Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
KEJUTAN!


__ADS_3

Suryo tidak bisa mempercayai pandangannya. Dilihatnya pria tinggi , atletis dan tampan yang membukakan pintu vila dan berteriak dengan riang gembira menyapanya dan Wulan.


Pria yang sama yang membunuh Mr. Minus.


Bagaimana mungkin?


Ia bukan orang yang bodoh, ia tahu kekhawatiran keluarganya beralasan maka dari itu Suryo sudah mengetes Aldi dengan berbagai pertanyaan yang bisa memastikan bahwa Aldi bukan daemon. Sengaja ia bertanya secara sambil lalu supaya tidak mencurigakan tentang bagaimana mereka berdua dulu pernah dikejar-kejar satpol PP gara-gara mereka nekat berjualan di pinggir jalan untuk proyek sekolah. mana mereka tahu jika hari itu ada penertiban...Haaaa


Dan Aldi bisa menggambarkan dengan persis kejadiannya, ekspresi dan nada suaranya pun sama persis seperti pada kejadian itu. Jadi kenapa bisa ada pria itu disini?


'Maaf........" bisik Aldi dengan lirih. Kepalanya tertunduk dan ia sama sekali tidak berani menatap Suryo.


"BRAVOOOOO....Bravoooo Aldi...Haloo? Gue Derrick, kita belum sempat berkenalan bukan?" kata Derrick dengan riang gembira dan bertepuk tangan dengan melompat-lompat yang dibuat-buat membuat Suryo jengkel.


Derrick tertawa lebar dan melihat bahwa Suryo jengkel dan marah.


"Adududududu......tututtututut....! Jangan baper ah! Eh bener kan istilahnya? Jangan bawa perasaan? HAHAHAHAHAAAAH.....It's strickly bussiness."


"APA MAUMU?" tanya Wulan dengan ketus dan tanpa basa-basi.


"Wow tanpa basa-basi. To the point. Eh.....gua suka cewek seperi ini! Mungkin jika elu mau bergabung menjadi daemon dengan kami maka elu bisa jadi tangan kananku langsung."


CUIIIH......


"Jangan mimpi!" Suryo tidak bisa menahan amarahnya.


"Pleaaase Yo tolong! Dia menahan Bapak sama Ibuku......" kata Aldi dengan suara lirih dan menahan tangis.


Suryo jadi iba padanya.


"Goblok! Itu bukan alasan buatmu nyerahin kami juga! TOLOL."


"LAN!" bentak Suryo ke adiknya.


"Maaf...maaf...." Aldi berkata sambil terisak, " Aku wes rangerti mesti piye...." (Aku sudah tidak tahu hatus bagaimana)


Wulan sudah akan menjawab lagi tapi Suryo mencegahnya dengan menarik tangan Wulan membuat Wulan balas menatapnya dengan sengit. tapi Suryo hanya menggelengkan kepalanya dan mengarahkan dagunya ke arah Derrick. Wulan mengangguk kecil tanda ia mengerti maksud Suryo,  tidak sia-sia dulu mereka berbagi rahim karena meski bagaimanapun mereka sering bertengkar mereka sudah bersama sejak dari kandungan Mami, jadi mereka bisa mengerti keinginan satu sama lain dengan hanya dengan sedikit isyarat.


Secara bersamaan, Suryo dan Wulan menerjang Derrick. Sambil bergerak dengan super cepat, Suryo mengarahkan tangannya ke pot bunga terdekat dan melemparkankann ya ke arah Derrick, disusul dengan Wulan yang juga melemparkan pot bunga yang lain.


Derrick terlihat kewalahan menangkis kiri dan kanan, pot-pot bunga berterbangan, disusul dengan hantaman pukulan tangan dan tendangan dari Suryo dan Wulan sirih berganti.


Sambil tanpa mengendorkan serangannya, Suryo berteriak ke Aldi supaya mencari orang tuanya, Aldi yang mendengarnya langsung berlari menuju ke belakang vila.


