
Sudah seminggu sejak kejadian itu, Dinda terus saja menghindariku. Ia terus diantar jemput oleh Sinta. Namun masih saja ku lihat raut wajah yang tidak bahagia di wajah Dinda. Ada apa? Sinta sudah membagi waktu untuk mengantar jemput dirinya, apa yang kurang? Apa karena Sinta masih kejam padanya? Sial, aku tidak bisa menjangkau Dinda sehingga aku tidak tau apa yang Sinta lakukan padanya.
Namun hari ini aku bertekad untuk menjebak Sinta. Aku akan membuktikan pada mas Hadi bahwa Sinta bukanlah ibu yang baik. Ia sama sekali tidak menyayangi Dinda. Ya, aku akan mengendap di kamar Dinda dan merekam semua perbuatannya.
Ku lihat jam sudah menunjukkan waktu Dinda pulang sekolah. Aku segera memasuki kamarnya dan bersembunyi di balik lemari pakaian dengan kamera perekam. Aku akan menjebak mu Sinta. Lihat saja!
Sepuluh menit kemudian, terdengar suara langkah kaki datang mendekat. Pasti itu adalah Sinta dan Dinda.
Tak berselang lama, suara langkah kaki sudah berada di dalam kamar Dinda. Aku mengintip dari balik lemari. Benar, mereka adalah Sinta dan Dinda. Aku mulai merekam mereka.
"Dinda, bilangin sama temen kamu jangan sekali lagi menghina mama. Kamu ini gimana sih, kok diem aja diejek begitu. Kamu suka mama dipermalukan?" Sinta berteriak di depan wajah Dinda yang kini sangat ketakutan.
"Maafin Dinda, Ma." Hanya itu yang bisa Dinda ucapkan.
"Maaf, maaf. Kamu tau nggak mama malu banget tadi. Mana orang tuanya diem aja. Kalau nggak banyak orang udah mama tampar mukanya!"
Dinda masih menunduk dan kini air matanya membasahi pipinya.
"Kenapa nangis? Diem nggak? Mau mama pukul?" Sinta siap melayangkan tamparannya ke wajah Dinda. Namun aku langsung keluar dan menahan agar tangan wanita sialan itu tidak menyentuh pipi Dinda.
"Kamu!" Sinta berteriak. Dia terkejut melihat aku ada di dalam kamar Dinda dan menyaksikan semuanya.
__ADS_1
"Jadi begini kelakuan kamu sama Dinda ya. Aku akan lapor mas Hadi!" Aku hendak pergi keluar namun Sinta menahanku.
"Mau kemana kamu. Siniin kameranya!" Sinta berusaha merebut kamera itu dariku.
"Lepasin!" Aku berusaha lepas dari cengkraman tangan Sinta. Hingga tanpa sadar, tanganku yang baru terlepas dari Sinta langsung melayang ke wajah Dinda dan membuatnya terjatuh dengan kepala yang membentur sudut nakas.
"Aaaaa." Dinda memekik kesakitan lalu pingsan.
Aku dan Sinta panik melihat hal itu. Sinta langsung membawa Dinda tanpa memperbolehkan aku membantunya.
Aku mengikuti mobil Sinta yang sedang membawa Dinda menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Dinda langsung ditangani oleh tim medis.
Sinta menunggu di luar ruang UDG. Aku datang menghampirinya namun ia tidak mengusirku. Dia malah terus memangis meratap seperti anaknya sudah kehilangan nyawa saja.
Satu jam kemudian dokter pun keluar. Dia memberitahukan bahwa Dinda baik-baik saja. Luka kecil dikepalanya tidak menyebabkan pendarahan atau gegar otak.
Setelah Dinda di pindahkan ke ruang rawat, aku, mas Hadi dan Sinta menemaninya.
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan? Mana yang sakit?" tanya mas Hadi sambil mengusap pelan rambut Dinda.
"Dinda nggak apa-apa, Pa. Kepala Dinda pusing."
__ADS_1
Mas Hadi beralih ke Sinta dan aku. "Sin, kenapa bisa jadi begini?" tanyanya.
"Ini semua karena mbak Anak, mas. Dia diam-diam menyelinap ke kamar Dinda," ucap Sinta.
Mas Hadi beralih menatapku. "Apa benar, An?"
"Kamu harus lihat ini, mas." Aku menunjukkan rekaman video saat Sinta hendak menampar Dinda.
"Aku mau melaporkan hal ini sama kamu, tapi dia nahan tangan aku dan begitu lepas tangan aku nggak sengaja nampol Wajah Dinda," jelasku.
Aku tersenyum sedikit. Aku yakin mas Hadi pasti marah pada Sinta.
"Kamu nggak bisa dong masuk kamar orang tanpa izin. Alasan Sinta marah karena dia merasa dipermalukan sama teman Dinda. Atau jangan-jangan selama kamu antar jemput Dinda kamu selalu biarin temen-temennya ngeroyok Dinda? Kamu sengaja ya mau bikin nama Sinta jelek?"
Apa? Aku tidak menyangka mas Hadi akan mengatakan hal ini. Dia membenarkan sikap Sinta tapi malah menyalahkanku? Dimana matanya? Sudah buta kah?
"Iya mas, mas anak-anak itu bilang kalau aku pelakor. Siapa yang ngasih tau kalau bukan Mbak Ana?" Sinta menangis dan bermanja ria dipelukan mas Hadi. Huh ingin rasanya aku menarik rambutnya hingga botak.
"Mas, itu nggak bener. Kamu jangan nuduh aku sembarangan kalau nggak ada bukti. Aku ada bukti Sinta mau mukul Dinda tapi kamu diem? Kamu pilih kasih mas!" ucapku kesal.
"Diam kamu, An. Apa sih bisa kamu? Masih syukur aku masih mau nerima kamu. Udah mandul, kerjanya cari masalah melulu. Berguna dikit kenapa sih jadi istri!"
__ADS_1
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Tega-teganya mas Hadi mengatakan kalimat itu padaku. Hatiku rasanya hancur mendengar itu semua. Dia mengaku bahkan di depan istri keduanya dan anaknya.
"Tega kamu mas!" Aku segera keluar dari ruangan itu. Sepanjang berjalan, air mataku terus mengalir. Ucapan mas Hadi selalu terngiang-ngiang ditelingaku. Aku segera melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku berteriak kencang di dalam mobil. Air mataku semakin mengalir deras bersama laju mobil yang semakin kencang.