
"Nggak apa-apa. Kamu tau? Kita adalah dua orang yang sama-sama tersakiti. Kenapa kita nggak bersama untuk saling melengkapi?" Fandi menatap serius Ana.
"Aku takut, Mas. Bagaimana kalau istrimu kembali lagi dengan anak kalian? Pasti kamu akan meninggalkanku seperti mantan suamiku." Ana terlihat pesimis.
"Hatiku udah mati untuknya. Kamu nggak usah khawatir. Sekarang cintaku hanya untukmu." Fandi memegang erat tangan Ana sembari tersenyum lembut.
"Apa kamu yakin?" tanya Ana sambil menatap serius.
"Aku yakin, An. Sejak pertama aku melihat kamu, aku yakin kamu adalah wanita yang tepat untukku. Aku mohon, An. Menikahlah denganku." Fandi menarik tangan Ana lalu menciumnya.
"Aku nggak berpendidikan, Mas. Sekolah aja cuma lulusan SMP. Aku mandul dan pembawa sial!" Ana menarik kembali tangannya.
"Aku nggak peduli. Di dunia ini nggak ada yang namanya pembawa sial. Bagiku kamu itu dewi keberuntungan yang dikirim Allah untukku." Fandi kembali meyakinkan Ana.
"Tunggulah masa Iddah ku selesai dan aku akan menerima lamaranmu, Mas," ucap Ana pelan.
"Ka-kamu mau menerima aku, An?" tanya Fandi seperti tak percaya.
Ana mengangguk pelan.
Mata Fandi berbinar-binar mendengarnya. Ia tidak menyangka Ana akan menerimanya.
__ADS_1
*****
Seminggu kemudian, Fandi pun diperbolehkan pulang. Ana dengan setia menemaninya berkemas dan pulang ke rumah.
Saat memasuki rumah Fandi, Ana cukup tercengang melihat kemegahan rumah Fandi. Bahkan rumah itu dilengkapi dengan banyak penjaga. Kini ia menjadi ragu untuk menjadi istri Fandi. Karena Fandi jauh lebih kaya dari Hadi. Ia pikir perusahaan Fandi adalah perusahaan kecil. Namun, kini ia bisa melihat nama perusahaan di rumah Fandi. Perusahaan yang bergerak dibilang properti dan terkenal dimana-mana.
"Mas, kita putus aja ya."
"Hah? Apa? Putus?" Fandi terkejut.
"Aku semakin merasa nggak pantas untuk kamu." Ana tertunduk.
"Apa? Ya enggak lah. Aku perempuan tulen." Ana mendengkus kesal.
"Karena itu, jangan pernah berpikir macam-macam atau aku juga bisa berpikir macam-macam nih."
"Iya, maaf. Kenapa kamu nggak miskin aja sih Mas biar aku lebih merasa pantas buat kamu."
"Hah? Kamu nyumpahin aku jatuh miskin, An?"
"Ya enggak sih. Aku cuma berharap aja."
__ADS_1
"Kamu aneh banget sih. Masa calon suamimu disumpahin jadi miskin. Udah jangan mikir yang nggak-nggak, ayo masuk." Fandi mengajak Ana ke sebuah ruangan yang merupakan ruang gallery nya.
Ana terkejut melihat ruangan itu penuh dengan fotonya. Termasuk foto saat ia diobati setelah kecelakaan waktu itu, foto saat mereka berjumpa di masjid dan masih banyak foto lainnya. Ana mendekati semua bingkai foto itu. Ia mengamati semua foto yang telah diambil diam diam oleh Fandi.
"Mas, kamu kayak pencuri foto deh. Kayak maniak," ucap Ana sambil melirik Fandi.
"Hus, apaan sih kamu. Aku kan cuma mengagumi. Aku juga nggak neror kamu kok."
"Iya iya. Makasih ya, udah nyimpen foto aku. Dulu aku gendut ya, mukaku kusam lagi, hihi." Ana melihat fotonya yang diambil beberapa bulan lalu itu. Berbeda dengan dirinya sekarang yang sudah kembali langsing dan glowing.
"Ini semua karena aku mencintai kamu. Huh lama banget ya nunggu tiga bulan. Aku ingin cepat-cepat memiliki kamu seutuhnya. " Fandi memeluk Ana dari belakang.
"Iya aku ngerti. Tapi nggak mesti peluk-peluk kan. Belum muhrim tau!" Ana melepas pelukan Fandi.
Fandi hanya bisa cengengesan mendengarnya.
"Sekarang kamu istirahat. Aku mau pulang. Ingat, istirahat. Jangan pergi kemana-mana lagi." Ana mengingatkan Fandi.
"Iya iya bawel," gerutu Fandi.
Dan setelah memastikan Fandi istirahat, Ana pun pulang untuk istirahat juga. Namun kali ini ini ia pulang tidak dengan raut wajah sedih seperti saat Fandi masih koma. Melainkan dengan raut wajah bahagia. Ia hanya tidak menyangka bahwa masih ada orang yang mencintainya dengan tulus.
__ADS_1