
Rumah mungil itu kacau balau, serpihan kaca ada dimana-mana. Arthur memandang semuanya dengan bingung dan tak berdaya. Dilihatnya Rara masih menangis sambil memeluk Wulan yang masih tanpa reaksi. Sementara Suryo seperti orang gila yang keluar masuk rumah mencoba mencari sinyal untuk alkomnya.
Ia berlutut di samping tubuh Wulan. Diulurkannya tangannya ke Rara. Rara memandangnya dengan bingung.
"Kata Nainai saat tidak ada yang dapat kita lakukan sebagai manusia. Kita bisa meminta pada yang menciptakan kita. Dan saya tidak tahu caranya meminta. Tapi Arthur pernah baca jika dua atau tiga orang berkumpul meminta hal yang sama atas namaNya. Dia akan ada di tengah-tengah kita." Katanya dengan gugup.
Rara memandangnya dengan takjub. Lalu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menangis. Digenggamnya tangan Arthur. Sambil menangis, ia mencoba memanjatkan doanya. Namun tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa sesenggukan.
Arthur melihat Rara dengan bingung. Diulurkannya tangannya yang satu lagi untuk memeluk Rara. Lalu dikuatkannya hatinya dan diberanikannya dirinya.
"Hallo.....ehm Engkau yang katanya membuat Arthur juga. Ini Arthur kenalkan. Karena sepertinya kita belum pernah kenalan. Meskipum Engkau yang menciptakan Arthur. Tapi saya takut Kau lupa karena tampaknya ciptaanMu banyak sekali."
Rara melongo memandang Arthur. Di saat lain, ia akan tertawa jika mendengar doa Arthur ini. Tapi masuk akal juga, karena Arthur sama sekali tidak pernah mengenal Tuhan sama sekali seumur hidupnya.
"Ehm...ehm....gimana ya... Ini kami sedang bingung. Wulan tidak sadarkan diri. Sedangkan alat komunikasi kami semua rusak. Tolong bantu kami supaya Wulan bisa sehat kembali. Mungkin bisa mengirim Nainai atau siapa saja kemari untuk menolong Wulan. Ehm....kami sangat berterima kasih, atas bantuanMu. Amin......"Lanjut Arthur. " Eh harus diakhiri dengan amin kan?"
Saat itu Suryo masuk. Dipandangnya mereka bertiga yang berada di lantai dapur. Entah kenapa ia tidak suka melihat bagaimana Arthur memeluk Rara. Saat ia mengetahui bahwa Arthur menyarankan untuk berdoa, ia merasa kesal.
"Hei, aku tahu kalian bingung tapi mengapa membuang waktu dengan berdoa? Ini kita usahakan dulu supaya pendarahannya berhenti. Ambil kain atau apa, seharusnya ada kotak pertolongan pertama di rumah ini. AYO CEPAT CARI!"
Cepat-cepat Arthur bangkit dari posisi berlututnya dan menuju lemari bawah tangga. HAIFU pernah menunjukkan padanya kotak obat untuk pertolongan pertama saat ia belajar mengenai pekerjaan manusia dimana salah satunya adalah dokter yang tugasnya menyembuhkan manusia dari penyakit. Ia mencoba mengingat-ingat langkah-langkah yang harus diambil untuk menolong luka tembak. Sebelum ia berhasil mengingat semuanya, Suryo sudah tidak sabar dan mengambil kotak itu dari tangannya. Menghamburkan isinya ke lantai sebelumnya akhirnya, ia pun terduduk di lantai dan mulai menangis.
Arthur memandangnya dengan iba, bagaimanapun jahilnya Suryo terhadap Wulan, ia tetap kakak kembar Wulan. Didekatinya Suryo, ditepuk-tepuknya punggungnya. Sambil tersengguk Suryo membalas dengan gantian menepuk bahu Arthur. Pelan-pelan Arthur mengambil kain kasa yang ada di lantai. Entah bagaimana semua video yang dilihatnya dengan panduan HAIFU membanjiri otaknya. Dengan perlahan dan cekatan di angkatnya kepala Wulan dari pangkuan Rara. Lalu dengan dibantu Rara, mereka membuka kaus yang dipakai Wulan, dibersihkannya luka Wulan dengan alkohol. Darah masih mengalir, namun Arthur biasa saja melihat darah. Lain halnya dengan Rara dan Suryo yang langsung merasa mual. Dengan hati-hati dibalutnya lengan atas dan bahu Wulan.
Dari luar mereka mendengar suara...
Flop....flop....
Ada yang datang.
