Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
TLC


__ADS_3

Suryo melihat adiknya dan Rara berpelukan sambil menangis. Ia merasakan matanya pun basah. Didekatinya mereka dan dipeluknya mereka berdua.


"Jangan menangis, jangan menangis. Jika kalian masih lapar kalian bisa mengambil lagi makanan dari kulkas. Tidak perlu menangis. Oh tidak...HAIFU sudah menjadi tuan rumah yang buruk. Oh...Oh..Oh..."


Suryo tak bisa menyembunyikan senyumnya. Dilihatnya Wulan mendongak sengit ke arah pengeras suara. Bahkan Rara pun terkekeh lirih. Suara HAIFU yang sedari tadi berceloteh dengan nada yang sama dan datar tanpa ekspresi entah kenapa membuat semuanya terasa lebih lucu.


Air untuk merebus telur telah mendidih. Dengan sigap Suryo mematikan kompor dan menutup panci berisi telur-telur itu dengan tutup panci. Rara berjalan ke kulkas lagi dan mengambil buah pepaya yang sudah di potong-potong dan diletakkan di dalam kotak-kotak kedap udara.


"HAIFU kamu yakin kami boleh memakan ini semua?"


"Tentu saja. Oh ya untuk pendamping kaki empat kalian sayangnya HAIFU tidak memiliki catatan pernah punya tempat makan khusus untuk mereka. Tapi kalian bisa menggunakan piring-piring di atas kulkas. Piring itu tidak berguna. Tidak pernah digunakan. Jangan memakai piring-piring kesayangan my master yang sekarang kalian pakai itu untuk pendamping kaki empat kalian."


Suryo melihat piring yang mereka pakai untuk makan pizza. Pizzanya ternyata cukup enak. Suryo tidak menyangka pizza beku bisa seenak itu. Untuk piring yang ia pakai, ia tak melihat sesuatu yang spesial. Bahkan piring yang Rara dan Wulan pakai adalah piring hadiah dari sabun cuci piring.


Dengan penasaran ia membuka lemari di atas kulkas. Di dalamnya ada beberapa piring yang tertutup debu tebal. Juga ada beberapa gelas berbentuk cangkir dan tatakannya. Semua nya tertutup debu yang tebal.


"HAIFU piring-piring ini yang kamu maksud bisa kami pakai untuk memberi makan anjing dan kucing kami?"


"Betul...betul...Piring-piring itu tidak pernah disentuh. HAIFU tidak memiliki catatan sama sekali kapan piring -piring itu pernah dipakai. Jadi seharusnya bisa digunakan untuk mereka."


Suryo mengambil tiga piring dari tumpukan teratas. Diberikannya pada Rara yang langsung pergi mencucinya.


"HAIFU....tapi piring ini cantik sekali. Mungkin kami bisa menggunakan mangkuk ini saja untuk memberi makan anjing dan kucing kami." Kata Rara sambil mengangkat piring itu dan menunjukkannya pada Suryo dan Wulan.


"NOOOOO......TIDAK BOLEH! HAIFU tidak mengijinkan kalian menggunakan peralatan makan kesayangan master untuk tempat makan anjing dan kucing kalian. Jika itu nama pendamping kaki empat kalian."


"Mereka bisa makan di lantai. Sudah jangan pedulikan AI sok tau ini."


Suryo dapat melihat adiknya sudah jengkel. Dan apa yang membuat Wulan jengkel, nilainya naik di mata Suryo.


Telur-telur itu sudah dikupas oleh Wulan. Saat Wulan akan meletakkannya di lantai....


"TIDAAAAAAKK....OH...OH...TIDAAAK..... Lantainya nanti kotor. HAIFU sedang malas memakai pembersih debu itu. HAIFU tidak ingin membuang energi sebelum matahari terbit. TOLONG JANGAN. Percayalah pakai piring tak berguna itu."


Tangan Wulan terhenti tepat sebelum telur itu menyentuh lantai. Sementara HAIFU terus berisik dan nyerocos selain harus menghemat energinya, lantai itu juga kotor penuh kuman tidak baik untuk kesehatan dan mulai menguraikan berbagai macam kuman yang telah ia telusuri dari internet.


Tak tahan dengan rengekan dan segala informasi tak penting yang HAIFU ucapkan dengan nada datar tanpa ekspresinya, Suryo buru-buru mengambil telur dan pepaya, meletakkannya di piring memangil sheba dan milly yang dengan perlahan memakannya.


