
Sambil menatap langit-langit kamar barunya, Wulan menghela napas panjang. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Ia merasa gundah. Ia tidak suka tadi melihat bagaimana hanya Rara yang bisa berkomunikasi dengan Arthur saat Arthur bertansformasi menjadi kucing.
Memang tidak seharusnya ia menyalahkan Rara, tapi gimana ya, rasanya jadi sebel melihat Rara sekarang. Tadi waktu Rara hanya berhasil mengangkat pulpen setinggi setengah meter dari atas meja Nainai dan Mami dan juga Arthur meskipun masih dalam bentuk kucingnya kelihatan senang setengah mati, padahal Wulan sudah berhasil menggerak-gerakkan kursi sesuai keinginannya. Mau kursi itu jungkir balik salto di udara pun ia sudah bisa, tapi mereka biasa aja tuh. Ia yakin kemampuan telekinesisnya sudah tidak kalah dari Suryo. Tapi tidak ada yang ikut merayakan keberhasilannya. Cuma Rara tadi yang ikut senang, tapi hal itu malah membuatnya semakin sebel sama Rara.
Arthur sudah dijemput oleh Hazel. Nainai juga ikut. Kata Nainai, Yeye juga langsung menemui mereka disana. Entah apa yang akan mereka lakukan sepertinya penting sekali.
Dug....
Sebuah suara benda jatuh membuatnya tersentak kaget. Dengan ragu-ragu, dipencetnya pengendali kaca jendelanya. Kaca yang tadinya buram menjadi bening seketika dan ia melongok ke bawah dan dilihatnya kembarannya berjongkok di halaman rumah di lantai bawah.
Dibukanya cepat-cepat kaca jendela.
“Yo...kowe ngopo?”(Yo kamu ngapain?)
“Sssssst meneng o!”bisik Suryo.”Rara ndi?” (Sssst diamlah) (Rara
mana?).
“Adus.”(Mandi)
“Yo wes apik.”(Ya sudah bagus)
“Kowe meh ngeyel lungo neng nggone Aldi?”(Kamu mau berkeras pergi ke tempat Aldi).
“Sssssttt.....ojo banter-banter! Ben Mami ra krungu. Wong paling cuman sediluk bar jam siji paling. Mengko bar kui langsung mulih meneh.” (Sssst...jangan keras-keras! Biar Mami ngga dengar. Orang paling cuma sebentar, selesai jam satu aja paling. Nanti habis itu langsung pulang lagi).
“Meh numpak opo kowe?” (Kamu mau naik apa)
“Seko kene mlayu neng stasiun trus numpak MRT trus lanjut kereta gantung. Bar kui mlayu meneh neng vila ne Aldi, kudune cuma setengah jam tekan.” ( Dari sini lari ke stasiun terus naik MRT terus lanjut kereta gantung. Habis itu lari lagi ke vilanya Aldi, harusnya cuma setengah jam sampai)
Wulan mengerutkan keningnya. Apa yang akan Suryo lakukan jelas melanggar larangan yang sudah diberikan Nainai. Tapi sepertinya tidak ada salahnya. Toh mereka hanya merayakan ulang tahun mereka, setahun sekali. Setelah apa yang mereka lalui rasanya cukup adil jika mereka menghadiahi diri mereka sendiri dengan sedikit bersenang-senang. Tidak seperti yang direncanakan Mami, hanya makan bareng sekeluarga di rumah saja.
“Melu...”(Ikut)
“Heh? Ndengaren meh melu! Biasane diajak wae angel e pol”(Heh? Tumben mau ikut! Biasanya diajak aja susah banget).
“Lha aku yo bosen.” (Lha aku juga bosan). Wulan tidak menceritakan bahwa alasan utamanya mau ikut adalah karena ia lagi malas bertemu Rara apalagi nanti mesti sekamar.
“Rara piye? Dijak ra?” (Rara gimana? Diajak apa ngga?)
“Ora usah! Mengko suwe! Ngerti dewe Rara durung iso mlayu cepet koyo dewe.” (Tidak usah! Nanti lama! Tau sendiri Rara belum bisa berlari cepat seperti kita)
Suryo agak kaget dengan jawaban Wulan, biasanya kemanapun Wulan pergi Rara selalu tidak pernah ketinggalan. Tapi masuk akal juga alasan Wulan.
Dengan tergesa-gesa Wulan menuliskan pesan di atas kertas memo untuk Rara.
“Aku dan Suryo pergi ke Vila Aldi, nanti paling jam satu sudah pulang. Tolong tutupi jangan bilang apa-apa sama Mami.”
