Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Superhero


__ADS_3

Rara tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Ia melihat bagaimana batrix terhempas. Dan entah bagaimana ia bisa merasakan bahwa batrix sudah tak lagi bersama mereka. Ia tak dapat menjelaskan bagaimana ia bisa tahu.


Air matanya mengalir deras. Di sampingnya Mami juga terisak dan memeluknya sambil tak berhenti memanjatkan doa. Tanpa sadar Rara mengikuti apa yang dikatakan Maminya


"Ya Tuhan jagai Yeye Nainai berikan perlindunganMu. Jauhkanlah dari yang jahat. Tutup bungkus mereka dengan tubuh dan darahMu."


Papi masih belum kembali ke ruang keluarga. Rara dapat mendengarnya masih bercakap-cakap. Namun Rara tak dapat mendengarnya dengan jelas. Pandangan terpaku ke layar tv. Kedua monster itu semakin membabi buta. Yeye, Nainai dan Mr. Minus semakin kewalahan. sheba dan milly masih bergerak dengan cepat meliak liuk di antara mereka. Berusaha menggigit kedua monster itu tapi monster-monster itu berhasil menghindari serangan mereka.


Bahkan monster yang ketiga berhasil menendang milly dengan keras, anjing itu terlempar sejauh tiga meter. Namun milly berhasil mendarat di atas keempat kakinya. Dan langsung balik melakukan serangan lagi.


Mr.Minus tampak semakin melambat gerakannya. Dan ia terlambat menghindar. Monster yang mempunyai tanduk di bahunya, menyabetnya. Rara bisa melihat darah yang muncrat dari badan Mr. Minus.


Ia tak tahan lagi, dan tangisnya makin menjadi-jadi. Ia takut sekali. Tubuhnya gemetaran. Mami mempererat pelukannya.


"Semuanya akan baik-baik saja, ya. Tenang....tenanglah." Ia mendengar Mami membisikkan itu ke telinganya di antara isak tangis Mami sendiri.


Ia mendengar Wulan menjerit. Dengan cepat dibukanya tangan yang menutupi matanya. Di layar tv ia melihat monster yang menyabet Mr. Minus mencengkeram Mr. Minus di lehernya, mengangkatnya dari tanah, dan membanting Mr. Minus dengan keras ke tanah dengan kepalanya terlebih dahulu.


Yeye terjatuh di tanah. Nainai memeluknya, mereka berdua tampak terpaku. Tenaga mereka sudah habis.


Monster itu menyeringai kejam. Dengan perlahan didekatinya Yeye dan Nainai. Ia tahu ia sudah menang.


"Menyerahlah hei...old man! oh and old woman!"


Rara mendengar suara monster itu berkata. Di sampingnya, Mami berdiri dan langsung berlari keluar. Dari kamar Nainai, Papi juga berlari keluar. Rara tak berpikir panjang. Bersama Suryo dan Wulan, mereka bertiga menyusul keluar.


Keadaan di luar jauh lebih mengerikan daripada apa yang mereka lihat dari cctv. Rara melihar Mr. Minus tergeletak tak bergerak. Halaman rumah mereka berantakan. Pot-pot bunga pecah berserakan.


Ia melihat Yeye dan Nainai. Nainai memeluk kepala Yeye. Di sudut bibir Nainai ada darah yang mengalir. Ia pun mulai berlari menuju Nainai...


"MUNDUR!" teriak Yeye. Dan dengan perlahan-lahan dengan Nainai yang membantu memeganginya, Yeye berdiri. sheba dan milly berjalan mendekati mereka, mengendus Yeye pelan lalu, satu per satu mengambil posisi, milly di samping Yeye, sheba di samping Nainai. Ekor mereka terangkat tegak. Bulu di tengkuk mereka berdiri. Dan mereka meluarkan geraman. Tatapan mereka fokus pada kedua monster itu.


"Oh my....not bad for old people." Monster jelmaan Allen berbicara. Suaranya serak dan dalam. Ia menyeringai dan tanpa peringatan langsung melompat menerjang. Kedua pasang tangannya menyapu ke kiri dan kanan. Dengan sekali kibas, sheba dan milly dihempaskannya. Dan tangannya langsung menyergap Nainai.


