Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Cinta Pertama


__ADS_3

Samar-samar Arthur mencium bau yang busuk sekali.


Bau bangkai.


Namun bau itu tidak datang dari gadis yang berjalan dengan santai di depannya. Sejak bisa mengendalikan transformasinya, semua panca indera Arthur serasa lebih peka.


R1 terlihat masih sama. Ia bahkan terlihat lebih cantik lagi menurut Arthur. Rambut panjangnya digerai dan angin yang berhembus membuat rambutnya berkibar sedikit membuatnya semakin cantik lagi. Anehnya bau R1 terasa asing bagi Arthur. Ada aroma wangi namun bercampur bau amis.


Sebelum Arthur melangkah mendekati R1, tangan Hazel langsung terentang mencegahnya. Ia memandang Hazel bingung.


"Kau terlihat sehat R3." R1 berkata dengan lembut. "Aku merindukanmu loh." katanya sambil tersenyum genit.


Arthur memandang R1 dengan seksama. Ada sesuatu dari R1 yang berubah. Ia tak tahu apa itu yang berubah tapi nalurinya mengatakan ada yang mengerikan di balik wajah penuh senyum yang memandang lekat-lekat kepadanya.


"R1.. kamu..."


"Ya? Kenapa? Kau tak merindukanku? Ah.... kau bikin aku sakit hati loh."


Entah kenapa, kata-kata R1 dengan nada genit manjanya tidak lagi mempunyai pesona yang sama bagi Arthur seperti dulu saat mereka masih bersama di compound.


"Kamu....ada yang berubah...."


"Waaaaah kau perhatian banget deh...hihihihik..." Gadis itu terkikik genit, tangannya menutupi mulutnya dan tangan yang lain mengibas-ibaskan rambutnya.


Arthur merasa risih.


"Daemon rendahan sepertimu, mau apa disini?" Aunt Yesha menyela.


Daemon?


"R1? Kau...... kau memilih jadi daemon?"


"Hihihihihik.....hihihihik...." Gadis itu mengikik geli, suaranya tertawanya genit tapi mengerikan.


"Oooh...R3, seharusnya kau jangan kabur. Berubah jadi daemon adalah keputusan yang terbaik. Dan hanya mereka yang terpilihlah yang bisa menjadi daemon." katanya tenang sambil mengibaskan rambutnya lagi.


"Dia mengubahmu?"


"Siapa?"


"Yang mengejarku. Kepala compound."


"Derrick? HAHAHHAHA....Dia ingin mengubahku tapi dia gagal. Jadi begini Arthur untuk menjadikan seorang daemon butuh kekuatan. Dan Derrick tidak memilikinya. Ughhhh... kalo dipikir bagaimana dulu aku membuang-buang waktuku hanya untuk merayunya......


"Cukup basa-basinya." Aunt Yesha maju dan menarik Arthur ke belakangnya. Uncle Hugh juga maju."Kau.....ikut dengan kami dan jelaskan apa isi compound ini jika tidak ingin kami lenyapkan."


Eh...tunggu dulu...lenyapkan? Arthur kaget. Ia tidak menyangka kenapa Aunt Yesha kejam sekali. Walau bagaimanapun R1 lah yang dulu mengajari Arthur berbagai hal supaya bisa tetap selamat di compound.


R1 memandang Aunt Yesha dengan pandangan mengejek. Ia mendekati Aunt Yesha sementara tangannya membuat gerakan melambai-lambai di depan Aunt Yesha. Saat ia sadar bahwa Aunt Yesha tak dapat melihat, ia pun tertawa geli


"Hahhahaa.....hihihihi, manusia buta sepertimu ingin melenyapkanku? Hahahaha ngga ada lawakan yang lebih bag...."


BUUGGH...


Belum selesai gadis itu berbicara, ia sudah melayang tinggi untuk kemudian dihempaskan ke tanah. Gadis itu mengerang kesakitan. Arthur tidak tega melihatnya.


Ia melompat dan menarik R1 menghindari serangan Aunt Yesha berikutnya.


