
Keesokan malamnya. Sinta pun datang dengan penampilan yang berbeda. Jika kemarin dia berpenampilan seperti gelandangan, tapi kini dia berpenampilan seperti dirinya yang dulu. Ternyata kalau didandani dia memang masih cantik.
Kami pun mempertemukannya dengan Dinda di ruang tengah. Namun, Dinda masih takut dan selalu bersembunyi di belakangku.
"Sayang, jangan begitu. Ini Mama Sinta mau ketemu," ucapku mencoba membujuk Dinda.
"Sayang, ini Mama, Nak. Ibu yang telah melahirkan kamu." Sinta tak mampu membendung air matanya saat berhasil melihat sedikit wajah Dinda.
"Dinda, jangan begitu, ya, Sayang. Bukannya Dinda itu adalah orang yang baik hati dan pemaaf?" Ucapan Mas Fandi ternyata memengaruhi Dinda. Gadis kecilku itu akhirnya mau menampakan dirinya di hadapan Sinta.
Terlihat Sinta yang tersenyum lebar ketika Dinda akhirnya mau melihat dirinya. Sinta pun segera berlutut agar tubuhnya bisa sejajar dengan Dinda. Dia menatap Dinda cukup lama sebelum akhirnya meraih gadis kecilku itu ke dalam pelukannya. Tak ada rasa cemburu sedikitpun karena bagaimanapun juga, Sinta adalah ibu kandung Dinda.
"Dinda, maafin Mama, ya, Nak. Mama sayang sama kamu," ucapnya pada Dinda dengan tatapan mata berkaca-kaca.
"Iya, Ma, Dinda maafin," ucap Dinda sambil mengangguk.
"Syukurlah kalau Dinda sudah mau memaafkan Sinta. Sebaiknya sekarang kita menuju ke ruang makan dan makan malam bersama."
Ucapan Mas Fandy pun langsung mendapatkan anggukan dari kami semua. Kami langsung menuju ke ruang makan dan makan bersama-sama layaknya sebuah keluarga yang bahagia. Aku senang karena Sinta telah banyak berubah dan menyadari kesalahannya. Dengan begini Dinda tidak akan memiliki trauma lagi.
"Oh ya, Sin, kamu tinggal di mana sekarang?" tanyaku pada Sinta.
"Mungkin aku akan kembali ke kampung saja dan bekerja sebagai buruh cuci," ucapnya lirih.
"Apa nggak sebaiknya kamu tetap tinggal di sini aja?"
"Nggak lah, Mbak. Kalau aku tetap tinggal di sini, aku mau makan apa? Aku nggak punya pekerjaan juga tempat tinggal. Lagian keinginan terakhirku untuk bertemu dengan Dinda udah terkabul. Aku bisa pulang dengan tenang." Sinta tersenyum kecil. Berusaha menutupi kesedihannya untuk mengelabui kami. Padahal, aku tahu bahwa dia masih ingin berada di kota ini. Setidaknya dia bisa sekali-kali bertemu dengan anaknya. Aku bisa melihat betapa besar rasa cintanya dari tatapan matanya pada Dinda.
__ADS_1
"Gimana kalau kamu kerja di restoranku aja. Kebetulan ada lowongan. Kamu juga akan diberikan tempat tinggal dan juga makan gratis selama bekerja."
Mas Fandi pun menawarkan pekerjaan pada Sinta. Mungkin dia juga berpikir sama sepertiku. Alangkah lebih baik jika Sinta berada di sini.
"Enggak, Mas, besok aku akan kembali ke kampung halamanku. Aku udah merasakan pahitnya kehidupan di sini. Aku pengen pulang ke tempat yang tenang."
Aku dan Mas Fandi pun hanya bisa saling melemparkan pandangan. Ternyata Sinta benar-benar menepati janjinya. Dia memang ingin bertemu dengan Dinda dan meminta maaf sebelum pulang ke kampung halamannya. Tapi, aku merasa sedikit merinding dengan kalimat yang sedari tadi dia ucapkan. Seperti seseorang yang hendak meninggalkan dunia ini sehingga memiliki permintaan terakhir. Ah, tapi aku yakin itu hanya pikiranku saja. Mana mungkin dia meninggalkan dunia ini. Dia kan masih sangat sehat, dan tidak memiliki riwayat penyakit apapun.
Setelah selesai makan malam, akhirnya Sinta pun pamit. Sebelum pergi, dia kembali memeluk Dinda dan menciuminya beberapa kali.
