
Mas Hadi terlihat terkejut medengar pertanyaanku.
"Kenapa kamu nanyain dia?"
"Aku ketemu sama dia dan Dinda. Dinda disuruh ngamen Mas."
"Aku nggak peduli."
"Apa? Tapi dia anak kamu, Mas."
Mas Hadi terdiam. Ia terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku.
"Mas."
"An, kamu mau nggak kembali lagi sama aku?" Mas Hadi memegang tanganku.
Aku refleks melepaskan genggamannya.
"Apa maksud kamu, Mas? Kemarin kamu mempermalukan aku di depan calon suamiku dan sekarang kamu malah minta balikan? Yang bener aja, Mas." Aku menatap heran pada Mas Hadi.
"Sinta nipu aku, An," ucap Mas Hadi pelan.
"Nipu gimana?" Aku semakin penasaran.
__ADS_1
"Ternyata Dinda bukan anak aku."
"Apa?" Aku terkejut mendengar penuturan Mas Hadi.
"Dia hamil sebelum aku berhubungan sama dia. Dinda itu anaknya dan mantan suaminya."
Aku menutup mulutku mendengar ucapan Mas Hadi.
"Dua minggu yang lalu, Dinda kecelakaan dan butuh banyak darah. Tapi, baik aku maupun Sinta darahnya nggak ada yang sama. Kayaknya dia ikut darah ayah kandungnya. Dari situ aku tau kalau Dinda bukan anak aku." Mas Hadi menunduk sedih. Aku merasa kasihan melihatnya. Namun perlakukannya selama ini padaku tidak bisa ku maafkan.
"Aku permaluin kamu biar kamu putus dari Fandi. Aku ingin kamu kembali sama aku, An." Mas Hadi kembali memegang tanganku.
Aku melepas tangannya. "Maaf Mas aku nggak bisa." Aku hendak berdiri namun Mas Hadi malah menarik tanganku hingga aku jatuh ke pangkuannya.
"Mas, jangan!!" teriakku sambil terus mendorong tubuhnya. Sayang, tenagaku tak cukup kuat untuk itu.
Aku meronta ingin dilepaskan namun tangannya semakin liar saja. Tangannya mulai menyusup di balik kemeja yang ku pakai.
Hingga tiba-tiba seseorang menarik Mas Hadi lalu menghajarnya sampai babak belur. Ternyata Mas dia Mas Fandi. Aku segera menjauh dari tempat itu. Mas Fandi mengejarku yang kini sedang berlari keluar rumah itu.
"Tunggu, An!" Mas Fandi berhasil memegang tanganku dan menghentikan lariku.
Aku berbalik dan memeluk Mas Fandi. Aku menangis di pelukannya. "Aku takut, Mas."
__ADS_1
"Udah, kamu tenang. Ada aku disini. Sekarang ayo kita pergi dari sini." Mas Fandi membimbing ku menuju mobilnya. Tak lupa ia memasukkan koperku ke dalam bagasi mobilnya.
Sepanjang jalan aku memilih diam. Aku masih syok dengan kejadian hari ini.
Sesampainya di rumah kontrakan lamaku, Mas Hadi merawatku karena aku menolak pergi ke dokter. Ia mengompres luka lebam di tangan ku akibat cengkraman Mas Hadi tadi.
Setelah agak tenang, Mas Fandi mulai bertanya kenapa aku meninggalkannya dan pergi ke rumah Mas Hadi. Untung saja Mas Fandi berhasil menemukan aku tepat waktu. Jika tidak, aku bisa habis oleh Mas Hadi.
Aku bercerita dari awal hingga akhir.
"Dasar Hadi berengsek!" Mas Fandi mengumpat kesal. Ia mengepal kuat tangannya.
"Udahlah, Mas." Aku berusaha menenangkan Mas Fandi yang sedang emosi.
Mas Fandi memegang tanganku. "An, kamu jangan tinggalin aku lagi, ya. Aku nggak peduli mau kamu kayak gimana. Aku tetap sayang sama kamu. Plis, An."
Aku menatap Mas Fandi dengan serius. Lalu aku mengangguk tanda setuju. Artinya kami akan tetap menikah.
"Mas, kamu bisa nggak bawa Dinda ke aku. Aku nggak rela kalau Dinda dijadikan pengamen sama ibunya." Aku menatap penuh harap.
"Iya, besok aku akan bawa pengawal sekalian untuk menyelamatkan Dinda. Bila perlu kita adopsi dia."
Ucapan Mas Hadi membuat ku mengulas senyuman. Aku sangat bahagia mendengar bahwa ia berniat mengadopsi Dinda. Aku yakin dengan kekuasaan yang dimiliki Mas Fandi, ia pasti akan dengan mudah mendapatkan Dinda untukku.
__ADS_1
Ya Allah, aku bersyukur memiliki calon pendamping sebaik Mas Fandi. Dia sangat baik dan penyayang. Apalagi dengan kehadiran Dinda nantinya, aku yakin hidup kami akan sangat bahagia.