Anak Suamiku

Anak Suamiku
Terganggu


__ADS_3

Kamu bertiga telah sampai di sebuah mall besar yang menjadi rute kedua kami setelah dari wahana bermain. Dinda telah puas bermain dan mengambil foto keluarga di depan taman hiburan. Aku begitu bahagia melihat putri cantikku begitu riang gembira.


"Papa, Mama, Dinda mau makan," ujar Dinda sambil menunjuk sebuah restoran yang ada di depan kami. Aku tersenyum melihat keceriaannya. Dulu dia begitu takut untuk meminta makan pada ibu kandungnya. Sekarang dia bebas meminta apapun yang dia mau.


Kami pun segera masuk ke dalam restoran yang ada di mall itu, lalu memesan makanan. Ada beberapa makanan khas anak-anak yang Dinda pesan. Dia terlihat begitu lahap memakan makanan enak itu. Dia pasti sangat lapar karena kelelahan bermain di wahana tadi.


Saat aku dan Mas Fandi mengajaknya untuk makan, dia malah mengusulkan untuk pergi ke mall. Rupanya dia ingin makan di mall bersama orang tuanya. Ah, putri kesayanganku. Dia begitu manis.


"Pelan-pelan, Sayang," ucapku sambil mengusap pipinya yang cemong karena makanan yang tak muat masuk ke mulutnya hingga harus menempel ke pipinya.


"Iya, Sayang, pelan-pelan. Kamu sangat lapar, ya?" Mas Fandi mengusap kepala Dinda dengan lembut. Dia tersenyum melihat anaknya yang nafsu makannya sudah jauh lebih baik dibanding dulu kami baru menemukannya.


Tubuhnya sudah mulai berisi dan kulitnya juga halus karena perawatan yang selalu aku rutinitaskan untuknya setia minggu. Hanya di rumah dengan para asisten rumah tangga yang juga menyayangi dirinya.


"Aduh, ya ginilah kalau punya anak jarang diajak ke mall. Pasti ujung-ujungnya malah malu-maluin." Tiba-tiba terdengar seseorang berkata di sebelah meja kami.


Aku pun segera menoleh dan melihat seorang wanita dengan gaya sosialita sedang makan bersama dengan anak perempuannya. Dilihat dari usianya, sepertinya anak itu memiliki umur yang sama dengan Dinda. Tapi, apa maksud perkataannya tadi? Dia mengatakan bahwa Dinda jarang diajak makan ke mall?


Aku pun berusaha untuk tidak menanggapi ucapannya. Kami memutuskan untuk melanjutkan makan ditengah rasa kesalku karena Dinda dihina.

__ADS_1


Ya gitu sih, Ma. Dia kan memang kurang kasih sayang. Kasian, Ma." Anak perempuan itu pun juga ikut berkomentar. Astaga, ajaran seperti apa yang membuat anak berusia enam tahun sudah pintar berbicara seperti itu.


Memang, Dinda sudah kami masukkan ke sekolah dasar yang baru. Tapi sebelum menikah, Mas Fandi lah yang selalu menjemputnya. Lalu, apakah dia teman Dinda? Gadis kecilku itu masih asyik menikmati makanannya sehingga tak melihat ke sana-sini.


"Maaf, Bu, apa ada masalah?" Aku pun memberanikan diri untuk menegur mereka daripada mengumpat dalam hati sedari tadi.


"Nggak ada. Kamu ibu barunya, ya? Soalnya selama ini kan dia selalu diantar jemput ayahnya?" tanya Wanita itu. Tapi aneh, aku merasa bahwa dia sedang menatapku dengan tatapan sinis.


"Iya, kenapa, Bu?"


"Oh pantas saja anaknya seperti itu."


"Memangnya apa yang salah dengan anak saya?" tanyaku yang mulai merasa muak pada wanita ini.


Mas Fandi yang mendengarnya langsung menoleh ke arah wanita itu. "Maaf, kalau soal itu, rasanya anda tidak perlu mengatakannya pada kami. Kami bukanlah anak kecil yang harus diberitahu."


"Ya saya kan hanya bilang saja. Lihat, cara anak kalian makan saja seperti tidak pernah makan makanan yang ada di sini."


"Terima kasih atas perhatiannya. Anda begitu memperhatikan kami sehingga anda lupa bahwa kaus kaki anak anda terbalik." Aku pun menatap ke arah kaki anaknya yang melepas sepatu. Terlihat kaus kaki yang terbalik.

__ADS_1


Wanita itu langsung buru-buru membenarkannya. Dia menatap sinis ke arahku seolah aku baru saja membuat kaus kaki anaknya terbalik. Dia pun pergi meninggalkan tempat ini. Mungkin karena merasa malu. Aku pun langsung tertawa kecil. Namun, wajah Mas Fandi terlihat ditekuk.


"Kenapa, Mas?" tanyaku penasaran.


"Sebaiknya kamu jangan sampai bertemu dengan dia lagi."


"Memangnya dia siapa?"


"Mantan."


"Hah? Mantan pacar kamu dulu?"


"Iya. Dan selama aku antar jemput Dinda ke sekolah, dia selalu mencuri waktu untuk mendekat. Puncaknya, dia pernah meminta nomor hpku, tapi nggak aku kasih. Aku bilang kalau aku mau nikah."


"Oh pantes dia kayak sewot. Mana pake ngehina Dinda lagi. Memangnya dia janda kenapa, Mas?"


"Gak tau sih, kata orang lakinya selingkuh. Ada yang bilang dia juga selingkuh. Udahlah, nggak usah dibahas. Yang penting kamu jangan dekat-dekat sama dia."


Aku pun hanya mengangguk saja setelah mendengar nasihat darinya. Tak ada sedikitpun rasa kecemburuan apalagi takut di hatiku. Karena aku percaya bahwa Mas Fandi tidak akan pernah menghianati cinta kami.

__ADS_1


Selesai makan, kami pun langsung berjalan-jalan sambil melihat-lihat di sana. Dinda membeli sebuah boneka yang lumayan besar untuk koleksi lengkapnya. Sedangkan Mas Fandi membelikan aku kalung emas juga untuk Dinda. Kami pun berfoto di depan mall untuk bahan gambar Dinda.


Untung saja kejadian tadi tidak diketahui Dinda. Jelas saja, dia masih enam tahun. Dia takkan tahu apa yang kami bicarakan. Apalagi dia terus fokus pada makanannya.


__ADS_2