Suryo menggerakkan tangannya ke arah dahan pohon yang lumayan besar, mematahkannya dan menjadikannya senjata. Wulan mengikutinya, Kini mereka berdua menyerang Derrick dengan dahan pohon itu sambil sesekali mematahkan dahan pohon yang lain dengan kemampuan telekinesis mereka dan menghunjamkan dahan-dahan itu ke arah Derrick.


Derrick semakin kewalahan, beberapa dahan pohondan pecahan-pecahan pot bunga sudah menancap di bahunya, di tangannya dan juga di kakinya. Membuatnya semakin kepayahan bergerak.


Tanpa ampun Suryo dan Wulan tidak mengendorkan serangan mereka. Sampai pada akhirnya, Wulan menapakkan tangannya ke dahan yang dibawanya. membuat dahan yang cukup besar dan runcing di ujungnya itu melesat dengan cepat ke arah Derrick dan menghujam ke perutnya.


Derrick jatuh berlutut.


"Akkkh.....sakit....ukh!" Derrick memuntahkan darah segar.


"Dasar daemon! Cuih....kau kira mudah menangkap kami?" kata Suryo.


Dari belakang tampak Aldi berlari bersama Om Santo dan ibunya mengikuti dari belakang. membuat Suryo lega.


"Yo...sorry....'


"Ssst....wes rapopo.... Om, Tante? Gapapa, kan?"


Mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya dan tampak terengah-engah habis berlari.


"Thanks ya Suryo, Wulan....." kata Aldi lagi dengan terbata-bata.


Suryo menepuk bahu sahabatnya itu, ia merasa senang dan bangga bisa membantu melepaskan orang tua Aldi dari daemon yang membunuh Mr. Minus. Ia tak sabar untuk pulang dan bercerita kepada orang tua dan Yeye Nainainya, ia ingin menunjukkan bahwa rasa khawatir mereka terlalu belebihan. Ia dan Wulan bisa menjaga diri mereka sendiri.


"HUAHAHAHAHAHAHHH...WKWKWKWKWKW....HAUAKAKAHAKAKAK....'


Suara tawa Derrick keras sekali, membuat Suryo kaget. Wulan langsung memasang kuda-kudanya.


Dilihatnya Derrick berdiri pelan-pelan. Sambil berdiri, dahan, ranting-ranting dan pecahan pot bunga yang menancap ke tubuhnya berjatuhan. Lalu sambil memandang mereka dengan senyum mengejek, dahan yang paling besar yang tadi terakhir dihunjamkan Wulan ke perutnya pelan-pelan ia tarik keluar. Ada darah yang menyembur, membuat Wulan terlihat sangat jijik.


Dengan gerakan dramatis dan wajah dibuat-buat seolah-olah sangat kesakitan Derrick menarik dahan itu sampai tercabut dari perutnya lalu menjatuhkan dahan itu ke tanah dengan gerakan orang yang menjatuhkan mic saat berada di atas panggung.


"Uhk...ahk...atit...adudududuuuu....atiiit.....booooohoooo.... AKAKWKAKAKA!" Derrick tertawa terbahk-bahak. "Ooooouh......elu semua mestinya lihat wajah kalian sendiri....WAKAKAKAKA lucuuuuu banget. Oh...oh...mungkin gue harus ngelamar jadi aktor yah? Bisa dapet oscar gua."


"WAKAKAKKAKAK.....WOAKAKOKAOAKAOKA........Lucunyaaaaa......Ga sadar diri ya? Dengan kemampuan segitu sudah sombong! Segitu mau ngalahin gue? Derrick nih bos!"


Derrick terus nyerocos dan berjalan mondar mandir sambil berkacak pinggang. Gayanya dan suaranya sengaja dibuat-buat membuat Suryo makin panas. Saat Derrick dengan santai menjelaskan bahwa kini ia ingiin mengubah gayanya supaya bisa kekinian termasuk gaya bahasanya yang menurutnya akan membuatnya lebih berkelas di mata manusia.


"Ngeri ga lu, Rakhta yang ngajarin gue. Katanya supaya lebih gaul jangan gunakan bahasa baku, harus pake yang elu..elu dan gua gue....gimana? Ker..."


