
Sudah satu minggu ini aku tinggal di rumah kontrakan milik mas Fandi. Tiga hari yang lalu dia baru mengunjungiku dan memberikan banyak bahan makanan. Aku merasa tidak enak sudah menjadi benalu mas Fandi. Padahal kami baru saja kenal tapi dia begitu baik padaku dan aku jadi segan karena merepotkan dirinya. Namun yang aku tau dia memang sangat kaya. Dia adalah seorang direktur utama di sebuah perusahaan dalam negeri.
"Assalamualaikum."
Suara seseorang dari luar membuyarkan lamunanku. Aku bergegas membukakan pintu.
"Waalaikumsalam. Masuk, Mas."
Mas Fandi masuk dan duduk di ruang tamu. Ku lihat dia membawakan sebuah kotak berisi makanan."
"Mas, kamu jangan repot-repot."
"Sebenarnya aku mau minta bantuan kamu, An." Mas Fandi menatap serius ke arahku.
"Kenapa, Mas?" tanyaku penasaran.
"Aku punya cafe, tapi beberapa bulan ini omset semakin menurun. Banyak yang bilang kalau makanan di cafe aku nggak enak."
Aku masih menunggu kalimat selanjutnya dari Mas Fandi.
"Jadi aku mau kamu cobain kue ini dan nilai apa kekurangannya." Mas Fandi menyodorkan makanan itu padaku.
Aku langsung paham maksud Mas Fandi. Beberapa kali dia makan di rumah ini bersamaku. Dapat ku lihat betapa dia menyukai rasa masakanku.
Aku mulai memakan makanan itu. Lidahku langsung terasa aneh ketika makanan yang berupa nasi goreng itu masuk ke mulutku.
"Mas, ini banyak banget penyedap rasanya. Perpaduan dengan garam dan gula juga nggak pas. Maaf Mas, aku harus bilang kalau rasanya nggak enak banget."
Aku langsung meminum air untuk menghilangkan rasa itu dari lidahku.
__ADS_1
"Makanya aku mau minta tolong sama kamu. Kamu mau nggak jadi kepala koki di cafe itu. Maaf, aku bukan mau maksa kamu kerja. Tapi cafe itu peninggalan dari orang tuaku yang dulunya hanya warung kopi kecil-kecilan. Aku nggak mau kalau tempat itu harus ditutup."
Mas Fandi tertunduk sedih. Aku dapat melihat betapa ia mencintai almarhum kedua orang tuanya.
"Iya, Mas aku mau. Lagian aku bosen di rumah aja. Masak juga hobiku kok. Tapi aku minta setelah aku kerja kamu mau ya nerima uang sewa kontrakan rumah ini. Aku nggak mau ngrepotin orang lain terus. Mau sampai kapan aku jadi benalu terus." Aku menatap mas Fandi penuh harap.
"Nggak, An. Kamu nggak ngerepotin kok."
"Kalau kamu nggak mau, maaf Mas, aku juga nggak bisa terima tawaran kamu," ancamku.
Mas Fandi menghelas nafas lalu mengangguk perlahan. "Baiklah, An. Aku akan terima uang sewa kamu."
Yes. Akhirnya Mas Fandi mengalah. Kini aku tidak akan merasa jadi benalu lagi. Setelah berbincang cukup lama, Mas Fandi pun pamit pulang.
*****
"Mas Fandi." Aku terkejut melihat kedatangannya yang sangat pagi ini.
"Aku mau jemput kamu."
"Aku nggak mau ngerepotin."
"Maaf, tapi aku udah sampai sini, An. Masa disuruh balik lagi."
"Ya udah, kamu udah sarapan Mas?" tanyaku.
"Belum, An. Sebenarnya aku juga mau numpang sarapan disini." Mas Fandi cengengesan.
"Ya udah, masuk Mas."
__ADS_1
Kami sarapan bersama pagi ini. Mas Fandi terlihat sangat bersemangat memakan menu nasi goreng yang merupakan sarapanku. Untung aku membuat agak banyak, jadi bisa dibagi dua.
Selesai sarapan, kami pun segera pergi ke cafe Mas Fandi. Rencananya hari ini ia akan memperkenalkan aku pada semua karyawannya.
Sesampainya di sana, aku terperangah melihat betapa bagusnya cafe Mas Fandi. Dekorasinya sangat unik. Bagian luarnya juga Asri dan luas. Sayang sekali cafe sebagus ini sepi pelanggan.
Mas Fandi mempersilakan aku masuk ke dalam. Disana sudah banyak karyawan yang berbaris rapi seperti sedang menyambut kedatangan seorang raja saja.
"Perkenalkan ini Mbak Ana. Mulai sekarang, dia akan menjadi kepala koki. Semua menu makanan mutlak menjadi haknya. Apapun yang dia perintahkan, maka itu yang harus dikerjakan. Tidak ada yang boleh membantah apapun perkataannya. Apa kalian mengerti?" tanya Mas Fandi dengan suara lantang. Disini aku bisa melihat kewibawaan Mas Fandi.
"Mengerti, Pak." Mereka menjawab dengan serempak.
Setelah membubarkan karyawannya, Mas Fandi pun pamit.
Aku mulai melihat menu yang ada di cafe tersebut. Tanganku langsung menulis resep setiap menu beserta takaran pasnya. Aku menyerahkan kepada para koki yang bertugas memasak. Disini aku hanya mengawasi dan melihat mereka bekerja. Tak lupa aku mencicipi terlebih dahulu makanan tersebut sebagai bahan percobaan pagi ini.
Mereka sangat antusias memasak makanan sesuai resepku. Namun aku merasa ada sepasang mata yang menatap tidak suka padaku. Dia adalah Vivi, mantan kepala koki di cafe tersebut. Kini dia diturunkan menjadi koki biasa karena kinerjanya selama ini malah membuat cafe merugi.
Aku tidak peduli dengan tatapan itu. Aku sengaja menyuruhnya berada dibagian penggorengan. Dengan begitu dia tidak akan mengacaukan resep yang susah payah aku buat.
Pelanggan pertama datang. Ia memesan beberapa menu. Kami pun menyajikannya dengan baik. Berharap pelanggan yang baru pertama kali datang kesini itu suka dan mau datang lagi. Tidak seperti pelanggan lain yang baru datang sekali malah merasa kapok seperti uji coba saja. Bahkan makanan tersebut hanya sedikit yang dimakan.
Aku senang melihat nampan yang hanya berisi piring dan gelas kotor tanpa sisa makanan didalamnya. Itu artinya pelanggan tadi menghabiskan makanan tersebut.
Para anggota juga merasa senang melihat percobaan pertama berhasil. Hingga saat hari semakin siang, pelanggan semakin banyak. Aku merasa heran dengan perkembangan pelanggan yang hanya berjarak beberapa jam saja.
Namun pada akhirnya aku tau. Dari beberapa pelanggan yang datang, mereka mengatakan bahwa mereka mendapat rekomendasi dari youtuber yang sedang mereview cafe ini. Awalnya mereka ingin mengulas soal makanan yang katanya tidak enak ditempat ini, namun ternyata saat mereka memakan masakan dari resepku, seolah berita buruknya makanan di cafe ini tidak terbukti dan hanya Hoax saja. Jadi mereka yang merasa penasaran, langsung datang kesini untuk memastikannya.
Aku merasa sangat senang. Seolah dewi keberuntungan berpihak padaku hari ini. Mungkin jika aku datangnya besok, maka semua resep ini tidak akan berguna.
__ADS_1