Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Sahabat


__ADS_3

Rara memandang mami dengan cemas. Mami masih diam menunduk dan memandangi memo dari Wulan yang digenggamnya. Wajahnya terlihat begitu sedih.


"Mam....."


"Ndak pa pa....."kata Mami lirih tapi Rara dapat menangkap ada getar dalam suaranya.


Rasa jengkel menyeruak dalam hati Rara. Ia tidak habis pikir bagaimana Suryo dan Wulan bisa berbuat nekat hanya untuk merayakan ulang tahun mereka. Memang setiap kali ulang tahun Suryo dan Wulan sebelum-sebelummya, surprise party yang diberikan Aldi selalu meriah. Banyak teman yang hadir, dan mereka memainkan berbagai macam game yang seru, Aldi juga sudah mempersiapkan berbagai macam hadiah yang mewah untuk hadiah game-game itu. Makanan yang disediakan pun jangan ditanya, mewah dan enak-enak semua.


Ia juga selalu mendengar keluh dan kesah Suryo dan Wulan tiap hari ulang tahun mereka tiba. Dimana perayaan ulang tahun yang diadakan oleh keluarga mereka begitu sederhana dan malah mereka diharuskan menyisihkan uang untuk menyumbang ke panti asuhan atau panti jompo.


Yaaaaa.....memang ga ada asyik-asyiknya sih apalagi dibandingkan pesta yang diselenggarakan Aldi. Jauuuuuh banget. Mungkin bagaikan timur dari barat jauhnya........ih...koq Rara jadi lebay....


Mami berdiri tiba-tiba membuat Rara tersadar dari lamunannya. Lalu Mami bergegas menuju kamarnya.


"Ra coba hubungi Wulan atau Suryo lagi, Mami akan coba hubungi papi."


"Ya."


Dicobanya sekali lagi untuk menghubungi Wulan dan Suryo.


Gagal.


Tak ada yang menerima panggilannya.


"Gagal, Mi. Papi gimana?"


"Ini Papi, Yeye dan Nainai juga tidak bisa dihubungi."


"Ehhhh.....? Mereka juga tidak bisa dihubungi?"


"Ra isoooo...ra iso!"jawab Mami putus asa."Tunggu disini."


Sekali lagi Mami masuk ke kamarnya dan kali ini keluar membawa tas yang besar.


"Ayo Ra. Bawa sheba dan milly."


Rara buru-buru memanggil sheba dan milly. Kedua anjing itu baru saja selesai makan dan sedang bermain di halaman belakang rumah mereka yang kecil tidak seperti rumah mereka yang dulu. Saat ia kembali ia melihat Mami sedang mencoba menghubungi seseorang lewat alkomnya, tapi...


Access denied.....


Berkali-kali Mami mencoba.


Access denied..... Access denied....


Jawaban yang sama.


"Ndak bisaaaa......"


"Hubungi siapa, Mi?"


"Mami nyoba hubungi markas TLC, tapi ngga bisa."


"Koq?"


"Ya kan sudah bertahun-tahun lamanya kami memutuskan hubungan dengan mereka. Passwordnya juga pasti sudah berubah. Ada pindai sidik jari juga yang bisa membaca kau anggota atau bukan."


"Tapi kan alkom kita dari mereka?"


"Bukan...Alkom kita dari Aunt Yesha."


"Lah.....Aunt Yesha kan pejuang terang?"


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan." sela Mami lqlu berjalan bergegas menuju garasi.


Ada dua mobil disana. Keduanya baru dan belum pernah Rara lihat. Di sisi kanan pintu yang menghubungkan garasi dan ruang keluarga ada panel lampu dan sebuah panel lagi yang Rara baru sadar ada disana.


Mami membuka panel itu. Memencet beberapa tombol nya lalu meletakkan telapak tangannya. Alat itu memindai telapak tangan Mami.


Grrreeeeek.....greeeekkk....gredeeeekk....


Rara melonjak kaget. Dua mobil itu perlahan-lahan naik ke atas beserta lantainya. Tidak ada tali ataupun tiang penyangga yang mengangkatnya.


