
Rara tidak habis pikir, meskipun Aunt Yesha, Uncle Hugh, Yeye dan Nainai berhasil membunuh banyak daemon, namun sepertinya jumlah daemon-daemon itu tidak berkurang, justru malah bertambah. Rupanya lebih banyak lagi daemon yang datang, entah bagaimana daemon-daemon itu terus berdatangan. Dan yang lebih membagongkan entah bagaimana daemon yang tadi terputus ekornya sampai saat ini masih bisa bertahan. Diperhatikan lagi, Rara melihat daemon itu rupanya hanya melakukan gerakan untuk menghindar saja, tidak ada serangan sama sekali. Rupanya ia hanya ingin memberikan kesan bahwa ia ikut membantu tapi sebenarnya hanya mengulur waktu saja untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Namun hal itu cukup untuk menyibukan mereka berempat sehingga Redroth bisa dengan mudah menyelinap dan menghadang Rara dan saudara-saudaranya.
Mobil pesawat yang dikendalikan Papi juga terlihat sangat sibuk bermanuver dan melakukan serangan ke arah daemon-daemon yang semakin banyak. Banyak di antara mereka yang bisa terbang juga dan menyerang Papi membuat Papi juga tidak dapat mendekat lagi ke arah mereka. Mereka tinggal sendiri tidak ada lagi yang dapat membantu mereka. Tidak Papi. Yeye, Nainai ataupun Uncle Hugh dan Aunt Yesha.
Rara menundukkan kepalanya dan berdoa , "Ya Tuhan segala yang terjadi adalah kehendakmu, kuatkan kami ya Tuhan. Agar kami dapat membantu bukan menjadi beban."
"Menarik, nak. Dalam saat seperti ini kau masih bisa berdoa ya? Woooow!!!!! Jangan kuatir jika menjadi bagianku kau tidak perlu takut lagi. Hanya ada kekuasaan, segala apa yang kau ingini bisa menjadi milikmu. Aku membutuhkan daemon muda sepertimu.... Biasanya daemon yang berasal dari kaum beriman sepertimu akan jadi daemon yang sangat kuat dan setia pulak........"
"Tak akan pernah!" Desis Rara. Dan dengan perlahan ia bangkit berdiri, sheba dan milly menempel di kedua kaki kiri dan kanannya, keduanya merasakan bahawa mereka harus bersiap untuk pertempuran hidup dan mati mereka. Mulut mereka mengatup, geraman-geraman rendah mengancam dapat terdengar, tubuh bagian depan mereka menunduk bersiap untuk menerjang.
Rara merasakan tangan-tangan yang menyentuh bahunya dengan lembut, Suryo dan Wulan, keduanya berdiri satu undakan di atasnya, mereka berdua menyentuh bahu kiri kanannya dan mereka saling beradu pandang. Wulan dan Suryo tersenyum padanya. Dan entah apakah ahanya perasaan Rara saja atau memang demikian adanya tapi Rara bisa merasakan pandangan mata Wulan dan Suryo yang penuh kebanggaan. Rara jadi malu karena ia merasa tidak ada yang perlu dibanggakan karena semua orang pasti akan berbuat yang sama dengan dirinya.
Arthur meletakkan Mami pelan-pelan, di lantai batu, menyandarkan punggungnya ke dinding gapura. Lalu ia ikut menyusul yang lain, berdiri bersama-sama. Ia mengulurkan tangannya yang disambut Wulan dengan hangat. Dengan bergandengan tangan, mereka berempat bersiap, apapun yang terjadi, mereka tidak akana menyerah tanpa perlawanan, seberapapun kecil perlawanan yang bisa mereka berikan.
Redrorth tertawa,"Hmmm.....baiklah jika kalian tidak mau menjadi bagiadari pasukan daemonku. Tidak masalah, toh kekuatan kalian akan menjadi milikku. Jika tidak mau menjadi daemonnku mungkin kalian bisa menjadi tambahan untuk pasukan zombieku. Dengan memiliki kekuatan kalian berempat, Dia Yang Agung pun akan bertekuk lutut di hadapanku. HUAHAHAHAHAHAHA...........akhirnya aku akan menjadi daemon yang terkuat di muka bumi....!!!!!"
