Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Ulang Tahun Tak Terlupakan


__ADS_3

Rumah baru mereka jauh lebih kecil daripada rumah mereka dulu. Lokasinya juga terpencil, jauh dari rumah-rumah lain. Barang-barang mereka sudah diangkut semua dari rumah lama.


Di rumah itu, kamar Wulan dan Rara dijadikan satu. Kamar Suryo adalah yang terkecil diantara semua kamar dan jauh lebih lecil daripada kamarnya dulu ditambah lagi sekarang ia harus berbagi kamar dengan Arthur. Ini membuatnya cemberut terus. Apalagi kamar itu tidak dapat menampung segala macam game konsolnya.


Keseluruhannya ada tiga kamar mandi di rumah itu. Satu di dalam kamar Yeye dan Nainai, sedangkan dua kamar mandi yang lain terpisah dari kamar. Awalnya Suryo senang ketika diberitahu mereka akan pulang ke rumah, karena semua pengamanan yang diperlukan sudah siap. Tapi setelah melihat rumah barunya ia merasa kecewa sekali.


Suryo dan Wulan tak henti-hentinya mengeluh bagaimana bajunya tidak akan muat masuk ke dalam lemari yang harus ia bagi dua dengan Rara, belum lagi menurutnya meja riasnya terlalu kecil, terus tempat tidur juga jadi kecil padahal ia terbiasa dengan ranjang yang besar. Suryo tidak terima karena harus merelakan game konsolnya, lalu ia juga mengeluh bahwa nantinya mereka harus berebut kamar mandi. Keluhan mereka yang terus menerus pada akhirnya membuat Yeye tidak sabar.


"Mau sampai kapan kalian ngeluh terus?"


"Tapi Ye.... masa rumah gantinya jauh banget dibandingka...."


"Cukup! Yeye ndak nyangka kenapa kalian bisa jadi anak yang tidak bersyukur seperti ini. Kalian pikir mudah nemuin rumah pengganti secepat ini. Lagipula semakin besar rumah, semakin banyak pengamanan yang diperlukan! MIKIR!!"


Suryo dan Wulan langsung terdiam. Seumur-umur mereka tidak pernah ingat Yeye pernah menegur mereka. Baru kali ini mereka ditegur dengan keras. Biasa hanya Mami yang mengomel.


Wulan tertunduk, air mata mengalir. Entah kenapa teguran Yeye terasa menyakitkan. Apalagi ia tidak suka ditegur di depan Arthur.


" Sudah...Sudah...ayo mandi mandi. Abis tu kita makan malam. Bentar lagi Papi dan Mamimu pulang. Biar mereka juga bisa langsung mandi juga." kata Nainai mencoba mencairkan suasana.


"Arthur kau mandi dulu ya. Nanti Uncle Hugh akan menjemputmu."


" Ya, Yeye." kata Arthur dan langsung bergegas mengambil pakaian lalu menuju ke kamar mandi.


Beruntung kamar mandi yang berada di luar kamar ini didesain terpisah-pisah. Jadi ada bilik pancuran sendiri, bilik closet sendiri, dan washtafel yang disendirikan. Jadi misal menunggu pancuran, orang yang menunggu bisa sikat gigi atau cuci muka dulu.


Tadi mereka hanya sebentar di Anywhere, baru saja mereka keluar dari Mentor Village menuju alun-alun tiba-tiba Aunt Yesha mendapat panggilan mendadak untuk segera kembali ke markas besar pejuang terang. Alhasil tour keliling Anywhere pun dibatalkan. Dan mereka bisa pulang lebih cepat.


Sebelum mereka sampai ke portal pertemuan di Candi Borobudur, Uncle Hugh menghubungi Yeye dan mengatakan bahwa mereka membutuhkan Arthur. Jadi untuk itulah Arthur diminta bersiap-siap lebih cepat, karena akan dijemput oleh Hazel.

__ADS_1


Ini membuat Suryo iri karena Arthur lebih dibutuhkan, entah kenapa Suryo merasa kecewa sekali. Mungkin karena tadi, ia begitu ingin melihat Anywhere lebih jauh dan sudah sangat senang ketika keinginannya bakal terpenuhi namun ternyata batal, sudah begitu ketika ia pikir akan senang melihat rumahnya yang baru, ternyata rumah barunya jauh lebih sederhana dari apa yang ia bayangkan. Jadi mendengar Uncle Hugh membutuhkan Arthur membuatnya tambah kesal.


Biasa kalau sedang begini, ia membutuhkan pelarian. Dan ia ingat Aldi. Suryo jadi berpikir bagaimana kabar Aldi. Terakhir mereka hanya berkomunikasi di game online. Waktu itu Aldi menanyakan kabarnya, dan mengatakan khawatir, karena tiba-tiba saja Suryo, Wulan dan Rara menghilang dari sekolah dan rumah mereka kebakaran.