"Boy.....apa yang kau lakukan?" Khaleed tampak terkejut.


"Ehmm...tunggu. Dia temanku, tujuan kita kesini selain untuk mencari tahu kegunaan compound juga untuk menyelamatkan anak-anak lain yang seperti Arthur dulu kan."


"Arthur, dia bukan temanmu. Dia sudah menjadi daemon. Lah dulu waktu jadi manusiapun dia mengkhianatimu." Aunt Yesha kelihatan jengkel dan tak sabar membuat Arthur gugup.


"Eh...eh benar tapi kan kita harus memaafkan..."


"KAU SUDAH GILAAAA?" Aunt Yesha tampak hampir meledak.


R1 melihat kesempatan itu. Lagipula dari sejak terbangun pun saat ia masih menjadi manusia ia bukan orang bodoh. Ia orang yang cepat untuk mempelajari situasi di sekitarnya


"Aaah R3 aku takyuuuut.....kenapa teman-teman yang kau bawa ini begitu galak?"


Tanpa menunggu lebih lama sambil mengikik sekali lagi gadis itu melompat ke atas gedung penjaga.


"HEH...Nenek tua! Kau bisa menyerangku dengan mudah. Tapi kami daemon ngga bodoh tauk!"


Ia tertawa terkikik-kikik lagi sampai membungkuk-bungkuk. Arthur tidak melihat apa yang lucu.


R1 berdiri tegak. Kali ini wajahnya serius. Dan ia menyeringai menakutkan. Ia mengangkat tangannya.


"Kalian pikir, kami begitu bodoh? Dengan larinya R3, kau pikir kami akan diam begitu saja? Derrick benar. R3 bakal kembali. Itu katanya dan dia benar."


Gadis menjentikkan tangannya.


Blaaak..blaaak..blaaak.....


Suara pintu-pintu terbuka.


Dan bau busuk yang menyengat menguar membuat Arthur merasa mual.


"Terimalah sambutan kami.......MARI INILAH DIA KREASIKUUUUUUU!" Gadis itu berteriak riang sambil tangannya bergerak seperti dirigen paduan suara.


"ZOMBIE!"


"Alkom kita tak berfungsi!"


Uncle Hugh dan Khaleed berteriak bersamaan.


Dari pintu-pintu yang terbuka, Arthur melihat orang-orang yang sudah tidak keruan wujudnya, wajah mereka berdarah-darah, ada yang matanya copot dan menggelantung, ada yang jalannya melompat-lompat karena kakinya tinggal satu. Dan bau yang sangat busuk itu rupanya berasal dari mereka.


Arthur tercengang.


Ia melihat pakaian yang mereka pakai. Pakaian jumpsuit yang sama seperti yang dulu ia pakai. Beberapa dari mereka adalah anak-anak dengan jumpsuit putih yang ia lihat di malam terakhirnya di compound.

__ADS_1


Air matanya mengalir. Ia berdiri terpaku di tempatnya. Sampai Hazel melompat dan berdiri di depannya.


Jumlah mereka banyak sekali.


Dan semuanya berlari dengan beringas menyerbu ke arah mereka.


****


Hazel mencabut pedang dari punggungnya. Uncle Hugh menarik Arthur. Membuat Arthur tersentak dan tersadar. Tiba-tiba saja ia sudah berdiri si tengah sementara yang lainnya berdiri mengelilinginya. Menjadi benteng perlindungan untuknya.


Arthur melihat R1 masih berdiri di atas atap gedung penjaga sambil masih terkikik dan menari-nari. Lalu ia melihat ada beberapa bayangan lagi yang bergerak cepat dan melompat ke atap-atap bangunan yang lain.


Penjaga yang lain.


Daemon.


Khaleed merogoh saku bajunya. Ia mengeluarkan sebuah benda yang terlipat.


Ceklik....cek ....lik....


Dengan sebuah sentakan benda itu terbuka dari lipatannya dan menjadi sebuah benda yang bentuknya seperti bulan sabit namun bersudut di tengahmya.