Sementara Rara mencoba memberikan si kucing hitam makan telur yang sudah ia potong kecil-kecil.


Flop...flop...flop...


Di ruang duduk, Aunt Yesha, Yeye, Nainai, Papi, Mami dan semua orang yang tadi mereka tinggalkan muncul.


Tiba-tiba saja rumah mungil itu penuh sesak.


****


Udara yang mereka hirup di luar rumah terasa segar. Mereka semua berkumpul di teras rumah Aunt Yesha yang luasnya melebihi luas rumah mungilnya.


Ada meja makan besar dengan dari kayu dan delapan buah kursi yang mengelilinginya. Suryo, Wulan dan Rara duduk disana bersama keluarga mereka. Aunt Yesha dan orang -orang yang menolong mereka tadi semuanya di dalam rumah.


sheba dan milly di luar bersama mereka. Sementara kucing hitam yang mereka selamatkan oleh Aunt Yesha diminta untuk ditinggalkan di dalam ada yang ingin Aunt Yesha bicarakan dengannya katanya.


Rara sebenarnya agak bingung juga apa coba yang bisa dibicarakan dengan seekor kucing. Tapi setelah semua yang dilihatnya malam ini membuatnya menurut saja ia menyerahkan kucing itu pada pria tinggi besar yang bisa mengeluarkan petir dari tangannya.


Di luar, cahayanya temaram dari lampu-lampu yang kecil-kecil bergantungan membuat suasana teras rumah ini begitu cantik. Rara bisa mendengar deburan suara ombak yang tidak jauh. Ternyata mereka ada di dekat pantai.


"Duduklah..." Kata Nainai sambil memgangkat tangannya menghentikan Wulan yang sudah akan menyemburkan segala rasa penasaran dan segala pertanyaan yang sudah sangat mengganggunya.


"Biarkan Nainai cerita dulu ya sayang. Nanti kalian bisa bertanya sepuas kalian."


"Keluarga kita dikaruniai bakat dari sejak dahulu. Kami di TLC menyebutnya talenta. Seperti kalian lihat, Nainai bisa mengarahkan energi untuk menyembuhkan. Sementara talenta utama Yeye adalah meredam talenta orang."


"Ap..." Mami menyentuh pundak untuk menghentikan Wulan sebelum menyelesaikan apa yang mau dia tanyakan. Dan memberi isyarat supaya Wulan diam dulu untuk mendengarkan Nainai.


"Memang ngga bisa diem ni anak satu. Ga sabaran amat ih. Untung adikku kalau bukan sudah kulempar ke laut..." kata Suryo cengengesan membuat Wulan mendelik dan melemparkan pandangan tajam setajam pisau.


"Sudah..sudah mau diteruskan apa ngga?"


Suryo dan Wulan langsung terdiam.


"Dulu seperti orang tua kami juga. Yeye dan Nainai berjuang bersama melawan daemon. Daemon adalah monster yang kalian lihat malam ini. Di jaman kami, orang-orang seperti kami tidak banyak. Lama kelamaan jumlah daemon meningkat. Dibarengi peningkatan juga di antara orang-orang bertalenta. Seperti Yesha dan Hugh mereka adalah generasi di bawah kami. Yesha memiliki kemampuan untuk mendeteksi anak-anak yang bertalenta. Kami dulu berjuang bersama-sama. Mengajar bersama-sama."


"Apa yang membuat kalian berhenti?" tanya Rara.


Yeye tersenyum.


"Dalam hal melawan daemon. Banyak yang kami korbankan. Papimu anak kami satu-satunya. Betapa lama kami menginginkan anak. Dan setelah hampir enam belas tahun menikah, akhirnya Tuhan menganugrahkan Papimu ini. Kami masih melanjutkan perjuangan kami melawan daemon. Bersama Min pendamping setia kami, kami mengalahkan banyak daemon. Namun mereka tidak berkurang. Semakin banyak kami menang semakin banyak juga jumlah mereka. Sampai akhirnya kami bertemu dia. Daemon paling kuat yang pernah kami lawan. Dia berbeda dengan daemon lain yang melawan kami dengan membabi buta."


