih berbahaya.”


“Kabarnya?”


“Uh-uh. Aku memang bangun sendirian di kamar ini. Tapi di luar sana ada banyak ruangan-ruangan lainnya. Dan di ruangan-ruangan lain itu ada juga yang terbangun seperti kita. Orang yang mengajarkanku supaya bisa tetap selamat selama ini dipanggil B5. Dia menyadari aku terbangun saat aku melakukan kesalahan.”


“Uhm... jadi sekarang saya harus bagaimana? Apakah harus kembali tidur?”


“Tak usah...Mereka tak pernah memeriksa ke dalam kamar. Nanti setelah sirene berbunyi satu persatu akan bangun sendiri dan aku sebagai R1 yang akan membuka pintu dan keluar pertama. Kau tinggal ingat-ingat urutanmu. Ingat jangan sampai penjaga tau bahwa kau sudah terbangun. Siapa saja yang ketahuan terbangun langsung hilang keesokan harinya.”


Sisa malam itu dihabiskannya dengan mendengarkan penjelasan dari R1 apa yang harus ia lakukan nanti. Meskipun sebenarnya ingatannya mengenai apa yang harus dilakukan mula berangsur-angsur kembali. Hanya saja terasa lebih menyenangkan dan nyaman mendengar ada orang lain yang mengajaknya berbicara. Dipejamkannya matanya, disenderkannya kepalanya dan tak sengaja kepalanya menyenggol pundak R1.


“eh...maaf”


“Tak apa, lelah ya tidur aja disini. Terasa lebih menyenangkan sekarang dengan adanya orang selain diriku yang terbangun di ruangan ini.”


R1 pastilah lebih kecil dari dirinya karena kepalanya harus miring kebawah untuk bersandar. Tapi entah kenapa ia merasa nyaman saja. Tak lama kemudian ia pun tertidur.


***

__ADS_1


Suara sirine yang memekakkan telinga membangunkannya. Ruangan tempat ia bangun masih remang-remang. Ia merasakan orang disebelahnya bergegas bangun. Untuk sesaat ia lupa apa yang harus dilakukannya. Untunglah semua rutinitas itu kembali membanjiri ingatannya. Ia tau apa yang harus dilakukannya.


Segera ia bergegas berdiri dan berbaris. Orang yang terdepan membuka pintu keluar. Matahari belum  nampak. Keadaan masih gelap di luar ruangannya. Orang di depannya mulai berlari, ia pun ikut berlari. Mereka berlari menuju sebuah lapangan yang luas lalu terus berlari melewati lapangan itu.Sekitar satu jam mereka berlari mengelilingi komplek gedung-gedung kemudian semburat jingga yang indah menghiasai langit. Dengan heran dipandangnya langit. Ia heran kenapa selama ini ia tidak menyadari bagaimana indahnya semburat warna yang dihasilkan. Orang di depannya lebih besar darinya dan telah bergerak maju. Dengan langkah tegap diikutinya, ia tahu arah mana yang harus dituju. Pagi itu rutinitas seperti biasa. Olahraga lari dilanjutkan senam pagi di lapangan utama. Namun pagi itu ia menyadari, ada yang berbeda. Ia jadi sadar akan sepoi sepoi angin yang berhembus, dan ia mencium bau tanah yang basah. Seakan-akan ini baru pertama kali dirasakannya padahal ia yakin bahwa ia sudah mengalami hal ini sepanjang hidupnya tapi entah kenapa baru pagi ini ia merasakan benar benar apa yang disekelilingnya. Ia baru merasakan untuk pertama kalinya......


Ehm...apa ya


Oh..iya untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar hidup.


Sambil melakukan gerakan gerakan rutin. Ia melirik sekitarnya. Dilihatnya ada sekitar dua ratus orang yang


melakukan senam bersamanya. Dan mereka berbaris berkelompok. Tiap-tiap kelompok memakai warna baju yang berbeda meskipun model baju mereka sama. Di kelompoknya memakai baju warna biru tua dan gelap. Kelompok di sbelah kirinya memakai baju warna biru terang dan di sebelah kanannya memakai baju warna hitam. Masih ada kelompok kelompok lainya. Ada yang memakai warna oranye terang, kuning, hijau, merah, ungu, merah muda dan putih. Per kelompok terdiri dari sekitar dua puluh orang.