Suryo lega Aldi baik-baik saja. Dan dari cerita Aldi tampaknya ayahnya Aldi juga baik-baik saja. Aldi bahkan juga menceritakan bagaimana mobil mereka dipinjam oleh Allen dan tidak dikembalikan. Membuat Ayahnya merasa tertipu dan sudah mengajukan keluhan secara resmi pada tim balap Roaring.


Pip...pip...pipip...


Alkomnya berbunyi dan lampu indikatornya berkedip kedip menandakan ada pesan text yang masuk. Dengan tak sabar diraihnya alkomnya dari meja samping tempat tidur.


"Neng ndi?" (Dimana)


Dari Aldi.


"Dimana-mana..." jawab Suryo sekenanya.


"Wooo lha!?! Serius iki takon!" (Woo lha!?! Serius ini tanya!")


"Ayo sini ke rumahku. Wes kusiapin pesta buat ultahmu besok."


Suryo tersentak, ia lupa besok adalah ulang tahunnya dan Wulan. Dan tampaknya dengan segala keributan yang terjadi keluarganya juga tidak ada yang ingat. Karena biasanyanya Yeye, Nainai, Papi dan Mami pasti sudah ribut merencanakan dan menanyainya san Wulan kepingin makan dimana dan panti asuhan mana yang harus mereka kunjungi.


Suryo merasa sedih karena ternyata dilupakan itu tidak enak. Wah untung Aldi begitu baik masih ingat. Sudah dua tahun terakhir ini, Suryo selalu merayakan ulang tahun bersama Aldi dengan menginap di vila orang tua Aldi di gunung. Wulan dan Rara juga ikut. Dan setiap jam dua belas tepat Aldi selalu memberi kejutan.


Tahun lalu, tiba-tiba tepat jam dua belas malam, puluhan teman sekolah mereka mengagetkannya dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun di pekarangan vila dengan keras. Mereka datang lengkap dengan balon, kue ulang tahun dan berbagai kado. Itu membuat Suryo dan Wulan sangat senang. Namun tetap aja Wulan tidak tersentuh untuk membuka hatinya buat Aldi yang sudah susah payah mengatur dan menyiapkan semuanya. Suryo aja yang cowok merasa terharu sekali.


Ia pun bangun dari tempat tidurnya. Dan keluar kamarnya untuk mencari Nainai. Dilihatnya Nainai sedang mengatur meja makan.


"Nai, boleh ngga nginap di rumah Aldi seperti biasa? Tadi Aldi ngundang. Seperti tahun lalu kan gitu juga."

__ADS_1


"Aldi?" Nainai mengernyitkan dahinya. "Hmm... ngga boleh!"


"Yaaaahh Naiiiiii! Kan besok ulang tahunku. Tahun-tahun lalu di malamnya juga Suryo selalu ngerayain bareng Aldi."


"Tahun ini beda! Dan kamu harusnya tahu kenapa. Keadaan sudah tidak sama. Untuk ulang tahunmu besok kita rayakan di rumah ini aja bareng keluarga kita sendiri."


Suryo merasa marah sekali. Segala sesuatu tampak semakin tidak menyenangkan untuknya. Selama ini Nainai selalu memberikan apa yang dia mau. Apalagi untuk ulang tahunnya.


"Merayakan ulang tahun bareng keluarga? MEMBOSANKAN! Paling-paling ke panti asuhan lagi. Keluarga ini membosankan! Ga bisa bersenang-senang!"


Nainai tampak terhenyak kaget. Suryo jadi merasa bersalah.


"SURYO!"


Maminya masuk dari pintu samping yang menghububgkan garasi rumah dengan ruang tengah.


"Beraninya kamu ngomong seperti itu ke Nainai. Ayo minta maaf."


"Aaaaahh .... BODO AMAT! Mami apalagi paling ga bisa apa-apa. Talenta aja ngga punya. Bisanya ngomel! NGGA BERGUNA!"


Tiba-tiba pipinya terasa perih. Dilihatnya dari samping tangan Nainai tampak teracung mengarah ke pipinya. Mami tampak kaget dan menutup mulutnya dengan tangannya. Dari sudut matanya Suryo dapat melihat Wulan, Rara dan Arthur juga tampak ikut turun untuk melihat ada apa gerangan. Ini membuat Suryo tambah marah. Seumur-umur belum pernah ia dipukul, apalagi seperti ini di depan orang banyak.


"Jangan jadi anak manja yang kurang ajar." Suara Nainai bergetar.


Dengan pipi yang panas dan hati yang lebih panas lagi, Suryo menghambur ke tangga dan berlari menuju kamarnya. Dibantingnya pintu kamarnya keras-keras lalu dikuncinya tak peduli nanti Arthur ngga bisa masuk.


Didiamkannya suara ketukan pintu dan suara lirih Rara yang memanggil-manggilnya dari balik pintu.


Diambilnya alkomnya.

__ADS_1


"Tunggu ya Di, aku nanti kesana."


****


__ADS_2