
Aku berjalan menyusuri jalanan yang semakin gelap. Membawa koper warna hitam yang lumayan besar. Setelah lelah berjalan, aku berhenti di masjid untuk melaksanakan sholat maghrib karena adzan sudah berkumandang. Setelah mengambil wudhu aku memakai mukena milikku dan duduk dibarisan makmum. Ku dengar suara adzan yang begitu merdu. Membuat hati siapapun yang mendengarnya merasa tenang termasuk hatiku.
Selesai adzan dan komat, shalat pun dimulai. Aku masih ingat suara imam tersebut sama dengan suara Muazin tadi.
Selesai sholat, aku masih berada di dalam masjid tersebut. Aku tak tau harus kemana. Mungkin aku bisa menginap disini. Tapi tidak, aku seorang wanita. Aku pun keluar lalu melipat mukena ku dan menyimpan nya ke dalam tas kecil.
Aku melangkah keluar sambil menyeret koperku. Namun suara seseorang mengagetkanku.
"Ana."
Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata dia adalah Mas Fandi yang sore tadi telah menolongku.
"Mas Fandi."
"Hai, aku nggak nyangka kita ketemu lagi. kamu mau kemana?" tanya Mas Fandi.
"Aku...mau ke...rumah saudara, Mas," jawabku berbohong.
"Malam-malam begini? Sendirian? Dalam keadaan sakit?" Mas Fandi mengernyitkan dahinya.
"Emm anu, aku duluan ya, Mas." Aku melangkah pergi meninggalkan Mas Fandi yang masih bingung dengan sikapku. Tapi masa bodoh, aku baru mengenalnya.
Aku terus menyusuri jalanan. Lapar, aku lapar sekali. Tetapi aku tidak punya uang. Tidak mungkin aku membawa uang mas Hadi. Ah, kenapa aku mengingatnya lagi, bikin bad mood saja. Aku harus kuat. Aku tidak akan kembali pada pria sialan itu. Tapi aku harus merelakan Dinda bersama Sinta yang kejam itu. Dinda? Sedang apa dia? Baru beberapa jam saja aku sudah sangat rindu pada anak manis itu.
__ADS_1
Langkahku memasuki jalanan sepi menuju perumahan dan gedung-gedung kosong yang ditinggal pemiliknya. Aku tidak punya pilihan lain. Aku akan bermalam disana meski harus ditemani hantu atau hewan liar.
Namun langkah ku terhenti saat melihat sekumpulan preman sedang mabuk di tengah jalan. Aku langsung memutar balik dan berjalan dengan langkah yang lebih cepat karena mereka sudah sempat melihatku.
Jantungku berdetak kencang. Aku takut, apa jadinya jika mereka menangkapku. Ah tidak, aku harus berjalan lebih cepat. Hatiku semakin tak karuan saat mendengar langkah kaki yang lumayan banyak datang mendekat. Aku ingin lari tapi koperku sangat berat.
Namun tiba-tiba ada yang menarikku dari arah kanan. Aku tertarik ke sebuah lorong sempit yang gelap sampai aku tak visa melihat wajahnya. Namun yang aku tau dia seorang pria. Saat aku ingin berteriak, pria itu membekap mulutku dan mengisyaratkan agar aku diam.
"Akh, mana tuh cewek!" suara salah satu pria tadi terdengar menggerutu tak jauh dari kami.
"Yah, nggak jadi dapet mangsa dong. Padahal cakep banget tuh cewek, lumayan buat seneng-seneng."
"Ya udah balik yuk, jangan-jangan yang tadi kunti lagi nyamar. Serem ah."
Kami sudah sampai di pinggir jalan raya. Kini aku dapat melihat jelas siapa pria itu.
"Mas Fandi!" Aku terkejut mengetahui bahwa dia adalah Mas Fandi.
"Maaf, An. Aku tadi ngikutin kamu soalnya aku khawatir lihat orang sakit malam-malam pergi sendirian. Kamu sebenarnya mau kemana? Biar aku anterin ya."
"Nggak, Mas. Aku bisa sendiri."
"Apa kamu mau kejadian tadi terulang lagi? Kamu itu perempuan, lagi sakit, jalan sendirian malem-malem itu nggak baik. Itu bisa memicu kejahatan." Mas Fandi kembali mengingatkanku.
__ADS_1
"Aku...sebenarnya aku ada masalah dan aku nggak tau harus kemana." Akhirnya aku berkata jujur meski tidak mendetail.
"Gimana kalau malam ini tinggal aja di salah satu kontrakan yang aku kelola."
"Tapi aku nggak mau merepotkan kamu, Mas."
"Jangan pikirkan itu. Keselamatan kamu yang penting. Ayo!"
Mas Fandi mengajakku ke mobilnya. Aku terpaksa mengangguk. Mau bagaimana lagi, aku tidak punya pilihan lain.
Kami pun segera pergi ke kontrakan milik Mas Fandi. Sepanjang jalan dia tidak menanyakan perihal masalahku. Aku dapat menyimpulkan bahwa dia orang yang tidak suka mencampuri urusan orang lain.
Kami sampai di sebuah rumah kontrakan kecil yang cukup nyaman. Mas Fandi mempersilakan aku masuk ke rumah itu.
"Kamu tinggal dulu disini. Semoga betah ya." Mas Fandi tersenyum padaku. Astaga dia tampan sekali. Ah apa yang aku pikirkan, aku masih sah istri orang sampai palu hakim diketuk.
Mas Fandi mengeluarkan sebuah bungkusan berisi bahan makanan untuk aku masak. Dia juga membelikanku makanan di sebuah restoran tadi.
"Ini, An. Makanlah," ujar Mas Fandi.
Aku mengangguk dan berterima kasih padanya. Setelah itu Mas Fandi pun pamit pulang.
Selesai makan, aku langsung beristirahat di ranjang kamar rumah itu. Rasanya sangat nyaman. Aku kira aku akan tidur di emperan toko malam ini. Aku menyeka air mataku. Sekilas aku mengingat betapa pahitnya hidupku. Sudah tidak punya siapa-siapa, malah menjanda pula.
__ADS_1