Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Nubuatan Versus Ramalan


__ADS_3

Dari tempat


Yang berbeda-beda 


tetapi tetap satu


Merah warna pemberani


Putih untuk mereka yang suci


Dengan lambang burung legenda


Mereka dilahirkan


Di saat dunia meratap


Karena beribu-ribu rebah selamanya


Oleh musuh yang tak bisa ditatap


Mereka dilahirkan


Dari yang menyembuhkan


Dari yang mehapuskan


Dari yang menghanguskan


Dari ilusi punya tuan


Mereka dilahirkan


Membawa harapan bagi manusia


Keagungan palsu dikalahkannya


Dua adam dan dua hawa


yang akan membangkitkan terang.....


****


Dia tersadar....


"Ugh......."


Ramalan itu....


Oh bukan ramalan tapi nubuatan itu, entah kenapa melintas di kepalanya.


Hmmmm.....


Aneh.....


Sudah lama ia tak pernah mengingatnya, kenapa ini kembali ke ingatannya. Secara penuh.


Lima belas tahun....


Ya... sudah lima belas tahun ia tak pernah memikirkannya. Dan ia memastikan semua yang bernubuat sudah ia binasakan.


Namun sayang kekuatan nubuat tak pernah bisa diserapnya. Terakhir ia memikirkan nubuatan itu saat Redroth berhasil mengelabuinya dan menyerap kekuatan api.


Redroth meremehkannya....


Grrrrr..... itu membuatnya marah, berani-beraninya Redroth!


Meremehkanya...

__ADS_1


 Dia sang teror


Dia sang penghancur


THE ONE


THE ONLY


Evil himself.....


Ia menghukum Redroth, memperlemah kekuatannya dengan mengambil karunia yang diberikannya kepada Redroth seharga seratus tahun, membuat daemon sialan itu penampilannya bertambah tua menjadi seperti kakek renta dengan kulit keriput. Walaupun dengan tambahan kekuatan api yang ia akui cukup panas, Redroth masih tak mampu mengalahkannya.


Bagaimanapun Ia yang membuat Redroth, jadi ia mampu mengendalikan Redroth. Beruntung mereka masih bayi, jadi Redroth tidak bisa menyerap kekuatan anak-anak itu.


Jadi  begini masalahnya dengan menyerap kekuatan, sebelum usia delapan belas tahun, kekuatan yang dimiliki manusia-manusia bertalenta belumlah matang. Jadi jika kekuatan mereka diserap sebelum itu, kekuatan yang menjadi milik daemon yang menyerapnya tidak akan sekuat jika penyerapan kekuatan itu dilakukan setelah manusia-manusia itu berusia delapan belas tahun. Apalagi bayi!


Bayi-bayi itu tidak berguna, sama sekali tidak bisa diserap kekuatannya. Ia sudah mencobanya dan hasilnya nihil. Untuk itu, ia membesarkan beberapa dari mereka, jika mereka mempunyai kekuatan, pada akhirnya akan ia serap kekuatan mereka.


Oh ya.... ini adalah penelitiannya selama bertahun-tahun, ia juga tahu bahwa penyerapan kekuatan seoptimal mungkin adalah dengan menjadikan mereka daemon bawahannya, entah kenapa penolakan mereka untuk menjadi daemon sampai akhir hayat membuat kekuatan yang diserap tidak sebertenaga kekuatan aslinya.


Soal tingkat kematangan penyerapan talenta sengaja tidak ia beritahukan pada daemon-daemon bawahannya, ia tidak ingin mereka akan menyerap kekuatan yang pada akhirnya akan dapat menyainginya.


Oh....yaaa.....


Ia tidak bodoh....Heh!


Dia adalah sang teror, sang penghancur, the one and the only.


Ia tidak mempercayai satu pun daemon bawahannya. Jika diberi kesempatan mereka dapat menusuknya dari belakang.


Bagaimanapun mereka adalah daemon, apa yang kau harapkan?


Ia yang membuat mereka dari awal. Ia tahu hanya kekuatan dan kekuasan dua hal yang terpenting bagi daemon.


Selain menghukum Redroth dengan mengambil karunia, ia juga menurunkan jabatan Redroth, dari tangan kanannya menjadi kepala di negara kecil itu. Di negara dimana rakyatnya masih gampang diadu.


Hahaha... ia menyukai ironinya, ia ingin Redroth mengingat terus kesalahannya.


Tapi.....


Kenapa ia jadi melupakan nubuatan eh... ramalan dink. Nubuatan pasti terjadi sedangkan ramalan hanyalah ramalan bisa terjadi bisa tidak, ia menghabiskan banyak waktu untuk meyakinkan bahwa itu hanya ramalan.


Apakah ia sendiri jadi mempercayai bahwa itu hanya ramalan?


Ugh..... kenapa pikirannya jadi seperti berkabut.....


Bersamaan dengan itu, ia merasakan suatu guncangan, ada karunia yang ia berikan yang hilang.


