Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Pengorbanan


__ADS_3

Suryo menunduk diam. Ia tidak berani mengangkat wajahnya. Ia masih merasa malu akan perbuatannya. Karena kenekatannya, mami sampai sekarang masih tergolek tak sadarkan diri.


Yang membuat Suryo merasa makin bersalah ketika dokter dari TLC mengabarkan bahwa kedua kaki Mami harus diamputasi karena sudah tak bisa diselamatkan. Dokter-dokter dari TLC mempunyai talenta seperti Nainai yaitu menyembuhkan. Tapi bahkan dengan gabungan kekuatan dan teknologi TLC yang paling baru pun tidak dapat mengatasi ganasnya api Redroth.


Ia merasakan ada yang menyandarkan kepala ke bahunya.


Rara...


Gadis itu tidak henti-hentinya berusaha mencairkan suasana tapi sia-sia. Dari dulu, Rara memang tidak punya bakat untuk mengiring pembicaraan atau berbicara di depan banyak orang. Dan tampaknya ia juga sudah mulai lelah. Ia sudah berhenti berusaha, hanya diam saja duduk terkadang di sebelah Suryo terkadang di sebelah Wulan.


Ruangan tempat mereka menunggu terang benderang, satu sisi dari ruangan itu penuh kaca, sinar matahari menerangi seisi ruangan itu. Di luar Suryo bisa melihat sepetak taman yang tanamannya gundul semua.


Arthur berdiri dan menghampiri kaca.


Ding.......


Sebuah suara yang lemah terdengar dari kaca itu. Tampak lingkaran-lingkaran putih transparan dengan gambar ditengahnya. Ada tulisan kecil dibawah lingkaran-lingkaran itu.


Open.


Black out.


Blur.


Clear.


Arthur memilih open lalu mundur dan duduk lagi.


Dua kaca di ujung kanan dan kiri, selebar enam puluh centimeter dan setinggi delapan puluh centi dari lantai berputar.


Udara yang dingin sekali dengan cepat memenuhi ruangan itu. Cepat-cepat Arthur mendekati kaca itu lagi kali ini tulisan open berganti menjadi close.


"Sudah ngga papa....Biarin aja kebuka. Meskipun dingin tapi kurasa aku butuh udara segar." kata Wulan lirih.


"Uhm...ok."


Rara berdiri dan berpindah duduk di samping Wulan. Dipeluknya Wulan. Wulan balas memeluknya. Air mata kembali mengalir di pipi Wulan. Namun tak ada suara yang keluar.


Suryo tak tahan melihatnya. Adik kembarnya itu jarang sekali menangis. Wulan adalah manusia paling kuat menahan tangis yang Suryo kenal.

__ADS_1


Kalo Rara sih cengeng, ada orang nangis aja bisa ikut nangis dia meskipun tak tahu masalah apa yg dihadapi orang yang menangis itu. Tapi untuk kali ini, kelihatan banget Rara sedaya upaya mencoba menahan tangisnya, meskipun kemaren-kemaren sih gagal terus.


"Tenang-tenang....ingat kata Yeye, kita harus tenang dan tegar. Jadi nanti saat sudah waktunya kita dipanggil kita bisa jawab dengan baik."


"Iya...." jawab Wulan lirih


Suryo mengepalkan tangannya.


Benar.


Ini bukan saatnya mereka menangis terus. Seperti kata Arthur kemarin, setidaknya keluarga mereka masih utuh. Mereka semua selamat.


Suryo memencet alkomnya. Ia sudah terhubung ke rumah sakit TLC, dimasukkan nomor extention yang ia tuju lalu ia memilih option monitor visual. Alkomnya memproyeksikan gambar di dinding di depannya di atas Wulan.


Tampak ruangan kamar rumah sakit yang bersih, ada banyak monitor di samping kiri dan kanan ranjangnya. Sementara di ranjangnya, Mami tergolek masih tak sadarkan diri.


Nainai sudah mencoba dengan talentanya, tapi Nainai bilang secara fisik kecuali kaki yang sudah terlambat untuk diselamatkan, Mami sudah baik-baik saja. Hanya kesadarannya yang belum kembali. Dan tidak ada seorangpun di antara mereka maupun pejuang terang yang di sana yang mempunyai talenta yang berhubungan dengan kesadaran manusia.


Suryo menggigit bibirnya, ia seperti melihat Maminya bergerak.... tapi....ah.. ternyata cuma khayalannya. Ia tak dapat mengungkapkan dalam kata-kata betapa ia berharap untuk dapat mendengarkan omelan maminya lagi.


