Anak Suamiku

Anak Suamiku
Bawahan


__ADS_3

[POV AUTHOR]


Hadi dan Sinta telah selesai makan. Mereka pun bergegas kembali ke kantor. Namun tiba-tiba saja Sinta sakit perut dan harus ke toilet.


Hadi memutuskan menunggu di parkiran. Baru saja ia ingin membuka pintu mobilnya, seseorang menyapanya.


"Pak Hadi."


Hadi menoleh dan tersenyum lalu menjabat tangan orang tersebut.


"Pak Fandi. Apa kabar?" tanya Hadi.


"Baik. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Setelah proyek selesai, saya tidak pernah melihat anda lagi."


"Pekerjaan semakin banyak, hahaha." Hadi tergelak.


"Hahaha saya mengerti." Fandi ikut tertawa.


"Oh ya, apa bapak ingin makan disini?" tanya Hadi.


"Iya. Sekalian ingin bertemu klien," sahut Fandi. Sepertinya ia tidak ingin mengatakan mengenai kepemilikannya. Ia bukan tipe yang suka pamer.


"Klien saya sudah datang. Saya permisi dulu." Fandi pergi ke dalam setelah mendapat anggukan dari Hadi.


Tak berselang lama, Sinta datang. "Kok di luar, Mas?"


"Tadi ketemu sama rekan kerja.. Ya udah yuk balik ke kantor."


Mereka pun masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan, Hadi masih memikirkan pertemuannya tadi dengan Ana. Ia merasa Ana semakin cantik saja. Meski Ana memakai pakaian kepala koki, namun ia tetap terlihat sangat cantik. Terlintas dalam benaknya perasaan menyesal karena telah berlaku jahat pada Ana.

__ADS_1


"Mas, kayaknya kita harus mempekerjakan supir deh buat anter jemput Dinda. Aku mulai capek, Mas. Mana kerja, mana jagain Dinda." keluh Sinta.


"Kamu ini gimana sih, dulu kamu yang minta supaya kamu aja yang anter jemput Dinda. Sekarang kamu yang nyaranin supir," gerutu Hadi.


"Ya mau gimana lagi. Aku capek, Mas."


"Gimana kalau kamu resign aja Sin. Gaji aku kan cukup untuk hidup kita. Biar kamu fokus jagain Dinda."


"Aku berat, Mas. Aku udah biasa kerja."


"Nggak apa-apa Sin. Sekalian kita program anak kedua, gimana?"


"Jangan sekarang dong, Mas. Aku belum siap," rengek Sinta.


"Kamu ini kok kayak takut gitu sih."


"Ya bukan gitu. Aku masih merasa repot ngurusin Dinda."


"Mas kamu kok ngomong gitu sih. Aku sayang banget kok sama Dinda."


"Ya udah makanya jangan ngeluh lagi. Kalau kamu capek ya kamu berhenti kerja aja. Fokus urusin Dinda. Apa pekerjaan lebih penting dari anak?" 


"Iya, Mas. Aku nggak akan ngeluhin Dinda lagi. Izinin aku tetap kerja ya, Mas." Sinta membelai pipi Hadi.


Hadi mengangguk pertanda setuju. 'Huh, gara-gara anak sialan itu aku jadi repot begini. kalau bukan karena ingin hidup enak, aku nggak bakal mau ngelahirin dia' Batin Sinta.


******


Fandi baru selesai meeting bersama kliennya. Terlihat Ana yang diminta menyajikan makanan atas permintaan klien Fandi.

__ADS_1


"Pak Fandi, apa dia masih sendiri?" tanya Heru.


"Kenapa, Pak?"


"Saya tertarik dengannya. Apa bapak bisa mengatur kencan untuk kami?"


Fandi terlihat tidak suka mendengar ucapan Heru.


"Dia sudah menikah. Sebaiknya anda mundur saja, Pak." 


"Hahaha, tapi saya tidak melihat cincin pernikahan di jarinya."


"Mungkin saja dia malas memakainya."


Tak berselang lama, Ana kembali datang membawa nampan berisi minuman. Saat ia ingin pergi, Heru memanggilnya.


"Ada apa, Pak?" tanya Ana.


"Apa kamu sudah menikah?" tanya Heru.


Fandi merasa cemas dengan apa yang akan dikatakan Ana.


"Sudah, Pak," sahut Ana. Tidak mungkin kan Ana mengatakan bahwa ia sudah menikah namun kini telah menjadi janda. Yang benar saja. Ia merasa sangat malu jika mengatakan hal itu.


Ana pergi ke belakang setelah menjawab pertanyaan Heru. 


Fandi tersenyum puas mendengar jawaban Ana. "Tuh kan, sudah saya bilang bahwa Ana sudah menikah."


Heru menghembuskan nafas panjang. Tampak jelas raut wajahnya yang sangat kecewa.

__ADS_1


Fandi tersenyum semakin puas. 'Hahaha, rasakan kamu. Siapa suruh mendekati wanitaku. Enak aja. Aku aja nungguin dia udah lama, kamu malah main serobot aja' Batin Fandi.


Ia kembali mengingat saat-saat pertamanya bertemu dengan Ana. Meski kondisi Ana sedang terluka saat itu, Fandi tetap saja terpesona olehnya. Ya, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Ana.


__ADS_2