Suryo sudah tak tahan, ia tidak menunggu Derrick menyelesaikan kalimatnya. Dengan kekuatan penuh ia mengayunkan lagi dahan besar yang tadi dipatahkannya. Wulan juga tanpa menunggu lama-lama langsung dengan kemampuan telekinesisnya mengarahkan pecahan-pecahan pot ke arah Derrick.


Dengan tetap di posisi membelakangi Suryo dan Wulan, Derrick hanya mengayunkan tubuh bagian atasnya ke samping kiri menghindari dahan yang diayunkan Suryo. Untuk menghindari serangan Wulan, Derrick mengayunkan punggungnya ke belakang hingga kepalanya hampir menyentuh tanah, mulutnya menyeringai mengejek sementara matanya menatap Suryo lekat-lekat lalu tanpa memindahkan posisi kakinya, ia berdiri tegap kembali untuk kemudian menoleh ke belakang dan mengedipkan satu matanya dengan kegenitan yang sengaja dan dilebih-lebihkan.


Suryo merasa wajahnya panas, ia marah sekali. Bagaimana mungkin ia sama sekali tidak bisa melukai Derrick. Bahkan tergores pun tidak. Ia memandang Wulan yang balik menatapnya. Wulan mengarahkan dagunya ke arah Aldi dan keluarganya. Suryo mengangguk.

__ADS_1


Kali ini Wulan yang memulai serangan, ia mencabut tiang lampu taman yang lumayan besar. Keringat  mengucur deras dari dahinya tanda ia menggunakan segenap kekuatannya untuk serangan ini. Suryo tak mau ketinggalan diayunkannya sekali lagi dahan di tangannya, sambil menyerang ia berteriak ke Aldi supaya lari.


Aldi menarik tangan ibunya, diikuti ayahnya di belakangnya mereka bertiga berlari menuju gerbang utama. Dari sudut matanya Suryo dapat melihat, mereka sudah mencapai gerbang utama dengan cepat.


Bagus....


Paling tidak mereka selamat jadi konsentrasi Suryo bisa fokus pada Derrick saja tanpa harus terpecah dengan mengkhawatirkan Aldi dan keluarganya.


KABOOOOM........


Suara berdebam menghentikan serangan Suryo dan Wulan, serempak mereka berbalik,  dilihatnya Aldi dan ayah ibunya sudah sampai di gerbang utama, tangan Aldi sudah di gagang pintu gerbang itu. Tapi Om Santo jatuh terjengkang di tanah, seekor hewan yang mirip kelelawar tapi jauh lebih besar mungkin tiga kali besarnya kelelawar biasa hinggap di dada Om Santo. Makhluk itu berubah menjadi seoranga gadis yang cantik sekali, pelan-pelan ia berdiri.


Suryo tidak bisa mempercayai matanya, dikuceknya matanya berulang-ulang. Berdiri di depannya, idolanya. Salah satu anggota girl band paling ngetop yang berasal dari Korea Selatan.


Dan gadis itu tidak mengenakan apapun.


Telanjang bulat.


Berdiri di atas Om Santo tanpa terlihat risih sedikit pun.


Ia turun perlahan-lahan dari Om Santo lalu mencengkeram leher Om Santo dan mengangkat Om Santo hanya dengan satu tangan sampai kaki Om Santo bergelantungan setinggi tiga puluh senti dari tanah.


Aldi dan ibunya menjerit. Serempak mereka menerjang gadis itu. Namun tiba-tiba saja dengan sekali kibasan, mereka berdua langsung terhempas dan jatuh. Entah bagaimana tib-tiba saja gadis itu sudah memiliki ekor yang menyerupai ekor kalajengking tapi super besar.


Suryo melihat baju dari Tante Santo robek di bagian pahanya, dari robekan itu keluar asap yang bersuara mendesis. Tante Santo berteriak kesakitan sambil memegangi kakinya.


Om Santo yang melihat itu berteriak marah, ia mencoba menendang gadis yang memeganginya itu dengan sekuat tenaga. Tapi gadis itu tak bergeming dan hanya tersenyum mengejek saja.