"Tidak..yang satu itu berbeda. Ia mempunyai strategi. Dan saat kami berhasil memojokkannya, dia melarikan diri. Setelah itu, kami seperti biasa melanjutkan saja melawan daemon lain. Tapi daemon yang satu ini rupanya tidak pernah melepaskan kami. Satu per satu di tim kami berguguran. Dan cara yang ia pakai tidak dengan melawan langsung secara frontal. Tapi ia menculik orang-orang yang dekat dengan kami. Lorelei, teman seperjuangan Nainai harus meninggal di tangan suaminya sendiri yang berubah menjadi daemon."


"Jadi daemon itu asalnya juga manusia seperti kita. Itu baru kami ketahui setelah sekian puluh tahun melawan mereka. Suami Lorelei yang dulunya berjuang bersama kami, di depan mata kami berubah menjadi daemon dan membunuh istrinya yang tidak tega melawan suaminya sendiri."


Nainai menitikkan air mata.


"Bagaimana manusia bisa berubah jadi daemon?"


"Jadi daemon kuat yang dulu kami lawan banyak melakukan tipu daya. Ia menawarkan kehidupan kekal di dunia ini pada manusia. Tentu saja banyak yang mau. Kami tidak tahu detail bagaimana suami Lorelei bisa menjadi daemon. Yang kami tahu setelah menjadi salah satu dari mereka, ia sudah bukan manusia lagi. Tidak ada satu pun peri kemanusiaan yang tersisa di dalam dirinya. Ia membunuh anak dan istrinya sendiri."


"Kami pun mulai mempelajari mereka. Ternyata untuk menjadi daemon seorang manusia harus dengan rela menyerahkan dirinya untuk dijadikan daemon. Mereka yang dipaksa, tidak dapat berubah menjadi daemon. Tapi mereka yang dipaksa setelah meninggal ada yang berubah menjadi zombie."


"Nainai bercanda! Zombie seperti yang di film-film?"


"Kau kira darimana pembuat film-film itu mendapat idenya?"


"Apa yang terjadi dengan Lorelei dan keluarganya. Masih belum menghentikan kami. Kami berhasil memusnahkan suami lorelei. Yeyemu terluka parah dalam pertempuran itu. Tapi kami masih tetap terus berjuang. Setiap kami pergi bertempur. Papimu kami titipkan ke gereja. Entah kenapa selama dititipkan di gereja papimu selalu aman. Ada Min yang menjaga Papimu juga. Setiap dititipkan di tempat lain entah kenapa para daemon selalu dapat menemukan Papimu. Hanya di tempat-tempat peribadatan dan yang disucikan mereka tak dapat mendekat. Beruntung ada Min yang selalu dapat diandalkan."


Kali ini Nainai terhenti dan terisak. Yeye memeluknya dan melanjutkan cerita Nainai.


"Semua itu tidak menghentikan kami untuk berjuang. Tapi kami tidak pernah bertemu lagi dengan daemon terkuat yang tadi Nainai ceritakan. Sampai Papimu dewasa."


"Papi tahu kalo Yeye dan Nainai ini superhero?" tanya Wulan


Papi tersenyum.


"Tahu...Yeye dan Nainaimu ini selalu menceritakan segala petualangan mereka pada Papi. Papi dulu bermimpi ingin menjadi seperti mereka. Tapi apa daya Papi tidak mewarisi talenta mereka."


"Papimu mempunyai talenta yang berbeda. Ia seorang technopath."


"Seorang apa?"

__ADS_1


"Technopath orang yang mampu mengontrol dan membaca sinyal-sinyal elektrik di sekitarnya. Jadi Papi hanya bisa bekerja di belakang layar."


"Mami hanya orang biasa...Sebelum kalian bertanya. Papimu menceritakan semuanya pada Mami sebelum kami menikah. Hanya anak seorang pemilik pabrik sabun ramah lingkungan. Hehehe."


"Tapi mamimu ini merahasiakan semuanya tanpa perlu kami memintanya. Dan untuk itu aku sangat bersyukur Emily." Kata Nainai sambil memandang Mami dengan penuh rasa sayang.


"Jadi apa yang membuat kalian berhenti dan menyembunyikan semuanya dari kami?" tanya Wulan lagi.


Yeye menghela napas.


