
Tak terasa beberapa bulan telah berlalu, dan kini kehamilan aini memasuki bulan ke sembilan.
Pagi hari seperti biasa, usai mengantar suaminya untuk bekerja, aini menata bunga bunganya di taman, membawa beberapa vas bunga baru dan memindahkan bunga bunga yang sudah membesar kedalam vas yang baru, aini mengurus bunga bunganya dengan penuh kasih sayang, sehingga bunga bunga di taman aini terlihat cantik dan sangat terurus.
Aini kembali membawa ember berisi air, menurut artikel yang dia baca dan bertanya pada beberapa ibu di samping rumahnya, bahwa membawa beban yang sedikit berat akan membantunya proses persalinan kelak, sehingga aini sangat bersemangat membawa ember tersebut dan menyiramkannya pada bunga bunga yang ada di taman rumahnya walaupun kucuran keringat terlihat sangat banyak dan sesekali aini nampak mengusap keringat yang membasahi pelipisnya.
"Ah, cantik sekali kalian" gumam aini sambil menatap bunga bunganya.
"Mbak aini, semangat sekali pagi ini, jangan terlalu capek ya " sapa ibu yang rumahnya tepat disamping aini.
"Iua mbak Aini, itu keringat udah kaya orang abis mandi aja " kekeh bu dewi yang kebetulan lewat rumahnya.
"Mbak Aini, bunganya cantik sekali, kaya pemiliknya " puji bu siska yang sedang menyapu halaman rumahnya.
ya, aini memang terkenal pribadi yang baik dan santun, tak heran para tetangga sangat menghormati dan perhatian pada aini, bahkan mereka sangat senang kalau aini meminta pertolongan mereka, walaupun itu jarang sekali terjadi, aini paling tidak bisa kalau harus merepotkan orang lain.
Tiba tiba aini merasakan seperti kram dalam perutnya tapi dia mengabaikannya, dia berpikir itu adalah kontraksi palsu, dan hal biasa dialami oleh seorang ibu yang tengah mengandung mengalami kontraksi palsu jelang persalinan.
__ADS_1
Aini kembali melanjutkan aktivitasnya, kali ini mencabuti rumput rumput yang tumbuh liar didepan rumahnya.
"Mbak Aini, saya bantuin, mau ya?" pinta bu angel.
namun dengan senyum ramahnya aini menolak dengan mengatakan dia sengaja sedang berolah raga sambil mencabut rumput.
ibu ibu di sana sudah tahu, aini pasti akan menolak karena aini tidak mau merepotkan orang lain.
Semakin banyak aktivitas aini, keram perutnya semakin terasa seolah ada yang mendorong untuk keluar.
Aini terduduk dirumput yang baru selesai dia cabut, dan mulai mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak.
"Mbak, kenapa? sudah terasa mau lahiran ya? saya telp suaminya ya. "Ucap bu Dewi
sementara bu siska datang dengan segelas air minum ditangannya dan membantu aini minum.
"Iya, sepertinya mbak aini mau melahirkan. sebaiknya kita bawa saja ke rumah sakit, saya lapor dulu sama pak RT supaya disiapkan segala sesuatunya. " Ucap bu Angel lagi
__ADS_1
Para ibu ibu tampak khawatir dengan keadaan aini tapi mereka tetap tenang dan melakukan tugasnya masing masing.
...
*Di Rumah Sakit
" Ayo sayang,kamu bisa, kamu kuat" yudha terus saja menyemangati isterinya yang tengah menjalani proses persalinan.
keringat bercucuran, rasa sakit seperti keram perut yang terus menerus melilit, aini sudah merubah posisinya dari tidur menjadi duduk kadang berdiri kadang berjongkok. Sungguh, moment yang luar biasa, terlihat kekhawatiran di wajah yudha, namun bukan saat yang tepat kalau yudha harus terlihat lemah, justru sebaliknya dia harus terlihat kuat agar mampu memberikan energi positif pada istrinya.
Aini yang semakin kesakitan sudah tak sanggup lagi, hampir hampir ia menutup matanya, untung saja dokter dan para bidan selalu terjaga memastikan keadaan aini baik baik saja dan jangan membiarkannya tertidur selama bayinya belum keluar.
Dokter dan para bidan terus memberikan semangat kepada Aini, hingga akhirnya seorang bayi terlahir dan yudha sangat bahagia melihat bayi tersebut.
Bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut langsung menangis, wajahnya yang tampan berubah menjadi merah, gemas sekali melihatnya, yudha terlihat tidak sabar ingin segera mengumandangkan adzan ditelinga anaknya, tetapi beberapa orang bidan masih melakukan pemeriksaan pada bayinya.
sementara aini masih terlihat lemah dan yudha tetap berada disampingnya serta terus menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Allah. Mampukan aku untuk menjaga amanah Mu" yudha berdoa dalam hatinya lalu mengecup kepala istrinya, rona bahagia jelas terpancar dari keduanya.