Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Daemon dengan Api Neraka


__ADS_3

Arthur kembali ke wujud manusianya.


    "Kenapa? Bagaimana mereka? Arthur lihat mereka ada dimana? Bisa kau gambarkan? Apakah mereka terluka? Apa yang terjadi? Dimana mereka?" Nainai mengguncangkan tubuh Arthur sambil menyemburkan pertanyaan-pertanyaan dengan cepat mengingatkan Arthur akan perkataan Suryo dimana omelan Mami seperti rentetan kereta api yang tiada henti, biasa Suryo akan bilang "Ngomong koq koyo sepur."(Bicara koq seperti kereta api)


"Tenang..."kata Yeye,"Kasih napas lah ke Arthur."


    "Sorry...sorry....maaf Arthur, tapi Nainai cemas sekali." Nainai nampak sedikit tersendat. Aunt Yesha merangkulnya mencoba menenangkannya juga.


    "Apa yang kau lihat Arthur?"


    "Daemon......"jawab Arthur lirih.


    Yeye dan Nainai terkesiap.


    "Arthur, mereka dimana? Bisa kau gambarkan lokasi mereka?"


    "Alkom kita sudah berfungsi!" kata Papi tiba-tiba. Cepat-cepat mereka semua mengecek alkom masing-masing.


    "Mereka ke Vila Aldi!"


    "Vila Aldi!"


    "Ke Tawangmangu!"


    Yeye, Nainai dan Papi berteriak bersamaan.


    "Uhm....tapi..."Arthur ragu-ragu untuk menyela.


    "Kenapa Arthur?"tanya Uncle Hugh


    "Vila itu seperti rumah kan?"


    ""Iya." Kata Papi sambil memasukkan koordinat ke panel di depannya. Pesawat yang mereka tumpangi berputar lalu melesat dengan cepat membuat Arthur terhentak kedepan, untungnya ia sudah memakai sabuk pengaman setelah berpakaian tadi.


    "Yang Arthur lihat tidak seperti rumah. Memang Arthur hanya melihat secara sepotong-sepotong, namun di saat terakhir sebelum gelap sama sekali, koneksi Arthur ke Rara kuat sekali, Arthur merasakan ada energi yang kuat sekali keluar dari Rara dan disitu Arthur bisa melihat mereka ada di sebuah tempat dengan gapura-gapura seperti pura di Bali. Uhmm....Arthur pernah lihat di inter...."


    "Gelap sama sekali? Apa maksudmu? Apa yang terjadi sama Rara?" potong Yeye dengan tajam sebelum Arthur menyelesaikan kalimatnya.


    "Ada dua candi di yang ada di sekitar Tawangmangu. Satu Candi Cetho dan satunya lagi Candi Sukuh. Ehm... kalo ada gapura yang seperti pura harusnya Candi Cetho sih."


    "Kenapa mereka pergi kesana?"tanya Arthur.


    Tidak ada satupun yang menjawab Arthur.


    "Emily tahu betul tentang ramalan itu....."Nainai berkata lirih. Aunt Yesha dan Uncle Hugh menghembuskan nafas panjang-panjang, mereka tampak gelisah.


    Sebelum Arthur bertanya, tiba-tiba Papi berteriak, "Kita sudah sampai, ITU MEREKA."


****


Suryo memandang sekelilingnya. Kini di depan mereka, tidak hanya ada Derrick dan Rakhta. Entah bagaimana, daemon-daemon banyak yang berdatangan, ada yang datang dengan terbang seperti Rakhta dan Derrick, mereka juga berubah menjadi kelelawar raksasa, besar mereka tidak seragam, namun meskipun begitu, yang terkecil di antara mereka besarnya dua setengah kali kelelawar biasa, setengah dari manusia dewasa. Banyak dari mereka yang datang dalam wujud manusia, tapi Suryo tahu mereka daemon dengan melihat mata mereka yang bewarna merah. Hanya Derrick dan Rakhta yang matanya tidak bewarna merah, mungkin mereka memakai lensa kontak seperti Allen. Sebagian besar dari daemon-daemon itu hanya berdiri di luar kompleks candi, beberapa mencoba masuk tapi mereka terpental.


    Suryo menyeringai, rupanya meskipun sekarang candi hanya menjadi objek wisata saja, tapi sisa-sisa kekuatannya masih ada.


    "HOIIII, NGAPAIN KALIAN SEMUA KEMARII!" teriak Derrick dengan murka.

__ADS_1


    Daemon-daemon yang berhasil masuk ke pelataran candi bersorak mengejek Derrick.


