Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Anywhere


__ADS_3

Gerbong kaca itu melaju dengan kecepatan yang jauh berkurang. Mereka semua dapat berdiri dengan santai. Wulan sangat tertarik dengan gerbong kaca itu. Ia meneliti setiap sudutnya, mengamati semuanya dari panel yang ada di kedua ujungnya, rusuk baja yang melingkari sampai ke lantainya yang berkarpet merah. Ia sangat penasaran, dimana mesin penggerak gerbong kaca itu. Meskipun sekarang tidak dapat disebut gerbong lagi, karena sudah melaju di bawah permukaan laut.


Entahhlah apa namanya, dibilang gerbong kereta juga bukan, kapal apalagi. Kapal selamkah?


Kapal selam mana bisa melaju dengan magnet di darat. Mungkin inilah yang sebenarnya bisa dikatakan sebagai MPV atau Multi Purpose Vehicle, satu hal yang mungkin tidak dapat dilakukan kendaraan ini...


Terbang....


    Baru saja Wulan selesai berpikir demikian, tiba-tiba ada pemberitahuan dari wanita AI bersuara datar itu.


"Dimohon untuk kembali ke tempat duduk. Sebentar lagi kita akan melewati perjalanan bawah laut untuk dilanjutkan dengan perjalanan udara."


Pengumuman itu berlangsung terus sebanyak tiga kali sampai mereka semua kembali ke tempat duduk dan sabuk pengaman kembali terkait mengikat melingkari pinggang dan pundak  mereka masing-masing. Setelah itu, gerbong....eh kapal....eh... entah apa namanya itu, mungkin Wulan akan menamainya kapsul aja karena bentuknya yang mirip kapsul obat, menukik ke atas dan meluncur dengan cepat ke permukaan laut.


Air laut menyembur ke segala arah saat kapsul kaca itu melesat keluar ke permukaan laut. Terlempar setinggi dua meter dari permukaan laut untuk kemudian mendarat di permukaan air laut lagi menciptakan cipratan air yang tidak kalah besar. Sejenak kapsul kaca itu terapung-apung, keempat baling-balingnya berhenti berputar kembali ke posisi awalnya sebelum menekuk ke samping. Lalu bergerak ke atas sepanjang rusuk bajanya. Sampai di tengah-tengah tongkat baling-baling itu berhenti lalu menekuk lagi yang kiri menekuk ke kiri yang kanan menekuk ke kanan, diikuti oleh suara ceklik lirih, kedua tongkat itu menyatu menjadi tongkat baling-baling yang lebih panjang. Satu di depan dan satu di belakang. Lalu dengan suara yang menderu pelan, kedua baling-baling itu mulai berputar, perlahan-lahan mereka mulai terangkat dari permukaan laut.


Semeter, dua meter, sepuluh meter, sampai setinggi lima ratus meter kapsul kaca itu berhenti naik untuk kemudian melaju ke depan.


    Ini membuat keempat remaja itu takjub. Ya memang keluarga mereka juga mempunyai kendaraan serba guna yang bisa mengambang maksimal sejauh lima meter dari tanah. Kendaraan dengan teknologi terbaru kabarnya bisa mengambang sejauh tujuh meter dari tanah. Tapi ya itu cuman sebatas mengambang saja, dengan kecepatan maksimal hanya enam puluh kilometer per jam pada saat mengambang. Tapi ya memang mobil keluarga mereka termasuk kuno dan bukan yang paling canggih di kelasnya sesuai dengan semboyan hidup Mami yang harus sederhana sampai mobil pun memilih yang kecepatannya sederhana. Ada juga kendaraan-kendaraan yang khusus untuk balapan seperti motor hadiah ulang tahun Suryo, tapi ketinggian maksimalnya hanya tiga meter dari tanah, dan soal kecepatanya Wulan ragu jika kecepatan motor Suryo bisa mengalahkan kecepatan kapsul ini tadi saat di atas trek kereta. Dan jelas semua kendaraan itu tidak bisa menyelam sampai jauh di bawah permukaan air laut seperti kapsul kaca ini.


Sambil duduk diam, Wulan mengamati, ia mengambil keputusan bahwa pasti mesin kapsul ini tersembunyi di bawah lantainya. Yang masih membuatnya penasaran adalah bagaimana mesin yang tergolong kecil untuk ukuran mesin ini bisa menghasilkan daya sebesar itu meskipun dilengkapi oleh chakra. Suaranya juga amat sangat kecil dan Wulan sama sekali tidak merasakan getaran di kakinya.

