Anak Suamiku

Anak Suamiku
Kedatangan yang tak diduga


__ADS_3

Kami pun sampai di rumah. Dinda segera masuk ke dalam rumah dan meminta asisten rumah tangga untuk mencetak foto kami.


Setelah dicetak, dia pun fokus memilih menggambar foto kami. Senang rasanya melihat Dinda yang bisa melakukan apapun yang diinginkannya. Sebisa mungkin kami akan melakukannya.


Namun, saat tengah menggambar, tiba-tiba saja Dinda seperti berteriak sambil menunjuk jendela luar. Matanya melotot seperti sesuatu itu sangat menyeramkan.


"Mama! Mamaaaa!" teriaknya sambil terus menunjukkan ke arah jendela luar.


Aku yang panik pun segera menghampirinya dan menanyakan apa yang dilihatnya.


"Kenapa, Nak?"


"Mama! Itu...!"


Aku pun langsung meminta ART untuk menenangkan Dinda. Lalu aku berlari keluar untuk melihat siapa yang ada di depan jendela. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat ada Sinta di sana sedang meringkuk ketakutan sambil menangis terisak.


Ku lihat penampilannya persis seperti gelandangan. Pakaiannya lusuh, rambutnya kumal, dan wajahnya pucat.


"Si-Sinta! Kamu kenapa di sini?" tanyaku sambil menghampirinya. Dia terlihat semakin meringkuk ketakutan.


"Sinta, kamu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu."


"Mbak, kamu punya makanan sisa nggak? Aku lapar?" ucapnya lirih. Terlihat tubuhnya yang sangat gemetar. Pertanda bahwa dia sedang kelaparan.


"Bi, tolong ambilkan makanan," ucapku pada Bi Darmi.


Tak lama berselang, Bi Darmi pun datang dengan sepiring makanan di tangannya. Aku pun segera memberikan makanan itu pada Sinta.


Dia langsung melahapnya tanpa menggunakan sendok. Hanya tangan langsung memasukkan makanan ke mulutnya.


Aku melihatnya dengan sangat iba. Bagaimana dia bisa jadi seperti ini? Apakah dia tidak bisa bekerja?


Setelah dia puas makan, aku pun segera menyuruhnya untuk duduk di taman belakang bersamaku. Jangan sampai Dinda melihatnya lagi karena dia akan trauma.


Di sana, akhirnya Sinta pun bercerita padaku tentang semuanya.


"Mbak Ana, aku rindu sama Dinda. Aku mau minta maaf sama dia, Mbak. Sejak kejadian itu, aku terus memikirkannya. Aku merasa telah menjadi Ibu terburuk di dunia. Padahal dia anak kandungku, tapi aku seperti monster baginya. Makanya, aku mengendap-endap masuk ke dalam dan ingin melihat wajahnya meski hanya sekali saja." Sinta mengakhiri ceritanya dengan air mata yang membasahi pipinya.

__ADS_1


"Dinda sudah hidup dengan baik bersama papa kandungnya, Sin. Kamu nggak perlu khawatir, aku akan menjaganya dan takkan pernah membuatnya bersedih. Karena kamu tahu sendiri kan betapa sayangnya aku sama dia."


"Makasih, ya, Mbak. Kamu adalah orang terbaik yang pernah aku punya." Sinta menatapku dengan tatapan berkaca-kaca.


"Sayang!" Sebuah seruan membuatku langsung menoleh ke belakang. Ternyata Mas Fandi yang datang. Ya, siapa lagi yang memanggilku sayang selain Mas Fandi?


"Mas, ini Sinta. Tadi aku menemukannya di sana." Aku menunjuk jendela. "Jangan dimarain, Mas, dia kelaparan dan nggak punya apa-apa lagi." Aku berusaha membujuk Mas Fandi.


"Tapi itu bukan alasan membuat Dinda ketakutan."


"Dia ingin bertemu dengan Dinda, Mas. Dengan meminta maaf."


"Ya kalau mau minta maaf, dia kan tahu apa yang harusnya dilakukannya. Mengapa menemui Dinda dengan penampilan seperti ini?"


"Maaf, Mas, aku tinggal di jalanan. Aku nggak punya apa-apa lagi." Sinta terlihat mengusap air matanya. Aku jadi semakin kasihan padanya.


"Mas, udah, dong. Kan dia punya niat baik. Mau ketemu dan minta maaf sama anak kandungnya." Aku kembali menenangkan Mas Fandi yang kian emosi.