"Magnetic." kata Mami dengan tersenyum melihat Rara yang melongo. "Jangan lupa Papimu adalah technopath yang handal. Apa yang kau inginkan dan bayangkan dia bisa mewujudkannya."


Rara memandang Mami dengan kagum. Maminya yang memikirkan konsep ini? Woaow......


Dibawah lantai yang terangkat tadi ada lantai lainnya dan di atasnya ada mobil lain lagi. Mobil ini beda dengan dua mobil di atasnya.


Well.....


Bahkan mobil ini berbeda dengan semua mobil yang pernah Rara lihat. Mobil itu bewarna abu-abu cenderung hitam dan tidak mengkilat. Kotak di bagian tengah dan memipih di bagian depannya dan belakangnya. Kaca-kacanya gelap dan pekat, Rara tidak bisa melihat bagian dalamnya.


"Kenalkan.....Eleanor."

__ADS_1


"El..eleanor? Mobil ini dikasi nama?"


Mami terkekeh. "Iya dinamakan sesuai dengan nama mobil dalam film favorit Papi dan Mami saat pacaran dulu."


Rara terhenyak. Tidak pernah terpikirkan olehnya Papi Maminya dulu juga pernah muda dan berpacaran.


"Mobil dalam film itu seperti ini?"


"Ooooh ya jelas beda..lah! Di film itu mobilnya ford shelby. Mobil kita ini beda...Uhm ayo masuk aja daripada lama jelasin..e."


Mami menempelkan tangannya ke pintu mobil lalu mundur.


"Buka..en lawang e!"


Pintu pintu mobil itu terbuka. Tapi bukannya membuka ke samping, pintu-pintu itu terbuka ke atas. Membentuk seperti kanopi di kedua sisinya. Hanya ada dua pintu di sisi kiri dan kanannya. Tapi keduanya lebar jadi begitu terbuka dari sisi sopir dan penumpang bagian depan sampai kursi tengah terlihat, hanya kursi belakang yang tidak kelihatan.


Rara melongo memandang Maminya.


Mami membalas pandangannya dan hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum.


"Uhmmm...gimana ya kalo perintahnya pakai bahasa Inggris itu terlalu mainstream. Jadi Mami putuskan semua perintah suara pake bahasa jawa sehari-hari aja." katanya sambil melangkah masuk dan duduk di belakang kemudi.


Sheba dan milly langsung melompat ke bagian tengah lalu melompati sandaran kursi dan duduk dengan manisnya di kursi paling belakang membuat Rara terkaget-kaget lagi.


"Mereka anjing-anjing yang pinter banget. Baru kemarin papimu melatih mereka, hanya ngulang lima kali sudah langsung bisa. Ayo Ra masuk sini. Malah ndlongop wae!(melongo saja!)"


Buru-buru Rara masuk dan duduk di kursi penumpang di samping sopir.


"Tutup lawang e."


"Sabuk pengaman!"


Belum sampai Rara bertanya di mana sabuk pengamannya, dari kursi sudah meluncur dua seatbelt yang bersilangan dan mengunci dengan sendirinya ke kursi-kursi itu lagi. Rara menoleh ke belakang dan dilihatnya sheba dan milly pun sudah terkunci dengan seatbelt yang terhubung ke harness mereka.


Woaow....


Mami tersenyum-senyum bangga.


"Yok mangkat!"


Mobil itu terangkat setengah meter dari tanah tanpa suara. Lalu Mami memencet sebuah tombol. Pintu garasi di depan mereka terbuka sama seperti eleanor mobil mereka, pintu garasinya juga terbuka dengan cara menjeplak ke atas untuk kemudian tertarik masuk ke dalam.


Begitu pintu garasi sudah terbuka sepenuhnya, eleanor langsung melesat keluar dan berhenti setinggi lima meter dari tanah.


HIYAAAAAAK......


Sekali lagi Rara melongo, gila memang totalitas Mami. Bahkan sampai eleanor pun ngomongnya pakai bahasa Jawa.


"Tawangmangu."


