
Derrick berdecak. Dalam hati ia merasa kesal. Kenapa pula si Rakhta malah menyusulnya ke sini. Ia sudah memperhitungkan segalanya. Sengaja ia suruh Rakhta ke compound dengan maksud supaya Rakhta yang menangani R3 dan jika sudah beres biar Rakhta yang menyerap talenta R3 karena talenta R3 memiliki sifat yang hampir sama dengan kekuatan yang sudah dimiliki Rakhta yaitu berubah bentuk.
Dan dengan begitu Derrick lah yang akan menyerap talenta Suryo dan Wulan.
Rencananya sih begitu.........
Tapi ini kenapa yak? Si Rakhta malah nyusul kemari.
Hmm......tampaknya ia juga mengincar talenta mereka yang ada dalam ramalan. Derrick harus hati-hati. Ia tak mau berbagi dengan Rakhta. Ia ingin memiliki semua kekuatan itu sendiri.
Meskipun kemampuan Suryo dan Wulan jauh di bawah Derrick. tapi Derrick dapat melihat potensi yang begitu besar dalam diri mereka. Saat terakhir mereka bertemu, anak-anak ini bahkan tidak bisa apa-apa. Dan hanya dalam hitungan minggu mereka sudah bisa melakukan serangan-serangan yang bagi daemon rendahan bisa mematikan.
Derrick berpikir keras, bagaimana caranya mengalihkan perhatian Rakhta.
Dilihatnya Rakhta yang bertepuk tangan kesenangan melihat Aldi mencabik-cabik tubuh ayahnya.
Ugh...... Derrick tidak ingat ia pernah melakukan seperti itu, ia bukan daemon yang berantakan. Seumur hidupnya, ia tak pernah mencabik-cabik tubuh manusia. Ia tidak suka darah yang bercipratan, cukup ambil darahnya.
Sedot....
Habis...
Bersihkan....
Sudah beres.
Ngapain coba bikin berantakan, tambah susah nanti bersihinnya.
Ia teringat sosok Aldi. Bocah yang sangat mengkhawatirkan ayah dan ibunya. Ia harus memaksa Aldi untuk menelpon Suryo dengan ancaman akan membunuh ayah dan ibunya. Dan....haloooo... sekarang lihatlah bocah itu. Tanpa belas kasihan sedikitpun mencabik-cabik tubuh ayahnya yang sampai nafas terakhirnya masih mengucapkan kata sayang pada anaknya.
Derrick merasa kasihan dan trenyuh.....
Eeeeehhhh....wait...wait....wait...wait....
No...no...no...
Ngga boleh kasihan, ngga boleh iba. Ia, Derrick, adalah daemon, ga boleh merasa kasihan dan iba. Kasihan dan iba hanya akan membuatmu lemah.
Tiba-tiba ia mendapat ide.
"Oi....Ta!"
"Oiiiiiiiiik......"balas Rakhta dengan genit.
"Ini yang satu ini juga tampan loh." Katanya sambil menarik rambut Suryo agar kepala Suryo terangkat.
"Waaaah.......iyaaaaa."Rakhta mengangkat wajah Suryo dengan memegang dagunnya."Tapi seleraku lebih ke yang itu, yang ini wajahnya terlalu oriental. Rakhta suka yang beralis tebal dan berbulu.....kikikiiikiiikiiik..."
Rakhta tertawa terkikik-kikik geli meskipun Derrick tak dapat melihat apa yang lucu.
"Kau tau kan yang berkulit gelap dan berbulu, mereka lebih pandai dan kuat di manapun....hihihikiiiikkiiiiki......."Rakhta seperti anak kecil yang baru pertama kali ke toko permen,"Meskipun ngga ada yang bisa mengalahinmu, Derrick. Terutama di........uhmm.....kau tau sendiri, kaaan?' Rakhta mengerling manja penuh arti.