__ADS_1


Ia memandang sekelilingnya, Mereka melaju di atas samudra yang luas. Sepanjang matanya memandang ia hanya bisa melihat birunya lautan yang tampak berkilauan tertimpa cahaya matahari pagi. Diperhatikannya satu per satu yang ada bersamanya saat itu. Suryo tampak sudah bosan dan mulai mengutak-atik alkomnya dan mulai memproyeksikan game online kesayangannya. Rara tampak mengamati lautan sambil sesekali menoleh ke arah sheba dan milly yang dengan tenang duduk dan terikat sabuk pengaman di kursi di belakang Yeye dan Nainai. Yang paling antusias adalah Arthur, ia mencondongkan badannya ke samping sejauh yang ia bisa dengan sabuk pengaman yang mengikatnya, tangannya menempel ke dinding kaca sambil melongokkan lehernya. sementara mulutnya terbuka lebar, melongo.


Wulan tersenyum melihatnya, Arthur begitu polos dan lucu. Sangat berbeda dengan semua cowok yang pernah dikenalnya. Ia tak sadar sudah beberapa menit memperhatikan Arthur sampai Rara menyentuh tangannya. Dengan kaget ia balik memandang Rara ya memandangnya balik dengan senyum penuh arti membuatnya salah tingkah. Wulan bersyukur Rara begitu pengertian dan hanya tersenyum untuk kemudian berbalik menghadap ke arah sheba dan milly. Untung bukan Suryo yang memergokinya.....fiuuuuh...


    Lho...eh...eh....


    Kenapa dia jadi salah tingkah sendiri, memang kalo Suryo yang tau kenapa....


    Kan memanga ngga ada apa-apa.


    Huh...


    Dia, Wulan.


    Lho...lho... eh...eh....


    Kenapa jadi memikirkan Arthur sih...


    Hih....


"Lihat!" kata Rara dengan semangat membuat semuanya melihat ke depan.

__ADS_1


Dari kejauhan, dari balik cakrawala muncul sebuah bentuk yang hanya nampak setitik. Wulan menyipitkan matanya, lama kelamaan titik itu semakin membesar dan naik dari garis cakrawala.


Seperti sebuah menara, atau apakah sebuah mercusuar?


    Mereka semakin mendekat, dan di depan mereka sebuah pulau muncul. Pulau itu cukup besar karena dari ketinggian mereka, Wulan tidak bisa melihat ke ujung-ujung pulau di sisi yang lain.


    Kapsul yang mereka tumpangi mulai mengurangi ketinggiannya perlahan-lahan. Sebuah pantai berpasir putih membentang di depan mereka. Namun kapsul itu malah berbelok, dan menyusuri laut di lepas pantai itu. Sampai pantai itu tertutup oleh tebing yang tinggi. Lalu tiba tiba berputar menghadap tebing itu.


    Tebing itu tiba-tiba di bagian tengahnya membelah membentuk sebuah lubang  yang cukup besar untuk kapsul itu lewat. Sebuah sinar biru memindai kapsul itu. Lalu secara perlahan-lahan kapsul mulai bergerak masuk. Melewati lubang, sebuah hanggar yang luas menyambut mereka. Hanggar itu mempunyai langit-langit yang tinggi. Terlihat ada beberapa kapsul-kapsul lain yang terparkir di atas lingkaran-lingkaran dengan angka-angka yang di cat di tengah-tengah lingkaran itu. Kapsul yang mereka tumpangi semakin melambat, terbang rendah melewati kapsul-kapsul lainnya dan berhenti tepat di atas lingkaran nomor dua puluh enam. Lalu perlahan-lahan ketinggiannya berkurang.


    Duk....


    Dengan suara yang lirih, kapsul itu mendarat. tanpa goncangan apapun. Wulan melirik Yeye dan Nainainya dengan sengit. Rupanya Yeye dan Nainainya ini pintar juga berakting. Ia teringat bagaimana tadi kapsul itu bergoncang begitu keras waktu mereka akan masuk menyelam ke bawah laut. Sangat berbeda dengan pendaratan mereka saat ini. Ia ingin tahu siapa yang dihubungi oleh Yeye untuk menyetel kapsul kaca ini sehingga sukses besar membuatnya panik tadi.


    Hmmm.... tapi menarik juga, jika perjalanannya menuju sekolahnya yang baru aja semenegangkan ini, Wulan jadi sangat penasaran bagaimana sekolahnya yang baru itu.


"Anda sudah sampai di tujuan. Untuk selanjutnya ada petugas kami yang akan menjadi pemandu kalian. Selamat datang di Anywhere."


*****


 

__ADS_1


 


__ADS_2