Anak Suamiku

Anak Suamiku
Penolakan


__ADS_3

[POV AUTHOR]


Fandi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasa kecewa masih menyeruak di dalam hatinya. Hancur, hatinya sangat hancur. Wanita yang selama ini ia cintai ternyata menolak dirinya dengan alasan yang tidak jelas.


"Kenapa An? Apa salahku? Apa kurangnya aku. Setelah lima tahun aku menduda karena istriku meninggalkanku kala aku masih susah. Sekarang saat aku sudah sukses, kamu pun menolakku. Apa salahku?" Fandi menambah lagi kecepatan pada mobilnya.


Hingga saat sampai di sebuah persimpangan, ia tak melihat ada orang melintas. Karena terkejut, Fandi membanting setir ke arah kanan dan Brakkk!! Mobil menabrak pohon besar. Darah bercucuran dari kepalanya. Orang-orang segera menolongnya dan membawanya ke rumah sakit.


*****


Ana sudah bersiap untuk tidur. Namun sebuah dering telepon mengurungkan niatnya. Ia melihat panggilan itu dari Fandi. "Untuk apa Mas Fandi meneleponku?" 


Ragu-ragu Ana pun mengangkat telepon dari Fandi. Namun ia heran mendengar suara si pemanggil seperti ada di tengah keramaian. 


"Halo, siapa ini?" tanya Ana dengan nada khawatir. Seketika perasaannya menjadi tidak enak.


"Halo, Mbak. Pemilik hp ini baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang di bawa ke rumah sakit XXX," ucap pria di seberang telepon.


Ana terkejut mendengarnya. Tangannya gemetaran sampai ponsel yang ada ditangannya terjatuh. Lututnya terasa lemas seketika. Pasangannya buram. Ini seperti mimpi baginya. 


Segera ia melaju ke rumah sakit saat sudah mengumpulkan keberanian. Dengan mengemudikan motornya, ia menerobos jalanan yang semakin dingin karena malam yang semakin larut.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Ana langsung ke ruang UGD tempat Fandi ditangani.


"Bagaimana keadaan Mas Fandi dok?" tanya Ana dengan panik.


"Beliau mengalami pendarahan di otak. Namun, keadaan beliau sedang koma. Dan operasi hanya bisa dilakukan jika beliau sudah sadar."


Bagai disambar petir saat Ana mendengar hal tersebut. Tubuhnya lemas seketika. Ia jatuh terduduk di kursi koridor rumah sakit itu. Dokter mencoba menenangkannya.


"Kami akan memindahkannya ke ruang ICU. Semoga beliau cepat sadar agar kita bisa lakukan operasi. Mbak yang sabar, ya." Dokter kembali ke dalam. Tak berselang lama, Fandi dibawa ke ruang ICU. Tubuhnya sudah penuh dengan alat medis.


Ana terus menangis melihat keadaan Fandi yang seperti itu.


Di ruang ICU, Ana terus menunggui Fandi. Berharap ia lekas sadar agar operasi dapat menyelamatkan nyawanya. Rasa sesal menyeruak di dalam hatinya. Kenapa ia tidak menerima saja perasaan Fandi. Dengan begitu Fandi tidak akan mengalami semua ini.


"Maafkan aku, Mas. Harusnya aku nggak bersikap seperti itu sama kamu. Aku...aku juga mencintai kamu, Mas. Tapi menikah denganku adalah kesalahan. Aku hanya wanita nggak berguna yang hanya akan menjadi benalu dalam hidupmu!" Ana menangis sambil memegangi tangan Fandi.


Malam ini ia tidak pulang. Ia akan menemani Fandi sampai besok. Bersama dengan rasa sesal karena penolakan yang dilakukannya telah membuat Fandi kecelakaan parah hingga koma.


*****


Sementara itu, di rumah Hadi dan Sinta.

__ADS_1


"Mas, gimana nih. Kita ada perjalanan bisnis selama dua minggu. Dinda gimana dong?" tanya Sinta pada Hadi.


"Kita sewa jasa baby sitter aja untuk dua minggu. Pembantu juga akan mengawasi dia," ujar Hadi.


"Ya udah, tapi dimana kita bis dapetin baby sitter dalam waktu satu hari. Lusa kita udah berangkat. Lagian kenapa Pak Bima menyuruh dadakan gini sih," gerutu Sinta.


"Udah kamu tenang aja. Di daerah sini banyak buruh cuci. Kita tinggal minta salah satu buat jagain Dinda selama dua minggu," ujar Hadi.


"Ya udah kamu yang urus ya, Mas." Sinta pergi ke kamar Dinda.


"Ada apa, Ma?" tanya Dinda.


"Lusa Mama dan Papa mau pergi ke luar negeri selama dua minggu. Kamu akan dijaga sama baby sitter. Kamu jangan nakal, ya." 


"Iya, Ma."


"Mama sayang sama kamu kalau kamu nggak ngerepotin Mama kayak kemarin-kemarin. Selama Mama pergi kamu jangan nakal ya." 


Dinda mengangguk dengan cepat. "Iya, Ma. Dinda janji."


"Anak pintar. Ya udah Mama tinggal ya." 

__ADS_1


Sinta pergi ke luar. Dinda kembali mengambil foto yang tadi ia simpan di bawah bantal saat mamanya masuk. Ternyata itu adalah foto Ana. "Mama, Dinda kangen sama Mama. Kapan Mama pulang. Maafkan Dinda, Ma. Karena kebohongan Dinda Mama jadi diusir dari rumah ini. Harusnya Dinda jujur aja sama Papa." 


Dinda menghapus air matanya. Ia menutup mata sambil memeluk foto Ana hingga akhirnya ia terlelap didalam tangisannya. Berharap bisa bermimpi bertemu dengan Ana, ibu tiri rasa ibu kandung.


__ADS_2