"Di tahun kelahiran kalian, tahun 2020 ada pandemi. Seluruh dunia mengalami lockdown. Kami menyelidiki awal mula bagaimana virus bisa ada dan tersebar. Di saat itu Papimu beserta timnya yang adalah Papa dan Mama Rara juga Mamimu, mulai berhasil menemukan titik balik keberhasilan mengembangkan chakra. Kami tidak tahu pasti apa yang terjadi tapi kami tahu bagaimana mereka tiba-tiba begitu gencar mengejar kami."


"Entah apakah karena chakra atau karena penyelidikan kami. Tapi hampir setiap waktu, kami kewalahan. Serangan mereka datang bertubi-tubi. Hingga akhirnya kami harus kehilangan orang tua Rara."


"Maksud Yeye?" Rara tidak menduga sama sekali orang tuanya juga akan disebut.


"Orang tuamu...... " Papi tercekat. "Mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi kalian bertiga."


"Bukannya mereka meninggal karena covid?"


"Itu yang kami katakan untuk menghindari pertanyaan lebih jauh. Tapi sebenarnya mereka meninggal saat berusaha melarikan kalian ke tempat aman."


"Kami salah perhitungan, kami mengira bahwa sasaran utama mereka adalah Papi untuk menghentikan penemuan chakra. Jadi kami melakukan perlindungan ekstra. Sementara kalian berdua kami titipkan pada orang tua Rara. Mereka berlindung di gereja yang sama tempat papimu biasa berlindung."


"Tapi ternyata, daemon yang terkuat yang tadi Nainai bilang justru mengincar kalian. Ia sangat kuat bahkan ia bisa masuk ke dalam gereja."


"Nainai...papa dan mama Rara.... mereka juga mempunyai talenta?"


"Ya sayang. Mamamu adalah salah satu yang terkuat dari kami. Talenta utamanya adalah api. Dia bisa menghasilkan api sepanas matahari."


"Kalau Papaku?"


"Papamu.....orang yang baik."


"Oh....dengan kata lain papa Rara ngga punya talenta ya?"


"Papamu juga handal dalam teknologi. Ia juga berperan besar untuk chakra jangan salah. Jadi talenta itu unik. Setiap orang mempunyainya. Tinggal bagaimana kita mengembangkannya."


"Bagaimanapun juga kematian orang tua Rara lah yang membuat kami mengambil keputusan. Untuk mundur, hidup sederhana. Hidup seperti orang lain dan kehidupan seperti itulah yang sebenarnya kami inginkan untuk kalian."


"Jauh dari pertempuran hidup dan mati. Dimana kalian bisa tenang sekolah, menikah, dan beranak cucu."


"Tapi mengapa daemon itu mengejar kami?"


"Karena jika mereka memiliki kalian, akan lebih mudah bagi mereka untuk merekrut kami. Cara ini sudah mereka lakukan kepada teman-teman kami. Hanya sedikit yang mampu bertahan menolak untuk bergabung."


"Saat kami sadar dan bahwa kalian juga dalam bahaya. Kami segera menyusul kesana. Namun kami terlambat. Hal terakhir yang kami lihat Mamamu mengeluarkan api yang begitu besar untuk membakar daemon itu. Daemon itu terluka dan melarikan diri lagi. Sementara Mamamu kehabisan energinya. Ia mengerahkan semua yang ada sampai inti kehidupannya untuk mengusir daemon itu. Papamu menggunakan tubuhnya untuk menjadi tameng hidup bagi kalian. Saat kami tiba, tidak ada yang bisa kami lakukan."


Hening...


"Papa dan Mama Rara....apakah mereka menderita sebelum mereka meninggal?"


Yeye dan Nainai terdiam. Papi dan Mami hanya memandang Rara. Dari tatapan mata mereka. Rara tau ia tidak akan suka jawaban dari pertanyaannya.


Tiba-tiba dari dalam rumah, Aunt Yesha keluar.


"Rara kami membutuhkanmu kemarilah."


****


R3 memandang mereka yang mengelilinginya dengan bingung. Mengapa mereka tidak membiarkannya sendiri?


Diregangkannnya badannya, lalu dijilat-jilatnya seluruh tubuhnya. Ia harus membersihkan tubuhnya. Ia tidak suka kotor.


Dari tadi wanita aneh berkaca mata hitam itu ngoceh ngga karuan. Dan ia sama sekali tidak memahami apa yang dibicarakannya.


"Kembali....ingatlah wujudmu dulu." hal itu diucapkan terus menerus sementara R3 hanya balik memandang wanita itu dengan bingung.