Monster itu tampak puas. Yeye terpaku, dan sempoyongan lalu jatuh terduduk di tanah. Tanpa menunggu perintah, Papi Mami dan anak-anak langsung berlari, Papi berlutut di sisi Yeye. Sementara Suryo mengambil posisi di depan Yeye. Rara tak sadar, dari tadi ia masih memeluk kucing hitam yang mereka temukan sebelumnya.


"Ahh... disitu kau rupanya." Monster ketiga itu menunjuk Rara.


"Sudah mari kita selesaikan. Ini sudah lebih lama dari yang kuperkirakan." Lalu ekor monster itu terangkat tinggi dan menghunjam ke arah Nainai dengan kecepatan tinggi.


Dari tempat Rara berlutut, di belakang Yeye. Ia hanya bisa melihat Suryo berkelebat. Entah bagaimana matanya tidak dapat mengikuti kecepatan gerakan Suryo. Ia hanya melihat, bayangan Suryo yang melesat kemudian melompat menerjang ekor monster itu.


Tidak menyangka adanya serangan dari Suryo, tanpa sengaja genggaman monster itu ke Nainai lepas. Dan Nainai pun jatuh ke tanah. Begitu melihat Nainai terjatuh ke tanah. Yeye langsung menggerakan tangannya ke arah mobil keluarga mereka. Dengan sekali sentakan, mobil itu meluncur ke arah monster tadi menghantamnya sampai ia terhempas ke dinding pagar halaman.


Monster itu mendorong mobil dengan tangan-tangannya. Ia lalu melangkah keluar dari balik mobil dengan santai. Tak terluka sedikitpun.


Pengalihan perhatian itu cukup buat Suryo untuk membantu Nainai berdiri dan membawanya bergabung dengan anggota keluarganya yang lain.


Monster yang ketiga tampak heran, namun ia juga tampak tertarik. Pandangan matanya mengikuti Suryo.


"Memang aku tak pernah salah. Kau memang berbakat." Monster kedua terkekeh.


"Tapi cukup sampai disini. Dikarenakan kau tidak bergabung dengan kami. Kalian semua harus mati. Dan sari kekuatan kalian akan menjadi milikku. MUAHAHAHAHHA."


Flop.....flop...flop...


Dan tiba-tiba....out of nowhere, tiga sosok muncul.


ketiga sosok itu menempatkan diri mereka di antara keluarga Wijaya dan monster-monster itu. Satu di antara mereka, seorang laki-laki tinggi dan besar, badannya berotot. Ia berbalik menghadap Yeye dan menyapa Yeye.


"Hallo Mr. Eraser. Mrs Long life long time not seing you."


Yeye tersenyum dan mengibaskan tangannya.


"Go ahead, hajar mereka."


Pria itu membalas senyuman Yeye. Matanya tampak sangat ramah. Lalu ia berbalik, dari kedua tangannya, Rara melihat ada percikan percikan yang keluar. Sementara rekannya yang lain, yang satu seorang wanita dan yang satu lagi seorang pria yang lebih muda. Yang wanita mencabut sebilah pedang dari punggungnya. Sementara pria yang lebih muda hanya memasang kuda-kuda bersiap.


Dengan serentak tanpa komando mereka mulai menyerang kedua monster itu.


****


Derrick memandang mereka yang baru bergabung dengan tertarik.


Hmm...menarik! Ia sudah mulai bosan melawan orang-orang tua yang sudah kepayahan itu. Diliriknya Allen...


Cih ....memalukan sekali. Kenapa Allen tampak ragu-ragu. Oke baiklah, ia yang akan melayani mereka.


Pertama-tama ia harus membereskan yang wanita dulu, yang tampaknya paling lemah. Diterjangnya wanita itu, saat tangannya hampir mengenainya, tiba-tiba saja wanita itu menghilang dan sudah berada di samping kanannya. Wanita itu mengayunkan pedangnya. Untung Derrick gesit, dengan cepat ia melompat ke kiri. Ayunan pedang wanita itu kuat, Derrick dapat merasakan angin hasil kibasan pedangnya mengenai pipi kanannya. Dan ia sangat terkejut ketika mendapati pipi kanannya terluka hanya oleh angin hasil kibasan pedang itu.


