
[POV ANA]
Aku menatap keluar jendela mobil yang sudah mencapai tengah kota. Saat ini sedang lampu merah sehingga kami terpaksa menghentikan laju mobil. Ku lihat banyak sekali pengamen yang masih bocah. Mereka berpakaian lusuh dengan rambut semerawut juga wajah kusam. Aku menatap mereka dengan iba.
Namun pandanganku terhenti saat aku melihat sesosok anak perempuan yang sedang mengamen di mobil yang ada di depanku. Mataku mengerjap berkali kali untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Benarkah itu? Anak perempuan berpakaian lusuh itu adalah Dinda? Tapi bagaimana bisa. Aku hendak turun namun supir melarangku karena lampu sudah kembali hijau.
Setelah menemukan tempat untuk menepi, aku pun segera turun dari mobil. "Pak tunggu sebentar ya," ucapku pada supir yang aku tumpangi taxi nya.
Aku keluar mencari sosok anak kecil yang sangat mirip dengan Dinda. Namun aku tidak menemukan dirinya. Aku mencari seperti orang kebingungan. "Apa aku sedang berhalusinasi karena terlalu rindu dengan Dinda? Ah, mungkin saja." Aku pun berjalan kembali ke mobil. Namun, aku terkejut saat melihat orang ku cari tadi sedang mengamen di taxi yang aku tumpangi tadi.
Aku segera berlari menghampiri nya. Namun langkahku terhenti saat melihat Sinta dengan penampilan cantik menghampiri Dinda lalu menariknya dengan kasar.
Aku mengikuti mereka secara diam-diam sampai ke sebuah gang sempit. Ku lihat Sinta sedang merebut uang hasil mengamen Dinda dengan kasar.
"Kok dapet segini?" tanya Sinta dengan suara tinggi.
"Tadi Dinda lapar Ma, jadi Dinda belikan nasi," ucap Dinda sambil menunduk penuh ketakutan.
"Apa? Kamu pakai buat makan? Dasar anak kurang ajar. Berani banget kamu pakai uang ini!" Sinta mengguncang tubuh Dinda dengan kasar secara berulang.
"Ampun, Ma. Dinda nggak makan sejak pagi. Dinda lapar." Dinda terlihat sangat ketakutan.
__ADS_1
"Dasar anak pembawa sial!!!"
Sinta siap melayangkan tamparannya. Namun dengan segera aku berlari dan menangkis tangannya.
"Kamu!" Sinta terkejut melihat kedatangan ku.
"Apa yang kamu lakukan? Ini anak kamu! Kamu suruh dia ngamen, nggak kamu kasih makan dan sekarang kamu mau menganiaya dia?" Mataku melotot ke arah Sinta. Tampak jelas bahwa kini aku sangat murka.
"Diam kamu! Dia anak aku. Kamu nggak ada hak!" Sinta menunjuk wajahku.
"Kamu bisa aku laporkan karena telah mempekerjakan anak yang masih kecil di jalanan!" ancamku pada Sinta.
"Dasar berengsek!" Sinta siap melayangkan tamparan ke wajahku namun segera ku tangkis dengan tanganku. Aku mendorongnya hingga ia terjungkal ke tanah.
"Kenapa sayang?" tanyaku heran melihat sikap nya.
"Dinda tetap sama Mama tante. Dinda nggak mau kemana mana." Dinda menghampiri Sinta lalu bersembunyi di belakangnya.
"Kamu lihat kan? Dia cuma mau sama aku. Sebaiknya kamu pergi!" Sinta mengusirku dengan tangannya.
Aku kembali melirik Dinda yang tertunduk sambil menangis. Astaga, aku tidak tega melihatnya seperti ini. Apa yang harus aku lakukan? Namun aku tiba-tiba teringat sesuatu.
__ADS_1
"Tunggu! Mana Mas Hadi? Kenapa kalian bisa seperti ini?" tanyaku penasaran.
Tanpa menjawab, Sinta pun pergi sambil menarik Dinda dengan kasar. Aku kembali ke taxi ku. Kini tujuanku berubah. Aku akan ke rumah Mas Hadi untuk mempertanyakan ini semua.
Mobil pun melaju menuju rumah Mas Hadi. Setibanya disana, aku segera turun dan membayar.
Aku melangkah menuju rumah yang sebenarnya tidak ingin aku kunjungi. Namun karena hal ini aku terpaksa menemuinya.
Mataku tertuju pada halaman rumah Mas Hadi yang tidak terawat. Apa yang terjadi?
Aku mengetuk pintu rumah besar itu. Tak lama kemudian, muncullah Mas Hadi. Ia begitu terkejut melihat kedatangan ku. Namun anehnya dia malah tersenyum dan menyuruh aku masuk.
Dengan perlahan aku memasuki rumah itu dan duduk di ruang tamu yang terlihat berantakan.
"Mas, kemana pembantu kamu?"
"Udah aku pecat semua," jawabnya ketus.
"Kenapa dipecat?"
"Mereka nggak bisa bikin makanan yang enak jadi aku pecat. Oh ya, kamu mau ngapain kemari?"
__ADS_1
"Mas aku mau tanya, apa yang terjadi sama kamu dan Sinta?"