Di bagian dada sebelah kiri ada huruf yang disulamkan. Di bajunya R3, orang di sebelah kanannya R2 dan R1 di sebelahnya lagi. Saat diliriknya R1, ia tertegun. Ia tahu mereka sama. Tapi R1 berbeda, badannya lebih kecil darinya, rambutnya juga panjang. Tubuhnya juga tampak lebih berlekuk dibandingkan dirinya. Saat ia mulai memandang sekelilingnya ia mulai menyadari sebagian dari mereka tampak seperti R1 dan sebagian lagi lebih seperti dirinya. Ia heran ternyata mereka semua berbeda-beda. Dan matanya kembali melirik R1, entah kenapa baginya R1 paling enak dipandang. Ia tak melihat satupun penjaga disana.


Senam pagi berlangsung selama tepat tiga puluh menit. Selanjutnya mereka berbaris menuju gedung besar tempat ruangannya untuk tidur berada. Tapi disana R1 dan semua yang ciri-ciri tubuhnya mirip dengannya memisahkan diri dan berbaris berkelompok menuju ke kiri, sementara ia menuju ke kanan. Ia memutari ruangan-ruangan dengan pintu terbuka yang sekilas dilihatnya, isinya semua sama ranjang-ranjang besi yang diatur


rapi sepanjang ruangan. Selanjutnya adalah kamar mandi dimana disana banyak bilik-bilik. Didalam bilik-bilik itu ada tempat untuk buang air. Dan di belakang bilik-bilik itu ada satu ruangan besar yang berisi puluhan pancuran.


Ia berbaris dengan tenang menunggu giliran. Baju-baju ganti mereka sudah tersedia di rak-rak yang menempel di sepanjang dinding selasar menuju ruangan pancuran. Setelah tiba gilirannya dicopotnya semua bajunya dilipatnya dan diletaknya disamping baju gantinya. Nanti akan ada giliran bagi mereka untuk mencuci baju-baju kotor. Dan bersama-sama dengan kelompoknya dan dua kelompok lain mereka mulai mandi.


Ia penasaran dan mulai menengok kanan dan kiri. Tidak ada penjaga juga. Sambil menggosok tubuhnya ia


melayangkan pandangannya ke sekitarnya. Ia ingin tau adakah orang selain dirinya yang terbangun. Tampaknya tidak ada karena secara serempak semuanya melakukan gerakan yang sama. Dari menghidupkan keran pancuran mengambil sabun dan menggosok sabun ke badan, semua melakukan gerakan yang sama secara bersamaan. Entah apakah yang terbangun benar-benar pandai berpura-pura sehingga tak tampak perbedaan sedikitpun, ia tak tau. Tapi untuk pertama kalinya ia menikmati aliran air yang membasahi tubuhnya, wangi sabun di tangannya. Dan ia merasa kasihan pada orang-orang lain di sekitarnya yang tidak dapat meraskan apa yang dia rasakan.


Tak terasa waktu mandi lima belas menit berlalu. Bergegas ia memakai baju gantinya, warna yang sama biru tua gelap. Ia ingat sebulan yang lalu ia memakai baju warna biru terang dan sebelumnya warna hijau daun. Ia tak mengerti mengapa begitu tapi tampaknya tak ada masalah dengan baju-bajunya.


Ia mulai berbaris lagi mengikuti orang berbadan besar yang selalu berada di depannya. Diluar gedung mereka berkumpul lagi dengan R1, dan R1 mengambil alih pimpinan kelompok mereka. Mereka berbaris menuju gedung yang di sebelah kiri lapangan. Ketika memasuki bangunan gedung ia terpesona dengan tingginya langit-langit gedung itu. Tampak meja dan kursi yang ditata memanjang berderet-deret. Ada lima baris meja, dan setiap baris dapat menampung empat puluh orang dengan duduk berhadap-hadapan. Ujung meja itu menempel pada dinding dimana ada lubang berbentuk kotak sejajar dengan ambang atas meja. Di bagian tengah meja ada semacam rel. Dengan tertib satu persatu mereka berdiri mengambil posisi di samping kursi.