Ditunjukannya memo yang ditulisnya kepada Suryo. Suryo mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya. Wulan memberi isyarat supaya Suryo menunggu sebentar ia harus mengganti baju tidurnya. Diburamkannya lagi kaca jendelanya. Diambilnya celana panjang jeans dipadukannya dengan sweater rajutan lengan panjang. Dengan mengendap-endap, ia keluar kamar untuk mengambil sneakernya, dapat didengarnya suara Rara yang
sedang bercakap-cakap dengan Mami di ruang bawah. Ugh....mereka masih membicarakan mengenai keberhasilan Rara mengangkat pulpen tadi.
Cepat-cepat ia kembali ke kamar. Memonya ia tempel di atas bantal lalu ia tutup dengan selimut supaya Rara lebih lama menemukannya nanti. Ia yakin Rara akan menutupi perbuatan mereka seperti biasa jika ia atau Suryo melakukan kenakalan.
Dibukanya jendela lalu dengan ringan dilompatinya ambang jendela kamarnya itu. Suryo sudah tak sabar menantinya. Dengan tangannya ia mengisyaratkan supaya Wulan mengikuti dirinya. Lalu dengan ringannya ia melompati pagar rumah mereka yang setinggi dua setengah meter.
Wulan menyeringai, kalau dulu ia tidak akan bisa melakukannya. Tapi setelah berhari-hari berlatih bersama Hazel, rekor tertingginya adalah tiga meter. Ia mengambil ancang-ancang lalu melompat.
Dug....dengan suara yang pelan kakinya mendarat di atas jalan aspal. Sambil tersenyum ia menganggukan kepala pada Suryo dan tanpa menunggu langsung mulai berlari.
****
Suryo menyeringai, adik kembarnya ini memang ngga bisa ditebak. Tadinya ia berencana untuk pergi sendiri karena takut akan diadukan. Ternyata malah ketahuan Wulan. Tapi bukannya akan diadukan malah Wulan yang mau ikut. Memang aneh mahkluk ajaib satu ini. Tapi satu hal yang Suryo tahu dengan pasti ia yakin masih menang jika beradu kecepatan dengan Wulan. Dengan santai dibiarkannya Wulan berlari dulu. Ia menghitung sampai lima kali baru mulai berlari.
Sambil berlari, ia memandang lingkungan sekitar rumah barunya. Beda dengan rumah mereka yang dulu, kali ini mereka tinggal di daerah yang amat padat. Banyak rumah kecil-kecil saling berdempetan. Beberapa terlihat asri dengan pohon mangga di depannya, namun banyak yang tampak kusam dan reot. Setelah berlari lima menit, mereka sampai di jalan pertigaan dimana disana ada sebuah masjid dan tidak jauh dari masjid itu berdiri dua buah gereja, satu gereja katolik satu gereja protestan.
Satu hal yang menurut Yeye membuat Indonesia termasuk negara yang lumayan aman dari daemon karena masih banyak orang yang percaya dan beribadah baik di gereja maupun masjid dibandingkan negara lain. Menurut Yeye orang percaya mendapat perlindungan dari Tuhan jadi daemon susah untuk mempengaruhi. Maka dari itu mereka agak terlejut dengan invasi daemon di kehidupan mereka baru baru ini.
__ADS_1
Dulu, kata Yeye saat bercerita, di Indonesia juga banyak keributan berbau rasisme dan agama. Namun seiring dengan semakin majunya pola pikir masyarakatnya gesekan-gesekan itu semakin berkurang. Sayangnya, menurut Yeye juga dengan semakin majunya ekonomi dan taraf hidup masyarakatnya dibarengi dengan semakin berkurangnya orang yang beribadah. Ini yang menurut Yeye membuat daemon bisa mulai menginvasi Indonesia. Meskipun Aunt Yesha sangat tidak setuju dengan pandangan Yeye ini.
Suryo sudah menyusul Wulan, jalanan sepi karena sudah cukup malam. Di depan mereka ada belokan menuju jalan besar, Ia menarik dan menahan Wulan.
"Ngerti arah e nang stasiun?" (Tau arah ke stasiun?)
Wulan menggeleng.
"Tck! Lah kok ndisik i?" (Tck! Lah kok mendahului?)
Wulan hanya menyeringai dan menjulurkan lidahnya. Berlari membuat moodnya kembali baik.
