Anak Suamiku

Anak Suamiku
Masa Lalu


__ADS_3

[POV AUTHOR]


Sudah tiga hari Ana bolak balik dari rumah sakit ke tempat kerja. Setiap hari ia bekerja dan ketika pulang, ia akan langsung ke rumah sakit untuk menemani Fandi yang masih terbaring koma. Kini rumah sakit seolah menjadi rumah kedua untuknya. Sesekali ia akan pulang ke rumah namun hanya untuk mencuci pakaian kotornya dan mengambil yang bersih.


Ana baru saja pulang bekerja. Ia langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Fandi. Sesampainya disana, ia terkejut melihat banyak rekan kerja Fandi yang melihat keadaannya. Ana tidak berani mendekat. Ia hanya akan memperburuk suasana jika rekan kerja Fandi tau bahwa Fandi dijaga oleh dirinya. Ia masih merasa belum pantas berada disamping Fandi.


Maka ia putuskan untuk menunggu semua teman-temannya pulang.


Setelah semua telah pergi, barulah Ana masuk ke ruangan Fandi. "Apa-apaan mereka. Mas Fandi kan masih koma. Kenapa malah seenaknya masuk dan membuat ruangan ini nggak steril lagi," gerutu Ana.


Tak berselang lama, dokter pun datang. "Maaf mengganggu, Mbak. Kami harus memindahkan pak Fandi ke ruang rawat."


"Loh kok ke ruang rawat dok? Kan masih koma." Menunjuk Fandi. "Loh, alat deteksi jantungnya mana dok?" Ana merasa bingung.


"Beliau sudah menjalani operasi siang tadi," sahut sang dokter.


"Apa? Kok nggak ada yang kasih tau saya?"


"Apa ini hp Mbak?" tanya dokter.


"Eh iya, ketinggalan ya. Terus yang saya bawa hp siapa ya?" Mergo tasnya dan mengeluarkan sebuah hp. "Ternyata Hp Mas Fandi. Saya salah bawa dok." Ana merasa malu.


"Jadi orang-orang yang tadi menjenguk karena Mas Fandi udah sadar ya dok? Kok sekarang malah tidur?" tanya Ana sambil memandangi Fandi yang masih terlelap. Bahkan Ia juga tidak memperhatikan perban di kepala Fandi sudah diganti.


"Enggak kok. Tuh lagi ngintipin kamu dari tadi." Dokter menunjuk Fandi yang sesekali membuka mata untuk melirik Ana.


"Hah?" Ana menoleh melihat Fandi yang sedang tersenyum ke arahnya. Ia menghampiri Fandi dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Kalau kamu nggak lagi sakit, udah aku cubit kamu!" Ana melotot ke arah Fandi.


"Udah Mbak, nanti aja berantemnya. Sekarang Pak Fandi akan dipindahkan ke ruang rawat," ujar sang dokter.


Fandi pun dipindahkan ke ruang rawat. Di sana, Ana terus ngedumel karena Fandi telah mengerjainya.


"Udah dong, An. Kan aku udah minta maaf."


"Ya tapi nggak lucu, aku kan pengennya kamu sadar waktu aku disamping kamu."


"Ya udah aku koma lagi ya, nanti aku bangun disamping kamu. Gimana?"


"Nggak lucu!" Ana berbalik membelakangi Fandi.


"An."


"An."


Masih belum menoleh.


"Ana."


Kali ini Ana berbalik dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia duduk disamping ranjang Fandi. "Maafkan aku, Mas. Karena aku kamu jadi kayak gini."


"Aku yang salah karena terlalu terbawa emosi pada malam itu."


"Aku senang kamu selamat." Ana tersenyum lembut.

__ADS_1


"Apa yang membuat kamu berkata kamu nggak pantas? Kamu bukan transgender kan?" Fandi melihat penuh selidik.


"Enak aja. Aku perempuan tulen tau!" Ana mendengkus kesal.


"Hehehe maaf. Tapi aku masih penasaran, An. Bagiku kamu adalah wanita paling sempurna."


Ana terdiam cukup lama. Sekuat mungkin ia mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur.


"Hal itu adalah penyebab aku bercerai dengan suamiku." Ana meremas ujung bajunya. Ketakutannya semakin besar kala ingin mengatakan kebenaran itu.


"Katakan, An." Fandi semakin penasaran.


"Aku nggak bisa memberikan suamiku anak. Hingga akhirnya ia menikah siri dan membohongiku selama lima tahun." Air mata Ana semakin mengalir deras.


"Hanya itu?" tanya Fandi.


Ana mendongakkan kepalanya. "Hanya itu?" tatapannya seperti orang terkejut.


"Ya, kenapa kalau kamu nggak bisa memberikan anak? Kita bisa adopsi anak dari panti asuhan."


"Nggak semudah itu, Mas. Darah lebih kental dari air. Awalnya juga mantan suamiku berkata demikian. Namun, lama-kelamaan ia sadar akan pentingnya anak kandung hingga akhirnya ia menghianatiku lalu menceraikanku." Ana mengigit bibir bawahnya. Lagi-lagi ia harus teringat masa kelamnya bersama Hadi.


"Aku juga punya masa lalu kelam, An." Fandi menatap Ana dengan serius.


"Masa kelam bagaimana, Mas?"


"Istriku meninggalkanku saat ia hamil. Dan sembilan bulan kemudian, aku menerima surat cerainya. Dan alasan ia meninggalkanku adalah karena nggak mau hidup susah. Dulu hidupku nggak seperti ini. Ya, kamu taulah, dengan kerja keras semua bisa terpenuhi."

__ADS_1


Ana terdiam. Ia tidak menyangka masa lalu Fandi lebih kelam darinya. "Mas, maafkan aku. Seharusnya aku nggak membuat kamu mengungkit masa lalu kamu."


__ADS_2