"Tentu saja!"Derrick yakin untuk hal yang itu Rakhta jujur adanya.
Suryo mendengus jijik dan menarik wajahnya dengan kasar dari tangan Rakhta.
"Ohh...why boy? Kau sedih kalau kau bukan seleraku? Tenang saja.....Rakhta....itu aku.....suka koleksi. Kan perlu tuh untuk gonta-ganti supaya ngga bosaaaan. Hihihihikkiiiii."
__ADS_1
"Hmmm.....Gimana kalo coba kita tandingkan. Mereka berdua ini. Siapa yang lebih kuat? Daemon barumu atau manusia ini. Tidak ada salahnya kan? Buat hiburan sebentar."
"Eh......Gapapa ya? Aku tak mau dia lecet. Kejahatan yang besar untuk menggores wajah-wajah tampan ini."
"Kau menyobek bibirku saat pertama kita bertemu........."
"Ahhk.....kikikikk...Kau beda dooonk, Derrick. Aku tahu kau bisa menyembuhkan diri dalam waktu yang sebentar sedangkan mereka aku tak tahu. Berapa lama mereka bisa memulihkan diri aku tak tahu. Dan aku ingin bersenang-senang secepatnya dengan daemon baruku yang super tampan dan ganas itu."
"Aku saja yang melawannya."
Semuanya menoleh ke arah Wulan.
"Aku cewek, dan kau pasti tidak tertarik padaku. Suryo juga tidak akan memberikan tontonan yang menarik karena ia tidak akan tega melawan Aldi."
"Hooooo.........siapa yanga bertanya padamu, anak sialan!" pandangan Rakhta ke Wulan sangat mematikan. entah apa yang dilihat oleh Rakhta dalam diri Wulan tapi keliatan sekali, Rakhta benci sekali melihat Wulan.
Derrick juga merasa sayang jika Wulan yang melawan Aldi, karena gadis itu sangat cantik dan keangkuhannya membuat Derrick penasaran.
"Sekedar informasi, kekuatanku ada di bawah Suryo." Suryo memandangnya dengan heran, Derrick tidak mengerti kenapa Suryo heran. Derrick tak tahu bahwa ini pertama kalinya Wulan mengakui bahwa Suryo lebih baik dari dirinya.
"Jadi, kemungkinan aku bisa melukai Aldi jauh lebih kecil." kata Wulan lagi.
Rakhta memandang Derrick. Dan Derrick mengangguk mengiyakan, memang ia pun bisa merasakan bahwa Suryo jauh lebih cepat dan kuat jika dibandingkan Wulan. lagipula ia ingin mengulur waktu dengan mengalihkan perhatian Rakhta.
Nanti saat Rakhta konsentrasi melihat pertempuran Wulan dan Aldi, ia akan diam-diam berusaha membunuh dan menyerap kekuatan Suryo.
"Hm....bagus juga. Jadi aku tidak usah mengeluarkan energiku sedikitpun untuk menghabisimu.Oke...cukup daemonku ini yang melawanmu, nanti setelah itu biar aku yang maju."
Derrick melepaskan Wulan dan mendorongnya ke arah Aldi.
Aldi tampak bingung, dilepaskannya apa yang tersisa dari Om Santo, ayahnya, ke tanah. Ia menelengkan kepalanya memandang Wulan lalu menoleh ke Rakhta.
"Oke....gapapa...Serang dia."
Tanpa menunggu lebih lama Aldi pun menerjang Wulan dengan ganasnya.
***
Wulan menghindari serangan Aldi yang bertubi-tubi datang ke arahnya dengan cepat. Ia tidak kesulitan melakukannya. serangan Aldi memang cepat namun Wulan masih dapat membaca dan memperkirakan arah serangan Aldi. Dari awal ia hanya menghindar saja. Bagaimanapun, Aldi adalah temannya juga, meskipun dulu Wulan sering sebel dengan Aldi yang terus-terusan menempel dan memborbardirnya dengan percakapan tak penting untuk mendapatkan perhatiaanya, tapi Wulan tahu bahwa Aldi adalah orang yang sangat baik.
