Anak Suamiku

Anak Suamiku
Bertemu


__ADS_3

Sudah tiga bulan sejak aku bekerja di cafe mewah milik Mas Fandi. Omset semakin naik dan pelanggan semakin banyak saja. Aku juga sudah membuat beberapa menu baru yang hanya dimasak oleh dua orang koki terbaik pilihanku.


Aku sedang mengawasi kinerja para koki hingga tiba-tiba seorang waiter datang dengan wajah sedikit gelisah.


"Ada apa Novi?" tanyaku pada waiter cantik itu.


"Mbak gawat. Ada yang pesan menu baru tapi Adel nggak masuk lagi sakit. Siska lagi izin selama satu jam karena mau anterin mamanya ke rumah sakit."


Aku menjadi bingung. Dua koki kepercayaan ku tidak ada di tempat.


"Mbak biar aku aja yang masak." Vivi yang sejak tadi berada tak jauh dari kami menawarkan diri.


"Biar aku aja, Vi. Maaf ya." Aku pergi meninggalkannya menuju tempat memasak menu itu. Aku membuat dua porsi makanan.


Selesai dengan itu, aku pun menyuruh Novi mengantarkan kepada pelanggan yang memesan.


Setengah jam kemudian, Novi kembali dan mengatakan bahwa si pemesan tadi ingin berbicara denganku. Aku merasa was was. Namun karena Novi berkata bahwa pelanggan tersebut seperti ingin memuji, aku pun pergi menemui mereka dengan perasaan tenang.


Aku berjalan menuju meja pelanggan itu. Aku tak melihat wajahnya karena posisi mereka membelakangiku. Dapat ku lihat dari pakaian yang mereka kenakan, mereka adalah pekerja kantoran.

__ADS_1


"Permisi, Pak, Bu. Ada yang bisa saya bantu," ucapku saat sudah berdiri di samping meja mereka.


Saat itu mereka langsung mendongak dan terkejut melihatku. Ternyata mereka adalah Mas Hadi dan Sinta. Aku juga terkejut melihat mereka.


"Loh, kamu kerja disini?" Sinta menatapku dengan tatapan mengejek seperti merendahkanku.


"Ada apa bapak dan ibu memanggil saya?" Aku mencoba tidak peduli pada ucapan Sinta.


"Kamu yang buat makana ini?" tanya Mas Hadi dengan tatapan serius.


"Iya, Pak." Aku mengangguk.


Aku berusaha menahan emosi. Aku tidak ingin mengacaukan tempat ini dan membuat pelanggan merasa tidak nyaman dengan keributan yang ada.


"Kalau sudah selesai, saya mohon izin, Pak." Aku hendak melangkah pergi, namun Sinta memanggilku.


Aku menoleh dan menatapnya dengan ekspresi datar. "Ada apa, Bu?"


"Aku rasa ini memang takdir. Tadinya kami mau mencarimu di kolong jembatan atau perumahan kumuh, namun ternyata kamu disini."

__ADS_1


"Kenapa kalian mencariku?" Kali ini aku menanggapi ucapan Sinta.


"Untuk menyerahkan ini!" Sinta menyerahkan sebuah amplop surat padaku.


Aku menerimanya dan membuka isinya. Ternyata itu adalah surat cerai antara aku dan Mas Hadi. Mataku berkaca-kaca saat membacanya. Aku berusaha untuk tidak menangis.


"Akhirnya Mas Hadi lepas dari benalu Pembawa sial sepertimu," ucap Sinta dengan penuh penekanan.


"Aku juga bahagia. Selamat bahagia ya. Sampaikan salamku pada Dinda. Aku harap dia baik-baik aja." Aku tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka sambil terus menggenggam surat cerai itu.


Aku langsung pergi ke kamar mandi. Air mataku luruh seketika. Aku merasakan sesak di dadaku. Hatiku sangat sakit. Akhirnya aku resmi menjanda dan kini aku tidak punya siapa-siapa lagi. Ah, sudahlah kenapa aku malah bersedih. Segera ku hapus air mataku. Seharusnya aku merasa senang. Aku tidak lagi merasakan sakit hati berkepanjangan karena melihat kemesraan suamiku dan istri keduanya.


Aku segera keluar dari kamar mandi setelah membersihkan wajahku sehabis menangis.


Aku kembali berbaur dengan para koki yang masih bekerja. Untung saja Siksa susah kembali jadi aku tidak perlu turun tangan untuk menu baru.


Aku menyimpan surat cerai itu ke dalam tasku. Setelah itu aku mengintip ke pintu melihat Mas Hadi dan Sinta yang masih berada di kursinya.


Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Untuk apa aku melihat mereka lagi, tidak ada gunanya.

__ADS_1


__ADS_2