****
Arthur terbangun dari tidurnya. ia mendengar ada suara beberapa orang yang bercakap-cakap di luar. Dilihatnya Suryo tertidur pulas di sampingnya. Kali ini anak-anak laki-laki tidur di loteng atas. Tempat tidurnya besar dan nyaman sekali. Tidak seperti ranjang besi di compound tempat ia tidur dulu. Juga jauh lebih nyaman daripada hammock tempatnya tidur selama dua hari ini. Meskipun baginya, hammock itu juga jauh lebih nyaman daripada ranjang besinya yang keras dan dingin. Namun kasur ini benar-benar lain cerita. Begitu empuk namun mampu menyangga keseluruhan tubuhnya dari kaki sampai kepala.
Ia bangkit dan merangkak mendekati pagar pengaman. Atap di loteng itu rendah, tidak cukup untuk berdiri sepenuhnya. Ia melihat ke bawah, dilihatnya Wulan terbaring di sofa bed, gadis itu tampaknya sudah sadar. Mata mereka bertatapan dan Wulan memberikan isyarat dengan jarinya untuk menyuruhnya diam.
Arthur lega sekali melihat Wulan sudah sadar. Di samping Wulan, kepalanya terkulai bersandar ke sandaran tangan sofa itu, posisinya duduk di lantai sementara tangannya menggenggam tangan Wulan, tampak Rara tertidur. Sheba dan milly juga ada di samping kiri kanannya tidur juga. Duh... pasti saat bangun akan terasa pegal semua itu tubuh Rara.
"Jangan mulai Yesha!"
Arthur terlonjak kaget, dilihatnya Wulan menatapnya dengan kaget juga. namun sekali lagi Wulan memberinya isyarat untuk diam. Itu tadi adalah suara Nainai.
"Loh, pendapatku mungkin ada benarnya kan? Dari mereka berempat, hanya Rara yang tidak berkembang padahal aku yakin sekali dia jelas memiliki talenta. Jadi mungkin saja, apa yang kalian sebut iman itu yang menghalangi kekuatan talentanya untuk lebih muncul dan berkembang."
"Hei....kau mungkin boleh skeptis tentang iman yang kami miliki. Tapi iman kamilah yang selama ini menyelamatkan kami dari banyak hal." Yeye terdengar menjawab dengan sabar.
"Yakin itu adalah pertolongan Tuhan berkat iman kalian? Dari anak-anak berempat itu, kulihat Rara yang paling mewarisi iman kepercayaan kalian. Dan lihat hasilnya, mungkin karena ia percaya Tuhan maka dari itu selalu berharap penyeselesaian datangnya dari Tuhan daripada percaya bahwa diri sendiri mampu, Tahu kan maksud..."
"Cukup Yesha!" potong Nainai, " KIta bisa berdebat semalam-malaman disini mengenai apa yang kita percaya dan yang tidak kita percaya. Itu tidak akan menyelesaikan masalahnya."
"Aku hanya tidak habis pikir, karena aku jelas bisa merasakan talentanya, dan kenyataan sampai saat ini kalian tidak pernah melihat ada kejadian yang menunjukkan bahawa ia memiliki talenta sangat aneh bagiku.Kau yakin tidak menggunakan kekuatanmu untuk meredam kemampuan Rara?"
"Tidak." jawab Yeye dengan tegas. "Aku memang menggunakan talentaku untuk meredam talenta Wulan dan Suryo sejak aku melihat tanda-tanda talenta mereka muncul, tapi tidak pada Rara. Tidak pernah ada kejadian satupun yang menunjukkan bahwa ia memiliki talenta selain kemampuannya merawat hewan dan tanaman-tanaman kami di rumah.Maka dari itu, kami sangat terkejut saat kau bisa mendeteksi talentanya."
__ADS_1
"Selain Papa, adakah orang lain yang memiliki telanta untuk menghapus atau meredam talenta orang lain?" tanya Papi pada Yeye.
Hening......
"Uhmmm.....kenapa ya seharusnya ada, tapi entah kenapa aku tak bisa mengingatnya." kata Uncle Hughes." Tapi memang jarang sekali talenta yang berhubungan dengan pikiran manusia. Yang aku ingat pernah baca hanya pendiri TLC yang mampu membaca dan mempengaruhi pikiran orang lain, lalu Mr. Eraser yang mampu meredam bahkan menghapus talenta orang lain, Oh ada lagi beberapa dengan talenta telepatinya. Lalu Yesha ini yang mampu mendeteksi talenta orang........uh kenapa aku seperti melupakan sesuatu....."
"Tidak penting ada tidaknya itu. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita bisa secepatnya membantu anak-anak ini menguasai talenta mereka. Agar kejadian yang dialami Wulan ini tidak terjadi lagi."
"Yahhh... kau tau sendiri, pengajar-pengajar terbaik kita ada di sekolah TLC. tapi ya mereka itu amat sangat taat peraturan. Dan mereka hanya mau menerima anak-anak ini dan mulai dari awal lagi itu berarti mereka akan mulai belajar dengan anak-anak tingkat pertama yang berusia sebelas atau dua belas tahun."
