
Aku terbangun saat waktu sudah hampir maghrib. Tampaknya setelah menangis tadi aku ketiduran. Aku tersadar kalau aku belum shalat Ashar. Segera ku ambil wudhu dan melaksanakan shalat. Setelah itu, aku pun segera mandi dan menuju dapur. Namun ku lihat, sudah ada Sinta yang sedang menata makanan di meja untuk makan malam.
"Kok kamu yang masak? Kamu kan nggak bisa masak?" tanyaku sengit.
"Biarpun aku nggak bisa masak tapi aku berusaha membantu sebisa ku. Bukan jadi istri yang kerjanya tidur doang. Ngasih anak nggak bisa, kerjaannya santai terus. Nggak berguna banget sih, mending mati aja biar nggak jadi benalu orang-orang sekitar!" Sinta menatap ku dengan sinis.
Darahku serasa mendidih setelah mendengar ucapannya. Seenaknya kalimat itu keluar dari mulutnya mengataiku tidak berguna. Aku berusaha untuk bersabar. Aku tidak mau jika mas Hadi datang dan menyangka aku ingin melukai Sinta seperti Dinda tadi. Oh ya aku baru ingat. Dimana Dinda? Aku ingin menanyakan kenapa dia tidak membelaku tadi.
Ku lihat Dinda baru saja memasuki dapur hendak minum. Ku lihat dia kesusahan mengambil gelas yang berada di tengah meja. Segera ku dekati dia dan ku ambilkan gelas untuknya. Aku menyerahkan gelas itu kepadanya. Namun ada yang aneh. Dinda diam saja. Dia tidak mau menerima gelas dariku dan sekarang dia malah menunduk dan menghindari tatapan dariku.
__ADS_1
Sinta datang menghampiri kami dan mengambilkan gelas untuk Dinda beserta air minumnya. Dinda menerimanya lalu meneguk semua air dalam gelas secepat mungkin. Ku lihat tangannya gemetaran saat meminum air itu. Aneh sekali, kenapa dia seperti orang ketakutan begitu.
Setelah minum, Dinda langsung pergi dari dapur menuju kamarnya.
"Kenapa Dinda kayak ketakutan gitu? Kamu apain dia?" tanyaku.
"Heh, Dinda itu takut sama kamu tau! Makanya jangan deketin dia lagi!" Sinta menunjuk wajahku dengan tatapan tajamnya.
"Ini loh mas, masa Mbak Ana marah karena aku yang bantu masak di dapur," ucap Sinta.
__ADS_1
"Apa? Nggak mas? Aku tadi cuma nanya kenapa dia yang masak. Dan dia juga marah pas aku tanya kenapa Dinda ketakutan," ucapku pada mas Hadi.
"Mas, kan salah dia sendiri kenapa malah enak-enakan tidur. Lagian Dinda takut karena perbuatan dia sore tadi!" Sinta menatapku dengan sinis.
"Iya An, seharusnya memasak kan tugas kamu. Dan Dinda juga pasti ketakutan karena perbuatan kamu di taman tadi. An, sebaiknya kamu intropeksi diri deh. Jangan selalu nyalahin Sinta lagi. Dia ini udah capek kerja, sorenya malah masak. Lah kamu udah nggak kerja malah tidur."
Mas Hadi tampak sangat kesal padaku.
"Mas kan baru sekali ini aja. Kok kamu gitu sih. Apa karena dia bisa ngasih kamu anak makanya kamu selalu belain dia?" Aku mengotot pada mas Hadi.
__ADS_1
"Bukan gitu, An. Kalau kamu salah ya terima aja, nggak perlu jadikan orang lain pelampiasan. Dan kalau kamu nggak suka sama Sinta, jangan lukai Dinda. Dia nggak tau apa-apa!"
Mas Hadi pergi meninggalkan kami. Dapat ku lihat senyuman penuh kemenangan di wajah Sinta. Aku pun segera pergi dari situ. Aku ingin menemui Dinda di kamarnya secara diam-diam. Semoga saja Sinta mak lampir itu tidak memergoki aku.