    "Cuiiih....ketua compound rendahan seperti kau mau menguasai mereka sendiri? JANGAN MIMPI KAU!!"


    "BOOOOOO! Mau menang sendiri ya? KAU KIRA KAU SIAPA?????"


    Dan berbagai teriakan , segala sumpah serapah dan kata-kata kotor dalam berbagai macam bahasa bersahut-sahutan. Sangat ribut membuat Suryo pusing. Ia teringat kata-kata Mami, sama-sama mengeluarkan energi untuk berkata kenapa harus memakai kata makian, gunakan kata-kata yang enak didengar, begitu kata Mami.


    Mami.....


     Sampai sekarang maminya belum sadar, Suryo mempererat pelukannya ke Mami, sementara Wulan memeluk Rara. Ia teringat ucapannya saat emosi waktu di rumah kemarin, dan ia merasa sangat menyesal dan malu. Apalagi tadi saat dilihatnya bagaimana Mami begitu gagah dan keren sekali, bahkan Mami yang menurut Suryo tidak berguna itu, berhasil melukai Derrick dan Rakhta. Tidak seperti dirinya yang ternyata bukan apa-apa, menggores Derrick pun ia tak mampu.


    Dilihatnya Rara yang terkulai lemas, Suryo tidak akan sanggup memaafkan dirinya jika sampai Rara kenapa-kenapa. Ia ingin menangis, namun Ia tak mau memperlihatkan kelemahannya di depan musuh-musuhnya. Wulan memandangnya dengan putus asa. Suryo tak mampu untuk menatap mata Wulan. Insting Wulan tadi benar, jika saja tadi ia menuruti Wulan untuk tidak masuk ke vilanya Aldi, kesombongannyalah yang membawa mereka sampai ke situasi ini.


    Rara mengeluarkan suara lirih.


    "Ra....kamu ga pa pa?" Suryo menangkap nada suara Wulan yang juga menahan tangis sekaligus lega melihat Rara siuman.


    Rara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan mencoba berdiri. Ia masih terhuyung-huyung, dengan cepat Wulan memeganginya sehingga ia tidak jatuh. Sheba dan milly juga tersadar, pelan-pelan dengan sedikit terhuyung-huyung mereka berjalan mendekati Rara dan menjilati tangan Rara.


    Suara ribut perdebatan antar daemon semakin mereda. Suryo agak berharap supaya mereka tidak berhenti berdebat, karena hal itulah yang menjaganya dan keluarganya tetap hidup. Dilihatnya Rakhta sudah berubah wujud menjadi daemon dengan ekor kalajengkingnya, Derrick juga sudah dalam wujud daemonnya. Masing-masing dari mereka mencengkeram satu daemon lain yang sudah lemas. Lalu tanpa dikomando, Derrick dan Rakhta bersamaan meremukan kepala daemon yang mereka pegang. Membuat daemon-daemon itu berkobar dan hilang.


    "ADA LAGI YANG MAU MELAWAN KAMI?" raung Rakhta.


    Daemon-daemon lainnya mundur ketakutan, lalu.....


    "Kau mau melawanku, Rakhta?"


    Suryo tidak  tahu bahwa daemon bisa pucat juga. Tapi begitu sosok daemon yang berkata itu berubah menjadi seorang pria tua dengan puncak kepala yang botak licin berkilau, rambutnya masih ada tipis dibagian bawah kepalanya. Rakhta tampak kaget setengah mati dan gelagapan, wajah daemonnya menjadi pucat.


    "Maaa...maaster..."


    Pria tua itu mengangkat kedua tangannya lalu memegang kedua telinga Rakhta, mengarahkan pandangan mata Rakhta supaya bertatapan dengannya.


    Jeritan Rakhta melengking menyakitkan telinga, suaranya berderit dan mencicit. Banyak daemon-daemon yang menutup telinga mereka. Suryo, Wulan dan Rara pun melakukan hal yang sama, bersamaan mereka menutup telinga mereka.


    Pria tua itu melepaskan tangannya, lalu menendang Rakhta dengan kejam. Derrick melompat untuk menangkap Rakhta supaya tidak terjatuh. Tapi Rakhta malah mengibaskannya dan terlihat sangat marah dan malu.


    Pria tua itu memandang Derrick dengan pandangan mengejek dan merendahkan.


    "Kau percaya pada ketua compound rendahan ini? Kukira kau lebih pintar dari itu Rakhta. Kau kira dia orang kepercayaan Dia Yang Agung? HUAHAHAHAHAHA..........Lucu sekali, selama dua ratus tahun aku melayani Dia Yang Agung aku belum pernah melihatnya."