"Hadeeh menggelikan sekali, itu hanya akan membuang-buang waktu. Kemampuan Suryo, Wulan dan Arthur jauh di atas itu."
"Well mereka tidak tahu itu. Dan mereka hanya percaya pada penilaian mereka sendiri. Kalian tahu sendiri kenappa aku tidak mau mengajar, bukan karena aku tidak suka tapi karena aku tidak tahan dengan birokrasi mereka yang berbelit-belit."
"Ya, ya....Kami tahu itu. Aku dan istriku ini juga pernah menjadi pengajar di TLC. Kami sendiri yang ikut memberikan masukan pada peraturan-peraturan tersebut dengan maksud supaya semua anak diberlakukan sama tak peduli siapapun koneksi mereka." kata Yeye sambil terkekeh geli.
"Koq malah ngguyu sih!" (Koq malah tertawa sih!) kata Nainai jengkel.
"Bukan begitu...." sahut Yeye, " Karena ternyata membuat peraturan untuk orang lain itu mudah, tapi saat diri kita sendiri yang merasa dirugikan oleh peraturan tersebut kita jadi susah menerimanya...hehehe...."
Arthur mendengar Uncle Huge terkekeh juga.
"Jadi maksudmu, kita harus menerima begitu saja, anak-anak ini belajar dari awal dimana sebenarnya kita tahu pasti bahwa kemampuan mereka di atas itu, kecuali Rara sih."
"Well aku rasa tidak ada salahnya mereka mulai dari bawah. Biarkan nanti pengajar di TLC yang memberikan penilaian jika memang begitu peraturannya. "
"Oh ayolah.....kau tahu bagaimana penilaian itu banyak ditentukan oleh Kepala dan Wakil kepala sekolah. Dan seingatku tidak ada manusia di dunia ini yang kukenal yang lebih tidak rasional daripada pak wakil kepala sekolah. Dan ia jelas-jelas masih dendam kepadamu karena menggunakan talentamu untuk meredam talentanya saat ujian penentuan kita dulu." Kata Nainai dengan sengit.
Yeye tambah terkekeh geli dan tampaknya semua yang ada bersamanya juga tertawa bahkan Nainai juga ikut tertawa.
"Ah tapi sekarang cucu-cucuku yang harus menanggung akibat kenakalan ku dulu."
"Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan? Dari cerita kalian, bisa saja nanti anak-anak harus mengorbankan lima tahun lebih dalam hidup mereka untuk mengejar ketertinggalan mereka di sekolah. Dimana sebelumnya aku berpikir, bahwa jika mereka belajar lebih dan mampu mengejar, mereka akan ditempatkan dengan anak-anak seumuran mereka."
"Tidak ada Emily. Tidak ada yang kita lakukan. Jika memang peraturannya demikian kita akan menurutinya. Daripada diperpanjang dan mereka semakin lama menunggu untuk memulai sekolahnya. Aku yakin,suatu saat nanti pasti mereka akan ditempatkan selayaknya sesuai kemampuan mereka."
"Bagaimana dengan Rara? Kita bisa melihat bagaimana ia kesulitan mengikuti semuanya? Bagaimana di sekolah nanti? Apalagi talentanya terhubung dengan sheba dan milly menurut Yesha. Kita tidak pernah mendapati hal ini. Tidak pernah ada catatan kan mengenai talenta yang berhubungan dengan hewan?"
Arthur bisa mendengar nada kekhawatiran di nada bicara Mami.
"Sebernarnya ada catatan mengenai itu. Kalian ini aneh malah tidak tahu." Kata Aunt Yesha dan cepat-cepat melanjutkan kata-katanya sebelum yang lain bertanya," Bukankah di kitab kalian tercatat, manusia pertama yang diciptakan diberi kekuasaan penuh atas segala hewan dan tumbuhan di bumi?"
"Eh....Adam?"
"Ya Adam diberi kuasa penuh atas seluruh hewan dan tumbuhan di muka bumi. Bahkan ia yang menamai mereka. Tapi apakah itu termasuk talenta?"
"Tentu saja itu adalah talenta! Jangan bilang kalau kalian termyata tidak mempercayai apa yang tertulis di kitab kalian.....hooo......"
"Aku tahu kemana arah pembicaraanmu Yesha." Potong Nainai, " Oke kita pecaya Yesha tidak mungkin salah dalam mendeteksi ada tidaknya talenta seseorang......."
"Salah! Semua orang memiliki talenta, bisa tidaknya talenta dikembangkan untuk melawan daemon itulah yang kudeteksi...."
"Sekali lagi kau potong kata-kataku Yesha, akan kuminta suamiku menghapus talentamu!"
__ADS_1
"Oh coba saja kalau bisa, kuingin lihat...."
"Sudah....sudah....sampai kapan kalian akan berdebat. Sudah berumur juga."
