Anak Suamiku

Anak Suamiku
Pujian


__ADS_3

Sore hari pun tiba. Cafe kami tutup lebih awal karena stok bahan makanan telah habis. Semua bertepuk tangan untukku.


"Wah, Mbak Ana hebat. Baru sehari cafe ini udah rame lagi."


"Nggak kok, ini semua berkat kerja keras kalian semua."


"Kalau aja dari dulu Mbak Ana datang, pasti kita nggak akan terancam kena PHK."


"Udah, udah. Yang penting kita harus tetap semangat memajukan cafe ini. Kalian bantu promosikan ya. Aku juga mau coba cari menu baru untuk cafe ini." Aku berusaha menyudahi pembicaraan yang memikirkan Vivi. Dapat ku lihat jelas raut wajah kesalnya saat mendengar mereka memujiku.


*****


Aku berjalan ke terminal untuk menunggu angkutan umum lewat. Namun, sebuah mobil yang aku kenal berhenti tepat di depan aku berdiri. Mas Fandi turun dan meminta ku masuk ke dalam mobil.


Aku berusaha menolak namun Mas Fandi tetap memaksa. "Ayo, An. Nanti keburu mobilku diderek karena parkir sembarangan." 


Aku pun mengalah dan masuk ke dalam mobilya.

__ADS_1


"Mas kok tau aku lagi nunggu angkutan umum?" tanyaku penuh selidik.


"Tadi aku tanya sama karyawan cafe. Katanya kamu naik angkot."


"Harusnya kamu nggak usah repot-repot, Mas."


"Aku nggak merasa direpotkan. Malah aku seneng banget, hari ini cafe aku kembali ramai lagi. Kamu memang dewi keberuntungan yang dikirim Allah buat aku. Eh maksudnya buat cafe aku." Mas Fandi cengengesan.


"Itu karena kerja keras karyawan kamu Mas. Mereka rajin banget."


"Kamu juga punya andil terbesar, An. Masakan kamu memang nggak ada duanya." Mas Fandi berdecak kagum. Aku sampai malu dibuatnya. Namun cepat aku tersadar siapa aku dan siapa Mas Fandi.


"Loh kenapa, An? Nggak apa-apa dong. Kamu sendiri, aku juga sendiri."


"Nggak, Mas. Maaf aku nggak bilang dari awal. Sebenarnya aku masih sah istri orang." Aku mencoba berbicara jujur.


Mas Fandi terlihat terkejut mendengarnya. Air mukanya berubah kecewa. Apa ini? Apa dia menyukaiku?

__ADS_1


"Maaf, An." Mas Fandi berbicara dengan suara pelan dan tidak bersemangat. "Suami kamu dimana?" sambungnya.


"Di rumahnya. Kami sedang menjalani proses perceraian."


Seketika wajah Mas Fandi terlihat berseri-seri. "Oh, udah mau cerai? Bagus dong. Eh, maksudnya emmm kamu jadi nggak sakit hati lagi kan?" Mas Fandi salah tingkah setelah mengucapkan kalimat tersebut.


"Begitu lah, Mas. Jadi aku harap kita bisa menjaga jarak sampai aku bercerai. Aku tidak ingin mantan suamiku nanti menuduhku yang tidak-tidak."


"Iya, An. Mulai sekarang aku nggak akan antar jemput kamu. Besok pagi, aku akan kirimin motor buat kamu. Kamu bisa naik motor kan?"


"Eh, jangan Mas. Ngere...."


"Nggak ngerepotin kok. Kamu bisa cicil seratus ribu perbulan."


"Hah? Seratus ribu? Lunasnya tiga puluh tahun dong, Mas." Aku ternganga mendengar ucapan Mas Fandi.


"Udah deh, yang penting kan nyicil. Kamu nggak mau dikasi yang aku kreditin segitu."

__ADS_1


Aku tertawa sambil gelang-geleng kepala. Mas Fandi terlalu baik padaku. Apa dia memang orang yang sengaja dikirim Allah untuk menolongku? Aku sangat bersyukur. Lepas dari belenggu mas Hadi dan bertemu dengan Mas Fandi yang sangat baik. Dan sepertinya Mas Hadi salah, aku bukanlah wanita pembawa sial seperti yang ia tuduhkan.


__ADS_2