Dilihatnya wanita itu memandangnya dengan tajam. Derrick menyeringai lagi. Hanya dalam hitungan detik luka di pipi kanannya lenyap. Tiba-tiba dari arah kanannya sebuah tangan mengayun. Tanpa pikir panjang Derrick mengangkat tangan kanannya untuk menangkis. Dan ia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Tangan yang menghantamnya sekeras baja. Tulang-tulang di tangan kanannya remuk ketika ia menggunakannya untuk menangkis.


Derrick meringis kesakitan. Namun dikibaskannya tangannya. Tak dihiraukannya rasa sakit itu. Hanya butuh beberapa detik untuk tulangnya menyatu kembali namun itu cukup untuk membuatnya kerepotan melayani serangan dari lawan-lawannya.


Ia menoleh ke arah Allen untuk melihat apa yang Allen lakukan hingga tidak membantunya.


BANGSAAAT!


Dilihatnya Allen mengambil langkah seribu memcoba lari.


DASAR PENGECUT!!


Pria yang paling tinggi bergerak cepat. Ia melompat menghadang Allen. Dari kedua tangannya kilatan-kilatan tenaga listrik memancar keluar. Ia mengarahkannya ke Allen, membuat Allen kejang-kejang. Dengan cepat pria tua yang sudah Derrick kalahkan melontarkan sebilah pasak. Pasak itu meluncur dengan cepat diarahkan dengan cermat dan tepat melesak menghunjam dada kiri Allen tepat dimana jantungnya berada.


Allen pun berkobar dan meledak untuk kemudian hilang seperti ditelan udara.


Sukurin! Siapa suruh lari. Dengan sengit Derrick memandang lawannya satu persatu. Ia tidak takut. Ia sudah melalui banyak hal yang jauh lebih gawat daripada apa yang dihadapinya saat ini. Maju aja mereka semua. Ia, Derrick akan menghadapi mereka.


Flop..


Di dekat gerbang yang sudah hancur, sesosok wanita muncul. Wanita itu tinggi langsing. Memakai baju hitam dan celana putih. Rambutnya hitam lurus dan panjangnya mencapai pinggulnya. Matanya tertutup kaca mata hitam. Wajah orientalnya mempunyai kulit sehalus porselen yang lalat aja bakalan kepleset kalo mendarat di sana.


Aneh sekali.....

__ADS_1


Derrick belum pernah melihat manusia yang memakai kaca mata hitam di malam hari. Ia bergerak mundur perlahan berusaha mempelajari situasi didepannya. Wanita yang datang terakhir itu menelengkan kepala. Namun kepala dan matanya terarah ke gerbang. Wanita itu ternyata tak dapat melihat.


Sasaran yang bagus! Dengan yakin, Derrick melompat dan menerjang wanita itu. Ia mengerahkan kekuatannya sehingga kecepatannya pun meningkat jauh lebih cepat. Namun apa yang dihantamnya hanyalah udara kosong. Wanita itu sudah tidak ada disana. Dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah terangkat dan ia pun dilontarkan. Namun Derrick siap dengan bersalto ia mendarat di atas kedua kakinya. Wanita itu menelengkan kepalanya lagi. Terlihat heran.


"Mundur...." sebuah bisikan muncul di kepalanya.


Derrick melongok ke kiri dan ke kanan. Tidak ada lagi yang muncul.


"Mundur!" suara itu serak dan kali ini nadanya lebih tinggi.


Enak saja mundur-mundur. Ia, Derrick tidak pernah mundur dari pertarungan. Derrick bersiap-siap lagi untuk melakukan serangan berikutnya.


"MUNDUR! ATAU AKU SENDIRI YANG AKAN MEMBUNUHMU."


Rasa sakit luar biasa memenuhi Derrick, lehernya seperti dicekik. Ia pun sempoyongan dan jatuh terduduk.


Cuih! Ia membuang ludah kemudian dengan sengit dipandangnya musuhnya satu per satu. Suatu saat ia akan kembali dan mengalahkan mereka semua.


Dengan cepat ia berbalik bertransformasi dan terbang meninggalkan mereka.


****


Suryo cuma bisa melongo. Apa yang baru saja disaksikannya membuatnya terpana. Tanpa sadar dari tadi mulutnya ternganga lebar. Cepat-cepat ia mengatupkan mulutnya jangan sampai nyamuk atau serangga lainnya mengira bisa masuk gratis ke dalam mulutnya.