Rara tidak mengerti apa maksud Redroth, tapi ia tidak menunggu lebih lama, dengan segenap yang dia bisa, dilontarkannya batu-batu ke arah Redroth, Wulan, Suryo dan Arthur melakukan hal yang sama. Namun Redroth hanya menguap dan dengan sekali kibasan tangannya batu-batu yang meluncur ke arahnya ia tepiskan dengan mudah.
Sheba dan milly menyalak dengan keras, daemon itu memandang mereka dengan pandangan penuh kebencian dan jijik.
"Dan jika aku berkuasa nanti, seluruh dunia akan menjadi milikku, dan semua hewan yang di dalamnya akan ku musnahkan,kami daemon benci hewan, kalian akan menjadi hewan pertama yang akan kubunuh."
Rara menahan sheba dan millie, dipandangnya Suryo yang juga balik memandangnya, mereka tidak tahu apa lagi yang harus mereka lakukan.
Flop......flop......flop...
"Khaleed! Hazel!" teriak Arthur, nada suaranya menunjukkan rasa lega dan kegembiraan.
Rara melihat Hazel muncul di depan mereka bersama dua orang yang tidak Rara kenal. eh tapi orang yang satu adalah orang yang sama yang juga dulu membantu mereka saat serangan pertama di rumah mereka yang lama. Yang satu lagi seorang pria berkulit coklat, ia membawa sebuah bumerang di tangannya. Pria itu tersenyum pada Arthur dan mengacungkan jempolnya.
"Mundur, anak-anak."kata Khaleed dengan lembut,"Hazel bawa mereka pergi dari sini."
Hazel menganggukkan kepalanya. Dan mulai berjalan mendekat.
"KAU KIRA KAU SIAPAAAAA? MAU MENGAMBIL BURUANKU!" dengan berteriak lantang Redroth melompat berubah menjadi daemon besar lagi dan menyemburkan api yang sangat panas dan besar, membentuk lingkaran yang memagari anak-anak itu, memisahkan mereka dari Hazel dan kawan-kawannya.
Api itu berkobar begitu besar, mengurung anak-anak dan Mami di puncak undakan membuat mereka merapat berdiri di tenga-tengah gapura. Rara dapat merasakan panasnya api itu, meskipun api itu belum menyentuh mereka. Diantara kobaran api ia melihat bagaimana Redroth dengan mudahnya menangkis serangan Khaleed, cahaya dari bumerangnya banyak yang mengenai Redroth namun hanya menimbulkan bekas hangus bewarna hitam.
__ADS_1
"HAA! Aku adalah daemon api, berkat ibunya, aku adalah daemon yang tak bisa kau bakar, HAHAHAH... rupanya ini hari keberuntunganku, banyak kekuatan yang bisa kuserap hari ini."
Hazel menyerang dari kiri, namun Redroth lebih cepat, mengherankan sekali padahal ia sudah tua tapi mampu melebihi kecepatan Hazel. Dalam satu gerakan, ia melibaskan Hazel membuat Hazel terpental. Tidak berhenti disitu, ia mengejar Hazel menyambarnya dengan cakar di tangannya. Rara melihat semburat darah yang muncrat dari perut Hazel, membuatnya menjerit.
Khaleed dan temannya tidak tinggal diam, mereka maju bersamaan berusaha membuat Redroth terjepit di tengah, tapi dengan mudah Redroth menghindari serangan mereka, dan dengan satu gerakan ia menangkap keduanya. Tangan kiri dan kanannya menangkap Khaleed dan temannya di leher mereka. Tanpa kesulitan ia mengangkat keduanya.
Dengan terbata-bata Khaleed meneriakkan sesuatu, " Letak....kaan....kek...uatan kalian di lanta...iii......"
Redroth mempererat cengkramannya, membuat Khaleed tidak mampu berkata lagi. Ia mencoba menendang dengan kakinya, namun sia-sia.....
Rara menangis, ia tidak tahu harus bagaimana, api yang besar begitu panas menghalangi pandangannya, ia mulai batuk-batuk dan sulit bernapas.
Letakkan kekuatan di lantai?
Apa maksudnya?
Saat itu ia mendengar suara Aunt Yesha, "Kalian semua kesini!"
Rara memandang api di sekitarnya, bagaimana mereka bisa menembus api itu?
