
[POV ANA]
Hari ini aku dan Mas Fandi pergi ke rumah Sinta yang sudah diketahui melalui seseorang yang dikirim Mas Fandi untuk melacak tempat itu.
Namun sebelum itu, kami mencari Dinda di jalanan sekitar tempat itu. Aku yakin hari ini Dinda pasti disuruh mengamen lagi.
Lama mencari, akhirnya kami menemukan Dinda yang sedang terduduk lemas di pinggiran trotoar.
Aku berlari menghampirinya. "Dinda." Aku mengusap wajahnya yang terlihat pucat dan suhu badannya panas.
"Kamu kenapa sayang?" tanyaku dengan khawatir.
"Haus," ucapnya pelan.
"Belikan air." Aku menyuruh pengawal Mas Fandi untuk membeli sebotol air mineral.
Mas Fandi datang menghampiri ku. "Kenapa , An?"
"Dinda, Mas. Wajahnya pucat banget."
Tak berselang lama, air pun datang. Dengan cepat aku berikan pada Dinda. Ia meminum air itu hingga habis. Sepertinya ia sangat kehausan.
"Kamu kenapa sayang?" tanyaku lagi.
"Nggak papa, Tante. Sebaiknya Tante pulang aja." Dinda menatapku dengan ragu.
"Dimana mama kamu?"
"Tante jangan di sini. Nanti Dinda dipukuli dan nggak dikasih makan lagi," ucapnya sambil menahan tangis.
__ADS_1
"Sayang, dengerin Tante. Kamu mau kan ikut Tante. Kita tinggal sama-sama. Kamu jangan khawatir, Om Fandi akan urus semuanya. Dia akan nolongin kita." Aku menoleh ke arah Mas Fandi. Aneh sekali memang. Sejak tadi dia hanya diam saja menatap Dinda.
"Mas, ngomong dong." Aku menyikut Mas Fandi.
"Eh, iya. Dinda kamu tenang aja. Kami akan bebasin kamu dari mamamu." Mas Fandi ikut meyakinkan Dinda.
"Sekarang dimana mama kamu?" tanyaku lagi.
"Mama di rumah, Tante. mama sedang tidur kalau jam segini karena malemnya mama kerja."
"Kerja apa?"
"Nggak tau, Tante. Mama selalu pulang jam lima pagi tapi kayak orang lagi pusing."
Aku mengerti ucapan Dinda. Pasti Sinta sering mabuk-mabukan setiap malam.
Dinda mengangguk. Aku menggendongnya. Seperti anak yang merindukan ibu, ia memeluk tubuhku sepanjang jalan. Aku bisa merasakan getaran isak tangisnya. Ya Allah, hatiku merasa hancur melihat anak sekecil ini sudah mengalami tekanan batin dan penyiksaan dari ibunya sendiri.
Kami pun sampai ke sebuah rumah yang berlokasi tak jauh dari jalan raya. Kami tidak membawa mobil karena jalan yang dilewati sangat sempit.
Rumah itu sangat kecil. Sumpek, kotor dan tidak terawat. Tak bisa kubayangkan bagaimana Dinda bisa hidup seperti ini.
Mas Fandi mencoba mengetuk pintu rumah itu. Lama ia mengetuk hingga akhirnya pintu dibuka. Aku menyerahkan Dinda pada seorang pengawal.
Aku tak sabar ingin menarik rambutnya dan menampar wajahnya. Namun aku melihat keanehan di sini. Baik Fandi maupun Sinta sama-sama terdiam dan terus saling menatap.
"Mas, Fandi." Sinta menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Arshi?" Mas Fandi tak kalah terkejutnya.
__ADS_1
"Mas, dia Sinta." Aku mengingatkan Mas Fandi.
"An, dia ini,,,,,,,Arshi. Arshinta, mantan istriku."
Aku terkejut mendengarnya. Ternyata Sinta adalah mantan istri Mas Fandi yang dulu meninggalkannya saat tengah hamil?
"Jadi Dinda,,,,,,"
"Iya, An. Dinda adalah anakku." Mas Fandi memperjelas kalimatku.
Mas Fandi menghampiri Dinda lalu memeluk serta menciumnya. "Anakku!"
Dinda yang merasa heran hanya bisa diam.
"Dinda, Om Fandi ini papa kamu." Aku mencoba menjelaskan pada Dinda.
"Papa? Papa Dinda kan Papa Hadi."
"Nggak sayang, Hadi bukan Papa kamu. Om Fandi Papa kamu."
"Papa." Dinda memeluk Mas Fandi dengan erat. Ia menangis keras di dalam pelukan Mas Fandi. Tampak jelas bahwa ia seperti baru menemukan tempat perlindungan diri dari ibu yang kejam itu.
"Mas, kamu kembali? Kita rujuk kan Mas?"
Dengan tidak tahu malunya Sinta mengatakan hal itu.
Mas Fandi beralih ke Sinta lalu menghampirinya.
"Kamu mau kan Mas? Kita bina kembali keluarga kita."
__ADS_1