"RAKHTA! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?"


"DIAM KAU, BANGSAT! Jadi kau sengaja ya mau pesta sendiri di sini? Kau ingin memiliki mereka sendiri? ENAK AJA!"


"Wat......de......BAGAIMANA COMPOUND? SUDAH BERES?"


"ENTAH....Kutinggalkan daemon bodoh itu sendiri mengurus mereka..."


"KAU GILA? MANA R3? Sudah berhasil ditangkap? Masa menangani R3 aja tak bisa!"


Suryo menangkap ada nada cemas dalam suara Derrick.


"KAU TAK TAHU SIAPA YANG DATANG BERSAMANYAAAAAAA!!!!!" Rakhta meraung," Kau sengaja ingin menyingkirkanku ya?"


Suryo melihat kesempatan untuk kabur saat dilihatnya Derrick dan Rakhta berdebat dengan sengit. Ia memberi kode kepada Wulan dengan mengangguk ke arah tembok sebelah barat. Wulan mengerti dan mulai berlari.


Tapi...


Dengan sekali lompatan, Derrick menghentikan mereka berdua dan memiting mereka berdua di tanah. Ia kuat sekali, Suryo sama sekali tidak bisa menggerakkan tangannya seberapa keras pun dia berusaha. Padahal Derrick hanya menahan kedua tangan Suryo dengan satu tangan saja. Tangannya yang lain menahan kedua tangan Wulan.


"LEPASKAN DIA! JANGAN SENTUH ATAU...."


"Atau apa? Hmmmm...? Apa yang bisa kau lakukan. Kau saja tidak bisa lepas dari cengkeramanku, hahahahah.... Mau melukaiku? MIMPI!"desis Derrick.


Suryo sadar, logat Derrick berubah tidak lagi menggunakan logat yang menurut Derrick kekinian itu lagi.


"Toloooong.....tolong lepaskan kami.....Apa salah kami?" Aldi memohon sambil terisak, ia memeluk ibunya yang semakin tersenggal-senggal napasnya.


"Salahmu adalah berteman dengan mereka, boy!" kata Rakhta dengan nada bengis.


Om Santo juga masih meronta-ronta tapi gerakannya makin lemah.


"Tolong lepaskan ayahku, lepaskan kami semua.....Aku akan melakukan apapun yang kau minta asalkan kau melepaskan kami semua....." Aldi memohon lagi kali ini matanya tertuju pada Wulan yang terus menjerit-jerit karena Derrick dengan sengaja menciuminya membuat gadis itu meronta-ronta sementara Suryo juga tak bisa berbuat banyak selain meronta-ronta juga mencoba melepaskan diri dari pitingan Derrick sambil melontarkan sumpah serapah dan berbagai ancaman kepada Derrick yang hanya tertawa-tawa saja sambil terus menciumi leher dan rambut Wulan.


"Apapun?"tiba-tiba Rakhta berbicara dengan lembut dan manis sekali.


Secara tiba-tiba jiga Derrick berhenti menciumi Wulan dan mendongak.


"Apapun, tapi berjanjilah kau akan melepaskan ayah, ibu dan teman-temanku..."


"JANGAN DI!" Suryo dan Wulan berteriak berbarengan.


"Jadi kau mau jika kuminta untuk menjadi bagianku? Menjadi daemonku? Dengan sukarela?"


"Kau janji akan melepaskan ayah ibuku? Juga teman-temanku?"


"Tentu!" jawab Rakhta cepat.


"Di....Jangan Di! Aldi!" Suryo berteriak sekuat tenaga. Ia berusaha sekali lagi untuk melepaskan diri dari Derrick namun sia-sia.


Aldi tampak ragu-ragu.


"Ehm tapi...."


"Haish....jangan lama-lama, Boy! Waktumu tidak banyak, lihat ibumu! Sebentar lagi racunku akan sampai ke jantungnya dan ia tak akan dapat diselamatkan lagi. Jadi MAU ATAU TIDAK?" bentak Rakhta.


"Ya....oke aku mau...."