    Derrick kelihatan marah sekali, Ia berdiri dan mendekati pria tua itu dan berhadap-hadapan dekat sekali sampai hidung mereka hampir bersentuhan.


    Saat itulah, Suryo melihat, di atas mereka sebuah pesawat melesat dan mulai mengeluarkan tembakan sinar, bukan sinar bewarna merah seperti yang dikeluarkan eleanor tapi kuning keemasan. Menembaki daemon-daemon yang mengepung Suryo, menembaki Derrick dan pria tua itu membuat mereka langsung semburat berpisah.


*****


    Arthur meandang ngeri ke arah pemandangan di bawahnya, ia tidak bisa menghitung berapa banyak daemon yang mengepung Wulan dan saudara-saudaranya. Awalnya ia tidak bisa melihat dimana Mami, saat sudah menemukan sosok Mami, hatinya terasa membeku. Ia melihat Mami tergolek lemas dalam pelukan Suryo, ia ingin berteriak tapi entah kenapa tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.


    "Emily...."Papi terdengar dan kelihatan sangat cemas, namun tidak membuatnya panik. Dengan tenang Papi mengendalikan kemudi mobil atau pesawat atau mobil pesawat....entahlah Arthur juga bingung bagaimana mau menyebutnya, karena selain bisa terbang tinggi, mobil ini bentuknya seperti mobil juga seperti pesawat. Moncongnya pipih dan meruncing, Papi duduk di depan sendiri di belakang kemudi baru kemudian melebar di belakang. Di kiri kanan ada berbagai macam panel yang Arthur tidak tahu apa fungsinya.


    Tapi...


    Tak butuh lama bagi Arthur untuk mengetahui apa fungsi panel-panel itu.

__ADS_1


    "Hugh, Pah! Mah! Ambil posisi...!"


    Langsung Uncle Hugh, Yeye dan Nainai mengambil posisi. Uncle Hugh di belakang, Yeye di samping kanan, Nainai di samping kiri pengemudi. Masing dari mereka mengambil alih kendali panel di depan mereka. Lalu dengan satu klik an ke layar, ketiga sisi itu melebar, menjorok kedepan membentuk tonjolan dengan lebar yang hanya cukup untuk satu orang saja dan dinding tonjolan itu berubah menjadi transparan sebening kaca dengan sebuah lingkaran kecil di tengahnya-tengahnya. Lalu masing-masing dari mereka mengeluarkan pulpen seperti yang dipinjamkan Uncle hugh pada Arthur saat di compound. Warna pulpen mereka berbeda-beda, punya Uncle Hugh bewarna perak, Pulpen Yeye biru, sementara punya Nainai bewarna pink yang menurut Arthur sangat cute warnanya. Lalu mereka menancapkan pulpen-pulpen itu ke panel-panel di depan mereka menjadikan pulpen-pulpen itu seperti tuas.


    Papi membuat manuver tajam menukik ke bawah, sambil menukik tangannya menekan ujung atas tuas kemudinya, dari moncong depan keluar tembakan cahaya kuning berkilauan seterang  sinar matahari. Tembakannya beruntun menghasilkan hujan sinar yang berhamburan menghujani demon-demon di bawah. Di belakang, Yeye, Nainai dan Uncle Hugh juga memegang pulpen mereka, dari lingkaran kecil di tengah kaca, juga keluar tembakan cahaya yang sama. Daemon yang masih ada di luar kompleks candi semburat berlarian, beberapa dari mereka ada yang terbakar habis.


    Daemon-daemon yang sudah di dalam kompleks candi berlompatan menghindari tembakan cahaya, tapi saking banyaknya mereka, membuat mereka tidak memiliki banyak ruang untuk menghindar. Beberapa dari mereka terkena tembakan, tapi jika daemon yang diluar komplek candi langsung terbakar habis saat terkena tembakan, daemon yang di dalam candi masih bisa bertahan.


    "Yeeah....."Tanpa sadar Arthur berteriak membuat Aunt Yesha tersenyum.


    Arthur balas tersenyum sebelum ia sadar bahwa Aunt Yesha tidak bisa melihat senyumannya. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya untuk melongok ke bawah lewat kaca di depan Nainai.


