Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Kekuatan Pikiran


__ADS_3

Arthur tidak habis pikir dengan sikap Suryo. Bagaimana bisa ia membentak maminya sendiri. Memang Arthur masih hijau dalam segala hal mengenai dunia apalagi mengenai hubungan interaksi antara manusia. Namun  tampaknya dari keterkejutan dan reaksi semua yang melihat kejadian tadi, Arthur dapat meengerti bahwa apa yang Suryo lakukan tidak pantas.


Nainai juga tampak terguncang. begitu Suryo menghambur naik ke atas. Ia langsung lemas beruntung mami cepat-cepat memeganginya dan Rara dengan sigap mengambilkan kursi.


"Aku tidak bermaksud menamparnya......"suara Nainai bergetar dan ia menunduk memandangi tangannya. "Tapi anak-anak ini harus tahu, kita tidak bisa hidup seperti dulu lagi. Semua salah Nainai, kukira kami melindungi kalian dengan menyembunyikan kalian.... meredam talenta kalian. Memanjakan kalian, menginginkan kehidupan seperti manusia biasa untuk kalian. Dan lihat apa jadinya....."


Mami merangkul Nainai dengan sayang. Nainai balik memandangnya dan tersenyum lemah. Ditepuk-tepuknya tangan menantunya. Dari sudut matanya, sebutir air mata mengalir. Arthur sangat trenyuh melihatnya. Dipandangnya Wulan yang balik menatapnya sebentar untuk kemudian melengos melihat ke arah lain. Ada apa gerangan dengan Wulan?


Heran deh Arthur jadinya. Sejak kembali ke rumah, Wulan tampaknya menghindar terus dari Arthur.


"Oke sambil menunggu jemputan, ada baiknya kalian berlatih lagi. Ayo Rara, Wulan, Arthur ambil buku catatan kalian. Sore ini kita akan latihan keceptan lagi. Suryo biarkan dulu, lagipula dalam hal kecepatan tampaknya ia sudah menguasainya."


"Ugh..." Rara mendesah pelan. Arthur tersenyum melihatnya, ditepuk-tepuknya kepala Rara mencoba memberinya semangat. Tak sengaja matanya melihat Wulan yang ekspresi wajahnya menjadi kaku seperti batu.


"Nainai, uhm kurasa ada yang ingin kuperlihatkan." sambil berkata Arthur pelan-pelan mulai bertransformasi menjadi kucing hitam lagi. Baju yang dipakainya menumpuk di atas kepalanya.


"Waaaah.....Arthur!!!!!" Rara memekik terpesona dan berjalan mendekatinya. Gadis itu membungkuk membantunya keluar dari tumpukan bajunya. "Wah hebat kamu sudah menguasai transformasimu."


Arthur mendongak dan dilihatnya Rara memandangnya dan tersenyum dengan tulus ikut senang dengan keberhasilannya. Diliatnya juga Wulan yang terbelalak memandangnya dengan takjub. Nainai dan Mami bertepuk tangan. Nainai pun langsung bangkit berdiri.


Mau tak  mau Arthur merasa senang, ada perasaan membuncah di dadanya yang ia tak tau adalah perasaan bangga. Ekor kucingnya berdiri tegak.


Meaow...meaow...meoooooow.....


Aduh.... Arthur lupa ia tidak bisa berbicara seperti manusia saat menjadi kucing. Padahal ia ingin mengatakan jika ia ingin membandingkan kecepatannya saat menjadi kucing dengan saat masih belum menjadi kucing. Dengan bingung ia berputar-putar.


Kau mau apa?


Kaget...


Dengan tersentak, Arthur berhenti mendadak. Ia mendengar suara Rara dengan jelas, namun dengan pasti ia tidak mendengarnya melalui telinganya. lebih seperti ada suara di otaknya. Dipandangnya Rara dengan seksama. Lalu ia mencoba menjawab balik melalui pikirannya.


*     I**ngin mencoba kecepatan saya saat menjadi kucing*


"Oh...Arthur ingin mencoba kecepatannya saat menjadi kucing apakah bertambah atau tidak." kata Rara dengan riang.


"Koq bisa tahu Ra?"tanya Wulan penasaran.


"Eh..... bukannya Arthur yang bilang?"


"Haaa?...Dari tadi aja Arthur diem, udah ngga ngeang ngeong gitu. Bilang darimana?"


"Eh...tapi...tapi..."


"Rara." Nainai mengangkat tangannya menyela Rara. " Arthur apakah kamu mengerti pembicaraan kami? maksudku dulu waktu menjadi kucing kesadaran manusiamu tidak ada. Anggukkan kepalamu jika kau mengerti."


Arthur mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.


"Apakah yang dikatakan Rara benar? Itu yang kau inginkan?"


Sekali lagi Arhur menganggukan kepalanya. Dianggukkannya sekali lagi kalau kalau Nainai tidak melihat anggukan kepalanya yang pertama.


"Hmmmm......coba sekali lagi katakan sesuatu dengan pikiranmu."


Ikan tuna

__ADS_1


"Rara? Kamu dengar apa?"


"Eh....ngga dengar apa apa...."


"Konsentrasi arahkan pikiranmu pada Arthur."


Rara berbalik dan menatap Arthur. Arthur mendongak menatapnya.


Lapar...


Dilihatnya Rara menelengkan kepalanya.


"Arthur....laper?"


Dengan senang Arthur menganggukkan kepalanya sambil kemudian menjilat-jilat kaki depannya.. Ada kotoran yang menempel disana


"Wow.. Rara......" Mami tampak takjub.