Sebuah bumerang.


Arthur pernah melihatnya saat membaca sejarah manusia. Kalau tidak salah asalnya dari Australia.


Zombie-zombie itu makin dekat.


"Haloooo.......ga jagoan lagi kan sekarang.....hikhihihik......" R1 berteriak riang.


"Bagaimana nyerah? Bergabung dengan kami. Nanti kubantu mengenyahkah pasukan zombie ini? Mau? Mau? Hikhihik...hikhikhihihi....." lanjutnya sambil mengikik lagi.


Aunt Yesha hanya diam. Hanya sudut bibirnya yang sebelah kanan terangkat sedikit.


"What a stupid low class daemon." katanya.


"Ia daemon baru belum pernah berjumpa dengan kita. Mungkin ini pertemuan pertamanya dengan TLC."


"Pertama dan terakhir!" desis Aunt Yesha.


Dan tanpa aba-aba. Uncle Hugh mengangkat tangannya. Arthur ternganga melihatnya.


Dari tangan Uncle Hugh, Arthur melihat kilatan-kilatam cahaya kebiruan. Cahaya itu berkilatan sampai jauh tinggi di atas sebelum menyebar seperti payung. Menghujam ke zombie-zombie yang berlarian dengan beringas ke arah mereka. Tangan-tangan mereka terangkat semua.


Sambaran petir itu mengenai semua zombie. Menghentikan langkah mereka dan membuat mereka kejang-kejang berkelojotan.


Khaleed melemparkan boomerangnya. Ia melemparkan boomerang itu dengan santai seolah-olah ia sedang bermain. Pergelangan tangannya memberi sedikit sentakan membuat boomerang itu bergerak dalam bentuk putaran.


Lingkaran putaran yang dibentuk boomerang makin lama makin besar. Terus berputar di antara zombie-zombie di ketinggian yang sama yaitu di bagian kepala, menebas zombie - zombie itu tanpa ampun. Tidak ada darah yang keluar tapi zombie yang sudah tertebas kepalanya langsung tergeletak.


"Flash news for zombie, boy." Khaleed berbalik dan meringis. Lalu tanpa melihat ke belakang ia membuat gerakan menyentak dan menarik dengan tangannya."Kau harus mengahncurkan otak mereka."


Boomerang itu melesat kembali ke tangan Khaleed dan meninggalkan kerusakan berupa zombie-zombie yang bergeletakan dengan kepala terpotong di sepanjang jalurnya kembali.


"Oh..yeah right. Kaya kau tidak? Ngapain coba keluarin petir segede gunung hanya buat zombie segini banyak! Bweeee...!" balas Khaleed sambil menjulurkan lidahnya, Uncle Hugh hanya membalasnya dengan tawa terkekeh.


"Sigh ........boys will be boys" desah Aunt Yesha, sementara Hazel hanya tersenyum sambil meringis.


"TIDAAAAAKKKK......Nooooo.....GRRRRR.....APA YANG KALIAN LAKUKAAAAANNNN?!?!?!"


R1 berhenti menari-nari. Wajahnya tampak mengerikan. Berkedut-kedut. Sudut bibirnya semakin tertarik ke atas dan mulutnya mulai mengeluarkan taring yang semakin lama semakin panjang.


"BERANI-BERANINYA KALIAN! KREAAAASIKUUUUUUH! HASIL KARYAKUUUUUUH!"


"R1 apa maksudmu? kreasimu? Apa yang telah kau laku...."


Belum selesai Arthur berbicara, Aunt Yesha sudah menyela.


"Maksudnya dia yang membuat mereka semua jadi zombie. Ayolah Arthur jangan goblog, ah! DIA SUDAH BUKAN MANUSIA!"


Aunt Yesha kelihatan banget kalau sudah sangat jengkel. Mungkin baginya Arthur itu lemot.


"Yesha...honey. Arthur baru tahu dunia ini belum sampai sebulan. Dan dari ia berasal. Bukankah bagus, kalau ia masih sepolos dan sebaik ini?" Uncle Hugh berkata dengan sabar, membuat Aunt Yesha hanya mengedikkan bahunya sedikit.