Monster terakhir itu, berbalik arah berubah menjadi kelelawar atau makhluk apapun itu yang menyerupai seekor kelelawar namun jauh lebih besar. Dan langsung terbang pergi. Perubahannya sangat cepat, begitu pula dengan terbangnya.


Wuuuzzz..wuzz meluncur cepat untuk kemudian hilang dari pandangan mata Suryo.


Tidak hanya itu, semua yang dilihatnya malam ini benar-benar tidak pernah ia sangka. Kalau kemarin ada yang memberitahunya bahwa neneknya akan bertempur melawan monster, ia akan mengira itu adalah pertempuran antaran Nainai dan monster di dalam game.


Semua yang dilihatnya hanya pernah ia saksikan di film-film saja. Ia tak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini akan terjadi terhadap keluarganya. Semuanya terasa tak masuk akal.


Dari sudut matanya, ia melihat Rara bergerak pelan. Ia menyerahkan kucing dalam pelukannya kepada Wulan. Lalu bergerak mendekati tubuh Mr. Minus. Rara membalikkan tubuh Mr. Minus dengan susah payah. Dan Suryo bisa merasakan matanya basah.


Seumur hidupnya, Mr. Minus selalu ada. Ia tak tahu kenapa Mr. Minus tak berkeluarga. Ia hanya tahu Mr. Minus tinggal bersama keluarga mereka untuk membantu keluarganya. Hanya sebagai pekerja. Tinggalnya juga di rumah belakang, tempat para pekerja biasa beristirahat. Baru sekarang ia sadar, selama ini hanya Mr.Minus yang tinggal dan tidur si rumah mereka. Tidak ada pembantu lain atau tukang kebun yang ikut sampai tidur di rumah mereka. Mereka selalu pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing di malam hari.


Nainai berdiri, dan berjalan mendekati Rara. Rara mendongak matanya basah. Nainai berlutut di sampingnya dan tangan kanannya memeluk Rara. Tangan kirinya ia letakkan ke dada Mr. Minus.


Setelah beberapa saat, Suryo melihat Nainai tampak berkonsentrasi, tidak ada yang terjadi. Nainai menghela napas panjang dan ikut menangis.


"Oh Min......" Yeye berbisik dan suaranya pun tercekat.


Papi dan Mami juga terdiam. Sesekali isakan keluar dari Mami. Hanya Wulan yang tampak tegar. Kucing dalam gendongannya mengeong pelan. Kucing itu terlihat melemah.


"Ra...Kucingnya..."


Rara bergegas mendekati Wulan. Diambilnya kucing itu dari Wulan, dan ditimang-timangnya sambil menangis.


"Ra...bawa kucing itu ke sini, coba Nainai lihat."


Rara menurut dan membawa kucing itu ke Nainai. Dengan pelan dan hati-hati Nainai mengambil kucing dari Rara, membuka perbannya pelan pelan. Lalu meletakkannya di tanah. Kucing itu mengeong lagi. Suaranya jauh lebih lemah. Suryo bisa melihat luka di samping tubuhnya kembali mengeluarkan darah. Dengan lembut Nainai meletakkan tangan kirinya ke atas luka itu, dahi Nainai berkerut dan mulai berkeringat.


Luka di tubuh kucing itu perlahan-lahan mengecil. Darahnya berhenti mengalir keluar. Luka itupun hilang tanpa bekas. Dengan cepat kucing itu bangkit berdiri. Rara menangkap kucing yang bersiap siap lari itu. Dan bergegas berlari menuju batrix.


Nainai berdiri pelan, terhuyung. Suryo secepat kilat menangkap neneknya. Tapi Nainai menepiskannya.


"Tak apa, Nainai rapopo." Sambil tersenyum lembut lalu berjalan pelan ke arah batrix. Suryo tetap mengikuti di sampingnya. Saat Nainai hendak berlutut untuk memeriksa batrix, dengan sigap Suryo memegang tangan Nainai untuk membantu.


Nainai memeriksa batrix dan menghela napas.


"Maaf....batrix sudah pergi. Tak ada yang bisa Nainai lakukan."


Suryo memandang Rara. Rara tampak tak terkejut dengan jawaban Nainai. Namun tak ayal air mata mengalir lagi membasahi pipinya. Suryo tak tega melihatnya.