Arthur menelengkan kepalanya dengan heran, ia tidak menyangka bahwa orang yang lebih tua pun bisa cekcok. Ia pikir yang bisa cekcok hanya Wulan dan Suryo. Dipandangnya Wulan yang memandangnya balik dengan tersenyum manis. Tangan Wulan tampak mengelus kepala Rara dengan sayangnya. Ini juga yang membuat Arthur penasaran. Jadi begini, dengan Rara, Arthur merasa nyaman ia merasakan banyak kesamaan antara dirinya dengan Rara. Sedangkan Wulan membuatnya penasaran, gadis itu bisa lembut sekali selembut kapas bulu angsa di bantal yang sekarang dijajah Suryo semuanya, namun tiba-tiba bisa berubah judesnya setengah mati tanpa peringatan. Membuat Arthur bingung harus bersikap bagaimana. Ia tersenyum balik membalas senyuman Wulan dan melanjutkan menguping pembicaraan di luar.
"Mengenai Rara, kita sama sama tidak tahu bagaimana menanganinya. Mungkin mereka di sekolah TLC bisa menemukan solusinya bagaimana mengembangkan talentanya. Yang jadi masalah, mereka tidak memperbolehkan anak-anak membawa hewan peliharaan. Sedangkan jelas sekali, talentanya berhubungan dengan anjiing-anjing kalian." kata Aunt Yesha. Nada bicaranya sudah turun satu oktaf dibandingkan tadi.
"Ya itulah masalahnya, sampai sekarang aku masih berusaha bernegosiasi, supaya sheba dan milly bisa ikut. Cuma ya itu, tidak ada catatan eh selain di kitab kami." kata Nainai dengan cepat menambahkan sebelum dikoreksi Aunt Yesha,"Mengenai talenta yang berhubungan dengan hewan. Seberapa jauh talenta itu, apakah terbatas dengan anjing saja atau bisa terhubung juga ke hewan lain kita buta sama sekali, begitupun mereka yang di sekolah TLC, aku yakin mereka sama tidak tahunya seperti kita. Selain itu, tidak ada tanda-tanda sama sekali dari Rara yang menunjukkan kekuatan talentanya. Lain dengan Suryo dan Wulan yang dari kecil sudah menunjukkan berbagai tanda yang dengan bodohnya sengaja kami redam supaya tak terdeteksi olehmu, kini akibatnya Wulan harus terluka seperti ini....."suara Nainai tercekat.
"Kau mengusahakan yang menurutmu terbaik untuk mereka." Kata Aunt Yesha dengan lembut. Dari jendela yang menghadap ke teras, Arthur bisa melihat Aunt Yesha mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Nainai. Tampaknya orang-orang tua ini cepat berdamai pikir Arthur. Oh betapa salahnya dirinya tentang itu, tapi balik lagi Arthur baru sadar mengenai dunia baru dalam waktu sebulan jadi masih banyak yang harus ia pelajari apalagi mengenai interaksi hubungan antar manusia.
"Coba besok biar aku yang menemui Kepala Sekolah. Aku mengenalnya dengan baik, kami berjuang bersama dari zaman sekolah, mengajar bersama juga, bahkan pernah bertempur bersama. Ia orang yang rasional dan dapat diajak berbicara. Mungkin ia bisa memberikan kelonggaran untuk Rara."
"Ya mudah-mudahan berhasil. Dan semoga Rara bisa mengerahkan talentanya supaya tidak dipulangkan."
"Sudah larut, sebaiknya kami pulang, besok pagi-pagi harus ke sekolah menemui Kepala Sekolah. Yesha bisakah kau mengantarku?"
"Tentu saja, aku juga akan membantumu membujuknya demi Rara. Dia berhutang budi padaku, semoga itu bisa membantu melunakkan hatinya."
"Oh,,,,terima kasih Yesha." Kata Nainai.
"Oke Aku akan melihat keadaan Wulan dulu sebelum pulang."
Suara kursi-kursi bergeser. Arthur cepat-cepat kembali ke kasur, entah kenapa ia merasa tidak ingin ketahuan menguping. Namun sebelum kembali, sekilas ia melihat Rara, gadis itu menitikkan air mata. Ia melongokkaan kepalanya sekali lagi untuk memastikan. Dan dilihatnya dengan jelas, yeaah....tahu kan kalau mata Arthur setajam mata elang, jadi ia dapat melihat air mata yang mengalir dari sudut mata Rara. Wulan tampaknya tidak menyadari itu, karena dari tadi hanya tangannya yang mengelus-elus kepala Rara. Matanya dari tadi tadi terarah ke langit-langit dan sesekali ke Arthur.
Hanya Arthur yang menyadari bahwa Rara tidak tidur, dan ia mendengarkan semua pembicaraan di luar.
****
__ADS_1