Lalu Uncle Hugh merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah pulpen yang berulir di seluruh bagiannya dan memberikannya pada Arthur.


"Pertarungan sesungguhnya akan dimulai. Gunakan untuk menjaga dirimu."


"Haaa?" kaget juga Arthur. Bagaimana mungkin sebuah pulpen bisa menjaga dirinya.


"Oh.. iya...maaf...maaf....sorry." Uncle Hugh tertawa sambil menepuk dahinya. Lalu ia mengambil pulpen itu dari Arthur. Memencet tombolnya. Dan bukannya mengeluarkan ujung yang buat menulis yang mengeluarkan tinta, begitu ditekan pulpen itu mengeluarkan bunyi.


Klaaak...klaak....klek.


"Perak murni."katanya dengan bangga dan menyerahkannya pada Arthur.


Pulpen itu sudah berubah menjadi sebuah pasak sepanjang setengah meter. Kedua ujungnya runcing dan tajam. Bagian tengahnya berulir yang membuatnya tidak licin saat digenggam oleh Arthur, ulir yang sama seperti saat masih berberntuk pulpen.


Arthur membuat gerakan mengayun dengan pasak itu, dan dari ujungnya sebuah kilatan sinar warna merah yang melesat tepat ke arah Khaleed, untungnya Khaeed dengan sigap bergeser sedikit, sinar itu melesat dan menghantam tubuh zombie yang sudah tergeletak di tanah dan menimbulkan suara mendesis, kemudian membakar apa yang tersisa dari zombie itu.


"Woaaa .....woii ..hati-hati...awww untung Khaleed ni, Bos. Sigap,tangguh, cekatan dan kuat." Katanya sambil tertawa cengengesan namun matanya tampak memandang Arthur dengan kagum.


"Arthur! Wow! Level energimu luar biasa. Tidak semua orang bisa menembakkan energinya. Apalagi pertama kali.....TAK DISENGAJA PULAK!"Uncle Hugh terlihat girang sekali."Aku sendiri nanti yang akan melatihmu, kau akan menjadi pejuang terang yang hebat!"


"Hei...hei...ngomong-ngomong soal energi, aku terkenal dengan energi level kelas dewa. Jadi untuk melatih Arthur biar aku saja."


"Kau bukan guru di Anywhere, Khaleed!"


"Aku perekrut dan pelatih pejuang terang!"


"Tapi Arthur harus menempuh pendidikan di anywhere dulu."


"Tidak berarti ia tidak bisa langsung menjadi pejuang terang."

__ADS_1


"KALIAN MAU NYEROCOS TERUS SAMPAI KAPAAAAAN?" Wajah Aunt Yesha sudah merah keunguan sedikit stimulasi lagi tampaknya akan meledak seperti gunung berapi yang siap memuntahkan lavanya.


Uncle Hugh dan Khaleed tersenyum kecut. Hazel hanya meringis sementara Arthur hanya bengong, melongo tidak tahu apa yang mereka perebutkan.


"Jika bukan suamiku dan temanku sudah kulempar kalian ke bulan! Hazel alkom sudah berfungsi?"


Hazel menggeleng.


"LIHAT! Selama kalian rebutan seperti anak TK rebutan permen. Lihat daemon-daemon itu."


Arthur baru sadar daemon-daemon dan R1 sudah melompat turun dari atap bangunan dan jumlah mereka sudah bertambah tiga kali lipat.


Hihihihihik..... hihihihihik..... hihihihihik....


Suara tertawa R1 berkumandang.


"Kalian akan menyesal datang kesini...Sebentar lagi, penciptaku juga akan datang dan bawa bala bantuan lagi.... Hihihihik....HAHAHAHAHA!"


Dan gadis itupun mulai bertransformasi suaranya menjadi serak dan besar. Tangannya memanjang dengan kuku-kuku lancip bewarna hitam. Pakaian yang dikenakannya robek seiring dengan tubuhnya yang makin membesar. Daemon-daemon di belakangnya juga mulai berubah.