Rakhta melepaskan Om Santo hingga ia jatuh begitu saja ke tanah dengan napas yang tersenggal-senggal dan lunglai. Lalu dengan cepat Rakhta berubah menjadi daemon yang besar sekali. Tingginya tiga meter lebih. Ekor kalajengkingnya menyabet ke kanan dan kiri dengan riangnya. Ia memiliki satu tanduk yang besar di dahinya di belakang tanduk yang besar itu berderet memanjang tanduk -tanduk di sepanjang tulang punggungnya. Tangannya juga membesar, jari-jarinya panjang ditambah dengan kuku-kuku yang panjang dan lancip. Dengan cepat diraihnya Aldi hingga pemuda itu berdiri dan tanpa ba bi bu langsung menggigit Aldi di lehernya.


"GYAAAAARGHHHHH......." teriakan yang menyayat hati keluar dari mulut Aldi. Ia kejang-kejang sementara Rakhta masih terus menggigitnya sampai Aldi diam tak bergerak lagi.

__ADS_1


Rakhta melepaskan gigitannya, menahan tubuh Aldi yang lunglai. Ia menggigit pergelangan tanggannya sendiri, lalu sesuatu yang mirip darah tapi warnanya abu-abu keunguan menetes dari pergelangannya itu, ia lalu meneteskannya ke bekas gigitannya di leher Aldi.


"Aldi...Aldi...Apa yang kau lakukan ke anakku!" Om Santo menubruk Rakhta dan menendanginya, dengan menguap Rakhta mengibaskan tangannya dan Om Santo pun langsung jatuh terkena kibasan sambil lalu itu.


Rakhta meletakkan Aldi ke tanah dengan hati-hati.


"Now, Boy....Let see apakah kau layak atau tidak menjadi daemon." sambil merentangkan kedua tangannya, daemon itu mendongak ke atas,"Oh Boy.....Aku dapat merasakan sari dari jiwamu di dalamku.....OH....YES!"


Berbarengan dengan lenguhan keras Rakhta, Aldi mulai kejang-kejang lagi, dari mulutnya keluar busa yang berbuih-buih bewarna kehijauan. Lalu ia membalikkan badannya ke posisi tengkurap, ditekuknya lututnya, tangannya menapak ke tanah. Punggungnya pelan-pelan terangkat kemudian punggung itu bergerak naik turun seperti gerakan orang yang mau muntah.


"Aldi.....'Suryo memandang sahabatnya dengan iba.


Tiba-tiba Aldi terdiam seolah mendengar suara Suryo, lau berdiri dengan cepat.


"Oh...oh...Boy...That's it...That's it! Oh...uh kau tampan sekali....duh selera Rakhta banget ini." Rakhta sudah kembali berubah menjadi gadis cantik bintang idola itu lagi.


"Tata!" Panggil Derrick, "Aku tahu seleramu, aku sengaja menyimpannya untukmu."


"Uuuuuuhhh.... Derrick...ah...kau bisa aja. Tapi ini tidak menghapus hutangmu yang salah perhitungan mengenai masalah di compound. Aku hampir mati tadi."


"Satu-satu dulu....kita selesaikan dulu yang disini, nanti pasti akan kubayar hutangku plus bunganya."


"Lapaaaar...." Suara Aldi sangat serak dan kasar tidak seperti suara Aldi sebelumnya.


Erhm...erhm...ehm.... Ia mencoba membersihkan tenggorokannya.


"Tenang, Boy. Nanti dengan latihan mungkin kau akan bisa mengembalikan suaramu seperti suara manusiamu yang dulu."kata Rakhta dengan penuh semangat sambil mengulurkan tangannya, "Sekarang berlutut di depanku.'


Aldi memandangi Rakhta, lau maju pelan pelan, meraih tangan Rakhta mencium tangan itu kemudian menekuk satu lututnya dan berlutut di depan Rakhta.


"Awww....manis dan bagus sekali."


"Lapaaarrr......"


"Ah... ya..ya...." Rakhta berbalik kepada Om dan Tante Santo."Aku tadi berjanji akan melepaskan kalian, karena itu pergilah.'


Om Santo yang sedang memeluk istrinya tampak bingung.


