
Pagi menjelang. Aku terbangun ketika merasakan sesuatu menyentuh pipiku. Saat aku membuka mata, aku melihat Mas Fandi sedang mengusap pipiku dengan tangannya.
Aku pun tersenyum melihatnya. Bahkan ketika bangun tidur pun dia masih ingin dimanja. "Mas, kamu udah bangun?" ucapku sambil tersenyum kecil.
"Udah, Sayang," jawabnya sambil menciumi rambutku.
"Ya udah, sekarang kita mandi dulu," ajakku sambil mencoba bangkit dari posisiku. Tapi, Mas Fandi malah menahan tubuhku hingga aku tak bisa bangkit.
"Nggak mau, aku maunya manja-manjaan dulu sama kamu." Mas Fandi kini berganti posisi ke atas tubuhku. Dia tersenyum nakal sambil menarik tali piyama tipis yang aku pakai.
"Mas, tadi malem kan udah."
"Kamu kayak nggak tahu aja sih gimana pengantin baru." Mas Fandi mulai menyusuri leherku hingga membuatku kegelian.
__ADS_1
Aku pun tak bisa menolak permintaannya pagi ini. Namun, baru saja kami ingin memulai, tiba-tiba saja pintu diketuk beberapa kali. Dari tempo ketukannya, sepertinya yang mengetuk adalah Dinda. Dan benar saja, setelah itu, terdengar suara Dinda memanggil kami.
"Papaaa, Mamaaa, ayo bangun. Jangan bangun siang-siang, nanti nanti rezekinya dipatuk ayaaaam!" ucapnya dengan tempo ketukan yang lebih cepat dan kencang.
Mas Fandi pun langsung berdecak dan kembali memakai pakaiannya. Sepertinya memang begini risiko bulan madu di dalam rumah.
Kami pun segera membuka pintu dan melihat Dinda yang sudah cantik dengan dandanannya. Aku dan Mas Fandi saling memandang. "Sayang, kamu mau ke mana pakai pakaian rapi kayak gini?"
Gadis kecilku itu terlihat begitu sumringah saat menceritakan rencananya pada kami. Aku tersenyum melihat kelucuannya.
"Iya, Sayang. Kalau gitu, Papa sama Mama mandi dulu, ya. Kamu tunggu aja di bawah." Mas Fandi mengusap kepala Dinda sambil tersenyum.
"Iya, Pa. Jangan lama-lama, ya. Kalau satu jam nggak keluar, nanti Dinda dateng lagi."
__ADS_1
"Iya, Sayang, itu waktu yang cukup untuk...."
Aku memelototi Mas Fandi agar dirinya tak berbicara sembarangan pada Dinda.
"Ya udah, Mama sama Papa mandi dulu, ya." Aku pun segera menutup pintu ketika Dinda sudah berlari menuju ke lantai bawah bersama asisten rumah tangga yang sedari tadi menunggunya. Untung naik turun tangga, Dinda memang masih perlu diawasi. Mas Fandi sebenarnya akan merenovasi rumah ini dan membuat lift khusus untuk kami. Mungkin sebentar lagi akan dilakukan karena rumah kedua, tempat kami pindah sementara sudah bisa ditempati.
"Yuk, Sayang, kita lanjutkan yang tadi." Mas Fandi pun menarikku ke atas ranjang hingga kami kembali melanjutkan pergumulan panas tadi namun dengan waktu yang lebih cepat.
Selesai dengan itu, aku dan Mas Fandi pun langsung pergi menemui Dinda di ruang makan. Setelah kami selesai sarapan, kami segera berangkat menuju ke tempat yang ingin didatangi Dinda.
Katanya, dia ingin berfoto bersama. Karena beberapa hari lagi, dia harus menunjukkan PRnya pada sang guru. Dia harus menggambar foto keluarga, lalu bercerita di depan kelas dengan gambar itu. Jika tidak ada foto, katanya dia tidak bisa menggambar dengan baik.
Tapi aku tahu, itu adalah alasan kedua. Karena alasan pertamanya adalah bisa menikmati waktu yang indah bersama orang tuanya. Tenang saja, Dinda. Mama akan mempersembahkan waktu terbaik untuk kamu. Kamu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang orang tua dari kami.
__ADS_1