Aldi sabar menghadapi kejahilan Suryo, membereskan segala masalah Suryo seperti ketika dahulu mereka dikejar satpol PP karena nekat berjualan di trotoar pinggir jalan untuk tugas entrepreneurship sekolah mereka, Aldilah yang meminta ayahnya untuk mengurusi dan menindak lanjuti hingga akhirnya mereka berdua bisa lolos dari hukuman tanpa sepengetahuan Papi dan Mami.
Wulan juga ingat, bagaimana ketika mereka main ke rumah Aldi, bagaimana Om dan Tante Santo begitu baik pada mereka. mengajak mereka makan selalu menyediakan makanan yang mereka suka. Bagaimana lembutnya Tante Santo, dan bagaimana Aldi juga dengan lembut memperlakukan ibunya. Aldi cowok yang baik, amat sangat baik malah. Mami sering berkata, jika mau melihat bagaimana seorang lelaki akan memperlakukanmu, lihatlah perlakuannya pada ibunya. Tapi entah bagaimanapun baiknya Aldi dan bagaimana banyaknya cewek-cewek baik di sekolah maupun di luar sekolah yang antri untuk menjadi pacar Aldi, Wulan tidak bisa membuka hatinya untuk menjadi kekasih Aldi. Baginya Aldi sudah seperti saudara sendiri yang sudah ia kenal dari sejak taman kanak-kanak. Maka saat Aldi mulai perhatiannya lebih dari teman ataupun saudara pada Wulan, Wulan malah jadi ill feel deh.
Yaaaah.....memang Wulan sih jujurly ill feel pada semua cowok yang berusaha merayunya. menurutnya mereka lebay, sudah gitu yang dipamerkan adalah kekayaan dari orang tua mereka. Bagaimana mereka saling bersaing dengan mobil-mobil mewah yang dikiranya bisa membuat seorang Wulan terpesona.
Sekarang.....
Lihatlah....
Aldi tanpa kelembutan sedikit pun menyerangnya dengan membabi buta. Tidak ada lagi sosok Aldi yang dulu begitu memujanya. Wulan ingat semua kata-kata Yeye dan Nainai saat masih di rumah Aunt Yesha bagaimana saat teman mereka berubah menjadi daemon dan membunuh anak istrinya sendiri. Wulan tidak menyangka, akan tiba saat dimana ia dengan mata kepalanya sendiri akan melihat dan berada dalam situasi yang sama.
Untuk pertama kali, dalam hidupnya Wulan merasa begitu sedih dan tak berdaya. Ia tahu, ia masih mampu untuk menghadapi Aldi...ehm....sudah bukan Aldi lagi sih....tapi daemon, daemon Aldi. Tapi ia tak tahu bagaimana harus menghadapi Derrick dan Rakhta.
Jelas sekali dua daemon itu mempunyai kemampuan yang jauh diatasnya dan Suryo. Maka dari itu, ia hanya berusaha mengulur waktu saja, Ia tak tahu harus berbuat apa lagi selain itu. Ia menangis tanpa suara, air mata mengalir dari matanya, membuat pandangannya sedikit kabur.
Cepat-cepat diusapnya air matanya. Ia mendengar suara Suryo yang tersentak kaget, saat tangan Aldi hampir saja merobek lengannya.
__ADS_1
Tenang....tenang.....Wulan....katanya pada diri sendiri. Sebuah kalimat yang sering diucapkan papinya melintas, jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa.....
Berdoa....
Itukah yang perlu dilakukannya?
Selama ini Wulan berdoa hanya sekedar berdoa. Hanya rutinitas saja sebelum makan, sebelum tidur, saat bangun pagi, itu pun semua karena Mami yang seperti radio rusak berulang kali mengingatkannya dan Suryo untuk tidak lupa berdoa. Misalkan dia lupa berdoa pun ya ngga terjadi apa-apa, toh katanya kan Tuhan itu maha pengampun.