"Lihatlah ini akhir hidupmu dan sebelum hidupmu berakhir, aku ingin kau melihat akhir hidupnya!" katanya pada Khaleed, lalu ia mempererat genggaman tangan kanannya, Rara mendengar bunyi krak dan pria yang dulu menolong mereka kepalanya terkulai lemas karena Redroth mematahkan batang lehernya.
"Ra...kau ingat bagaimana tadi kau bisa menghasilkan shield?"
"A....a...Rara cuma ingat terasa marah dan ada sesuatu seperti aliran listrik yang mengalir."
"Sama....Aku dulu ya ngerasa gitu." Kata Wulan.
"Coba Ra lagi, trus kita jalan bareng nembus api menuju pelataran tempat Aunt Yesha." Suryo mencoba untuk berkata tanpa memberikan tekanan pada Rara.
Rara menelan ludah, dikatupkannya mulutnya rapat-rapat. Dicobanya untuk mengingat-ingat bagaimana td ia bisa menghasilkan lapisan pelindung untuk mereka. Sheba dan milly mendekat padanya, ia bisa merasakan aliran listrik itu lagi disekukjur tubuhnya.
"Mami piye?"
"Kita tinggal dulu disini....." jawab Suryo lirih.
"Ayo....jika tidak berhasil, kita tahan panas sebisa mungkin."Wulan berdiri mantap dan mengulurkan tangannya. Bersama-sama mereka mulai berlari, lari Rara tidak secepat yang lain, tapi rupanya yang lain tidak meninggalkannya, mereka menerobos api itu bersama-sama dengan sheba dan milly yang berlari di samping Rara.
__ADS_1
Api menjilat ke arah mereka, namun seperti Derrick dan Rakhta yang tidak bisa melukai Rara tadi, api pun tidak menyentuh tubuh mereka semua, panasnya masih terasa tapi tidak membakar mereka. Suryo menggemgam tangan Rara dan menariknya, mereka menerobos beberapa daemon sampai ke pelataran pertama tempat eleanor berada.
"Arahkan kekuatan kalian ke pusat lantai itu!" teriak Uncle Hugh.
Dengan bingung Suryo dan Wulan mengarahkan tangannya ke titik batu di pusat lingkaran.
Tidak terjadi apapun....
"Ahhh...." terdengar suara Uncle Hugh, Aunt Yesha dan Nainai.
Uncle Hugh dan Aunt Yesha terdengar kecewa sementara Nainai terdengar lega.
"Kita coba bersama-sama....." kata Arthur.
Bersama-sama mereka berempat mengulurkan tangan lagi ke arah pusat reliaf batu yang ditata melingkar itu.
"Bersama-sama!"teriak Arthur.
Bersama-sama mereka mengerahkan kekuatan telekinesis mereka ke simbol itu.
Sedetik...
Dua detik.....
Tiba-tiba gapura-gapura di kompleks candi itu berkilauan, bercahaya, yang semakin lama semakin terang.
Cahaya itu putih dan menyilaukan, namun tidak melukai mereka, bahkan Rara merasa cahaya itu menyelubungi mereka, melindungi mereka. Dilihatnya kedua anjingnya juga tampak tenang, mulut mereka juga terbuka lebar tanda mereka tidak merasa terancam, mata mereka menyipit dan keduanya tiba-tiba melolong.
Berbarengan dengan lolongan sheba dan millie, Rara mendengar suara-suara lain, seolah-olah segala hewan dan tumbuhan di sekitar mereka bernyanyi. Lalu dari gapura dan pelataran tempat mereka berdiri, cahaya putih berkilauan menyemburat keluar, dengan dahsyat menyebar ke seantero candi.
Daemon- daemon baik yang di darat maupun di udara tak ada satupun yang luput. Semua yang terkena cahaya itu terbakar tidak menyisakan apapun.
Hal terakhir yang diteriakkan oleh Redroth...
"NOOOOOOOO........impossible......."
Dan Rara melihat, daemon yang telah membunuh ibunya, yang telah menyerap kekuatan ibunya, yang katanya tak bisa terbakar itu, bermandikan cahaya putih kemudian terbakar habis hanya menyisakan abu yang terbang dibawa angin.
__ADS_1