    Arthur melihat sebuah benda aneh yang mirip kendaraan perang ada di tengah-tengah pelataran pertama candi. Arthur tidak tahu itu adalah eleanor. Lalu ia melihat Derrick, tanpa sadar ia menelan ludahnya, ada rasa takut yang dirasakannya, ia teringat bagaimana takutnya ia dulu saat melarikan diri dari Derrick. Derrick memandang ke atas dengan bengis. Lalu secara tiba-tiba ia melompat ke atas dan menabrakkan tubuhnya ke sisi kanan, lalu memanjat naik dengan cepat ke atap mobil pesawat itu. Lalu Arthur melihat, pria botak tua yang juga secepat kilat berubah menjadi kelelawar super raksasa. Dikatakan super raksasa karena besar sekali hampir sebesar manusia. Meskipun besar, hal itu tidak mengurangi kelincahannya, ia terbang dan meliak-liuk bermanuver menghindari tembakan-tembakan Papi.


    Di atap, Arthur mendengar hantaman-hantaman dan suara-suara deritan, rupanya Derrick berusaha menyobek atap pesawat, tapi untungnya atap mobil ini kuat sekali. Lalu Derrick berpindah ke atas Nainai dan menghantam kaca di depan Nainai dengan tangannya yang berkuku panjang, runcing dan tajam itu. Namun tangannya mental, kaca di depan Nainai utuh, tanpa goresan sedikitpun


    Arthur tertawa ketika Nainai menoleh padanya dan tertawa juga. Lalu Nainai menatap Derrick dari balik kaca dan menjulurkan lidahnya, membuat Arthur tambah tertawa ketika dilihatnya wajah Derrick yang memerah karena murka. Ia melongok ke bawah, dan ia merasa lega ketika dilihatnya Wulan, Suryo dan Rara juga bersorak sambil mengepalkan tangan mereka atas. Arthur membalas mereka dengan mengacung-acungkan jempolnya. Ia tak tahu bahwa mereka tidak bisa melihatnya.


    Papi berbelok ke kanan dengan tajam membuat Arthur kaget. Rupanya Papi menghindari serangan daemon kelelawar super besar tadi. Belokan tajam itu tidak menjatuhkan Derrick, ia masih melekat erat di kaca di depan Nainai. Daemon kelelawar itu mengejar mereka, dan Arthur merasakan hawa yang sangat panas secara tiba-tiba di dalam mobil pesawat itu.


    Ia ternganga ketika dilihatnya, dari mulut kelelawar itu keluar semburan api yang besar.


    "Is that him?" tanya Aunt Yesha.


    "Yes.....It's him...." kata Uncle Hugh lirih.


     Aunt Yesha menggeram.


    "Sabar, Yesha....sabar." kata Nainai.


    Aunt Yesha hanya mengangkat tangannya dan mengangguk, namun Arthur dapat melihat dahinya mengernyit dan mulutnya yang mengatup rapat.


    "Oh...oh awas...!" teriak Arthur.


    Dilihatnya daemon yang besar dan memiliki ekor kalajengking yang juga panjang dan besar, ekornya ini menambah besar daemon menjadi dua kali lipat, menyerang Wulan. Wulan melompat menghindarinya, tapi Rara tidak cukup cepat, daemon itu berhasil mencengkeramnya. Suryo melepaskan tubuh Mami yang dipeluknya dan melompat menyerang daemon itu. Wulan juga. Begitupun sheba dan milly.


    "Apa yang terjadi?" tanya Aunt Yesha.


    "Mereka menyerang yang dibawah."


    Papi mengarahkan mobil pesawat itu menuju ke arah Suryo. Tapi daemon kelelawar besar itu menghalangi mereka dan kembali menyemburkan api yang super panas, mobil pesawat itu terdengar berbunyi berderak-derak dan Arthur melihat bagian yang terkena semburan api terus menerus mulai melesak, tanda mulai meleleh. Membuat Papi mau tak mau berbelok dan menjauh lagi.


    "Berapa jarak kita dari bawah? Dan mereka di arah jam brp dari kita?" tanya Aunt Yesha tajam.


    "Kita di ketinggian lima ratus kaki dan mereka semua di arah antara jam sembilan dan sepuluh." jawab Papi dengan cepat.


    "Aku akan turun ke bawah."kata Aunt Yesha.


    Arthur tidak tinggal diam, dengan cepat dibukanya sabuk pengamannya dan melompat meraih tangan Aunt Yesha tepat sebelum Aunt Yesha teleport.


    "Arthur!"


    "Arthur!"


    Suara Yeye dan Nainai didengarnya sebelum kemudian menapak sejauh dua meter dari Mami.

__ADS_1


    Daemon-daemon yang tadinya hanya menghindar dari tembakan melihat mereka dengan garang.


    Dan bersamaan mereka melompat menyerang mereka.


__ADS_2