Rakhta tertawa keras.


Aldi memandang Suryo dan Wulan.


"Oh...no...no..., mereka off limit. Bukan untukmu, boy. Selain mereka, yang lain terserah mau kau apakan."


Aldi mendekati Om Santo yang sedang dengan susah payah berusaha menyeret istrinya menuju gerbang depan.


"Aldi...Aldi...sini, nak. Dia menepati janjinya untuk melepaskan kita."


Aldi berlari mendekatinya, mengibaskan tangannya ke ayahnya membuat Om Santo terlempar sejauh dua meter.


Ibunya menjerit.


Tapi Aldi tidak berhenti disitu, diangkatnya Tante Santo dengan kedua tangannya lalu menggigit pundak ibunya dengan keras, mencabik pundak ibu yang Suryo ingat dengan jelas sangat Aldi kagumi dan sayangi.


"Aldi....Aldi....Apa yang kau lakukan?" Ayahnya shock berat.


Aldi malah semakin kesetanan, ia tidak peduli, ibunya menangis dan menjerit keras kesakitan, semakin membabi buta ia mencabik-cabik tubuh wanita malang yang melahirkannya itu.


Om Santo hanya menangis, ia menangis tanpa suara, ia tak tahu harus bagaimana.


Suryo dan Wulan melihat itu semua. Wulan mulai terisak, Suryo ingat ia tak pernah melihat Wulan menangis di depan orang lain selain di depan keluarga. Di depan keluarga pun jarang sekali. Ia tak kuat lagi memandang pemandangan mengerikan di depannya. Dipejamkannya matanya, namun itu tak membantu sama sekali karena jeritan Tante Santo begitu menyayat hati, setiap jeritan menghujam hati Suryo.


Ia teringat bagaimana ibunya Aldi selalu menyambutnya saat ia bermain atau menginap di rumah Aldi.


Ia teringat bagaimana kelembutan Tante Santo, begitu halus dan lembut, sekalipun Suryo belum pernah melihat Tante Santo membentak Aldi. Aldipun sayang sekali pada ibunya. Meskipun ia anak tunggal, namun Aldi bukan anak manja yang kurang ajar pada orang tuanya. Aldi selalu menyanjung ibunya, menyanjung ayahnya, tidak segan ia menceritakan kebaikan ayah dan ibunya di depan teman-temannya. ia juga tidak malu dibilang anak mama karena sering menemani ibunya berbelanja di mall. Keluarga Aldi  membuat banyak teman mereka iri. Bagaimana tidak, sudah kaya raya, tampan, baik hati, terpandang dan harmonis pula. Sempurna sekali.


Siapa yang mengira mereka akan berakhir seperti ini.


Dan semua karena Aldi sahabat Suryo.


Jeritan itu berhenti. Suryo membuka matanya pelan-pelan. Aldi tampak menjilat-jilat tangannya, tubuhnya berlumuran darah segar bewarna merah. Dan disampingnya teronggok sisa-sisa dari Tante Santo. Wulan menjerit ngeri.


Suryo merasa mual.


"Lapaaar......."kata Aldi lagi.


"Teruskan, boy! It is all yours."


"TIDAK!!! CUKUP! ALDIIII! ALDI!!"


Teriakan Suryo yang keras tak didengar Aldi sama sekali. Aldi berlari ke arah Om Santo.


Om Santo  hanya diam dan menangis memandang anaknya yang berlari dengan buas ke arahnya.


"Aldi....Aldi." Isaknya," Bapak selalu sayang ke kamu, nak. Kamu selalu jadi kebanggaan Bap..."


Belum selesai Om Santo berkata, Aldi sudah menerjangnya, mengangkat tubuh ayahnya dan menggigit dan mencabik-cabiknya tanpa ampun.


Suryo melihat Om Santo hanya tersenyum lemah dan tangannya mengelus kepala Aldi, tapi Aldi justru menggigit tangan yang mengelusnya itu dan menariknya sampai tangan itu tercabut dari bahunya.

__ADS_1


Suryo dan Wulan menjerit bersamaan.


__ADS_2