"Maafin Mama, ya, Sayang. Mama sayang banget sama kamu," ucapnya sambil menangis.
"Iya, Ma, Mama jaga diri, ya. Dinda juga sayang sama Mama," sahut Dinda dengan tatapan berkaca-kaca.
Sinta pun segera pamit dan melambaikan tangannya sebelum menghilang dari pandangan.
"Mas, kok perasaanku nggak enak ya tentang Sinta," ucapku padanya. Aku tak bisa menahan untuk tak berbicara. Sejak perkataannya dalam makan malam tadi, aku masih terus memikirkannya dan perasaanku pun tak enak.
"Kenapa, Sayang? Kenapa sama Sinta?"
"Wajahnya tadi redup, Mas. Masih terlihat pucat walaupun memakai make up. Aku takut terjadi apa-apa sama dia setelah ini."
"Itu hanya perasaanmu aja, Sayang. Dia nggak akan kenapa-napa. Hanya karena dia pamit sama kita mau ke kampung halaman, terus kamu berpikir bahwa dia akan pergi untuk selamanya?"
"Iya, Mas, kayaknya hanya perasaan ku aja deh. Ya udah, kalau gitu mending kita tidur," ajakku.
Kami pun segera tidur dan terlelap dalam mimpi masing-masing.
__ADS_1
Namun, keesokan harinya, ternyata firasatku benar-benar terjadi.
HEADLINE NEWS. TELAH TERJADI KECELAKAAN BUS YANG MEMBAWA PENUMPANG DARI ARAH JAKARTA KE SEMARANG. DUA BELAS ORANG DINYATAKAN MENINGGAL, BERIKUT NAMA-NAMA KORBAN MENINGGAL.
Begitulah berita yang terdengar di televisi pagi ini. Diperkirakan Bus berangkat pukul lima pagi dan mengalami kecelakaan pukul delapan pagi. Dan diantara kedua belas orang yang meninggal, nama Arshinta serta foto KTPnya pun terpampang.
"Mas, Sinta, Mas!" ucapku sambil menunjuk televisi sambil menutup mulutku tak percaya.
Begitu juga dengan Mas Fandi, dia juga tak percaya Sinta meninggal dalam kecelakaan itu. Ternyata, firasat ku tadi malam benar adanya.
"Ya Allah, Mas. Seandainya Dinda nggak kita bujuk untuk mau bertemu dengannya, pasti dia nggak akan pulang ke kampung dan mengalami kecelakaan ini."
Rasa sesal pun membelenggu hatiku. Seandainya Sinta tidak bertemu dengan Dinda, pasti dia masih hidup sampai sekarang. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu melihat berita ini.
"Udah, tenang, Sayang. Ini semua bukan salah kamu. Ini semua takdir Allah. Kita nggak bisa menentangnya. Ajalnya sudah tiba." Mas Fandi berusaha untuk menenangkan aku.
"Mas, ayo kita bantu keluarganya mengurus pemakamannya. Tolong, jangan beritahu Dinda dulu. Aku takut dia malah syok, Mas."
Mas Fandi pun mengangguk. Kami segera pergi ke rumah sakit tempat di mana Sinta berada. Dia sama sekali belum dijemput keluarganya. Terpaksa Dinda kami tinggalkan. Biarlah dia bersama dengan pembantu kami. Setelah pemakaman Sinta selesai, kami secepatnya akan kembali.
Perjalanan yang menempuh jarak berjam-jam untuk sampai ke sana. Kami melihat seberapa parah jenazah Sinta hingga dia meninggal dunia. Ternyata dia duduk di belakang sopir hingga kecelakaan itu membuatnya langsung meninggal di tempat bersama sang sopir. Sedangkan penumpang yang kebanyakan selamat ada di bangku belakang. Yang kebanyakan meninggal adalah mereka yang duduk di bangku depan.
Prosesi pemakaman pun dilakukan bersama keluarga Sinta. Mereka jugak kaget dengan kepergian Sinta yang mendadak ini. Tangis haru terdengar. Mereka banyak menyalahkan diri sendiri karena tak pernah menanyakan kabar Sinta selama merantau.
Dan setelah pemakaman selesai, malam itu juga kami pulang karena aku tak tenang meninggalkan Dinda lama-lama.
Sesampainya di rumah pun aku tak mengatakan apapun padanya. Dia baru saja bertemu ibunya kemarin. Mana mungkin aku mengatakan bahwa Sinta baru saja meninggal? Nanti, ya, Nak. Ketika keadaan sudah membaik, Mama akan memberitahumu.
__ADS_1