Menjulang setinggi hampir dua meter , R1 tampak paling kecil di antara daemon yang lain. Daemon-daemon lain di belakangnya jauh lebih besar. Bentuk mereka juga berbeda-beda. Ada yang bertanduk di kepala ada yg di pundak, tanduknya juga ada yang besar ada yg kecil. Ada yang ekornya panjang ada yang pendek.


R1 mempunyai dua tanduk di kepalanya, tapi kecil dan tumpul hanya seperti benjolan bisul. Ia melangkah dengan percaya diri dan tenang mendekati mereka. Daemon di belakangnya mulai berlari dan bergerak mengitari mereka.


Mengepung mereka dari segala arah.


"Bagaimana R3? Tidak berubah pikiran? Kemari bergabung bersama kami. Jika kau bergabung dengan kami, teman-temanmu akan kami lepaskan." Kali ini ia berbicara dengan serius. Tidak ada tawa cekikikan yang mengerikan itu lagi.


"Meeeeh......"Khaleed mencemoohnya, "Cuma segini? Dia belum mengenal kita."


"Jangan tertipu Arthur." Uncle Hugh menyela saat dilihatnya Arthur tampak ragu."Sekali kau menjadi daemon, kau sendiri yang tidak akan melepaskan kami."


"Watch me, boy!" Khaleed pun melemparkan boomerangnya lagi.


Boomerang itu berputar-putar sekali lagi. Namun daemon-daemon itu jauh lebih gesit dari pada zombie-zombie tadi. Mereka melompat ke kiri, kanan dan atas menghindari boomerang itu.


Khaleed tertawa lalu mengangkat dan mengepalkan tangannya, menyentakkan tangannya. Boomerang itu masih terus berputar namun kali ini selain berputar,ia juga menembakkan sinar-sinar laser seperti yang keluar dari pasak yang dipegang Arthur namun warnanya kuning berkilau dan sinar yang dikeluarkan banyak dan cepat.


Beberapa daemon berhasil menghindar namun ada yg terkena tembakan sinar itu dan langsung terbakar tanpa ampun.


Ada sepuluh daemon yang besar, dan mereka tidak menghindar sama sekali. Tapi mereka justru menangkis sinar itu dengan tangan mereka. Mengibaskan sinar itu dengan santai. Ada suara mendesis dan asap yang keluar dari tangan yang menangkis itu tapi tidak sampai membakar lebih lanjut.


"CCHUUUKKUUP HMAAHEEEN HMAHENNYA. SERANG MEREKA." Daemon yang terbesar di antara mereka berteriak dan memberikan aba-aba dengan tangannya.


Kesembilan temannya melompat berbarengan. Dan dengan cepat melesat menerjang ke arah mereka diikuti daemon-daemon lain yang masih selamat.


Kali ini gantian Uncle Hugh yang beraksi. Sekali lagi ia mengeluarkan petir dan menyambar daemon-daemon itu, menghentikan terjangan mereka. Membuat mereka kejang-kejang lagi dan kali ini dari tubuh mereka mulai keluar suara mendesis dan asap. Bau terbakar mulai tercium lagi.


R1 yang melihat dari belakang tampak terpaku. Ia mulai bersiap-siap untuk melarikan diri. Tapi entah bagaimana caranya, Aunt Yesha bisa menebaknya.


Aunt Yesha mengangkat tangannya dan membuat gerakan mencengkeram dan menarik. R1 terjatuh dan kakinya langsung ditarik oleh sebuah tangan yang tak terlihat dan berhenti tepat di depan Aunt Yesha.


Daemon-daemon mulai bergelimpangan, kecuali sepuluh daemon yang terbesar, yang lain mulai berjatuhan ke tanah, tapi Uncle Hugh tidak mengehentikan serangannya, petir-petir terus menyambar, menyetrum daemon-daemon sampai mereka terbakar.