Mas Fandi hanya mengusap wajahnya dengan kasar. Sepertinya dia sangat kesal padaku karena menerima Sinta.


"Gimana keadaan Dinda, Mas?" tanyaku cemas.


"Maafin aku, ya. Aku nggak bermaksud membuat Dinda ketakutan. Kalau kalian mengizinkan aku bertemu dengan Dinda sekali saja, pasti aku akan merasa senang."


"Mas, bisa, kan? Sekali aja, kok." Aku menatap Mas Fandi penuh harap.


"Besok malam, kita ketemu di rumah ini. Ambil ini untuk membeli pakaian yang layak. Tapi, kalau Dinda memang nggak mau ketemu kamu, maka kamu harus pergi karena kami udah mengusahakan yang terbaik." Mas Fandi memberikan sejumlah uang padanya.


Meski terlihat sangat berat, namun akhirnya Sinta pun menerimanya. Dia pun pergi meninggalkan rumah ini. Entah kemana dia akan tinggal. Tapi aku rasa uang itu cukup untuk menginap di penginapan atau semacamnya.


Aku yang sangat khawatir pada Dinda pun segera pergi menuju ke kamarnya.


Ku lihat Dinda yang menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Aduh, Dinda kemana, ya? Kok nggak ada?" Aku berpura-pura mencarinya. Biarlah ada sedikit hiburan supaya dia tidak ketakutan lagi.


Dinda terlihat sedikit bergerak dan mengintip. Aku pun menghampiri selimut yang menutupi tubuhnya dan langsung membukanya.

__ADS_1


Dinda masih menutupi wajahnya dengan tangan. Aku tahu dia masih belum mau diajak bicara.


"Lho, Dinda kemana, ya?" Aku berpura-pura tak melihatnya. Aku pun duduk di sampingnya dan berpura-pura bertanya padanya.


"Dek, Dek, Dinda kemana? Kamu lihat nggak?"


Dinda yang merasa geli pun membuka wajahnya dan tertawa kecil.


"Ih, ditanya kok malah ketawa? Dinda kemana? Tante lagi nyari nih? Ciri-cirinya, anaknya cantik, gemesin, suka main petak umpet, terus dipilihnya ada bekas cat air."


Refleks Dinda langsung mengusap pipinya yang terkena cat air.


"Dia juga anaknya hebat, lho. Dia adalah orang yang pemaaf dan tidak takut apapun. Kamu lihat nggak, Dek?"


Dinda semakin tertawa melihat aktingku. "Mama, Dinda di sini," ucapnya sambil memelukku.


"Ah, astaga, ternyata Dinda di sini. Mama kira entah kemana, hahaha. Anak hebat Mama." Aku mengusap kepalanya dengan lembut. Mencium pucuk kepalanya berkali-kali. Sungguh, aku tak suka jika melihat putri cantikku sedih.


"Mama memangnya tadi lihat siapa? Kok manggilnya dek gitu?" tanyanya polos. Lucu sekali, ingin ku cubit pipinya yang tembam itu.


"Tadi Mama ngeliat malaikat cantik. Mama kira siapa, ternyata kamu. Anak Mama kan memang cantik."


"Makasih, ya, Ma. Aku sayang Mama." Dinda memelukku dengan erat. Terlihat bahwa betapa nyamannya dia berada di sisiku.


"Lagi ngapain sih kok kayaknya seru banget?" Mas Fandi pun datang dan berbaur dengan kami.


"Ini, Pa, masa tadi Mama nggak lihat aku. Masa katanya lihat malaikat cantik." Dinda tertawa cekikikan.


"Eh, tapi Mama nggak salah, kok. Beneran anak Papa cantik banget, kayak malaikat." Mas Fandi tau bagaimana menghibur anaknya. Suamiku ini memang sangat menggemaskan.


"Kenapa disebut malaikat, Pa?"


"Karena anak Papa ini orangnya pemaaf dan nggak pernah dendam sama orang lain."


"Oh, jadi Dinda harus menjadi orang pemaaf, Pa? Dinda harus maafin siapa?"


"Dinda, tadi Mama Sinta datang. Dia sebenarnya mau minta maaf sama kamu, Nak," ucapku sambil mengusap pipinya lembut.

__ADS_1


"Hah? Jadi benar yang tadi itu Mama Sinta?" tanyanya tak percaya.


__ADS_2