Kriiiiiiiiiing...... suara bel yang melengking memenuhi ruangan itu. Secara serentak mereka duduk di kursi mereka masing-masing. Dan dari lubang kotak itu mulai meluncur mangkuk mangkuk secara teratur berbaris di rel yang ada di tengah meja. Rel itu bergerak  secara teratur sehingga makanan di dalam mangkuk itu tidak tumpah sedikitpun. Setelah mangkuk yang pertama keluar sampai keujung meja. Secara serempak mereka mengambil mangkuk tersebut dan secara bersamaan mereka mulai makan menggunakan sendok yang telah disediakan di dalam mangkuk itu juga. Makanannya berupa biji-bijian, bercampur kacang,dan buah pisang dengan susu. Disendoknya makanan itu dan dimasukkan ke mulutnya. Ia menikmati bagaimana mulutnya merasakan sedikit rasa manis dari buah pisang dan gurihnya kacang. Dengan lahap dihabiskannya makanannya. Sensasi yang ia rasakan di lidahnya membuatnya menyesal kenapa ia tidak terbangun lebih cepat. Ia belum merasa penuh tapi ia tahu tak mungkin untuk meminta lagi.


Tak lama kemudian dari lubang mulai meluncur gelas-gelas berisi cairan bewarna kuning. Dengan tak sabar ditunggunya sampai gelas-gelas itu sampai ke ujung dan berhenti. Diambilnya gelas didepan nya dan diteguknya. Ada sedikit rasa asam dan manis. Namun terasa begitu menyegarkan, ia merasa begitu segar dan siap menghadapi apapun.


***


Sudah seminggu sejak ia terbangun, hari-harinya terasa membosankan. Selalu sama. Dimulai dengan lari dan senam pagi, mandi, sarapan dilanjutkan dengan pekerjaan masing masing.  Mulai dari mencuci pakaian dilanjutkan dengan membersihkan semua ruangan-ruangan yang ada. Setelah itu mereka bersama-sama


menuju pabrik dimana mereka bertugas menjalankan robot-robot mesin memproduksi mikrochip untuk alat telekomunikasi lalu tepat pukul dua belas siang sampai pukul setengah satu adalah jam makan siang mereka. Selanjutnya kembali ke pabrik lagi sampai pukul enam sore dilanjutkan mandi lalu makan malam. Setelah


itu mereka masuk kembali ke ruangan mereka masing-masing.


Saat kembali ke ruangan tidurnya lagi itulah saat yang paling ia tunggu. Karena ia bisa bertemu dan


laki-laki sementara R1 perempuan. Dan menurutnya dari semua perempuan yang dilihatnya R1 lah yang paling menyenangkan untuk dilihat. Setiap melihat sosok R1, hatinya terasa meluap-luap. Dan jika mereka mendapatkan penempatan tugas yang berbeda ia merasa begitu kehilangan dan tak sabar supaya hari segera malam dimana ia dapat bertemu R1 lagi.


Malam itu, ia kembali duduk di samping R1. Kali ini, R1 bercerita mengenai tugasnya di rumah kaca. Bagaimana tanaman yang dirawatnya sudah dipetik dan sebagainya.


“Aku sedih hari ini”


“Eh kenapa?”


“Sudah dua hari ini aku tidak melihat B5”


“Eh? Kemana dia?”


“Ya itulah aku begitu khawatir, jangan-jangan dia ketauan terbangun. Sudah beberapa orang yang kukenal yang sudah terbangun lebih lama dari aku yang menghilang begitu saja. Dengan B5 berarti sudah lima orang yang menghilang.”


R3 tidak pernah tahu yang mana B5, ia pernah menanyakan kepada R1, tetapi R1 hanya menjawab jika ada waktu ia akan mengenalkan mereka. Hanya saja, sulit. Karena R1 bilang ia tidak ingin mengundang kecurigaan penjaga. R1 juga menunjukkan walau tidak ada penjaga yang kelihatan berjaga-jaga di sekitar mereka tapi ada banyak kamera tersembunyi yang memantau mereka. R1 juga pernah bercerita bagaimana ia pernah melihat


penjaga yang sedang memperbaiki salah satu kamera yang diletakkan di dalam lubang ventilasi.