Suryo memperlambat larinya sampai hanya berjalan biasa. Tidak jauh di depannya ada warung kecil temaram. Warung itu masih dipadati orang. Tidak mau mengambil resiko menimbulkan kegemparan, Suryo memutuskab untuk tetap berjalan biasa saja. Meskipun sebenarnya kecil kemungkinan orang-orang di warung itu akan menyadari bahwa ada orang yang berlari sangat cepat di depan mereka. Karena tampaknya mereka asyik mengobrol sendiri. Lagian mereka tidak akan pernah mengira ada orang yang mampu berlari begitu cepat.
Sambil mengecek arah lewat alkomnya, Suryo meraih tangan Wulan berniat untuk menggandengnya, karena dilihatnya banyak laki-laki yang duduk-duduk di tikar yang digelar di trotoar di sekitar warung. Dan biasanya, pasti ada satu dua dari mereka yang jahil apalagi melihat Wulan yang cantik meskipun sampai dunia kiamat pun Suryo tidak akan pernah mengakuinya di depan Wulan.
"Ih ngapain nggandeng-nggandeng?"
Celakanya, adiknya ini juga termasuk makhluk yang kadar tak tahu dirinya super gede. Bukannya diam nurut saja biar tidak menarik perhatian, eh.... malah semakin keras pula teriakannya saat Suryo mempererat genggaman tangannya.
"HIIIIIIH....CUL NO TO!!!" (Hiiih......lepasin lah!)
"Tck!. Meneng o, iki aku meh dadi gentleman!" (Tck! Diamlah, ini aku mau menjadi gentleman)
"JENTELMEN NDIASMU!" (Jentelmen kepalamu!)
Hal ini sukses menarik perhatian beberapa orang yang duduk di atas tikar.
"Waduh waduh sudah malam masik asyik-asyiknya pacaran!"
Wulan langsung menoleh dan memberikan tatapan mata setajam pedang samurai membuat orang yang menggoda mereka langsung ngeper, mengkerut, tersenyum kecut dan membuang muka, terdiam seribu bahasa.
"Wuah...ayu-ayu gualak!"
Mendengar itu Suryo pun tertawa, karena memang seperti itulah cantik tapi galaknya setengah mati. Yaaaah.... memang tidak ada manusia yang sempurna. Kecuali dirinya sendiri yang menurutnya tidak kurang suatu apapun.
Sampai di peron menunggu kedatangan kereta pun, omelan Wulan masih berlanjut.
Hingga Suryo tak tahan lagi.
"Wes! Meneng O! Koyo radio rusak ngerti ra? Mbolan-mbaleni wae!" (Sudah! Diamlah! Seperti radio rusak, tau ngga? Diulang-ulang terus!)
Wulan balik menatapnya dengan sengit.
"NGOMONG MBEK WONG KOYO KOWE YO MEMANG KUDU NGONO! WES DIBOLAN-BALENI WAE SIK RA MUDENG!" (Ngomong dengan orang seperti kamu ya memang harus begitu! Sudah diulang-ulang aja masih ngga ngerti)
"YO WES KUAREPMU!" (Ya sudah terserah kamu) balas Suryo balik berteriak dengan sengit.
Beruntung kereta datang, suara kereta meredam teriakan mereka dan mencegah perang dunia yang hampir terjadi.
Suryo membuang muka dan berjalan menuju gerbong kereta di belakang gerbong yang berhenti di depan mereka. Saat ini, ia alergi untuk dekat-dekat dengan Wulan. Sengaja ia memilih kursi yg di ujung belakang. Semakin jauh dari Wulan, semakin baik.
Dari pintu antar gerbong Suryo bisa melihat Wulan memasuki gerbong di depannya dan memilih duduk di ujung depan. Cih....kenapa ngga pulang aja sih tuh anak. Kalo sudah begini, bakalan merusak suasana aja si Wulan itu.
Hanya ada dua orang lagi selain Suryo di gerbong itu. Maklum sudah malam.
Hanya dibutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai ke stasiun kereta gantung. Setelah ini mereka harus berganti kereta. Stasiun perhentian mereka terhubung dengan stasiun kereta gantung. Dibutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai ke stasiun kereta gantung yang ada di atas. Sengaja dibuat lama karena tujuan kereta gantung sendiri selain untuk transportasi juga untuk rekreasi melihat pemandangan. Vila Aldi ada di dekat stasiun atas.
Kereta berhenti tepat sepuluh menit kemudian. Cepat-cepat Suryo berjalan menuju stasiun kereta gantung yang terletak di atas stasiun kereta ini. Dari sudut matanya Suryo dapat melihat adiknya juga turun dari gerbong kereta yang lebih depan. Karena masih dongkol, dengan sengaja ia mempercepat jalannya, mencoba meninggalkan Wulan. Ia ingin naik kereta gantung tidak barengan dengan Wulan.