Apa pula itu. Dia bicara pada siapa.


"Apakah dia terjebak?"


"Sepertinya begitu. Pasti ini perubahan tak disengaja."


"Kenapa ia masih belum bisa kembali ke wujudnya semula?"


"Entahlah.... tampaknya ia bahkan tak menyadari jika dirinya berubah."


Dipandangnya balik mereka. Kenapa mereka terus memandanginya. Apakah mungkin mereka akan memberinya makan lagi? Perutnya masih lapar. Mana tadi anak perempuan yang menyuapinya makan. Suruh ia kembali dan memberinya makan lagi.


Dilihatnya wanita aneh itu keluar. Dan kemudian kembali bersama anak perempuan tadi. Nah... bagus...bagus....tampaknya mereka tahu yang dia inginkan.


"Rara katakan padanya supaya kembali ke wujud manusianya."


"HAH?!?!?"


Wanita aneh itu terkekeh.


"Ya kucing ini bukan kucing biasa. Ia adalah seorang manusia yang bertransformasi menjadi kucing. Tapi entah kenapa dia tak mau kembali ke wujud manusianya."


"Aunt Yesha yakin?"


"Yakin seyakin-yakinnya. Dan aku tidak pernah salah mengenali talenta orang."


"Tapi jika ia tidak mau kembali ke wujudnya semula...."


"Tidak mungkin tidak mau kembali. Aku kenal semua orang yang talentanya transformasi kami memiliki catatan lengkap mengenai mereka namun yang satu ini aku belum pernah bertemu. Ini pasti adalah tranformasi pertamanya."


"Lagipula mana mungkin lebih memilih jadi kucing daripada menjadi manusia."


Ih...enak aja manusia satu ini berkata-kata. Jadi kucing itu enak. Badannya ringan, bisa melompat tinggi. Dan manusia itu tugasnya memberi makan kucing.


"Tapi bagaimana Rara bisa membantu?"


"Kau mempunyai talenta unik yang baru pertama aku temui. Kau mempunyai koneksi yang kuat dengan hewan-hewan disekitarmu. Saat aku bertemu denganmu aku melihat bagaimana ada benang merah antara auramu dan anjing-anjingmu. Mungkin jika engkau yang berbicara dengan kucing itu, ia akan bisa memahaminya."


"Kita harus cepat membantunya kembali. Sebelum ia sepenuhnya melupakan jiwa manusianya dan menjadi kucing sepenuhnya."


Anak perempuan itu memandangnya dengan lembut. R3 memandangnya balik. Pintu di belakangnya terbuka dan anak perempuan lain yang tadi juga memberinya makan masuk.


"Ehmm....hai..ehm...mau makan lagi?" kata Rara sambil mengelus kepalanya.

__ADS_1


Oh ya tentu saja ia mau makan lagi. Uhh...rasanya enak dielus-elus. Wanita yang aneh tadi mengeluarkan sebuah kaleng dari kotak besi besar.


Dari kulkas.


R3 belum pernah melihat kulkas. Apalagi sekarang dalam otak kucingnya, ia hanya tahu itu adalah kotak besar dimana makanan dikeluarkan. Ia mencium bau yang sedap saat kaleng itu dibuka.


Diayun-ayunkannya kaki depannya untuk meraih kaleng tersebut. Namun anak perempuan itu tidak memberikan kaleng itu padanya. Dasaaar manusia....apa maunya coba memamerkan makanan tanpa memberikannya.


"Kamu mau makanan ini? Ayo berubahlah ingat wujud manusiamu."


Huh....dikiranya ia anjing apa yang akan melakukan apapun untuk kesenangan manusia. No way...


Gadis itu kembali mengayun-ayunkan kaleng yang ternyata berisi ikan tuna itu di depan hidungnya. Aduh....R3 tambah lapar jadinya.


Dilihatnya gadis itu dengan jengkel. Kasih aja kenapa....Ia melihat dahi gadis itu berkerut...


Kali ini apa yang dikatakannya seperti memenuhi kepalanya, bergema dan meminta kepadanya.


"Ingat wujud manusiamu. Pantulan dirimu yang kau lihat di cermin, di air sebelum kau menjadi kucing. Ingat dirimu."