Tetapi entah kenapa, R3 tidak merasa khawatir ataupun sedih mendengar bagaimana B5 menghilang. Justru di dalam hatinya ada sebersit perasaan senang. Ia selalu merasa sakit di hatinya setiap kali R1 bercerita mengenai bagaimana B5 begini, B5 mengajarkan ini, B5 mengajarkan itu. Dan ia tidak suka hal itu.


“Aku takut....”


“Kenapa?”


“Bagaimana kalau aku juga tiba-tiba hilang?”


Ia tersentak mendengar itu kemungkinan itu tak pernah terpikirkan olehnya. Tidak....Tiidak. Ini tak boleh


terjadi. Ia tak mau kalau sampai ada apapun terjadi pada R1.


“Kau tidak akan hilang. Saya akan memastikan hal itu tak terjadi”


“Ahahahaha....R3....ahahahaha...Bagaimana mungkin kamu bisa memastikan itu tak terjadi? Kau aja lebih hijau daripada aku soal hal-hal disini.”


“Lebih hijau? Maksudnya?”

__ADS_1


“Uh maksudku soal segala sesuatu yang ada di sekitar kita, aku lebih tau daripada kamu.”


“Ehm...memang begitu. Tapi saya akan berusaha untuk melindungi engkau.”


“Wahahahhahaha.... kamu lucu sekali, bagaimana coba kau melindungi aku?”


Diulurkannya tangannya. Diraihnya tangan R1. Lalu ia bangkit berdiri.


“Eh mau kemana?”


“Keluar...”


“Kau sudah gila? Bagaimana kalau kita ketahuan penjaga? Dan penjaga malam kabarnya lebih menakutkan.”


“Kabarnya Kan? Mari kita hanya harus berhati hati. Selama ini belum ada kan yang berani keluar di malam hari? Mereka tidak akan menyangka.”


“Entahlah....”


“Baiklah, tunggulah disini. Mungkin lebih aman begitu. Dengan begitu engkau akan lebih terlindungi. Jika sampai terjadi apa-apa engkau akan tetap aman.’


“Ah nggak...nggak, aku ikut. Aku juga ngga mau terjadi apa-apa dengan dirimu.”


Hatinya seperti mendapat kejutan listrik mendengar itu. Perasaannya membuncah meluap-luap dengan penuh kegembiraan. Ditariknya R1 sampai mereka berdiri berhadapan dan secara spontan dipeluknya R1.


“Eeeeeh.... R3, apa yang kau lakukan?”


Ia tersenyum ditariknya R1 menuju pintu, Lalu pelan-pelan dibukanya pintu ruanganya sedikit sedikit, Di luar pun gelap gulita. Namun sekali lagi, seperti pada saat ia terbangun , matanya bisa melihat dalam kegelapan. Dan perlahan-lahan ia dapat mengenali keadaan di luar ruangan. Dengan gesit ia menyelinap di celah bukaan pintu yang sengaja ia buka sedikit. Dilihatnya R1 meraba-raba, diraihnya tangan R1.


“Pegang tanganku. Jangan takut.”


Dan bersama-sama mereka melangkah dalam kegelapan malam.


***


R3 melangkah dengan hati hati. Dapat dirasakannya cengkeraman kedua tangan R1 di di tangan dan lengan kirinya. Namun ia tak keberatan malah ia merasa senang. R1 tak bersuara sama sekali mungkin karena ia takut. R3 melihat ke kanan dan kirinya. Semuanya gelap gulita, namun ia tau lorong di sebelah kanan adalah lorong untuk menuju kamar mandi. Jadi ia memilih lorong sebelah kiri.


R1 berjalan dengan terhuyung-huyung dibelakangnya. R3 terus melangkah meskipun R1 terus menerus menarik-narik tangannya mengajaknya kembali ke ruangan tidur mereka. Namun R3 tak menghiraukannya. Entah apa yang merasukinya. Namun rasa keingin tahuannya begitu besar. Sudah dari sejak ia terbangun ia ingin tahu ada apa sebenarnya di  sekitar mereka. Namun setiap kali ia mengutarakannya pada R1, R1 selalu menolak idenya untuk menyelidiki lebih lanjut. Dan malam ini, ia tak tahan lagi. Ia harus tahu keadaan di sekitar mereka. Apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang paling penting adalah siapakah dirinya dan R1.


