Anak Suamiku

Anak Suamiku
Tak tahu malu


__ADS_3

Sinta memegang tangan Mas Fandi. Bukannya menepis, Mas Fandi malah memegang tangan Sinta juga. Ia tersenyum pada Sinta.


"Kamu meninggalkan aku saat aku susah, menikah dengan pria lain dengan menjual kehamilan kamu, menyiksa anakku, dan sekarang meminta rujuk? Lupakanlah." Mas Fandi melepas tangan Sinta dengan kasar.


"Wanita sepertimu memang pantas berada di sini!" Mas Hadi meninggalkannya.


Ia menghampiri ku yang kini tengah bersama Dinda. Ketika kami hendak pergi, Sinta meneriaki kami.


"Aku akan membawa ini ke jalur hukum. Kamu nggak akan bisa mendapatkan hak asuh Dinda. Aku akan membuat laporan bahwa kamu menelantarkan aku dan Dinda sampai sekarang. Kamu nggak memberi nafkah kepada kami!"


"Oh ya? Silakan! Aku rasa hukum juga tahu kalau kamu menikah dengan Mas Hadi dalam keadaan hamil anak suami pertamamu. Kamu menikah terlebih dahulu. Lalu setelah Dinda lahir, kamu baru mengurus surat cerai. Kamu pikir kamu itu udah suci? Dan luka di tubuh Dinda dan bukti CCTV jalan ini akan menunjukkan bagaimana kamu menyiksa Dinda. Memaksa anak dibawah umur mengamen."


Aku menatap ke arah Sinta dengan senyum puas. Bisa ku lihat saat ini ia hanya bisa diam sambil mengepal erat tangannya.


"Kamu tau apa? Kamu itu mandul!" 


"Bukan aku, tapi Mas Hadi yang mandul!" 


Sinta tampak kaget mendengar apa yang aku katakan. "Apa Hadi yang kasih tau kamu?"


"Hadi? Oh jadi dugaanku bener dong. Kamu yang memanipulasi surat sehat kami. Kemarin setelah mengetahui bahwa Dinda bukan anak Mas Hadi. Aku langsung pergi ke dokter dan mengecek semuanya. Dan ternyata aku dinyatakan sehat. Sebaliknya, Mas Hadi lah yang mandul karena surat hasil pemeriksaan waktu itu masih ada. Aku tau pasti kamu kan yang nukar? Licik banget kamu!" Aku menatap tajam ke arah Sinta yang kini tidak bisa berkata apa-apa.


"Sudah, An. Ayo pergi. Dan kamu. Jika kamu berani mengusik kehidupan kami, aku akan melaporkan tindak kekerasan kamu terhadap Dinda pada polisi," ancam Mas Fandi.


Mas Fandi menarik tanganku dan membawaku pergi dari sana. Sedangkan Dinda masih nyaman berada di gendongannya.


****


Kami sudah sampai di rumah Mas Fandi. Di sana sudah ada dokter pribadi nya yang akan memeriksa kesehatan Dinda.


Setelah diperiksa, dokter mengatakan Dinda mengalami dehidrasi. Terang saja, dia tidak dikasih makan dan minum.

__ADS_1


Setelah diberi obat, Dinda pun dibersihkan oleh pelayan rumah Mas Fandi lalu istirahat.


Aku dan Mas Fandi duduk di ruang tamu.


"Aku nggak nyangka kalau Dinda anak kamu. Tapi aku seneng banget orang yang aku sayang ternyata ayah dan anak. Ini kebetulan yang bahagia." Aku tersenyum penuh semangat.


"Aku juga seneng akhirnya bisa menemukan anak kandungku yang ternyata nggak jauh dari aku selama ini. Cuma takdir yang nggak berpihak pada kami waktu itu." Mas Fandi mengusap pelan pipiku. "Aku bahagia karena menjelang pernikahanku dengan wanita sempurna seperti dirimu, aku menemukan anakku."


"Aku mencintai kamu, Mas." Aku mengusap tangan Mas Fandi yang masih menempel di pipiku.


"Ayo aku antar kamu pulang."


Aku mengangguk mengiyakan.


*****


Satu bulan kemudian.


Aku dan Mas Fandi pun resmi menikah. Kami menggelar resepsi yang mewah sekaligus merayakan ulang tahun Dinda yang sebenarnya sudah lewat beberapa bulan.


Aku dan Mas Fandi menyalami tamu yang hadir. Hingga dua orang dari masa laluku datang menghampiri kami. Dia adalah Mas Hadi dan ibunya.


Tanganku gemetar melihat kedatangan mereka. Aku masih ingat bagaimana kejamnya ibu Mas Hadi dan perlakuan Mas Hadi padaku selama ini.


Mas Fandi memegangi tanganku agar aku tidak gugup.


"An, selamat ya." Ibu Mas Hadi menyalamiku dan tersenyum ramah.


"Terima kasih, Tante," sahutku pelan.


"Maafkan Tante atas sikap Tante selama ini ya, An."

__ADS_1


Apa? Ibunya minta maaf? Apa dia sudah tau kalau anaknya yang mandul. Ah sudahlah itu bukan urusanku.


"Iya, Tante. Aku udah maafin kok." Aku tersenyum padanya.


"An, selamat ya. Dan maafkan sikapku selama ini." Mas Hadi menatap penuh sesal.


"Iya, Mas. Itu masa lalu. Jangan diungkit lagi."


Aku berusaha mengikhlaskan semuanya. Memaafkan segala perlakuan mereka selama ini. Dengan begitu, hidupku pasti akan merasa tenang.


Pesta telah usai. Semua tamu pun telah bubar. Aku, Mas Fandi, dan Dinda pulang ke rumah Mas Fandi yang sekarang akan menjadi tempat tinggalku juga.


"Papa, jadi sekarang Tante Ana tinggal sama kita?" tanya Dinda.


"Iya dong. Tapi mulai sekarang, kamu panggil mama ya, jangan tante. Karena sekarang ini jadi mama kamu," sahut Mas Fandi.


"Iya, Pa. Mama, ayo temani Dinda tidur."


"Iya, ayo sayang."


Seketika wajah Mas Fandi berubah. Yang tadinya berseri-seri kini jadi lesu. Jelas saja, ini malam pertama kami. Namun aku harus menemani Dinda tidur di kamarnya.


Aku mengkode Mas Fandi agar tak perlu khawatir. Ia akan tetap dapat jatah malam ini tetapi tunggu sampai Dinda tertidur.


Mas Fandi mengangguk lalu pergi ke kamar.


Di kamar Dinda, aku membacakan dongeng untuknya. Namun baru separuh cerita, Dinda sudah tertidur pulas. Sepertinya ia sangat kelelahan sehabis merayakan ulang tahunnya.


Setelah itu aku pergi ke kamar menemui Mas Fandi yang ternyata sudah tertidur pulas. Aku tersenyum melihatnya. Sepertinya ia juga sangat kelelahan.


Aku mendekatinya lalu membelai rambutnya sembari berbisik, "Aku mencintaimu, Mas."

__ADS_1


Namun tanpa di duga Mas Fandi malah membuka mata. Dan dalam hitungan menit, kami pun memulai pertempuran panas malam itu.


Aku bahagia, telah memiliki suami yang menyayangi dan menerima aku apa adanya. Meskipun aku pernah gagal menikah, namun aku yakin kalau pernikahan ku kali ini akan membuat hidupku bahagia.


__ADS_2