Tiba-tiba....
DariĀ sudut matanya, Wulan menangkap suatu pergerakan yang cepat.
Rakhta yang sudah tidak sabar melompat ke arahnya. ia dapat mendengar suara Suryo yang memperingatkannya. Dengan cepat Wulan mengelakkan serangan itu, namun ta ayal kuku yang lancip itu berhasil menggores lengannya. ia meringis merasakan perih di lengan kanannya. belum sempat ia bernapas, Aldi juga menyerangnya dengan cepat. Wulan kewalahan menghindari serangan-serangan yang datang bertubi-tubi itu. Serangan dari Aldi dapat dengan mudah dihindarinya, namun beda cerita dengan serangan Rakhta. Serangan daemon satu itu begitu akurat mengarah ke Wulan dan sangat tak terduga arahnya.
Di belakangnya......
"TAK AKAN PERNAH!!! SAMPAI KAPANPUN AKU TAK AKAN MAU JADI DAEMONMU!!!" jeritan Suryo di antara suara pukulan yang mendarat ke arahnya. Wulan bisa mendengar jeritan Suryo menahan rasa sakit. Wulan mulai panik, ia bingung apa lagi yang harus dilakukannya....
Kuasailah dirimu dan jadilah tenang agar kamu dapat berdoa.........
Kembali kata-kata Papi terngiang-ngiang....
Wulan pasrah.......Ia pun berdoa dalam hatinya.
"Tuhan, tolong kami......."
"DERRICK!!! DASAR PENIPU! KATANYA DIA UNTUKKU?!?"
"APA-APAAN RAKHTA?"
"KAU SENGAJA MENGALIHKAN PERHATIANKU,KAAAAAAN! LALU KAU INGIN MENYERAP KEKUATANNYA!!!!!!"
"BANGSAT KAU!!!"
"GOBLOOOOG! ITU KAU KAN BISA MENGALAHKAN GADIS ITU!!! SERAKAH SEKALI KAU!":
"KAU YANG SERAKAH! KAU MENGINGINKAN YANG TERKUAT DIANTARA MEREKA!"
Wulan tidak menyianyiakan kesempatan itu, sementara Derrick dan Rakhta berdebat dan berebutan menarik Suryo, Ia membulatkan tekatnya, diambilnya dahan pohon, dipatahkannya dahan itu dengan kekuatannya hingga ia mendapatlkan ujung yang runcing, saat Aldi melompat ke arahnya, Wulan mengerahkan kekuatannya untuk menahan Aldi sehingga Aldi berhenti di udara, lalu dengan sekuatnya Wulan melemparkan dahan yang dipegangnya itu ke dada Aldi, ditambah dengan kekuatan telekinesisnya, dahan itu meluncur sangat cepat ke dada kiri Aldi, menembus sampai ke jantungnya.
"Maaf Aldi..."bisiknya lirih," And Bye..."
Aldi berkobar, seluruh tubuhnya dibalut api, untuk kemudian hilang menjadi abu yang tertiup angin tanpa sisa.
"KAUUUUUUU!!!! BERANINYA KAU MEMBUNUH KOLEKSIKUUU!"
Dengan wajah bengis, Rakhta meninggalkan Derrick dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Wulan.
Dengan berlari cepat, daaemon dalam wujud gadis cantik itu berubah menjadi monster besar bertanduk dengan ekor kalajengkingnya.
Tanpa ragu-ragu melompat...
Menerjang Wulan, menjatuhkan Wulan ke tanah kemudian dengan tangannya yang berkuku panjang dan lancip itu mencengkeram leher Wulan, mengangkatnya haanya dengan satu tangan.
"WULAAAN......" Suryo menjerit.
Nadanya penuh keputus asaan.
__ADS_1