        Ia bisa melihat pintu keluar menuju lapangan utama. Sepanjang lorong yang mereka lalui, ia tidak melihat satu orangpun penjaga. Ia mulai berpikir jangan-jangan keberadaan penjaga ini hanyalah tipuan untuk menakut-nakuti


mereka. Semakin mendekati pintu, R1 semakin panik dan semakin keras menarik-narik tangannya.  Akhirnya ia memgambil keputusan, dilepaskannya tangan R1 dengan paksa.


“Tinggal disini atau kembalilah ke ruang tidur” Bisiknya.


Dan dengan gesit dibukanya pintu sedikit sampai cukup untuknya menyelinap. Ia berjalan berjingkat-jingkat dan menempel pada dinding bangunan gedung. Entah kenapa tak adanya cahaya tidak mengganggunya sama sekali. Ia bisa melihat keadaan di sekitarnya. Hanya saja semuanya hanya bewarna hitam putih. Antara gedung mereka tinggal dan rumah kaca ada gedung aula besar tempat mereka makan gedung penjaga ada di seberangnya. Ia bergerak secara perlahan-lahan dengan tubuh bagian kanannya tetap menempel pada dinding luar bangunan. Dilewatinya aula tempat mereka makan. Dan gedung untuk penjaga ada di depannya. Tidak ada cahaya apapun juga dari sana. Gedung untuk penjaga juga bertingkat seperti gedung ruangan tidurnya. Namun gedung itu lebih kecil. Pintu-pintunya tertutup. Ia tidak cukup berani untuk membuka pintunya, maka ia beringsut ke jendela dan perlahan-lahan ia menegakkan badannya sedikit supaya ia bisa mengintip dari jendela.


Apa yang dilihatnya membuatnya ngeri luar biasa dan rasa mual memenuhinya, dibekapnya mulutnya untuk mencegah suara yang hampir keluar. Ia kembali berjongkok untuk mengatur napasnya. Dan diberanikannya dirinya sekali lagi untuk mengintip lagi dari jendela untuk memastikan apa yang sudah dilihatnya.


Di dalam ruangan yang tidak seberapa besar itu, ia melihat seseorang memakai pakaian yang berbeda dengan dirinya. Pakaian yang dipakainya terlihat menempel lebih ketat ke badannya terdiri dari dua bagian. Tangan orang itu besar lebih besar dari tangan R3 dan di setiap jari jemarinya ada kuku yang lancip dan panjang. Badannya pun tinggi besar dan tegap. Dan matanya.....matanya walaupun ia tak tahu warnanya tapi R3 bisa melihat mata itu seperti memantulkan cahaya.


Selain orang itu, ada tiga orang lagi disana. Orang-orang ini memakai pakaian yang sama seperti R3. Dan mereka tampak amat sangat ketakuatan. Satu orang tampak berlutut dan memohon-mohon. Namun ia tak dapat mendengar apa yang ia katakan. Yang lain tampak menjerit-jerit. Dan satu orang lagi tampak berdiri diam. Di lantai, tampak ada 3 orang lagi yang tergeletak. Mereka tidak bergerak sama sekali. Ada cairan menggenang di bawah tubuh mereka. Dan R3 dapat mencium bau anyir samar-samar.


Orang yang tinggi besar itu menyeringai dan tertawa terbahak-bahak. R3 dapat melihat gigi taring yang


panjang. Dan tiba-tiba secepat kilat, tangan yang berkuku panjang itu mengayun dan mencengkeram orang yang menjerit-jerit. Tangan satunya lagi menghunjam ke punggung orang itu. Orang yang menjerit itu tampak menjerit makin keras. Dari punggungnya mengalir cairan kental lagi. R3 tak tahu apa itu tapi tampaknya hal itu membuat orang yang menjerit itu begitu kesakitan. Dan orang tinggi besar itu menariknya dan mulutnya menghunjam keleher orang itu. Tampak orang itu berteriak. Tubuhnya kejang-kejang dan berkelojotan. Sambil menggigit lehernya,


tangan orang tinggi besar itu tanpa ampun menghunjam bergantian ke tubuh orang yang digigitnya.