Mobil itu pun melesat dengan kecepatan tinggi. Mami memencet sebuah tombol.


"Mulai nyamar."


"Alamat e vila Aldi tau Ra?"


"Ga tau, Mi. Cuman tahu letaknya nanti kalo lihat."


"Oke..oke jalan dulu, dah."


"Ini maksud e nyamar apa Mi?"


"Oh ini kamuflase. Jadi orang yang di bawah atau mobil lain yang papasan juga ga akan lihat eleanor."


Rara ingin bertanya lebih lanjut bagaimana caranya bisa begitu. Tapi pandanganya tertumbuk pada rumahnya.


Ia mengucek matanya. Apa ia tidak salah lihat. Ia seperti melihat selubung tipis menyerupai kabut yang melingkupi rumah mereka.


"Force field untuk melindungi rumah kita." kata Mami sebelum Rara sempat bertanya.


"Eh..."


"Semuanya nanti bisa Rara pelajari saat mulai sekolah." kata Mami lembut.


Rara terdiam, rumahnya sudah tidak kelihatan. Eleanor melaju dengan cepat. Belum sepuluh menit, mereka sudah sampai di kaki gunung Lawu.


****


Wulan melongok ke belakang lagi. Ia merasa ada yang mengikutinya. Tadi berulang kali ia melihat orang yg menggodanya di warung tadi, tapi sejak mereka di stasiun kereta gantung ia sudah tidak melihat orang itu lagi.


Ah...mungkin ia terlalu paranoid aja.


Huuuft . .......dihembuskannya nafas dengan lega. Semuanya jadi kacau sejak hari dimana Suryo mencoba motornya.

__ADS_1


Aneh memang bagaimana keadaan bisa berubah dalam waktu yang singkat.


Kereta gantung bergerak perlahan-lahan. Membuat Wulan makin gelisah dan tak sabar


"Yo...opo mending dewe bali mulih wae?" (apa lebih baik kita kembali pulang saja?"


"Lah....gendeng yo kowe! Wes tekan kene ngomong meh bali! " (Lah.....gila kamu ya! Sudah sampai di sini bilang mau kembali!)


"Ora ngono ..tapi koq feelingku ga enak!"


"Cih...... ngertio mau ra sah melu!" (Cih ... tau begitu tadi tidak usah ikut!)


Wulan menggigit bibirnya menahan bantahan yang hampir terlontar. Suryo benar ini sudah kepalang tanggung.


Ia pun menahan diri dan diam saja sampai kereta gantung itu sampai di stasiun puncak.


Sepi...


Hanya ada tiga orang lain selain mereka. Tapi orang yang tadi menggodanya bukan salah satu dari mereka.


Wulan pun lega. Memang mungkin ia hanya terlalu paranoid. Cepat-cepat diikutinya Suryo keluar dari stasiun.


Diluar stasiun, ia melihat Aldi sudah menanti mereka, melambai-lambaikan tangannya dengan antusias. Suryo mempercepat langkahnya lalu menyapa Aldi dengan mengepalkan tinjunya, Aldi membalas dengan mengepalkan tinjunya juga menyentuhkannya ke tinju Suryo lalu melakukan gerakan putaran dengan tangannya hingga pada akhirnya tangannya dan tangan Suryo saling menggenggam.


Salam khas mereka berdua sejak mereka duduk di sekolah dasar.


Wulan tersenyum, Aldi membalas senyumannya dengan menganggukkan kepalanya sedikit.


Eh.....


Koq aneh....


Biasanya Aldi akan langsung nyerocos dan berusaha menarik perhatian Wulan lebih lagi.


"Yuk!" kata Aldi sambil membalikkan badannya.


Wulan menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran-pikiran yang negatif dari dalam kepalanya.


Suryo sudah berjalan duluan di depan, berdampingan dengan Aldi dan mulai berbicara cepat menjelaskan pada Aldi kenapa mereka harus pindah, dimana ada kebakaran di rumah lama mereka, tanpa menyinggung sedikit pun tentang talenta ataupun TLC.


Aldi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak sekalipun ia menoleh kebelakang untuk mengajak Wulan bicara. Tidak seperti Aldi yang dulu.