Kucing di gendongan Rara menggeliat, berusaha melepaskan diri dari gendongan Rara. Saat itu, seolah-olah ada yang menghantam kesadaran Suryo.


Nainainya bisa mengobati luka hanya dengan menyentuhkan tangannya. Mulutnya kembali ternganga. Dengan panik ditunjuk-tunjuknya kucing itu sambil menepuk-nepuk punggung Nainai. Saking terkejutnya Suryo tak bisa berkata-kata untuk meminta penjelasan.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" Wulanlah yang pertama-tama menyuarakan pertanyaan yang memenuhi kepala ketiga remaja itu.


"Penjelasannya akan butuh waktu lama...."


"Kami siap koq mendengarkan!" potong Suryo.


"No time." tiba tiba pria tinggi besar itu menyela.


"Hugh benar, tak ada waktu."kata Yeye.


"Kita harus membawa Suryo dan Wulan ke tempat aman dimana daemon tak dapat menemukan mereka."


"Eh...maksudnya? Apa maksud Yeye?"


"Pa....kita berutang penjelasan pada mereka." Mami berkata pelan.


"Jika hari sudah pagi dan benar benar aman nanti akan kujelaskan semua." Yeye berkata dengan tegas.


"Untuk saat ini, Yesha bisakah kau bawa cucu-cucuku, Suryo dan Wulan?"


Wanita yang datang terakhir menelengkan kepalanya, kemudian tersenyum. Ia berjalan pelan mendekati mereka. Tongkatnya ia ketuk-ketukan ke tanah untuk mengarahkannya dan menghindari pecahan-pecahan pot yang berserakan.


"Kemari Suryo, Wulan. Berpegangan padaku."


Suryo dan Wulan berpandang-pandangan. Mereka benar-benar bingung.


Mami bergerak, ditariknya Wulan dan dibawanya mendekati wanita itu.


"Aunt Yesha.."


"Hai Emily." wanita itu menjawab dengan senyum ceria.


"Suryo jangan buang waktu! Buruan!"


Eh..dengan bingung Suryo berdiri. Pandangannya bertemu dengan Rara yang diantara isak tangisnya terlihat sama bingungnya dengan dirinya.

__ADS_1


Yesha menelengkan kepalanya lagi. Tangan kirinya terangkat dan menunjuk ke arah Rara.


"Dia juga harus ikut."


"Rara? Tidak....tidak. Jangan Rara juga." Mami tercekat dan suaranya terdengar memohon.


"Oh ya....Rara dan anjing-anjingnya." kata Yesha dengan ceria."Juga orang yang digendongnya."


Suryo, Wulan dan Rara melongo dan saling melemparkan pandangan.


Wanita bernama Yesha ini sudah gila tampaknya.


****


Wulan masih merasa mual. Diliriknya Suryo yang tampak pucat pasi wajahnya. Sementara di sampingnya, Rara masih muntah-muntah. Kucing hitam itu juga masih dalam gendongannya. Kucing itu tidak bersuara sama sekali. Tubuhnya kaku dan tegang.


sheba dan milly terkapar di lantai. Mereka berdua tak berhenti-berhenti masih cegukan.


Apa yang terjadi begitu cepat. Setelah Aunt Yesha berkata mereka yang sekarang ini ada bersamanya harus ikut dengannya. Nainai langsung menarik Rara dan membawanya kepada Aunt Yesha. Diletakkannya satu tangan Rara ke pundak Aunt Yesha. sheba dan milly otomatis mengekor Rara. Dan mereka mengapit Rara.


"Suruh mereka menempel padamu Rara. Wulan, Suryo letakkan tanganmu ke pundak Yesha. Tenanglah, setelah semua yang di sini kami urus. Kami akan menyusul kalian dan kalian bisa bertanya apapun yang kalian mau."


"Heel.." bisik Rara, sheba dan milly langsung menempelkan kepala mereka ke sisi kiri dan kanan paha Rara.


Wulan ragu-ragu untuk meletakkan tangannya ke pundak Yesha. Suryo juga tampak enggan tapi dilakukannya juga. Dengan tidak yakin Wulan meletakan tangannya.


"Nah...begitu. Aku pergi dulu yah. Cyaa at home."


