
Dinda pulang dengan wajah yang sangat ceria. Aku bisa melihatnya melompat kegirangan bersama kertas gambar yang ada di tangannya.
"Mamaaaa. Aku dapat nilai sembilan puluh delapan!" Dinda pun berteriak sambil menghampiriku. Dia langsung memelukku ketika aku berlutut sambil merentangkan kedua tanganku.
"Anak Mama hebat! Bagus banget gambarnya," pujiku sambil mengecup keningnya berulang kali. Dia terlihat kegelian karena aku melakukannya sambil bercanda.
"Hebat banget, anak Papa." Mas Fandi datang dan menghampiri kami berdua.
"Mas, aku kira kamu nggak mampir. Kalau gitu kita makan siang sama-sama, ya. Kebetulan aku baru aja selesai masak."
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kebetulan aku baru aja nemuin klien di dekat sekolah Dinda. Jadi sekalian aku menjemputnya aja. Cuma nunggu setengah jam aja. Pertemuan selanjutnya sekitar tiga jam lagi. Aku masih memiliki waktu untuk makan siang bersama kalian." Mas Fandi menjelaskan.
Pantas saja tadi dia meneleponku untuk tidak menjemput Dinda. Tentu saja hal itu membuatku berinisiatif untuk memasak makan siang. Karena Dinda emang paling suka masakanku daripada masakan asisten rumah tangga.
"Dinda, kamu ganti baju dulu habis itu kita makan siang, ya," ucapku pada Dinda. Gadis kecilku itu pun langsung mengangguk dan berlari menuju ke kamarnya.
Selesai makan, kami pun mengobrol di ruang keluarga sambil menonton acara televisi berupa kartun kesukaan Dinda.
"Pa, kapan-kapan kita ketemu mama Sinta, ya," ucap Dinda tiba-tiba hingga membuatku dan Mas Fandi terkejut.
__ADS_1
"I-iya, Sayang," ucap Mas Fandi sambil menganggukkan kepalanya. Sangat berat untuk menyembunyikan semua ini dari Dinda. Gadis kecil malang itu baru saja kehilangan ibu kandungnya, bahkan sehari setelah mereka berdamai. Tapi, Sinta sudah menemui takdirnya di mana hidupnya hanya sampai waktu itu. Sekarang dia sudah tenang di alam sana. Tapi, Dinda masih menganggap bahwa ibunya masih hidup.
"Gimana kalau nanti liburan kita ke rumah mama? Aku mau nunjukin lukisan yang aku buat."
Ya, setelah pertemuan makan malam dengan Sinta waktu itu, Dinda pun menambahkan foto Shinta di dalam gambarnya. Aku bergandengan tangan bersama Mas Fandi, dan Sinta bergandengan tangan denganku. Dan satu tangan kami memegangi tubuh Dinda yang berada di depan kami. Dan tentu saja, kisah pun menjadi sedikit berbeda. Ada kalimat yang ditambahkan di setelah kalimat yang ditujukan untukku dan Mas Fandi.
Bunyinya seperti ini. 'Yang di samping mama Ana, ada mamaku juga, namanya mama Sinta. Dia sangat cantik dan baik. Aku senang sekali karena memiliki dua Mama yang sangat menyayangi aku. Aku merasa sangat beruntung karena kedua mamaku sangat perhatian dan saling menyayangi. Itulah kisah keluargaku yang penuh cinta.'
Aku hanya bisa menahan tangis sambil menatap Dinda dengan perasaan iba. Bagaimana kalau setelah dia mengetahui bahwa mama kandungnya sudah meninggal? Apakah dia akan baik-baik saja dan menerimanya? Apakah dia tidak akan marah pada kami? Semoga saja suatu saat nanti Dinda akan mengerti mengapa kami menyembunyikan kematian mamanya. Sungguh, aku tak pernah ingin melihat gadis kecilku bersedih. Mungkin saja, setahun atau dua tahun lagi, ketika dia sudah mengerti, aku akan memberitahunya. Sekarang, kami harus memikirkan bagaimana caranya agar Dinda mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan mama kandungnya.
__ADS_1