Anak Suamiku

Anak Suamiku
Pernyataan Cinta


__ADS_3

[POV ANA]


Aku baru saja selesai bekerja. Rasanya hari ini sangat lelah. Banyak sekali pelanggan di cafe ini. Untung saja besok aku libur bekerja jadi aku bisa istirahat.


Aku mengemudikan motorku menerobos hiruk pikuknya perkotaan yang ramai kendaraan juga orang yang lalu lalang mencari angkutan atau sekadar berjalan-jalan sore. Beberapa kali aku terkena macet dan membuat perjalanan semakin lama.


Hingga saat matahari hampir terbenam, aku baru sampai rumah. Untung saja aku sudah melaksanakan shalat Ashar di cafe tadi. Aku memasukkan motorku ke dalam ruang tamu kontrakanku. Lalu pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Setelah itu aku melaksanakan shalat maghrib tepat setelah Adzan berkumandang. Jika mendengar suara adzan, aku jadi teringat suara Muazin di masjid malam itu. Suara itu begitu merdu dan menenangkan hati. Ingin sekali aku mendengarnya lagi.


Aku sedang memilah bahan-bahan di kulkas untuk makan malamku. Aku sedang ingin makan pasta. Aku mulai mengolah bumbu-bumbu dan mulai memasaknya.


Masakanku selesai saat adzan Isya berkumandang. Aku melaksanakan shalat isya terlebih dahulu kemudian pergi ke meja makan untuk menikmati pasta buatanku.


Baru saja aku ingin menyendokkan pasta ke mulut, suara ketukan pintu terdengar. Aku bergegas ke depan dan membuka pintu. Aku sudah tau siapa yang datang. Dan benar saja, saat aku membuka pintu, Mas Fandi sudah berdiri dengan senyuman lebar dan sebungkus makanan di tangannya.


"Masuk, Mas." Aku mempersilakan Mas Fandi untuk masuk ke dalam.


Mas Fandi mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam. "Kamu udah makan?"


"Baru aja mau makan, Mas." Aku membimbing Mas Fandi ke meja makan.


"Kamu masak pasta? Masih ada nggak?" tanya Mas Fandi.


"Ada kok, Mas. Kamu mau?" tanyaku.


"Iya, An," jawab Mas Fandi antusias.


Aku menyajikan sepiring pasta untuknya. Dengan cepat ia melahap makanan itu.

__ADS_1


"Kamu bawa makanan kok malah makan yang lain, Mas?"


"Ya mau gimana? Siapa yang bisa nolak makanan lezat di depan mata," ucap Mas Fandi di sela kunyahannya.


"Dasar kamu ini." Aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.


Selesai menyantap pasta, Mas Fandi membuka bungkusan makanan yang berupa ayam goreng dan memakannya. Tak lupa ia juga menawariku. Aku menolak. Aku takut tubuhku jadi segemuk dulu. Susah payah aku diet hingga mendapatkan tubuh ideal ini, mana mau aku melebarkannya lagi.


"Kamu takut gendut?" tanya Mas Fandi.


"Menurut kamu?"


"Ya, kamu takut gendut."


"Wajar dong kalau ada perempuan takut gendut lagi."


"Mau kamu gendut atau engga aku tetap suka kok," ucap Mas Fandi yang masih asyik mengunyah ayam goreng itu.


"Eh, anu...itu...." Mas Fandi terlihat salah tingkah. Ku lihat ia menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"An, kapan kamu resmi bercerai dengan mantan suamimu?" Mas Fandi menatap serius kepadaku.


"Sebenarnya, hari ini aku udah menerima surat cerai, Mas," jawabku ragu.


"Yesss!!!" Mas Fandi kegirangan.


"Kenapa, Mas?"

__ADS_1


"An, sebenarnya, aku......mencintai kamu." Mas Fandi memegang erat tanganku dan menatapku dengan serius.


Aku terkejut mendengarnya. Mas Fandi yang tampan dan punya segalanya jatuh cinta padaku?


"Mas, kamu bercanda kan?"


"Nggak, An. Aku serius. Sebenarnya sejak pertama kali aku ketemu kamu dalam kecelakaan itu aku udah jatuh cinta sama kamu."


Aku menatap lekat dua mata indah yang menghiasi ketampanannya. Apa benar orang sehebat dia jatuh cinta padaku?


"An." Mas Fandi membuyarkan lamunanku.


Aku terkesiap. Aku sangat senang mendengarnya. Aku juga mencintainya. Disaat aku terpuruk sendiri, hanya dia yang ada disamping ku. Menghiburku hingga memberikanku pekerjaan. Namun alu teringat akan sesuatu. Yaitu kekurangan yang membuat Mas Hadi menceraikanku. Apa pantas aku bersamanya? Aku ini mandul. Apa yang bisa aku berikan padanya. Ku lepaskan tanganku dari genggamannya secara perlahan dan menatapnya penuh keraguan.


"Maaf, aku nggak bisa, Mas," ucapku pelan.


"Kenapa? Oh soal masa Iddah? Aku bisa menunggu kamu tiga bulan lagi, An. Aku masih sabar kok." Mas Fandi mencoba meyakinkan ku.


"Bukan itu, Mas. Aku nggak bisa nerima perasaan kamu. Aku nggak pantas buat kamu." Aku menunduk sedih.


"Nggak pantes gimana?" Mas Fandi terlihat keheranan.


"Udahlah, Mas. Aku nggak bisa sama kamu. Lebih baik kamu pergi. Tolong lupakan kejadian malam ini."


"An." Mas Fandi menatapku penuh tanya.


"Pergi, Mas." Aku menitihkan air mataku. Aku tak kuasa melihat wajah Mas Fandi yang sedang kecewa. Bagaimana aku bisa menyakiti pria sebaik dia? Tapi tidak, dia harus mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.

__ADS_1


Mas Fandi akhirnya pulang. Namun sebelum itu, ia berpesan padaku. "Aku nggak akan menyerah, An. Aku akan menunggu kamu meski itu butuh waktu lama."


Kemudian, Mas Fandi pergi dengan mobilnya. Aku kembali masuk ke dalam rumah. Aku menangis mengingat kejadian barusan. Aku baru saja melakukan kesalahan besar. Namun itu yang terbaik, dengan begitu, Mas Fandi tidak akan terikat dengan wanita tak berguna sepertiku.


__ADS_2