
"Kamu jangan bohong, ya. Masih kecil udah pinter bohong." Tak terima, Mala pun memarahi Dinda tepat di depanku.
Ibu mana yang rela jika anaknya dimarahi oleh orang lain? Jelas aku tidak terima dengan semua ini. Hanya karena sejak tadi aku diam, lantas dia bisa berbuat sesukanya?
"Bu, jangan memarahi anak saya. Ibu tidak berhak melakukan hal itu, apalagi kita belum tahu apakah benar Dinda berbohong atau enggak." Aku melayangkan tatapan tajam pada Mala.
"Heh, Ana, anak tiri kamu ini udah jelas bohong. Dia udah memfitnah anak saya. Mana mungkin Mita kayak gitu! Kecil-kecil kok udah pinter memfitnah orang." Mala bersedekap dada sambil melayangkan tatapan sinis.
"Darimana kamu tahu kalau Dinda bohong? Kita aja belum mendengar keterangan anak kamu!" Aku yang geram pun menunjuk wajah Mala.
"Apa kamu! Jangan sembarangan nunjuk-nunjuk wajahku!" Mala menyingkirkan tanganku dari hadapannya dengan kasar. Tentu saja perdebatan kami menjadi pusat perhatian di sana.
Beberapa ibu yang sedang menunggu anaknya keluar pun menatap kami dengan tatapan heran. Mereka juga sedang berbisik mengenai kami. Namun, aku bisa melihat tatapan sinis mereka tertuju pada Mala.
"Bu, udah, Bu, istighfar. Nggak baik berantem di depan anak-anak," ujar Hafizah yang mencoba menenangkan kami.
"Ya Ibu tahu sendiri kan sendiri tadi dia menyudutkan anak saya. Dan setelah ketahuan kalau anaknya yang membully, dia malah nggak terima dan mengatakan kalau anak saya bohong! Ibu bakalan emosi nggak kalau anaknya dituduh kayak gitu!" Aku pun jadi melayangkan tatapan tajam ku pada Hafizah. Padahal dia berusaha untuk melerai kami, tapi malah dia yang kena sembur juga.
"Udah, Bu, jangan gitu, ah. Nggak enak sama yang lain. Kalian jadi pusat perhatian di sini, lho," sambung Novi yang juga mendapatkan tatapan tajam dari Mala.
__ADS_1
"Kamu mau nggak anak kamu disebut sebagai pembully!"
"Mamaaaaa." Akhirnya, anak Mala yang bernama Mita pun datang sambil berlari bersama teman-teman yang lain.
"Ma, masa Dinda keluar duluan," ucapnya sambil melayangkan tatapan tajam pada Dinda.
"Pasti karena dia nakal makanya pulang duluan!" cibir Mala yang masih menatap tajam padaku.
"Nggak, Tante. Tadi Dinda pulang duluan karena dia berhasil menjawab soal dengan benar," ujar anak lain yang sekelas dengan Dinda.
Namanya adalah Randi.
"Mita, Tante. Dia suka rebut makanan Dinda dan dijatuhkan ke lantai. Dia juga suka dorongin Dinda ketika main."
"Nah, kamu denger, kan? Anak kamu ini yang salah!" Aku menatap Mala dengan sinis.
"Halah, bisa aja dia itu di provokasi sama Dinda! Mana mungkin Mita kayak gitu!" Eh, masih saja Mala membela anaknya yang sudah jelas terbukti bersalah.
"Oke, kalau gitu aku tanya langsung sama anak kamu." Aku pun menoleh ke arah Mita yang mencoba untuk menggapai Dinda yang beringsut mundur.
__ADS_1
"Mita, kamu mau ngapain?"
"Eh, nggak, Tante. Mita cuma mau pegang pipi Dinda. Soalnya katanya pipi Dinda imut. Mita mau cubit pipinya biar nggak imut lagi." Mita lagi lagi mencoba untuk menggapai pipi Dinda.
"Eh, jangan sembarangan, Mita. Kok kamu kayak gitu?" geramku sambil menarik Dinda agar menjauh darinya.
"Bu Mala, ajarin dong anaknya jangan kayak gitu. Kok saya serem ya lihat anak yang masih kecil aja sudah menyimpan rasa."
Novi ternyata juga risih melihat kelakuan Mita.
"Namanya juga anak-anak ya maklumlah." Astaga, masih bisa dia membela anaknya.
"Mita, kenapa kamu suka gangguin Dinda? Jatuhin makanannya dan dorong dia?"
Memang inilah pertanyaan yang dari tadi ingin aku ucapkan.
"Ya karena Dinda itu nyebelin! Dia paling unggul di kelas. Kan kata Mama kalau ada yang lebih unggul, Mita harus gangguin sampai dia kapok!"
Sontak jawaban Mita pun membuat kami semua terkejut.
__ADS_1