Rara bangkit berdiri dan berjalan mendekati jendela, ia menelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Oh....." jawab Wulan tak antusias sama sekali. Mereka menitipkan sheba dan milly di rumah salah seorang teman Khaleed, karena mereka tak tahu berapa lama sidang ini akan berlangsung. Beruntung sekali Khaleed menawarkan rumah temannya yang berpengalaman menangani hewan. Apalagi sheba dan milly anjing yang manis, mereka tidak nakal jadi seharusnya tidak akan ada masalah.


Ada ketukan pelan di pintu, sebuah wajah yang mereka kenal menyembul.


Hazel.


Diikuti Khaleed yang nyengir sambil menyalami mereka satu per satu. Suryo melihat mata Khaleed yang merah dan sembab, bekas menangis. Di balik cengiran dan senyumannya, Suryo melihat ada kesedihan yang mendalam.


Wajar sih...


Pria yang ikut membantu mereka menghadapi Redroth tak bisa diselamatkan, dan ia adalah saudara sepupu Khaleed yang sudah berjuang bersamanya bertahun-tahun. Mereka menghadiri pemakamannya kemarin.


Suryo tak habis pikir, dilihatnya Hazel yang jelas belum pulih benar, lalu Khaleed yang baru saja kehilangan orang yang disayangnya, bagaimana mungkin mereka, pihak TLC tidak memberikan waktu yang lebih lama lagi bagi mereka? Sebegitu pentingnyakah sidang ini dibandingkan kesehatan dan perasaan anggota mereka sendiri?


"Ini tidak adil!"


Seperti biasa, dengan lantang Wulan lah yang menyuarakan pikiran mereka. Mungkin sebenarnya anak itu bisa baca pikiran Suryo kali ya dan Tuhan memberikannya sebagai adik kembarnya supaya bisa menjadi pengeras suara bebas energi buat Suryo.

__ADS_1


"Apanya?" tanya Khaleed.


"Kalian tidak melakukan kesalahan apapun, dan...dan.."


Hazel mengangkat tangannya. Lalu menggunakan bahasa isyarat, Suryo tak mengerti apa maksudnya.


"Kami dengan sengaja melanggar larangan. Dari kantor pusat TLC dengan jelas memberikan perintah supaya kami menunggu sebelum melakukan penyergapan ke compund."dengan cepat Khaleed menterjemahkan," Dan yaaah, kami sadar resikonya."


"Tapi....tapi....compound itu benar ada, nih Arthur buktinya, lalu kalian jg menangkap R1."


"Ah....ya...tapi sidang ini bukan membahas soal itu."


"Eh...?Trus apa yang dipermasalahkan?"


"Satu aturan utama di TLC, adalah tidak boleh melukai sesama manusia. Apalagi mereka yang tidak mempunyai talenta seperti kita..."


"KAU PASTI BERCANDAAA!" Suryo tak bisa menahan dirinya," Mereka menyerang kalian! Pakai senjata sungguhan loh! Masak kalian harus pasrah aja ditembakin?"


"Err......yaaaa tapi seharusnya Yesha tidak boleh mencekik mereka. Sebenarnya aku tidak boleh mengatakan ini, tapi ini lebih ke politik di petinggi TLC...banyak dari mereka yang tidak menyukai High dan Yesha..."


Belum selesai Khaleed berbicara, seorang pria tinggi besar dan tegap, berpakaian serba hitam masuk dan meminta anak-anak itu mengikutinya.


Ketika Khaleed dan Hazel berdiri, pria itu menahannya dan mengatakan bahwa hanya anak-anak ini yang dibutuhkan kesaksiannya.


Suryo jadi panik, apa yang harus ia katakan? Dipandangnya Khaleed, tapi Khaleed hanya tersenyum, sementara Hazel hanya mengacungkan jempolnya yang dibalas Arthur dengan mengacungkan jempol juga.


"Tenang..jawab saja sesuai apa adanya..." kata Khaleed sambil tersenyum menenangkan.


Suryo membalasa senyuman Khaleed dan berbalik berjalan, pria tegap itu mengambil langkah di depannya.


Mereka berjalan dengan cepat berusaha mengimbangi langkah cepat pria tegap itu menyusuri lorong yang melengkung, dinding sebelah kanan Suryo berupa kaca bening yang menghadap jalanan, sementara samping kiri berjajar pintu-pintu sama seperti pintu ruangan yang tadi Suryo tinggalkan.


Tiba-tiba langkah mereka terhenti, di depan mereka, menjulang tinggi sepasang pintu, di tengah pintu ada ukiran pria dan wanita, keduanya memegangi satu timbangan yang besar. Dibawahnya ada tulisan "Veritas et Justitia"


Kebenaran dan keadilan...


Di balik pintu, Suryo dapat mendengar suara yang bergemuruh orang-orang yang berteriak.


Tiba-tiba saja ia merasa perutnya sakit....

__ADS_1


****


__ADS_2