
Aku membuka ponselku. Melihat notifikasi dari semua sosial media milikku. Banyak sekali pesan yang dikirim lewat Messenger yang belum sempat aku baca. Aku mulai membalas satu persatu. Jika itu temanku aku akan membalas. Namun jika itu pria yang mengajakku berkenalan akan langsung aku hapus. Aku tidak mau merusak kepercayaan Mas Fandi yang menghormati privasiku namun aku malah diberi kebebasan akan privasinya termasuk password hp dan sosial medianya.
Ketika aku sedang mengetik pesan, ku dengar suara langkah kaki datang mendekat. Tanpa menoleh, aku mengira itu adalah Mas Fandi.
"Bentar ya, Mas. Aku lagi balesin chat temen aku. Lima menit lagi."
Ia pun langsung duduk di depanku. Namun, aku merasa wangi yang berbeda dari dirinya. Parfum ini aku sangat mengenalnya. Kakiku langsung bergetar. Aku tau siapa dia. Dengan memberanikan diri, aku pun menatap dirinya. Benar dugaanku. Dia adalah Mas Hadi, mantan suamiku. Dengan gaya sok hebatnya ia menatapku dengan tatapan merendahkan.
"Cantik juga kamu setelah aku cerai. Pakai apa?"
"Kursi itu ada pemiliknya, sebaiknya kamu pergi." Aku mengumpulkan keberanian untuk mengusirnya. Aku takut jika ia bertemu dengan Mas Fandi dan menjelekkan diriku di hadapannya.
"Udah berani ya kamu mengusir aku. Dasar wanita nggak berguna. Masih aja kamu menggaet lelaki kaya. Nggak sadar diri kamu. Udah mandul, nggak berpendidikan, pembawa sial, lagi."
Ucapan Mas Hadi sukses menyayat hatiku. Bagaikan tombak besar yang menghujam jantungku. Rasanya sakit sekali.
Aku memilih mengalah saja. Aku beranjak dari tempat dudukku bermaksud pergi ke luar. Namun tanpa disangka, Mas Hadi memukul gelas dengan sebuah sendok. Bunyinya membuat semua orang berfokus ke kami. Aku yang baru saja berbalik membelakanginya seketika menghentikan langkah.
__ADS_1
"Kalian tau wanita ini?" Mas Hadi berjalan mengelilingiku yang masih berdiri mematung.
"Dia adalah seorang wanita mandul!! Nggak berpendidikan, dan pembawa sial!!" Mas Hadi menatapku dengan penuh kebencian.
Seketika tubuhku bergetar. Aku tidak tau harus bagaimana. Semua orang melihat ke arahku dengan tatapan merendahkan. Beberapa dari mereka saling berbisik sambil sesekali menatapku.
Air mataku jatuh berlinang. Saat ini yang kuinginkan adalah pergi sejauh-jauhnya dari sini.
"Selain itu, wanita ini juga sudah melukai anak dari istriku. Dia iri karena istriku memiliki anak sedangkan dia tidak." Mas Hadi menggeleng kecewa sambil menatapku. Semua pengunjung tampak sedang merekam aksi Mas Hadi ini.
Aku ingin menjawab tapi tenggorokanku terasa tercekat. Aku tak mampu mengeluarkan suara sangking malunya. Tubuhku semakin bergetar air mataku semakin mengalir deras.
Mas Hadi menoleh dan terkejut melihat Mas Fandi. Aku merasa aneh melihatnya. Apakah mereka saling mengenal?
"Pak Fandi! Jadi anda..."
"Oh, jadi anda mantan suami calon istri saya?" Mas Fandi menatap tajam.
__ADS_1
"Calon istri? Pak Fandi sadarlah. Dia ini hanya wanita tidak berpendidikan dan man...."
"Saya bilang tutup mulut anda. Bagi saya Ana adalah wanita paling sempurna di dunia ini. Dan tadi anda bilang kalau dia tidak berpendidikan? Anda lah yang terlihat seperti orang tidak berpendidikan. Menghina wanita yang pernah mengabdi selama lima tahun namun anda hadiahi dia dengan sebuah perselinkuhan. Apa pantas orang seperti anda disebut sebagai orang berpendidikan?"
Aku terharu. Begitu besar pembelaan Mas Fandi kepadaku. Aku segera menghapus air mataku dan tersenyum padanya.
"Sekarang lebih baik anda pergi sebelum saya membongkar lebih banyak hal memalukan tentang anda." Mas Fandi menunjuk pintu keluar. Dengan tergesa-gesa Mas Hadi meninggalkan restoran tersebut diiringi seruan dari semua pengunjung.
"Maaf atas kekacauan ini. Mbak-mbak yang tadi merekam, bisa dihapus rekamannya?"
Dengan kompak mereka semua mengangguk lalu menghapus rekaman video tadi. Mereka mengenal siapa Mas Fandi. Pasti mereka tidak ingin berurusan dengannya.
Setelah itu, Mas Fandi mengajakku keluar dari restoran itu setelah sebelumnya membayar.
Kami masuk ke dalam mobil.
"An, kamu baik-baik aja kan?" Mas Fandi menatapku dengan serius.
__ADS_1
Aku mengangguk dan tersenyum diikuti senyuman dari Mas Fandi. Ia hanya tidak tau, bahwa setelah ini aku akan pergi jauh darinya. Aku tidak ingin menjadi beban hidupnya. Pertemuanku dengan Mas Hadi tadi menyadarkanku bahwa aku memang tidak pantas untuk Mas Fandi. Selamat tinggal, Mas.