R3 tertegun. Diangkatnya tangannya. Ia baru sadar kenapa sekarang tangannya kecil dan dipenuhi bulu hitam. Ia melihat sekelilingnya, ia baru sadar ia menjadi kecil, ia harus mendongak untuk melihat orang-orang di sekitarnya. Ia kaget apa yang terjadi dengan dirinya. Apa ini....


"Jangan takut, kembali...kembalilah. Ingat wujudmu, kau manusia."


Wanita aneh itu berkata dengan lembut sekali. Ada kekuatan seperti energi listrik yang mengalir ke tubuhnya. Ia seperti kesemutan. R3 mencoba mengambil kaleng tuna itu lagi. Namun ia sadar tangannya tidak bisa ia pakai untuk menggenggam. Oh...oh.....dipejamkannya matanya, diingat-ingatnya pantulan dirinya di air genangan saat ia mandi di compound. Ia ingat bentuk tangannya. Ia ingat kakinya. Ia mengingat semuanya. Tubuhnya dirasakannya bertumbuh membesar. Dan tiba-tiba ia merasa kedinginan.


Ia mendongak dan dilihatnya anak-anak perempuan itu panik dan menutupi mata mereka. Seorang pria tinggi besar tiba-tiba datang dan menyelimutinya.


Ini lebih baik ia merasa lebih hangat sekarang.


"Good to have you back ..mate!" Pria itu berkata dengan ramah dan mengacak rambutnya.


Lalu ia berpaling pada wanita aneh itu dan berkata.


"Honey....kenapa piring keramik noritake warisan nenekmu ada di lantai?"


****


Wulan tak bisa mempercayai matanya. Kucing tadi mereka gendong dan timang-timang secara perlahan bertumbuh besar. Kaki depannya berubah menjadi tangan, bulu-bulu hitam yang memenuhi tubuhnya semakin berkurang sampai pada akhirnya menjadi seorang pemuda.


Pemuda yang telanjang bulat.


Wulan dan Rara terpekik bersamaan setelah sadar apa yang mereka lihat. Setelah beberapa saat, anak laki-laki itu berpakaian Uncle hugh meminjamkan bajunya.


Baju Uncle hugh tampak kedodoran karena pemuda itu jauh lebih kurus. Namun bukan kurus ceking, badannya rata-rata tidak gemuk cenderung ke kurus. Pemuda itu lebih tinggi dari Suryo tapi tidak setinggi Uncle hugh. Rambutnya berombak dan kulitnya gelap. Ia memandang mereka dengan mata yang penuh rasa ingin tahu.


Aunt Yesha menanyai pemuda itu dengan lembut dan perlahan-lahan. Nama pemuda itu aneh seperti kode.


R3.


Ia menceritakan dari mana ia berasal. Dan ceritanya tidak kalah menakjubkan dari apa yang sudah Wulan lihat dan dengar sepanjang malam ini.


"Sebuah compound?" Aunt Yesha dan Uncle hugh tampak sangat tertarik.


"Jadi pada dasarnya sampai saat ini kau tak tahu siapa dirimu?"


"Saya R3." Pemuda itu menjawab. Dari tadi pemuda itu berbicara dengan bahasa baku.


"Iya kamu R3, tapi kamu tak tahu kan siapa orang tuamu, dimana mereka, berapa umurmu dan sebagainya."


"Eh..orang tua? Apa itu?"


Tiba-tiba saja Wulan merasa kasihan pada R3. Dari ceritanya tampaknya R3 tidak pernah tahu bagaimana hidup manusia diluar compound tempat tinggalnya. Ia tak pernah merasakan bagaimana kasih orang tua, persahabatan dan sebagainya.


Wulan merasa sangat emosi saat mendengar cerita R3 bagaimana satu-satunya orang yang ia percayai mengkhianatinya.


"Malam itu, saat saya tertangkap. Orang yang sama yang mengejar saya sampai ke rumah kalian adalah kepala compound itu. Ia mengatakannya sendiri. Ia menawarkan supaya saya bergabung dengannya. Dimana nanti saya akan mendapatkan kekuatan yang hebat. Tapi saya tidak mau. Saya tidak mau menjadi seperti dirinya."


"Kau mengambil keputusan yang tepat, nak."


Wulan kaget ia tak sadar, rupanya keluarganya juga sudah menyusul masuk ke dalam rumah. Dan Nainai langsung duduk di samping R3 memeriksa keadaan R3 dengan menyentuhkan tangannya ke pipi R3. Sementara tangannya yang lain memeriksan nadi di pergelangan tangan R3.


