
Laju mobilku semakin kencang. Hingga tanpa ku sadari aku sudah berada di jalanan sepi. Aku tak peduli dengan sempit dan kecilnya jalan itu. Hati dan pikiranku tengah dikuasai emosi yang membara.
Namun tiba-tiba, tanpa kusadari sebuah mobil datang dari arah berlawanan. Aku terkejut lalu membanting stir ke sebelah kiri dan Brakkk. Mobilku menabrak sebuah pohon besar. Beruntung aku sempat mengerem sehingga mobilku tidak menghantam pohon terlalu kuat dan aku masih selamat. Hanya mengalami cidera kecil di kepalaku.
Aku membuka pintu mobil dan berjalan sempoyongan sambil memegangi kepalaku yang terluka. Benturan itu membuat kepalaku pusing.
Seseorang menghampiriku dan menanyakan keadaanku. "Mbak? Apa kamu baik-baik aja?"
Dia adalah seorang pria. Dengan setelan jas yang rapi dan wajah tampan . Jika diamati, dia seperti seorang bos perusahaan.
"Nggak apa-apa, Mas," jawabku.
"Maafkan saya ya mbak."
"Nggak mas ini bukan salah kamu. Ini salah saya karena nggak terlalu memperhatikan jalan."
"Mbak, kamu terluka. Ayo saya antar ke rumah sakit. Nanti mobil kamu saya panggilin orang bengkel aja," tawar pria itu.
"Nggak usah mas. Saya bisa sendiri." Aku menolak secara halus.
"Jalanan ini sepi mbak. Nggak akan ada taxi lewat. Saya janji nggak akan berbuat macam-macam. Saya cuma mau menolong aja."
Pria itu tetap memaksa. Namun aku tidak melihat hal mencurigakan pada dirinya. Aku mengangguk pelan.
Kami pun pergi ke klinik terdekat. Aku tidak ingin ke rumah sakit. Lukaku tidak terlalu parah.
Setelah diobati, aku keluar menemui pria itu. "Makasih ya. Sekarang aku udah di obati. Kamu udah bisa pulang," ucapku.
"Ya udah aku anterin ya," tawarnya.
__ADS_1
"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri. Lagian nggak enak dilihat orang," tolakku.
"Ya udah. Ini alamat bengkel mobil kamu." menyerahkan sebuah kertas berisi alamat bengkel mobil. "Oh ya namaku Fandi." Pria itu mengulurkan tangannya.
"Aku Ana." Ku balas jabat tangannya.
Setelah itu dia pun pergi. Aku berjalan di koridor rumah sakit. Aku menyetop taxi dan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku melihat mobil mas Hadi sudah ada di rumah. Aku berjalan pelan memasuki rumah.
"Darimana aja kamu?"
Suara mas Hadi terdengar tak jauh dari posisiku berdiri.
"Aku...habis kecelakaan, Mas. Kamu nggak lihat kepalaku di perban?"
Mas Hadi memperhatikan kepalaku. "Terus mobil gimana?"
"Di bengkel, Mas."
"Kamu ini gimana sih. Taunya bikin rugi orang aja. Kamu tau kan harga mobil itu mahal. Tapi malah kamu rusak. Sekarang aku jadi rugi banyak. Biaya rumah sakit Dinda, mobil, itu semua karena kamu. Nggak berguna banget sih jadi istri! Taunya nyusahin doang. Kalau tau gini dari dulu kamu aku tinggalin aja!" Mas Hadi berbicara dengan penuh emosi.
"Mas, kok kamu tega banget sih ngomong gitu. Jadi mobil lebih penting dari aku? Aku terluka mas!"
"Halah luka kecil kamu itu nggak ada apa-apanya dibanding kerugian yang aku alami! Dasar kamu istri pembawa sial!"
Deg, apa katanya? Istri pembawa Sial? Tega sekali dia mengatakan hal itu.
"Tega kamu, Mas. Mana janji kamu untuk tetap mencintai aku?"
__ADS_1
"Cinta? Aku akan tetap cinta sama kamu kalau kamu nggak selalu buat musibah di rumah ini. Kamu tiru Sinta. Dia bisa ngasih aku anak, dia kerja, dia cantik, nggak kayak kamu. Liat kamu aja aku nggak selera. Bau dapur, keringat, nggak berpendidikan, mandul lagi. Jadi jijik aku sama kamu!" Mas Hadi melihatku dengan tatapan jijik.
"Cukup, mas! Aku udah nggak kuat lagi! Lebih baik kita cerai saja!" teriakku padanya.
"Oh cerai? Oke! Kita cerai. Sekarang kamu pergi dari rumah ini! Dasar wanita nggak tau diri, pembawa sial, mandul!" Mas Hadi balik meneriakiku dengan tatapan kebencian.
Aku pergi ke kamar ku dan mengambil semua bajuku lalu memasukkannya ke koper. Sambil menangis, aku memungut semua barang milikku. Setelah siap, aku menyeret koperku menuju pintu luar.
Mas Hadi masih berdiri di tempat nya. Saat aku hendak melangkah keluar dari pintu utama, mas Hadi memanggilku.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku mau memastikan kalau kamu nggak mencuri barang berharga di rumah ini."
"Silakan periksa koperku supaya kamu tau kalau aku nggak sudih bawa benda berharga mu."
Mas Hadi memeriksa koperku dan melihat tidak ada benda berharganya yang aku bawa.
"Mana dompet, ATM, kartu kredit, dan Hp kamu?"
"Jangan kamu pikir aku akan bawa itu semua. Kamu periksa aja laci nakas. Kalau udah selesai aku mau pergi."
"Ya udah. Tapi ingat. Jangan pernah berpikir aku akan menemui kamu dan jangan hambat sidang perceraian kita!"
Aku melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Bisa-bisanya dia berpikir aku akan mengemis padanya. Aku berusaha menahan air mataku agar tidak tumpah.
"Sampaikan maafku pada Dinda."
"Haha akhirnya kamu mengaku juga!"
__ADS_1
"Katakan padanya aku minta maaf karena tidak bisa menyelamatkannya dari orang tua seburuk kalian!"
Dengan langkah perlahan aku meninggalkan mas Hadi yang terlihat sangat marah karena perkataanku tadi. Ku dengar dia masih berteriak memakiku. Dasar wanita miskin, tidak tau diri, mandul, pembawa sial, pembawa kencan, menjanjikan. Semua ucapan itu masih bisa ku dengar ditengah derap langkah ku yang semakin jauh. Air mataku mulai menetes. Pertahankan ku telah runtuh. Hatiku sangat sakit, melihat perlakuan mas Hadi padaku. Dia menghinaku habis-habisan setelah bakti yang ku berikan padang selama ini. Mungkin memang inilah takdirku. Hidup menjanda dan sebatang kara. Keluarga tidak punya, saudara apalagi. Sepertinya aku akan hidup menggelandang mulai hari ini.