Kiri...kanan...kiri...kanan tanpa ampun...


Dan tiba-tiba satu orang yang diam tadi mengambil kursi dan memukulkannya ke orang tinggi besar itu. Tanpa mengalihkan pandangan dari mangsanya. Orang tinggi besar itu mengangkat tangannya untuk menangkis. Dan kursi itu hancur pada saat mengenai tangannya. Dengan menyeringai lagi, tangan satunya melepaskan orang yang sudah lemas dan tidak bergerak lagi, diayunkannya tangannya dan diraihnya orang yang memukulnya, ia tertawa lagi terbahak-bahak. Diangkatnya orang itu sampai kakinya tidak menyentuh lantai. Dan tiba-tiba orang yang meohon-mohon tadi berlari, arah larinya ke arah pintu namun tampaknya ia tidak dapat melihat apapaun sehingga ia tersandung tubuh yang baru saja dilemparkan ke lantai dan terjatuh. Sambil satu tangan mengangkat orang yang memukulnya, tangan satunya mengangkat orang yang terjatuh itu. Dan dengan ganas ia menggigit tangan orang itu sambil menarik dengan mulutnya sampai tangan itu copot dari tubuhnya.


R3 tak tahan lagi, dibalikkannya badannya. Ia tak sadar wajahnya basah. Ia bingung matanya berair, dan ada rasa sedih dan takut yang luar biasa memenuhinya. Ia harus cepat kembali, ia harus cepat kembali ke ruangannya. Ia tak mau kalau sampai orang atau makhluk apa itu menemukannya.


Dengan berjingkat-jingkat ia melangkah. Dan tetap mengusahakan tubunya menempel pada dinding gedung. Diliahatnya gedung ruanganya tidur, namun ia tak mau tergesa-gesa. Dengan langkah yang sama ia berjalan sambil membungkuk.


Saat ia masuk kembali ke gedung ruangannya tidur, R1 sudah tidak ada disitu. Rasa panik menyerbunya. Dengan tetap menempel pada dinding lorong ia bergerak menuju ruangan tidurnya dan perlahan-lahan menyelinap masuk. Saat dilihatnya R1 duduk di atas tempat tidurnya, ia tak bisa menyembunyikan kelegaannya. Air yang keluar dari matanya makin deras dan ia tak tahu apa itu.


Dengan cepat ia melangkah menuju R1 dan dipeluknya R1. Dan R1 tersentak kaget.


“Ouh...kaget. Udah balik. Aku cemas sekali menunggumu. Kenapa lama sekali? Lagian apa yang kau lakukan. Toh kita tidak dapat melihat apapun. Percuma saja. Lagian kalau sampe ketahuan penjaga bagaimana? Aku takut sekali tau. Bagaimana kalau sampai kita ketahuan penjaga malam. Kau bisa ikut mencelakakan diriku.”


Eh.....tak dapat melihat apapun? Ia bingung. Bagaimana R1 tak dapat melihat apapun, sedangkan ia bisa melihat dengan jelas meskipun segalanya jadi tak bewarna seperti di pagi hari. Kata-kata R1 mencegahnya untuk menceritakan apa yang sudah dilihatnya. Ia tak mau membuat R1 tambah takut lagi dan akan membuat kesalahan. Ia harus melindungi R1.


“uh tidak ada apa-apa di luar. Dan saya baik-baik saja.”


“Aaaah....sudah-sudah! Sudah tidur sendiri sana di ranjangmu. Aku ngga mau dekat-dekat denganmu. Kau sangat ceroboh. Aku bisa ikutan celaka kalau dekat-dekat denganmu.”

__ADS_1


R3 berbalik menuju ranjangnya. Hatinya sakit mendengar kata-kata R1. Namun ia maklum R1 pasti takut sekali sehingga sampai berkata seperti itu. Direbahkannya tubuhnya. Ia mencoba untuk tidur. Ia harus bangun dengan segar besok supaya ia tak melakukan kesalahan apapun. Dan mulai sekarang sudah diputuskannya, ia dan R1 harus keluar dari tempat itu jika ia ingin mereka selamat.


****


__ADS_2