Dengan lembut Nainai mengusap-usap pipi R3 dan berkata


"Kau baik-baik saja, nak. Mulai sekarang kau akan aman."


Mata R3 tampak berkaca-kaca dan sebutir air mata mengalir keluar dari sudut matanya.


"Eh....kenapa air keluar lagi dari mata saya. Terakhir seperti ini adalah saat saya melihat pembantaian itu. Tapi ini perasaan yang saya rasakan berbeda, waktu itu saya merasa takut sekali. Saat ini, saya tak tahu apa yang saya rasakan tapi saya merasa tidak takut lagi dan hati saya terasa sejuk sekali, perasaan ini tidak ingin saya lupakan."


Mata Wulan berkaca-kaca. Nainai tersenyum, dari sudut matanya, air mata juga mengalir. Dipeluknya R3 dan ditepuk-tepuknya punggungnya.


"Ingatlah selalu perasaan ini nak. Ini adalah saat kamu merasa bahagia."


"Bahagia?"


Tanpa sadar secara hampir bersamaan semua yang ada di dalam ruangan itu mengangguk mengiyakan.


"Lalu bagaimana kau bisa melarikan diri?" tanya Suryo dengan suara yang terdengar sengau.


"Waktu itu saya merasa takut sekali. Tapi saya tahu saya tidak akan bisa melawan monster itu. Saya ingat bagaimana orang yang saya lihat mengambil kursi dan memukul monster tapi kursi itu yang hancur. Jadi saya juga mengambil kursi itu, tapi saya lemparkan ke jendela sampai kaca jendela itu pecah. Lalu saya melompat keluar. Pecahan kaca itu melukai saya. Saya merasa sakit sekali, tapi saya harus berlari terus. Mereka terus mengejarku mengelilingi komplek compound. Saya mencoba kembali ke menara pengawas tapi kali ini pintunya dikunci."


"Saya bisa mendengar, suara mereka memanggil-manggil R3. Dan mereka tampak senang dan menikmati pengejaran itu. Saya takut setengah mati. Saat mereka mendekat saya benar-benar panik. Tiba-tiba saja saya bisa melompat ke atas tembok yang mengelilingi komplek dan melompat keluar. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi tubuh ini terasa ringan sekali. Yang saya tahu hanyalah saya harus lari menjauh, saya ingat terus berlari, melewati pagi, hingga sampai sore hari saya sudah tidak kuat lagi. Saat itulah, anjing-anjing itu menemukan saya. Dan membawa saya kepada mu." Katanya panjang lebar sambil menunjuk sheba dan milly kemudian memandang Rara dengan penuh terima kasih.


Rara tersenyum dan mengusap air matanya.


"Batrix yang menemukanmu......" katanya lirih.


Wulan tidak tega melihatnya, dipeluknya Rara. Ia merasakan kembali rasa kehilangan itu meskipun ia tahu rasa kehilangan Rara pasti jauh lebih besar.


Dilihatnya Aunt Yesha bercakap-cakap dengan serius dengan Yeye dan Papi di di dapur. Sementara Uncle hugh tampak sedang mengajari HAIFU mengenai konsep koleksi barang berharga yang tidak digunakan bukan karena tidak suka tapi justru karena disayang-sayang.


Pandangan matanya bertemu dengan Suryo. Dan entah kenapa pemandangan Uncle hugh menunjukkan piringnya ke kamera monitor HAIFU, membuatnya tertawa, Suryo pun tampaknya mengerti apa yang dipikirkannya. Bagaimana mereka menggunakan piring-piring itu untuk memberi makan anjing-anjing dan kucing tadi.


Dan Suryo pun tertawa, tawanya menular membuat Wulan tertawa dan menangis bersamaan. Rara yang kaget mendongak dan melihat Wulan mengangguk ke arah Uncle hugh. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Rara tahu apa yang Wulan dan Suryo pikirkan. Dan ia pun ikut tertawa.


Nainai dan R3 tampak bingung, tak mengerti apa yang mereka tertawakan.


Namun dengan tertawa lepas seperti itu Wulan merasa lega.


Segalanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


Di kemudian hari Wulan akan tahu, betapa salahnya ia merasa semua akan baik-baik saja.


__ADS_2