Lenyap.....


Redroth.....


Redroth tiada....?


Ya ia dapat merasakan jika daemonnya ada yang dibinasakan. Semua daemon dapat merasakan itu.


Dan ia merasakan suatu kekuatan yang besar.


Kekuatan yang melenyapkan Redroth...


Hmm....menarik! Tampaknya selama ini, ia meremehkan bangsa itu, bangsa itu lolos dari pengamatanya.


Agak aneh.....


Tidak ada yang lolos dari pengamatannya, kenapa bisa bangsa tempat dimana yang mengalahkannya akan lahir bisa lolos?


Eh.... tapi

__ADS_1


Dia adalah Yang Agung bukan keagungan palsu seperti yang dikatakan ramalan ...ugh... atau nubuatan...ugh.... entahlah......


Tapi ia merasa pikirannya lebih jernih sekarang.


Tiba waktunya, ia sendiri yang akan mengurusnya. Lima belas tahun ia melupakan bangsa itu. Dan selama itu pula ia tidak pernah merasakan ada kekuatan besar yang mengancamnya.


Sekarang berbeda, ia merasakannya. Kekuatan baru yang belum ia miliki, dan ia harus memilikinya. beruntung ia masih memiliki yang bisa diandalkannya untuk melaksanakan perintahnya. Satu-satunya manusia yang ia yakin tak akan mengkhianatinya karena tingkat kebodohan yang akut dan ia tahu Harvey terlalu pengecut untuk berani mengkhianatinya. Meskipun keberhasilannya dalam menjalankan perintahnya hanya sepuluh persen, namun untuk yang satu ini harusnya ia berhasil.


"HARVEYYYYY......!


Ia dapat mendengar suara lari tergopoh-gopoh. Dan iiiiiihhhh........menjijikkan sekali! Berdiri di depannya manusia tambun yang tampak seperti bertambah tua sepuluh tahun dari terakhir mereka bertemu, dengan baju yang kusut dan kumal, dan baunyaaaaaaaa...........


Ampuuuuun deh!


Apalagi daemon memiliki indera yang jauh lebih tajam dari manusia, apakah si Harvey ini sengaja ingin membuatnya muntah. Tapi ya sudahlah, lha memang ia tidak pernah menyuruh dan memberi Harvey uang untuk membeli baju, semua kebutuhan Harvey ia berikan tanpa kelebihan, yang ia berikan ia tahu cukup buat Harvey makan selama sebulan, yaaah mungkin untuk beli baju tiga tahunn sekali lah....


Ugh.... kenapa ia melantur lagi....


"Harvey....bawa Derrick kemari!"


"De....Derrick?"


"YA DERRICK! KAU BELUM BUDEG KAN?" uuuugh kenapa Harvey selalu membuatnya hilang ketenangan."Derrick sudah lama tidak melapor. Kurasa ada insiden yang melibatkannya."


"Insiden?"


"Ya......, berkat Redroth, anak-anak yang dulu kuinginkan akhirnya muncul. Aku merasakan kekuatan mere.....KENAPA KAU PUCAT SEKALIIII? ANEH! JANGAN BILANG KAU SAKIT LAGI!"


Ia bingung bagaimana mungkin Harvey yang sudah pucat dari sononya bisa bertambah pucat.


"E...eeemmmmm.....tid...tiddaaak....Harvey tidak sakit."


"Bagus! Sekarang suruh Derrick kemari secepatnya!"


"Haaarv...Harvey tidak tahu dimana Derrick...."


"KAU BODOH ATAU APAAN SIH! ALKOM MU BUAT APAAAAAA! LACAK DIA"


"Oh... kirain.....Harvey sendiri yang harus menjemput Derrick..."


Uh....Bodohnya.....


"Harvey..."bisiknya," TENTU SAJA KAU YANG HARUS MENJEMPUTNYAAAA!"


"TA...tapi Derrick sudah berkali-kali kuhubungi dan dia tidak mau melapor. Katanya belum saatnya...."


Ia menghela napas......


"Harvey....."Bisiknya sekali lagi," Kau harus mengatakan kata-kata ajaibnya..."


"Ka...ka....kat....kata ajaib?"


"GRRRR.............KATAKAN BAHWA AKU YANG MENYURUH! DAN JANGAN SAMPAI AKU SENDIRI YANG MENJEMPUTNYA!"


Harvey kelihatan ketakuan sekali.....


Well.... sudah lama ia tidak membentak, biasanya cukup berbisik saja.


Ughhh...... baunya pesing sekali.....


MALAH NGOMPOL SI TUA BANGKA INI!


"Sudah sana pergi! Dan Harvey ini uang! Pakai buat beli baju dan tiket pesawat!'


Harvey mengangguk-angguk cepat, diraupnya uang yang ia lemparkan, dan cepat-cepat berlari keluar ruangannya.


"HOOOOOOYYYYY BANGSAT! BERSIHKAN DULU OMPOLMU!"

__ADS_1


*****


__ADS_2