
"Iya, Sayang. Mama Sinta mau minta maaf sama kamu. Dia janji nggak akan ngulangin perbuatannya lagi. Kamu mau maafin, kan?" tanyaku lagi ingin segera mendapatkan jawabannya.
"Dinda nggak bisa, Ma, Pa," ucapnya yang langsung membuat aku dan Mas Fandi terkejut.
"Bukannya tadi Dinda bilang kalau Dinda pemaaf?"
"Iya, tapi Dinda nggak mau tinggal sama Mama Sinta lagi. Dinda takut. Dinda maunya tinggal sama Mama dan Papa." Kini dia menjatuhkan dirinya ke pelukanku. Aku pun memangkunya dan mengusap kepalanya dengan lembut. Sesekali aku mencium keningnya dan menariknya lebih dalam ke pelukanku.
Samar-samar ku lihat Mas Fandi tersenyum melihat bagaimana perlakuanku pada Dinda. Sepertinya dia senang karena aku begitu mencintai Dinda tanpa syarat.
"Sayang, kamu nggak perlu tinggal sama Mama Sinta setelah memaafkannya. Mana mungkin Mama membiarkan putri kesayangan Mama tinggal sama orang lain. Kita sudah bahagia di sini." Aku memberi pengertian pada Dinda. Pantas saja dia tidak mau memaafkan Sinta. Rupanya dia takut jika harus kembali tinggal dengan Sinta lagi. Tidak mungkin aku membiarkan itu terjadi. Dinda hanyalah milik kami. Selamanya dia akan tetap menjadi anakku.
__ADS_1
"Oh, jadi Dinda nggak akan tinggal sama Mama Sinta, ya, Ma?" tanyanya lagi.
"Iya, Sayang. Kamu hanya perlu memaafkannya saja." Mas Fandi menambahkan.
"Ya udah, Dinda mau, Pa, Ma."
Aku dan Mas Fandi pun tersenyum senang mendengar jawaban Dinda. Sinta akan pergi setelah bertemu dengan Dinda. Makanya, ketika Dinda memutuskan untuk memaafkan dirinya, kami merasa sangat senang.
"Tapi ada Mama dan Papa, kan?" tanya Dinda ragu. Dia masih saja takut kami tidak ikut bersamanya.
"Iya, Sayang, Mama dan Papa juga ada bersama kamu. Kamu mau, kan?" Kini giliran aku bertanya untuk memastikan.
__ADS_1
"Iya, Ma, Dinda mau. Yang penting ada Mama dan Papa." Dia memeluk kami secara bergantian. Menunjukkan betapa sayangnya dia pada kami.
Setelahnya, kami pun menemani Dinda menggambar lukisan foto kami. Gadis kecilku ini sangat berbakat. Foto kami sangat cantik dan bagus.
"Sayang, kamu mau bercerita bagaimana di sekolah nanti? Coba praktekkan," ucapku ingin mendengar dia menceritakan kisah kami.
Dinda pun berdiri di depan kami, lalu membuka gambarnya dan menunjukkan pada kami yang seakan-akan adalah teman-teman sekelasnya.
"Namaku Dinda, aku memiliki kedua orang tua yang sangat sayang padaku. Papaku namanya Papa Fandi. Dia sangat baik, ganteng, keren, dan suka bekerja keras. Papa selalu membelikan apa yang aku inginkan. Papa juga sering bilang kalau aku adalah gadis kecilnya yang sangat cantik. Mamaku namanya Mama Ana. Aku sangat menyayanginya. Mama sangat cantik dan pintar masak. Mama juga perhatian dan sayang padaku. Aku bersyukur memiliki keluarga terbaik di dunia ini. Aku sayang papa dan mama."
Setelah Dinda membaca semuanya, aku pun menyeka sudut mataku yang basah. Aku sangat terharu dengan ceritanya pada teman-temannya. Dia bahkan tak mengingat bahwa aku adalah mama tirinya. Baginya, hanya akulah mama yang terbaik untuknya.
__ADS_1
Aku dan Mas Fandi pun bertepuk tangan. Kami sangat mengapresiasi kerja keras Dinda. Meski selama ini dia telah menderita, namun dia tetap menjadi anak yang kuat dan ceria. Beruntungnya aku bisa bertemu dengannya. Anak yang telah membawaku pada kebahagiaan bersama Mas Fandi juga.