
Hari ini aku bertugas untuk menjemput Dinda karena Mas Fandi sedang ada meeting penting. Kebetulan waktu pulang hanya tersisa sepuluh menit lagi. Sambil menunggu Dinda pulang, akupun menyempatkan waktu untuk duduk bersama ibu-ibu yang lain. Mereka jika terlihat sedang menunggu anak mereka yang sedang berada di dalam sekolah.
Sekolah ini memiliki tempat khusus menunggu. Jadi, kami tidak perlu mencari tempat lain untuk menunggu anak-anak kami pulang. Aku duduk bersama dua ibu muda yang usianya kemungkinan lebih tua tiga atau empat tahun dariku.
"Ibu anaknya kelas berapa?" tanya ibu yang berbaju kuning. Wajahnya terlihat sangat ramah dan mudah senyum, namanya adalah Novi. Sedangkan yang satu lagi seorang wanita berhijab dan berkacamata yang sangat cantik bernama Hafizah.
"Anak saya kelas satu, Bu," ucapku malu-malu.
"Wah, Ibu sepertinya sangat pintar mengurus badan, ya. Meskipun sudah punya anak tapi badannya tetap langsing."
__ADS_1
Hah? Jadi itu yang mereka pikirkan tentangku? Astaga, ingin sekali aku tertawa karena yang mereka pikirkan sama sekali tidak benar. Aku belum pernah dikaruniai anak karena tipu daya seseorang. Ah, aku jadi mengingat kesalahan Sinta lagi. Maafkan aku, Sin.
"Heheh, nggak, Bu. Malah kalian sangat terlihat cantik walaupun sudah memiliki anak yang sudah besar." Hanya itulah yang bisa aku ucapkan. Mana mungkin aku mengatakan pada mereka bahwa aku adalah ibu tiri Dinda. Rasanya terkesan tak mau menganggapnya sebagai anak sendiri.
"Eh, ibu-ibu pada ngumpul mau jemput anak ya," ucap seorang wanita yang sangat tak asing bagiku. Dia adalah Mala, mantan pacarnya Mas Fandi yang beberapa waktu lalu kami lihat di mall. Dia menghina cara makan Dinda dan menyebutku sebagai ibu yang tidak becus. Aduh, mengapa dia ada di sini? Pasti mulutnya tak akan bisa diam.
"Bu Mala, baru datang?" tanya Novi dengan senyuman ramahnya.
"Eh, ada mamanya Dinda. Udah lama, Bu?" tanyanya pura-pura ramah padaku.
__ADS_1
"Sudah," jawabku seadanya.
"Dinda beruntung ya dapat ibu tiri seperti Bu Ana," ucapnya yang langsung membuat Novi dan Hafizah terkejut.
"Lho, Bu Ana ibu tirinya Dinda? Saya kira ibu kandungnya," ucap Novi.
"Heheh, iya, Bu. Saya ibu tirinya Dinda."
"Wah, beruntung banget ya jadi Dinda punya ibu tiri yang sangat sayang sama dia," ucap Hafizah yang membuatku terkejut. Mengapa dia malah memujiku? Bukankah harusnya mereka marah karena seperti dibohongi olehku yang tak jujur sejak awal bahwa aku adalah ibu tiri Dinda.
__ADS_1
"Iya, beruntung banget Dinda punya ibu tiri kayak Bu Ana. Udah sayang, perhatian, bahkan orang-orang nggak nyangka kalau kalian itu bukan anak dan ibu kandung. Itu karena kalian terlihat sangat dekat bahkan melebihi itu. Saya selalu salut dengan orang-orang seperti Bu Ana yang tak begitu mencintai anak meski bukan darah daging sendiri."
Aku tersipu malu mendengar pujian seperti itu. Aku pun melirik Mala yang terlihat sangat kesal. Hahaha, dia yang mulai, dia pula yang kesal.