"Lepaskan aku. Ampuni akuuuuuu......huk...huhuhu.....Aku hanyalah daemon rendahan seperti katamu. Arthur tolong aku. Maafkan akuuuuu.....aku temanmu kan...."


Arthur memandangnya dengan iba. Gadis itu sudah kembali ke wujud manusianya, matanya berurai air mata. Ia maju dan mengulurkan tangannya dan menarik gadis itu berdiri.


"Aunt Yesha, kita memerlukannya. Dia bisa memberi tahu kita tentang seluruh isi compound ini."


Aunt Yesha berhenti sejenak dan berpikir. Lalu tiba-tiba ia berteriak keras membuat Arthur kaget.


"KELUAR! Mau bersembunyi sampai kapan?"


Dari balik pintu menara penjaga, berjalan pelan tampak sesosok gadis yang cantik sekali.


Kesepuluh daemon yang tersisa melompat ke belakangnya.


"GHETUAAA....."


Gadis itu mengangkat tanganya memberi isyarat supaya mereka diam.


Tiba-tiba R1 mencengkeram Arthur sambil melompat untuk bergabung dengan kesepuluh daemon-daemon tadi. Untungnya Hazel siaga. Ia menebaskan pedangnya ke tangan R1 sampai tangan gadis itu putus lalu menarik Arthur ke arahnya.


"GYAAAAARGGGHHH......SAKIIIIIIIT.....TANGANKUUUUUUH......HUUUUHUUUUHUUU ....... KETUAAAA TOLONG AKUUUUH....HANCURKAN MEREKA...."


"Gadis bodoh! Diam!" R1 tampak terkejut mendengar jawaban yang tidak disangkanya.


"Keeetuaaaa..... mereka mau menghancurkan compound...."


"KAU TIDAK BILANG YANG DATANG WANITA BUTA LAKNAT DAN MANUSIA PETIR INI!" wajah cantiknya untuk sesaat terlihat mengerikan.


"Baguslah! Akhirnya kau muncul di hadapanku. Ada hutang yang harus kau bayar!" Arthur mendeteksi suara Uncle Hugh agak sedikit bergetar.


"Hahahaha....kenapa Hugh? Sudah berlalu lama loh. Bukannya manusia diajarkan untuk memaafkan? Atau apakah kau ingin menyetorkan lagi seseorang untuk menjadi pasukan zombie ku? WKWKWKWKW....." Gadis itu tertawa terbahak-bahak.


"Diaaam kau Rakhta." Aunt Yesha mendesis. Tangannya terangkat dan tangan yang satunya menghentakkan tongkatnya ke tanah. Seiring dengan bunyi ketukan tongkat itu, semua daemon di depannya terangkat ke udara.


Daemon-daemon termasuk R1 dan gadis yang baru datang tampak terkejut, mereka mencoba bergerak namun tubuh mereka seperti terikat.


"Ket...ketttuuuaaa, bagaimana ini?"tanya R1 dengan panik.


"DIAM! INI SEMUA SALAHMU. KENAPA TIDAK JELAS INFOMU? JIKA TAHU MEREKA YANG DATANG AKU TAK AKAN BERESIKO MENOLONGMU!"


Cuih .... Khaleed meludah."Tipikal daemon, tidak ada saling menolong diantara mereka. Hanya keuntungan yang mereka pikirkan."


Rakhta menggeliat lalu berteriak keras.


Dari balik bayangan bangunan-bangunan yang gelap bermunculan sosok-sosok penjaga, mereka semua memegang senapan dan mulai menembakkan senapan ke arah mereka.


Aunt Yesha mengetukkan tongkatnya sekali lagi. Dan peluru-peluru yang diarahkan ke mereka berjatuhan sebelum menyentuh seujung pun rambut mereka. Namun hal ini membuat cengkeramannya ke daemon-daemon terlepas.


Daemon bernama Rakhta tertawa keras dan langsung berubah wujud menjadi kelelawar yang sangat besar dan langsung terbang melesat meninggalkan rekan-rekannya yang tidak secepat dirinya meninggalkan suara tawanya saja yang berkumandang.

__ADS_1


__ADS_2