Anak Suamiku

Anak Suamiku
Akhir Bahagia


__ADS_3

Semua mata pun tertuju pada Mala yang juga terlihat terkejut.


"Oh, jadi kayak gitu cara kamu didik anak kamu?" ucapku setengah melotot.


"Nggak malu, ya, Bu Mala, anaknya yang salah karena didikannya, sekarang malah ngotot." Novi juga ikut mencercanya.


"Astaghfirullah, udah ibu-ibu, jangan berantem. Sebaiknya Bu Mala minta maaf sama Bu Ana karena anak Bu Mala sudah membuat anaknya Bu Ana trauma seperti itu. Hal ini bisa dilaporkan lho, Bu. Ibu nggak takut?" ucap Hafizah berusaha membujuk Mala untuk minta maaf padaku.


"Cih, nggak sudi aku minta maaf sama dia." Mala malah membuang muka seolah sangat membenciku.

__ADS_1


"Apa karena aku istri mantan pacar yang dulu kamu putusin gara-gara miskin? Kamu marah karena aku jadi istrinya pas dia kaya?" Aku pun mengeluarkan uneg-unegku. Biar semua orang tahu siapa dia.


"Duh, Bu Mala, jadi Bu Mala mantannya papa Dinda. Ya ampun, pantes aja kayaknya sewot banget sama Bu Ana. Ya jelas dong Papa Dinda milih Bu Ana. Dia jauh diatas Bu Mala. Ya ampun, kalau saya jadi Bu Ana, pasti saya bakalan malu banget," sindir Novi. Membuatku sangat senang. Apalagi saat melihat ekspresi Mala yang kesal.


"Jaga anak kamu supaya nggak gangguin anak aku!" desisku tajam.


"Halah, anak tiri aja pake dibela!"


"Udahlah, susah ngomong sama orang sok baik! Dasar munafik!" Dengan kata-kata yang demikian menyakitkan, Mala pun pergi membawa anaknya. Aneh, bukannya meminta maaf, malah pergi begitu saja dengan sumpah serapahnya.

__ADS_1


Aku menghembuskan nafas panjang. Mencoba untuk menetralkan emosiku saat ini. Aku tidak pernah bertengkar dengan orang lain seperti ini.


Dan sejak kejadian itu, ku dengar Mala memindahkan anaknya ke sekolah lain. Bukan karena pertengkaran waktu itu, melainkan anaknya yang sangat nakal. Teman-teman Dinda sampai masuk rumah sakit karena Mitha mendorongnya saat sedang bermain hingga kepalanya mengalami pendarahan akibat terhantam batu. Sebenarnya hal itu bisa dimaafkan. Namun Mala memilih pindah karena banyak anak yang menjauhi Mitha hingga membuatnya tidak memiliki teman. Begitulah kata Dinda dan ibu-ibu yang aku temui saat menjemput Dinda.


Aku pun kini tengah hamil empat bulan. Membuat Mas Fandi dan Dinda bahagia karena kami akan segera kehadiran anggota baru.


Beberapa tahun kemudian, saat umur Dinda sudah cukup untuk menerima berita ini. Aku dan Mas Fandi pun memberitahu bahwa Sinta, ibu kandungnya sudah meninggal. Awalnya dia syok, namun, lama-lama akhirnya dia mengerti dan menerima semuanya.


Kami pun berziarah ke kampung halaman Sinta. Menemani Dinda menumpahkan segala kesedihannya di atas makam yang sudah dibangun keramiknya.

__ADS_1


Setelahnya, kami pun kembali hidup di kota dengan tenang karena sudah tak ada yang kami rahasiakan lagi dari Dinda. Bersama anak yang ku lahirkan beberapa tahun yang lalu. Dia berjenis kelamin laki-laki. Namanya adalah Daren, terpaut tujuh tahun dari usia Dinda. Dia sangat menyayangi Daren meski beda ibu. Dan yang pasti, kasih sayangku padanya takkan berubah. Kami tetap menjadi keluarga yang utuh. Saling menyayangi dan melengkapi hingga maut memisahkan. Semoga keluarga kami selalu diberi kebahagiaan hingga ajal menjemput.


TAMAT


__ADS_2