Aldi yang dulu akan memilih berjalan di samping Wulan sambil berusaha mengajak Wulan berbicara, kadang bertingkah konyol hanya untuk menarik perhatian Wulan.


Ah ..... mungkin pada akhirnya Aldi sadar, Wulan sama sekali tidak tertarik padanya. Tapi bagaimanapun juga ada rasa tak enak di hati Wulan.


Angin malam bertiup sepoi-sepoi, tak ayal dingin juga untung Wulan dan Suryo sudah memakai sweater.


Ugh....kenapa seperti ada bau amis ya?


Wulan mengendus-endus lagi, bau amis itu. masih ada tapi samar-samar.


Ia memmpercepat langkahnya, dan mensejajarkan dengan Suryo. Vila Aldi ada di balik stasiun. Dekat sekali sehingga berjalan kaki aja cukup.


Sepanjang perjalanan dari stasiun sampai ke vila , Wulan merasa Aldi agak aneh jalannya. Tidak berjalan lurus tapi zig zag gitu. Sehingga ia yang mengikuti dari belakang agak bingung jadinya. Sekitar sepuluh menit waktu yang mereka butuhkan untuk berjalan dari stasiun sampai ke pintu gerbang depan vila.


Maklum keluarga Aldi adalah keluarga sultan yang kaya. Jadi vilanya pun super gede dengan halaman yang super luas juga. Vila pribadi ini terdiri dari tiga bangunan. Satu bangunan utama dimana ada segala fasilitas hiburan seperti ruang game, dapur, gym, meja bilyard, meja pingpong, perpustakaan dan dua kamar tidur. Sementara dua bangunan lainnya yang lebih kecil berisi dua kamar tidur, ruang duduk dan dapur kecil.


Sejak kecil, Suryo, Wulan dan Rara sering ikut menginap disini bareng dengan keluarga besar Aldi. Aldi sendiri anak tunggal tapi ayah dan ibunya mempunyai banyak saudara jadi sepupu-sepupunya banyak. Setiap ada acara kumpul keluarga, Suryo selalu diajak. Wulan dan Rara hanya kadang-kadang saja ikut. Karena Wulan tidak suka dengan sepupu -sepupu Aldi karena menurutnya sepupu Aldi yang cowok reseh dan yang cewek centil-centil.


"Yuk masuk!" kata Aldi tiba-tiba membuyarkan Wulan dari lamunannya. "Mesti super kaget dengan kejutanku." lanjutnya lagi sambil tersenyum.


Suryo tertawa dan melingkarkan tangannya ke nahu Aldi. Tapi Aldi menghindarinya, membuat Suryo kaget dan sedikit rikuh.


Wulan memperhatikan itu semua, ditariknya Suryo.


"Yo, iki koq rodo aneh...."(Yo, ini koq agak aneh...)


Suryo menarik tangannya dari tangan Wulan. Namun dari wajahnya Wulan dapat melihat bahwa Suryo pun merasakan keanehan Aldi. Maklum ia sudah mengenal Aldi, sahabatnya itu sejak mereka masih dari taman kanak-kanak. Jadi perilaku Aldi, Suryo hapal betul.


Namun meskipun ragu-ragu Suryo tetap mengikuti Aldi melangkah masuk ke pekarangan vila melewati gerbangnya. Wulan tak mau ketinggalan sendiri diluar, cepat-cepat melangkah masuk.


Baru lima langkah gerbang di belakangnya menutup dengan cepat. Menimbulkan bunyi berdebam keras yang membuat Wulan terlonjak kaget.


Gelap gulita.


Tidak ada satu lampupun yang menyala. Memang sih, Aldi sedang menyiapkan kejutan, tapi paling ngga lampu di pagar dan gerbang kan bisa dinyalakan.


"Surpriseeeeed!!!"


Dari dalam rumah, membukakan pintunya, Wulan melihat sosok yang sama yang membunuh Mr.Minus.


Derrick menyeringai lebar, menghampiri mereka dengan perlahan.

__ADS_1


__ADS_2