Anak Suamiku

Anak Suamiku
Ketakutan Dinda


__ADS_3

Aku mengendap-endap seperti seorang penculik anak. Aku melihat sekeliling untuk memastikan ada orang atau tidak. Setelah merasa aman, aku memutar handle pintu dan perlahan masuk ke dalam setelah pintu terbuka.


Ku lihat Dinda sedang meringkuk di atas ranjang sambil menangis sesenggukan nyaris tak terdengar. Aku melangkah mendekatinya yang kini dengan posisi membelakangiku. Aku mendudukkan diriku di sisi lain ranjang Dinda. Dapat ku lihat dia langsung menghapus air matanya dan masih belum menoleh. Namun aku mendengar kalimat yang cukup mengejutkan dari mulut Dinda.


"Ampun, Ma. Dinda janji nggak akan dekat-dekat sama tante Ana. Jangan hukum Dinda lagi, Dinda mohon. Yang mama pukul kemarin masih sakit, Ma."


Aku terkejut mendengar ucapan Dinda. Aku mencoba menyentuh bahunya. Ku lihat Dinda semakin gemetar. Baik, tubuh dan suaranya sama-sama bergetar ketakutan.


"Ma, ampun Ma. Tadi Dinda nggak nerima gelas tante Ana. Ampun, Ma."


Aku menyingkap baju yang menutupi tubuhnya. Aku terkejut melihat bekas sulutan rokok dan luka lebam seperti habis dihantam benda tumpul.


'Astagfirullah, apa yang terjadi pada anak ini?' Batinku.


"Ampun, Ma. Jangan," rintih Dinda.


"Dinda." Akhirnya aku mengeluarkan suara.


Dinda langsung berbalik dan bisa ku lihat dia sangat syok melihat keberadaanku disini.


"Tan-tante. Tante ngapain kesini? Pergi tante." Dinda mendorong tubuhku dengan sekuat tenaga. Tapi apalah daya anak-anak sepertinya. Sedikitpun aku tidak bergeser dari posisiku.


"Dinda, tenang. Mama kamu lagi masak kok. Kamu Kenapa? Siapa yang udah mukulin kamu?"

__ADS_1


Dinda masih diam. Wajahnya tampak semakin ketakutan.


"Tante, pergi. Dinda mohon."


"Tante harus bilang ini ke papa kamu." Aku hendak beranjak dari dudukku namun bisa ku rasakan saat ini Dinda tengah menahan tanganku.


"Kalau tante ngadu, Dinda akan bilang ini semua ulah tante." Dinda menatapku dengan mata berkaca-kaca.


Aku terkejut mendengar ucapan Dinda. Anak sekecil ini sudah berani mengancamku karena takut pada ibunya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Din?" tanyaku.


"Dindaaaaa." Terdengar panggilan dari luar. Itu adalah Sinta. Dinda mulai pucat dan panik. Begitu juga denganku. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini? Apa aku harus bersembunyi?


"Loh, kamu ngapain disini?" tanya Sinta dengan tatapan tajam. Sepertinya dia sangat marah melihat keberadaanku di kamar Dinda.


"Aku mau bicara sama Dinda. Tapi dari tadi aku panggil dia nggak mau bangun. Dia marah atau gimana sama aku?" Aku berpura-pura kesal.


"Ya dia nggak mau lagi ketemu kamu. Ngapain kamu pake masuk ke kamarnya. Keluar kamu!" Sinta menunjuk arah pintu untuk mengusirku.


Aku pergi dengan menghentakkan kaki menuju luar. Dan benar aman, Sinta mengikutiku. Dia tidak menanyakan sesuatu pada Dinda.


"Mbak, denger ya. Mbak jangan lancang masuk ke kamar anak saya. Mbak nggak ada hak. Sekali lagi mbak masuk tanpa izin, aku akan adukan ini sama mas Hadi.

__ADS_1


Aku terpaksa mengangguk. Sebenarnya aku ingin mengadukan kondisi Dinda pada mas Hadi namun ujung-ujungnya pasti aku yang akan dijadikan tersangka. Lebih baik aku pura-pura tidak tau saja. Yang penting mulai sekarang aku akan mencoba mengumpulkan bukti kelakuan Sinta terhadap Dinda. Mudah-mudahan saja upaya ini berhasil membuka mata mas Hadi yang buta karena cinta si pelakor.


*****


Malamnya, kami makan malam bersama. Ku lihat mas Hadi tidak makan dengan lahap seperti biasanya. Aku tau karena dia tidak sedang makan masakanku.


"Mas, kenapa?" Sinta yang menyadari ekspresi mas Hadi langsung bertanya.


"Nggak apa-apa." Mas Hadi tersenyum padanya.


"Enak nggak masakan aku?"


"Enak kok. Tapi ke depannya biar Ana aja yang masak ya. Nanti kamu capek lagi." Mas Hadi mengudap punggung tangan Sinta yang ada di sebelahnya.


"Iya, Sin. Maaf tadi aku ketiduran jadi nggak bisa masak. Mulai besok serahkan semua tugas memasak ke aku aja. Mas Hadi dari dulu nggak begitu lahap makan selain masakanku." Aku mencoba memanas-manusia Sinta.


"Iya deh, apalah aku ini yang cuma wanita karir dan hanya bisa ngasih anak." Sinta melirikku dan tersenyum mengejek.


Aku sangat kesal dibuatnya. Kenapa dia sering memamerkan anak padaku? Pamer? Bangga?


"Dimakan Sin, nanti keburu dingin jadi makin nggak enak."


Sinta mendengkus mendengar ucapannya. Ya, mau bagaimana lagi, masakannya memang jauh dari kata enak. Kurang garam, tekstur sayur masih keras, sambal rasanya pahit seperti hidupku, dan ayam goreng yang tepungnya setipis kulit ari. Aku yakin baru kali ini dia memasak selama hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2