
[POV ANA]
Waktu terus berlalu. Tanpa terasa tinggal satu bulan lagi, pernikahan ku dan Mas Fandi akan digelar. Kami tidak mengadakan resepsi, hanya acara kecil-kecilan saja. Tidak ada pesta mewah karena aku masih trauma dengan pesta pernikahan. Mas Fandi mengerti akan hal itu.
Hari ini aku dan Mas Fandi pergi ke sebuah butik untuk mencoba baju pengantin yang sudah kami pesan jauh-jauh hari. Awalnya aku menolak karena harganya yang sangat mahal. Lagipula tidak ada pesta mewah, untuk apa memakai kebaya mahal itu. Namun Mas Fandi bilang bahwa itu adalah baju yang menjadi saksi janji suci kami. Aku hanya bisa mengangguk. Dalan urusan ini, aku tidak bisa membantah Mas Fandi.
Aku terlihat sangat cantik saat mencoba kebaya berwarna putih dengan banyak aksesoris mewah. Mas Fandi juga terlihat sangat tampan dan gagah dengan balutan jas mewah berwarna putih senada dengan kebayaku.
Setelah dari butik, kami mencari masjid untuk shalat dzuhur. Saat itu, Mas Fandi yang menjadi Muazin karena ia pria termuda disana. Aku pun mulai mendengarkan suara adzan Mas Fandi. Seketika aku terkejut. Suara Mas Fandi persis seperti suara Muazin yang aku dengar di malam saat aku di usir Mas Hadi. Ternyata suara yang selama ini aku kagumi adalah milik Mas Fandi. Ya Allah betapa beruntungnya aku. Memiliki calon suami seperti Mas Fandi. Ia begitu sempurna. Tampan, mapan, sholeh. Rasanya aku semakin tak pantas berada disampingnya.
Selepas melaksanakan shalat dzuhur, kami pun pergi ke restoran untuk makan siang. Aneh sekali kan. Padahal ia punya cafe namun malah makan di tempat lain. Tapi mungkin saja karena jarak cafe dan posisi kami jauh hehehe.
Di restoran, kami memesan berbagai hidangan yang menggugah selera. Dengan cepat kami menyantap makanan itu karena kami memang sangat lapar.
__ADS_1
Selesai makan, kami berbincang sebentar mengenai rencana kami ke depannya.
"Mas, kok kamu nggak bilang sih kalau kamu yang jadi Muazin di masjid tempat kita ketemu setelah kecelakaan aku." Aku mengaduk minuman dingin milikku yang masih ada setengah gelas lagi.
"Kamu nggak nanya sih," sahut Mas Fandi dengan wajah santainya.
"Iya sih, tapi aku senang kamu pemilik suara itu. Jadi semakin nyaman dekat-dekat sama kamu." Aku tersenyum padanya.
"Jadi kalau pemilik suara itu bukan aku, kamu nggak nyaman sama aku?" Mas Fandi mengernyitkan dahinya.
"Kalau aja kita udah nikah. Udah aku ajak pulang kamu." Mas Fandi mencubit pipiku. Seketika wajahku memerah karena malu. Bahkan ia melakukannya di depan banyak orang yang juga sedang makan di tempat ini.
"Malu ah." Aku memukul pelan tangan Mas Fandi. Ia hanya bisa cengengesan saja.
__ADS_1
"Oh ya, An. Setelah kita menikah, kamu berhenti kerja ya."
Deg! Seketika ucapan Mas Fandi membuatku terdiam. Haruskah aku berhenti? Mengharap dari suami seperti dulu? Apa aku harus hidup dengan tidak berguna seperti itu? Aku menunduk sedih.
"Hei, aku bilang berhenti kerja jadi kepala koki. Kalau kamu mau tetap kerja, aku akan posisikan kamu sebagai Manager." Mas Fandi mengusap pelan rambutku.
Aku mengangkat wajahku lalu tersenyum lega. "Terus Manager yang lama mau Dikemanain, Mas?"
"Kita mutasikan di tempat lain. Dia akan aku tempatkan di cafe baru yang baru aku bangun beberapa bulan yang lalu. Kamu Ingat kan yang aku bilang proyek di kota F?" tanya Mas Fandi ingin meyakinkan.
"Oh iya aku inget, Mas. Udah siap?" tanyaku ingin tau.
"Udah, bulan depan akan kita resmikan."
__ADS_1
Aku tersenyum senang mendengarnya. Mas Fandi semakin sukses saja. Semoga selalu tetap seperti ini. Dia layak mendapatkannya.
"Oh ya, aku ke toilet sebentar ya." Mas Fandi beranjak dari duduknya dan pergi ke toilet. Aku tertawa kecil. Pasti dia ingin buang air kecil. Jelas sekali karena dua gelas minuman dingin yang ia habiskan.