Dan tiba-tiba segala sesuatu di sekeliling Wulan berputar dengan cepat. Tangan yang ia letakkan di pundak Yesha seperti dilem.


Melekat kuat dan tak mampu Wulan tarik. Semuanya berputar-putar, ia melihat bangunan - bangunan berkelebatan. Lalu ia seperti melihat hutan berganti dengan laut. Kakinya terasa terangkat dan ia tidak menginjak tanah. Semuanya berputar-putar cepat. Dan secara tiba-tiba berhenti mendadak.


Kakinya tiba-tiba terasa menjejak lantai yang keras.


Ia, Suryo dan Rara terhuyung-huyung. Tangan mereka terlepas dari pundak Yesha. sheba dan milly mendengking dan kemudian terus cegukan. Suryo terhuyung-huyung untuk kemudian jatuh terduduk di lantai. Wulan berpegangan pada dinding ruangan untuk mencegah dirinya supaya tak terjatuh. Sementara Rara hanya berdiri dan tubuhnya terayun ke depan dan belakang, lalu membungkuk dan tanpa bisa dicegah muntah-muntah ke lantai.


"Ahahaha.....pertama kali bersama Air Yesha sih. Nanti juga kalian akan terbiasa."


Aunt Yesha berjalan ke arah Rara. Meskipun buta, namun dengan luwes ia berjalan melewati sheba dan milly yang sekarang terkapar kelelahan di lantai. Ia juga menghindari ceceran muntahan Rara. Ditepuk-tepuknya punggung Rara dengan lembut. Lalu ia mengarahkan tangannya ke kursi kayu di ujung ruangan. Kursi itu meluncur dengan cepat ke tangannya.


Diletakkannya kursi itu di belakang Rara dan dibimbingnya Rara untuk duduk disana.


Wulan memandang sekelilingnya. Ia baru sadar bahwa ia berada di dalam sebuah rumah. Rumah itu mungil sekali. Di ujung yang satu ada dapur yang lumayan lengkap dengan kompor, sebuah oven dan kulkas. Bahkan ada mesin kopi juga. Di ujung yang lain ada area duduk yang juga mungil hanya cukup untuk dua orang. Di belakang area duduk ada pintu yang terbuka, Wulan melihat ada kamar mandi di belakangnya.



Meskipun kecil mungil, rumah itu terasa lapang. Dan Wulan bisa merasakan kehangatan di dalamnya.


"Uh... ma..maaf! Biar Rara bersihkan muntahan Rara." wajah Rara masih pucat namun di pipinya ada semburat merah. Seumur-umur, baru kali ini Wulan melihat Rara muntah. Mereka bertiga termasuk tahan banting, naik wahana apapun di taman bermain tak pernah sedikitpun mereka merasa mual. Mabuk laut juga tak pernah.


Aunt Yesha terkekeh. Ia berjalan menuju ke bawah tangga dan mengambil sebuah alat.


Sebuah penyedot debu.


Ia mengambil sebuah kantung dan memasangnya di bagian kanan ujung bawah penyedot debu itu. Lalu ia menghidupkan alat itu. Suaranya sangat samar. Mengarahkannya ke atas muntahan Rara. Dengan cepat alat itu menyedot semua muntahan Rara di lantai. Setelah sudah tersedot semua, Aunt Yesha memencet tombol yang lain. Ujung yang tadi menyedot sekarang ganti menyemprotkan cairan pembersih. Setelah itu, Aunt Yesha memencet tombol untuk menyedot kembali, sambil mengelap, alat itu juga menyedot bekas-bekas cairan pembersih tadi. Setelah selesai, Aunt Yesha mencopot kantung plastik yang tadi ia pasang.


"Aaah... betapa menakjubkannya kemajuan teknologi sekarang. Waktu aku masi muda, hanya bisa bermimpi untuk hanya sekedar melihat alat seperti ini. Dua puluh tahun lalu, mana ada penyedot debu yang komplit bisa seperti ini. Dan tanpa harus memikirkan tenaga baterenya pula. Semua thanks to chakra ya?" Dengan riang Aunt Yesha berceloteh. Ia membuang kantung plastik itu di tempat sampah bawah kabinet dapurnya lalu mengembalikan alat penyedot debu itu ke lemari bawah tangga.