Tapi apes....
Wulan malah juga mempercepat langkah kakinya dan berlari sampai ia sejajar dengan Suryo. Dan mereka berdua melangkah berbarengan memasuki kereta gantung.
Wulan menoleh ke belakang, dan seperti mencari-cari sesuatu.
"Kenapa?" tanya Suryo, rasa penasaran mengalahkan kedongkolannya.
__ADS_1
Tapi Wulan hanya menggelengkan kepalanya . Suryo mengerucutkan bibirnya dengan tidak sabar. Aneh-aneh saja adiknya ini.
Pintu kereta gantung itu tertutup. Hanya ada mereka berdua di dalamnya. Suryo mendecakkan mulutnya dengan tidak sabar. Tangannya bersedekap di dada. Ia sengaja memandang keluar supaya ia tidak usah melihat muka Wulan yang bagi Suryo saat ini seperti nenek lampir lagi melahirkan anak. Wulan juga membuang mukanya. Dalam diam mereka memandang pemandangan malam kota dengan lampunya yang berkerlap-kerlip di kejauhan.
*****
Rara bersenandung kecil, ia tersenyum senang. Mami menepuk pundaknya.
"Sudah bagus sih!" kata Mami sambil juga tersenyum. Mereka berdua memandangi tulisan besar "Happy birthday" dari balon yang mereka pasang di dinding.
"Kue tartnya sudah di kulkas ya Mi?"
"Sudah. Tadi langsung Mami masukin ke kulkas. Dah Rara naik dan istirahat dulu. Nanti jam dua belas tepat kita surprise in Suryo dan Wulan."
"Okeeeee." Kata Rara dengan riang.
"Jangan sampai keceplosan ya, Ra."
"Iya, Mi."
Kedua anjingnya mengikuti Rara naik. Dibukanya pintu kamarnya.
Tidak ada siapapun.
Loh.....
Si Wulan kemana ya?
Rara menggigit bibirnya. Sejak sore tadi ia merasakan ada yang aneh dengan Wulan. Wulan selalu menghindari tatapan matanya.
Ia tak tahu salah apa dirinya kepada Wulan. Ia berjalan ke kamar mandi, namun pintu kamar mandi terbuka. Dengan tergesa-gesa ia ke kamar Suryo. Diketuknya pintu....
Tidak ada jawaban.
Apa Suryo masih ngambek ya?
Ditempelkannya telinganya ke pintu mencoba mendengarkan suara di baliknya. Namun sunyi tak ada suara apapun.
Ia berbalik, dan dilihatnya Sheba dan Milly duduk di depannya. Mereka menatapnya dengan riang, lidah mereka terjulur.
Rara tersenyum, dan ia mendapat ide.
Dipandanginya Sheba dan pelan-pelan dicobanya untuk bertanya.
Lewat pikirannya, ia memproyeksikan Suryo dan Wulan. Dan mencoba mengatakan bahwa ia mencari mereka.
Sheba menelengkan kepalanya, dan tiba-tiba.....
Rara merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi tapi secara tiba-tiba ia mencium berbagai macam bau. Ia dapat mencium bau Mami yang ada di bawah. Entah darimana tapi ia bisa membedakan dan tahu bahwa itu bau mami. Ia dapat mencium bau kue tart meskipun kue itu sudah di dalam kulkas. Bau sepatu....
"Uuuuuugh...!" Rara berpaling dan menjulurkan lidahnya. Ia tidak suka bau sepatu mereka.
Namun apa yang dicarinya tidak ada. Ia tidak dapat menemukan bau Suryo dan Wulan.
Jangan-jangan......
Ia kembali masuk ke kamarnya. Dilihatnya jendela kamarnya terbuka. Ia memandang sekeliling kamarnya. Selimut di tempat tidurnya menutupi selurh kasur itu sampai ke bantal-bantalnya juga tertutup.
Aneh ...
Biasanya selimutnya ia rapikan dan lipat di bagian kaki tidak pernah sampai menutupi bantal.
Dengan tergesa-gesa, disibakkannya selimut itu. Diangkatnya bantal-bantalnya. Dan iapun menemukan memo yang ditinggalkan Wulan.
"Mamiiiiiiiii!"sambil berlari menuruni tangga Rara berteriak.
Perasaannya sangat tidak enak.
__ADS_1
***