"Uhm... Rara kenapa?"


"Talentamu sangat langka. Kau bisa telepathy."


"Telepathy? Membaca pikiran? Tapi...tapi... Rara ngga pernah baca pikiran yang lain. Baru ini Rara bisa membaca pikiran Arthur."


“Hmmm....selama ini belum pernah


sekalipun Rara bisa menangkap pikiran orang lain? Maksud Nainai, apakah


kadang-kadang tiba-tiba ada pikiran dalam kesadaranmu yang kamu tau pasti bahwa


 


Rara tampak berpikir keras, Arthur bisa melihat kening Rara berkerut diantara kedua alisnya. Lalu gadis itu menggeleng.


“Ndak...ndak pernah.”


“Rara yakin? Atau mungkin Rara tidak menyadarinya?” Mami kelihatan sangat penasaran.


“Yakin, Mi. Baru sekali ini Rara bisa mendengar dengan pikiran.”


“Uhmm.... tunggu, dulu waktu Arthur menjadi kucing, Aunt Yesha juga minta sama kamu kan Ra? Buat manggil Arthur? Terus perasaan kamu juga satu-satunya yang bisa tahu apa kebutuhan


anjing-anjing kita.”


“Er.....iya sih dengan anjing-anjing, Rara bisa tahu sih apa yang mereka mau. Tapi...gimana ya jelasinnya. Mungkin


Rara bisa tahu apa keinginan mereka karena sudah deket banget dan Rara tahu bagaimana gerak-gerik mereka. Dan pikiran mereka isinya juga cuma bermain dan makan saja....”


“LAH ITU!”


Arthur ikut melonjak kaget mendengar teriakan Wulan yang dari raut mukanya kelihatan tidak sabar.


“Masih ga mudeng?”katanya sambil memandang sekelilingnya dengan kesal.” Rara bisa membaca pikiran hewan. Dia bisa membaca pikiran Arthur karena sekarang Arthur dalam bentuk kucing.”


“Eh....mungkinkah?” Rara memejamkan matanya rapat-rapat sambil berusaha mengingat.

__ADS_1


“Coba sekarang Rara lihat pikiran sheba.”


Rara membuka matanya dan menatap shebayang sedari tadi duduk dengan manis di sampingnya. Anjing itu menelengkan kepalanya memandang balik. Arthur melihat Rara tersenyum manis dan kemudian


mengelus-elus kepala sheba.


“Ga begitu jelas sih pikiran sheba.Tidak sejelas bagaimana tadi Rara bisa berkomunikasi dengan Arthur. Pikiran


sheba begitu abstrak, seperti fragment-fragment. Tadi Rara mencoba menanyakan apa yang sheba rasakan. Sheba tidak menjawab langsung seperti Arthur. Melainkanlebih menyerupai proyeksi bagaimana ia merasa senang, ingin cemilan, lapar,ingin jalan-jalan dan ingin bermain sekaligus.”


“Waow...”Mami menghela napasnya “Sekarang coba dengan Mami.”


Mereka berdua bertatap-tatapan. Arthur sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi kemudian, kepalanya


menggeleng-geleng sebentar melihat Rara sebentar beralih ke Mami.


Semenit..


Dua menit...


“Tidak bisa....hufh...”


Mami menggedikan bahunya kemudian menepuk bahu Rara.


“Mungkin karena pikiran manusia lebih kompleks. Sejalan dengan latihan mungkin bisa”


“Nainai kenal orang lain yang bertalenta telepathy?”


“Tidak. Kemampuan membaca pikiran sangat langka. Berkomunikasi dengan pikiran itu ada beberapa yang bisa melakukan, para daemon bisa melakukan itu, mereka bisa membaca pikiran daemon lain tapi terbatas hanya kepada daemon yang mereka buat. Hanya pemimpin agung mereka yang kabarnya bias membaca pikiran orang dan daemon lain. Sedang orang yang mempunyai kemampuan membaca pikiran hanya ada satu yang Nainai tahu yang masih hidup. Itupun tidak diketahui dimana keberadaannya.”


 


“Tapi jangan khawatir, untuk mengasah itu, mereka-mereka yang talenta bawaanya lebih berdasarkan mental dapat


membantumu, Seperti Yesha.”


“Tapi Nai, ini Rara bukannya membaca pikiran orang tapi Rara malah berkomunikasi dengan binatang. Seperti kata Aunt Yesha, tidak pernah ada catatan mengenai talenta seperti Rara.


“Mami memang tahu...”


“Jangan meremehkan Mamimu ini.” Potong Nainai sebelum Wulan melanjutkan lebih jauh. “Memang dia ngga punya talenta yang bisa dideteksi Yesha. Tapi, mamimu ini adalah peneliti talenta terbaik yang pernah ada. Segala sesuatu tentang talenta dan orang yang memilikinya sudah pernah diteliti olehnya.”


“Ah...Mama.”Mami tampak jengah dengan pujian mertuanya. “Justru karena penelitian itulah aku bisa bertemu papimu.”Katanya sambil tersenyum.


 “Sudah-sudah, keburu Arthur dijemput,ayo kita mulai latihannya. Rara ayo konsentrasi angkat pulpen itu, Wulan geser kursi sampai ke ujung ruangan. Arthur coba latih kecepatan larimu dalam bentukkucing. Tapi tolong jangan tabrak perabotan.”


Dan Rara pun meringis sedih.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2