"Kalian pasti lelah. Yang cewe-cewe bisa beristirahat di atas, sedangkan yang cowo istirahat di bawah. Sofa ini bisa diubah menjadi tempat tidur. Kalian istirahatlah di sini. Jangan kuatir, ini rumahku. Semua makanan dan minuman bisa kalian ambil. Aku akan kembali untuk membantu suamiku. Kalian aman disini."


Flop!


Sebelum Wulan berkata apapun Aunt Yesha sudah menghilang.


"SAKJANE IKI PIYE TO?" (Sebenarnya ini gimana sih)


Suryo yang sudah merasa lebih baik langsung menyemburkan apa yang ada dalam pikirannya.


Namun Wulan sendiri juga sama bingungnya. Ia tak tahu harus berkata apa. Diliriknya jam tangannya....


Pukul dua pagi.


"Ra mau tidur?"


"Cape sih. Tapi kukira Rara ga akan bisa tidur. Terlalu banyak yang ingin Rara tanyain."


"Sama...." katanya lirih.


Mereka bertiga pun terdiam.


"Mari makan dan minum. Tuanku berkata kalian harus makan dan minum. Di kulkas ada beberapa makanan yang bisa kalian panaskan."


Wulan terlonjak kaget. Suryo langsung berdiri dari duduknya. Rara , sheba dan milly juga berdiri. Kursi yang didudukinya sampai terjatuh. Kucing hitam di gendongannya mengeong pelan.


"Perkenalkan, namaku HAIFU dari Home Artificial Intelligence For You. Tuanku sudah berpesan jika dalam lima belas menit kalian tidak tidur, kalian diharapkan untuk makan. Ada pizza beku, kimchi, sushi dan buah-buahan yang bisa kalian makan."


Wulan melongo. Ia pernah mendengar mengenai artificial intelligence yang dipakai dalam rumah. Ia juga pernah menonton beberapa film soal itu. Namun ia tak menyangka rumah sekecil ini akan dilengkapi dengan AI.


Pintu kulkas membuka dan menutup berulang kali. Dan suara HAIFU si AI terus menerus seperti suara radio rusak mengatakan bahwa mereka harus makan .


Dengan enggan Wulan berdiri, bersama dengan Rara mereka ke dapur. Kulkas itu penuh dan berantakan membuat jiwa OCD Wulan bergejolak. Ada jus bewarna merah dan oranye. Tampaknya jus semangka dan jeruk. Ada kotak-kotak pizza, sushi yang masih terbungkus, sandwich, kimchi bahkan ada puding dan kue-kue.


Diambilnya sekotak pizza, dan tiba-tiba pintu oven otomatis terbuka dan suara HAIFU kembali terdengar menginstruksikan supaya pizzanya dipanaskan di oven. Suhu dan waktu sudah disetel secara otomatis olehnya.


Entah kenapa lama kelamaan Wulan merasa jengkel mendengar suara si AI yang sok ini. Memang dikiranya mereka ga bisa apa memanaskan sekedar pizza beku.


"Silakan pergunakan piring di yang ada di rak samping sebelah kanan mesin cuci. Oh untuk pendamping berkaki empat sayangnya HAIFU tidak mempunyai persediaan makanan khusus untuk mereka. Tapi telur bisa dimasak untuk mereka. Dari pandangan mereka dan tingkah mereka dalam mencium-cium bau masakan. Bisa dipastikan mereka lapar."


Suara AI itu kembali berkumandang dengan ceria. Wulan melirik ke arah speaker dengan sengit. Rara terkekeh sedikit. Ia kembali ke kulkas mengambil tiga butir telur.


"Silakan.....silakan mengambil lebih. Ada buah pepaya yang juga akan bagus buat mereka. HAIFU sudah menelusuri semua portal di internet. Dan coklat, apokat dan buah anggur yang ada di kulkas tidak boleh diberikan untuk mereka......"


Dan HAIFU terus nyerocos mengenai apa yang boleh dan tidak boleh diberikan pada anjing dan kucing. Wulan melihat Rara merebus telur-telur itu. Mereka tidak pernah memberikan telur mentah pada anjing mereka. Saat merebus telur, dilihatnya Rara memandangi telur-telur itu, dan mulai terisak. Wulan memeluk Rara. Dan berdua mereka menangis bersama.

__ADS_1


Menangisi Mr. Minus, menangisi batrix.


__ADS_2